Kamar D5

1497 Kata
… Juli, Agustus, September 2008 …           Satu tahun sudah aku menjalani masa-masa belajar di pesantren, banyak sekali cerita yang kudapatkan entah itu suka maupun duka. Sekarang sudah masuk di tahun ajaran baru, di mana aku, Yunus dan juga Imam sudah naik ke kelas dua SMP, begitu juga dengan Irvan dan cak Inul juga sudah naik ke kelas tiga. Selain itu, usia grup band kita juga sudah berjalan satu tahun, Alhamdulillah bukan hanya usia saja yang bertambah tapi kemampuan kita dalam bermusik juga harus ditingkatkan.           Setelah dua minggu menjalani masa tahun ajaran baru, kita telah mengenal beberapa santri baru yang cukup berpengalaman baik itu di tingkat SMP dan SMA. Yang pertama adalah Faisol, pria bertubuh kurus ini pandai sekali dalam bermain drum, lumayan bisa jadi pemain cadangan terhadap cak Inul. Yang kedua ada Chandra dan Shaleh, mereka adalah santri baru yang akan bersekolah di tingkat SMA, mereka juga pandai dalam memainkan semua alat musik. Dan yang terakhir adalah Wahyu, dia bukanlah santri yang bisa bermain musik, tapi dia memiliki niat dan motivasi yang besar untuk mau belajar musik.           Setelah satu tahun tinggal di kamar D1, sudah pasti kamar yang kita tempati akan pindah, dari yang sebelumnya ada di kamar D1 pindah ke kamar B4. Aku mulai prihatin akan sikap Bahrul, sudah satu tahun mondok tapi sifatnya tidak berubah-berubah, masih suka memalak diriku dan suka mengejek dari apa yang telah kulakukan. Seolah-olah kumerasa bahwa Bahrul adalah santri yang sok jagoan.           Seiring berjalannya waktu, aku dan beberapa personil mulai berbuat nakal. Tapi kenakalan kita bukanlah seperti preman atau pembegal, akan tetapi kenakalan kita hanyalah sebatas santri yang sering absen dari kegiatan pondok. Terkadang kita pernah kabur dari pondok dengan memanjat tembok belakang demi bisa nonton orkes di desa sebelah, dan terkadang pula kita juga sering pergi ke daerah pabrik gula Krebet demi bisa mencari hiburan malam dengan bermain billiar.           “Besok kebetulan tanggal merah, ada yang punya rencana main?” ucap Irvan.           “Terserah deh, barangkali bisa main ke Gondanglegi,” jawabku.           “Ahhhh bosen, mending kita main ke Krebet,” sahut Yunus.           “Kita udah sering ke sana Nus, gimana kalau ke sumber Jennon? Pasti ramai di sana,” usulku.           “Ide bagus tuh, ya sudah besok ke sana aja,” tambah Irvan.           Waktu mulai berjalan beberapa bulan ke depan, hubungan pertemananku dengan Bahrul seolah makin tidak beres. Kelakuannya semakin menjadi-jadi hingga diriku semakin geram untuk bisa memukulnya. Namun jujur saja diriku tak memiliki daya dan cukup upaya dalam mempertahankan diri, karena tubuhku lebih kurus dibandingkan tubuhnya yang berotot dan berlemak.           “Hey Vian, dari mana saja Lu pulang malem-malem gini?” tanyanya dengan nada yang tidak mengenakkan.           “Terserahlah, gue dari mana, kok Lu yang bingung.”           “Hei, kok Lu mulai berani ngebantah gue kayak gitu,” tukasnya sambil mendorong pundakku.           “Emang apa salahnya, Lu sama gue tuh tidak ada bedanya,” tantangku.           “Bahrul mulai tersulut amarah, dan sepertinya dia tak segan-segan yang ingin memukulku.           “Lu mau ngajak berantem loh,” balasnya sambil menarik baju depanku.           “Ngapain Lu maki-maki gue kayak gitu,” bantahku sambil kulepaskan genggamannya pada bajuku.           “Lu mulai berani ya sama gue.”           “Ngapain gue mesti takut. Bahrul, Lu jangan sok jagoan ya di pondok, emangnya gue takut sama Lu.”           “Pengecut kau.”           Lalu aku dan Bahrul mulai berantem di dalam kamar, dia mulai menonjokku dan kujuga membalasnya dengan pukulan yang lebih keras. Pertengkaran semakin sengit hingga kudorong dia sampai tubuhnya membentur kaca jendela hingga pecah. Tak lama akan hal itu, pertengkaran pun telah usai setelah teman-teman melerai. Ku tak bisa tinggal diam seperti ini, karena bisa jadi perdebatan ini akan berlanjut di kemudian hari.           Maka dari itu, aku memutuskan untuk pindah kamar menuju kamar D5 saja. Karena dari dulu aku paling malas satu kamar dengan dia, entahlah semoga suatu saat dia bisa berubah dan mulai menyadari akan kesalahannya.           Atas kejadian tersebut, aku dan Bahrul mulai di gelandang menuju kantor oleh pengurus. Yang pasti kita berdua akan menjalani persidangan atas pertengkaran itu. Dalam hati, aku tidak menyesali peristiwa ini. Pertengkaran ini akan menjadi jalan terbaik agar diriku dapat memiliki alasan kuat agar bisa pindah kamar.           Dan keesokan harinya, aku telah pindah di kamar D5, di mana ku bisa sekamar dengan Imam dan juga Yunus. Insya Allah semoga di kamar ini kita bisa merencanakan kembali tentang grup yang akan kita buat. Di malam ini juga, kita akan menggelar latihan bersama di studio, sudah menjadi rutinitas bagi kita semua untuk selalu berlatih minimal dua minggu sekali.           “Gimana Van, Lu udah siap nggak?” tanyaku pada Irvan.           “Ya pasti siap lah bro, temen-temen yang lain gimana?” tanya Irvan balik.           “Iya nih gue masih nunggu Yunus, katanya masih ada kiriman dari orang tuanya.”           “Ya sudah kita tunggu beberapa menit lagi, lagian cak Inul juga belum nongol.”           Setelah lima belas menit berlalu, personil kita mulai lengkap. Selain itu kujuga mengajak Faisol, Wahyu dan juga Chandra, agar mereka bisa tahu akan aktivitas kita dalam bermain musik. Latihan pun dimulai, aku mulai bersemangat dalam menyanyikan lagu begitu juga dengan mereka yang selalu semangat dalam memainkan musik. Tidak hanya itu saja, melainkan Faisol, Wahyu dan juga Chandra juga mulai mencoba untuk mengiringi musik ini, masya Allah ternyata kemampuan mereka juga sangat luar biasa.           “Wahhh keren, nggak nyangka ternyata Chandra jago juga ya main gitarnya,” ucap Imam.           “Iya nih, Faisol juga mahir banget menggebuk drumnya,” imbuh Yunus.           “Ahhh biasa aja, emang dari kecil gue tuh emang udah terlatih, hehehe,” jawab Faisol.           “Ya, kali aja sih kita bisa sering-sering latihan, asli seru banget kita tadi latihannya,” sahut Wahyu.           “Siap deh, pokoknya selalu jaga kekompakan,” imbuhku.           Waktu di pagi hari pun mulai tiba, dan sekarang adalah hari Jumat, hari di mana semua aktivitas diliburkan. Di pagi ini, seluruh santri mulai membaca koran yang terpampang di papan mading. Aku pun juga mulai ikut membacanya, awalnya diriku membaca berita seputar olahraga, lalu berlanjut membaca berita seputar selebritis. Tanpa sengaja kumenemukan sebuah iklan dari kartu perdana Axiz, bahwa besok di malam minggu akan ada konser d’Masiv yang akan berlangsung di kampus Muhammadiyah Malang.           “Wahhh, kesempatan emas nih, kapan lagi gue bisa nonton konser musik, selagi uang juga masih ada,” batinku.           Lalu ku segera masuk ke kamar.           “Yunus, besok malem ada konser d’Masiv tuh,” ucapku pada Yunus.           “Hmmm, terus kenapa?” tanyanya.           “Ya gue sih pengen nonton.”           “Yang benar aja Vian, Lu mau izin gimana ke pengurus.”           “Ya nggak usah pakek izin lah, kabur lewat tembok belakang kan bisa,” jawabku.           “Gilaaa, nekat amat Lu. Awas kalau ketahuan bakal gundul kepala Lu,” tambahnya.           “Ahhh, sekali-kali kan nggak apa-apa.”           “Ya sudah terserah Lu, pokok kalau sampai ada apa-apa gue nggak ikut-ikut,” imbuhnya.           “Iya deh.”           “Emang Lu kes ana sama siapa? Sendirian?” tanyanya.           “Rencananya sih gue mau ngajak Irvan.”           “Ya kali aja kalau dia mau.”           Dan pada akhirnya terpaksa kuharus berangkat sendirian untuk menonton konser, karena nggak ada satu pun yang mau untuk kuajak. Hari Sabtu tepat di siang hari kumulai memanjat tembok belakang pesantren lalu menerobos pekarangan tanaman tebu. Hanya dalam waktu lima belas menit, ku telah tiba di sebuah jalan raya dan siap untuk menaiki angkot.           Satu jam perjalanan telah kulalui, dan kini ku telah sampai di terminal Landungsari Malang.           “Ibuk permisi, kampus Universitas Muhammadiyyah Malang itu sebelah mana ya,” tanyaku pada seseorang.           “Oh ya, jalan saja ke arah barat mas, nggak jauh kok dari sini,” jawabnya.           Lalu diriku kembali berjalan dan mulai sampai di sebuah masjid yang bernama AR Fachruddin. Suara azan mulai berkumandang dengan cukup keras, segera kusempatkan diri ini untuk menjalani shalat Ashar sejenak. Usai shalat pun aku segera menuju gedung acara yang bernama Dome untuk membeli tiket. Syukurlah, tiket sudah kubeli, saatnya diri ini mulai menunggu waktu untuk bersiap menonton konser di malam nanti.           “Gila, si Vian nekat banget bisa nonton konser ke sana, sendirian lagi.” Gumam Yunus pada teman-teman saat ngerumpi di kamar.           “Entahlah, namanya orang lagi berambisi yang pengen jadi anak band,” jawab Imam.           “Oh ya temen-temen, sepertinya ada yang sedikit tidak beres tentang grup kita,” ucap Irvan.           “Apanya yang nggak beres Van?” tanya Yunus.           “Sepertinya pak Wes mulai nggak enakan sama kita-kita, gue jadi takut jika pada akhirnya dia akan selalu mencari kesalahan kita,” terang Irvan.           “Iya sih, gue juga ngerasa demikian. Mau ngapain aja rasa-rasanya makin kaku,” imbuh cak Inul.           “Waduh, kenapa gue bisa takut begini ya, apalagi Vian posisinya lagi nonton konser di luar sana, kalau sampai pak Wes tahu, bisa malah hancur ini,” jawab Yunus.           Kenakalan kita, sedikit demi sedikit mulai tercium oleh pak Wes selaku kepala pengurus keamanan. Seringkali dia mencurigai atas segala aktivitas yang telah kita lakukan. Bila hal ini terus berlanjut, maka bisa jadi ini akan menjadi ancaman besar bagi kita. Entahlah, semoga tidak akan terjadi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN