Setelah kepergian Adam dan Sean, keadaan di ruang makan menjadi hening. Ayah Cakra memijat pelipisnya, ia sangat bingung bagaimana membuat istrinya dan anak sulungnya tidak bertengkar. Ia melihat istri dan anaknya bergantian, mata Cakra menggelap karena emosinya yang hampir meluap sedangkan istrinya terlihat lebih angkuh, dua kepribadian berbeda yang membuatnya hampir gila. “kalian ini kenapa tidak bisa akur? Tidak malu? Kamu gak malu bertengkar di depan calon istri kamu, Cakra?” tanyanya menahan semua emosi. Cakra diam, ia tidak menjawab karena ia sadar masih belum bisa mengontrol emosinya, “kamu tahu sendiri dia seperti itu, mas. Anak bandel dan keras kepala” jawaban sang mama membuat Cakra kepanasan jenggot dan hal itu disadari ayahnya. “kamu ini seperti anak kecil, jaga omonga

