“Lan, ayok! Katanya lu mau beresin masalah gwa. Ni gwa udah punya duit nih, ayuk!” Eko dan Joko datang ke rumahnya Alan.
“Ya udah ayuk, ganti baju dulu ya,” jawab Alan dengan nada tak semangat.
Joko tahu jelas sebabnya kenapa, tapi ia tidak ingin membahas soal itu. Yang terpenting sekarang masalah Eko harus kelar dulu.
Tak sampai lima menit, Alan telah siap.
“Yuk!” Eko dan Joko mengikuti dari belakang.
Ada satu motor yang sudah terlihat seperti ronsokan namun masih bisa jalan meskipun suka batuk-batuk yang penting masih bisa jalan. Motor itu yang biasa di bawa Alan kalau tukang sayur ngak masuk ke dalam dan hanya nunggu di desa, motor itulah yang jadi andalan untuk mengangkut sayuran yang mereka petik. Kali ini motor butut itu mereka bawa bonceng tiga dengan jalanan berlumpur seperti kubangan kerbau. Sia-sia dah mereka pake baju bagusan, pas nyampe desa juga udah banyak kecipratan.
Perjalanan di tempuh selama empat puluh menit, mungkin kalau jalannya mulus seperti di aspal hanya memakan waktu lima belas menit saja.
Saat tiba di desa, Alan langsung meminta Eko untuk menunjukkan rumah Sari.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, akhirnya ibunya Sari membukakan pintu.
“Eh kalian, masuk,” ibunya Sari sangat ramah.
“Ngak perlu Bu, kita cuma mau tanya Sarinya ada di rumah?” Alan mewakili yang lain untuk bicara.
“Adak ok, di belakang lagi masak,” sahut ibunya Sari penuh senyum.
“Ya udah, tolong bilang sama Sari buat di rumah aja ya Buk,” sambung Alan.
“Maksudnya?” ibunya Sari bingung dengan perkataan Alan, pun juga teman-temannya Eko dan Joko. Masak jauh-jauh datang ke sini cuma mau bilang itu doang.
“Sarinya di minta buat ngak pergi dari rumah, kita bertiga nanti mau balik lagi. Izin sebentar mau ke sana dulu, nanti balik lagi ke sini. Ngak lama kok Buk,” ucap Alan.
“Siapa?” suara berat terdengar dari dalam.
Tak lama ayahnya Sari keluar, dengan wajah yang dari sepuluh meterpun mereka sudah tahu kalau ayahnya Sari kurang resfek sama mereka.
“Misi Pak, Bapak sama ibuk juga jangan ke mana-mana ya. Nanti kita ada urusan, tapi mau ke sana dulu sebentar,” Alan memberanikan diri berbicara pada ayahnya Sari yang terlihat sangar.
“Baiklah,” sahut ayahnya Sari tanpa banyak tanya.
Dengan sopan mereka pergi.
“Gimana sih Lan, katanya mau nyelesein masalah. Kok malah pergi sih,” tanya Joko.
“Udah, ikut aja. Nanti juga bakalan tahu,” sahut Alan. Sedangkan Eko diam seribu bahasa dengan wajah yang pucat pasi. Padahal ia tidak perlu berkata apa-apa, namun tubuhnya gemetar layaknya baru bangun sari sungai es.
Alan mengajak mereka ke rumah bidan desa yang rumahnya terletak di pinggir jalan raya. Alan sudah menghafal rumah-rumah penting di desa yang siapa tahu suatu saat akan mereka butuhkan, seperti rumah bidan, Kades, Kadus dan pak Rt juga ada beberapa ia yang ia tahu.
“Ngapain kita ke sini Lan?” tanya Joko lagi sembari melihat sekeliling halaman begitu luas.
“Udah diem. Lu pada di luar aja, biar gwa aja yang masuk,” sahut Alan.
Joko dan Eko nurut saja, mereka hanya duduk di kursi di teras depan.
Jok melirik tangan Eko yang masih gemetaran, ia menggenggam kedua tangan Eko agar tegap dan berhenti bergerak sendiri. Joko menggenggam erat tanpa mengatakan apa-apa.
“Duh, balik lagi,” ucap joko kala melepas genggamannya tangan Eko kembali gemetar hebat.
“Ngak usah takut sampa begitunya Ko, selama ada kita, lu ngak bakal di gebukin Bapaknya Sari. Lu ngak bakal babak belut, paling ya kena satu kali tonjokan,” ucap Joko begitu santai.
Eko langsung terperanjat, ia menatap Joko lekat.
“Ngak, satu tonjokanpun ngak bakal. Gwa jamin,” timpal Joko yang tak mau di tatap oleh Eko dengan tatapan menusuk.
Eko kembali menunduk.
Setelah sekitar sepuluh menit, Alan keluar bersama Bidan cantik.
“Masya Allah, bidadari,” ucap Joko terpesona.
“Hus,” Alan menyusut wajah Joko dengan matanya yang jelalatan.
Orang yang biasa tinggal di pedalaman memang hampir tidak pernah melihat wanita bening, begitulah Joko hingga tidak bisa berkedip memandang Bidan itu sepanjang jalan menuju rumah Sari. Eko yang tadinya gemetarpun ikut-ikutan terus melihat Bidan itu dengan malu-malu, hingga gemetarnya tanpa terasa sudah hilang.
“Assalamua’alaikum,” Alan mengucapkan salam. Pintu depan rumah Sari masih di buka lebar, mereka juga menunggu Eko dan teman-temannya balik lagi.
Eko yang baru sadar kalau mereka sudah sampai kembali ke rumah Sari, jadi gemetar kembali.
“Wa’alaikum salam,” sahut ibunya Sari sedikit tertangkap wajah kagetnya kala melihat Bidan juga ikut serta dengan mereka.
“Masuk-masuk!” Meskipun terkejut, ibunya Sari berusaha untuk tetap biasa saja.
Mereka berempat masuk setelah di persilahkan masuk oleh tuan rumah.
“Ada apa ini? Kenapa ada Bidan segala?” ayahnya Sari keluar dari kamar, wajahnya sudah tidak sesangar tadi, mungkin efek karena ada Bidan di rumahnya.
“Duduk dulu!” ibunya Sari mempersilahkan mereka untuk duduk.
“Begini Pak, mereka minta saya untuk datang ke sini guna memeriksa Sari. Mereka ingin bukti secara nyata tentang kehamilan Sari yang di gosipkan para warga,” Bidan itu berbicara lebih dulu atas permintaan Alan yang telah mereka komunikasikan terlebih dulu saat di rumahnya tadi.
“Bukti secara nyata bagaimana maksudnya?” nada bicara ayahnya Sari meninggi.
“Saya jelaskan secara langsung saja ya Pak. Maaf Sarinya ada?” tanya Mbak BIdan.
“Ada,” sahut Ayahnya.
“Minta tolong dipanggilkan,” ucap Mbak Bidan.
“Iya baiklah,” ibunya Sari bergegas ke belakang memanggil Sari.
Tak butuh waktu lama Sari sudah ke ruang tamu.
“Jadi begini Pak, Buk, ini namanya tespek. Ini adalah alat tes kehamilan. Jadi kalau sari benar-benar hamil akan terlihat di sini. Kalau Sari ngak hamil akan muncul satu garis, kalau munculnya dua garis artinya Sari benar-benar hamil.”
Mendengar itu wajah Sari menjadi panik.
“Memang bisa dipercaya, orang itu cuma kertas biasa kayaknya,” sahut ayahnya Sari meremehkan.
“Ini alat medis Pak, dan sudah terbukti keakuratannya,” sahut ayahnya sari.
Sebab orang dulu tidak pernah tes kehamilan. Tahu hamil hanya dari gejala dan kalau perutnya semakin lama semakin besar, itu saja.
“Gimana kalau di sini ngak hamil dan ternyata anak saya aslinya memang hamil, Dia bisa dengan maudah ya lari dari tanggung jawab,” sahut ayahnya Sari menunjuk Eko.
“Maaf, sebelumnya juga Sari udah bilang kalau Sari sebenarnya ngak hamil, tapi orang-orang di sini ngak percaya sama Sari. Sari memang mau dinikahi sama Mas Eko, tapi Sari juga ngak enak kalau dituduh udah macam-macam,” sahut Sari menunduk dan tak berani melihat ayahnya.
“Maka dari itu kamu buktikan!” sahut Mbak Bidan dengan cepat.
“Jangan cuma satu, kamu pake tiga tespek sekaligus. Biar terbukti keakuratannya.”
“Tapi biarpun begitu, anak saya sudah terlanjur digosipkan ngak benar. Saya malu kalau anak saya masih belum menikah sementara di kampung sudah ramai gosipnya,” sahut ibunya sari yang percaya sebenarnya Sari tidak hamil.
“Justru itu, kalau ngak hamil dan belum menikah kan nantinya juga terbukti. Orang perutnya ngak gede-gede ya ngak hamil toh,” sahut Alan.
“Mereka akan buat gosip baru, kalau Sari pasti sudah menggugurkan kandungannya,” ucap ibunya Sari merasa khawatir.
“Mulutnya manusia memang beracun,” celetuk Joko.
“Jangan khawatir, tes saja dulu. Nanti saya akan umumkan pada warga kalau seandainya Sari ngak hamil. Saya akan beritahukan pada waktu posyandu nanti, di sana akan ada banyak ibu-ibu ngumpul. Kan pada dasarnya yang suka ngegosip itu ibu-ibu,’ sahut Mbak bidan amat tenang.
“Ya sudah kalau gitu, tes buruan!” ayahnya Sari malah tidak sabaran.
Mbak Bidan dan Sari ke belakang. Setelah sekitar sepuluh menit mereka kembali lagi ke depan.
“Alhamdulillah, Hasilnya negatif. sari memang tidak hamil,” ucap Mbak Bidan penuh senyum.
Joko dan yang lain malah makin terpesona dengan senyuman Bidan cantik.
“Ya sudah, penuhi janji kamu untuk mengatakan itu pada ibu-ibu nanti,” sahut ayahnya Sari dengan wajah yang lebih tenang sekarang.
“Pasti,” sahut Mbak Bidan.
“Sudah, kalian pulang gih. Sudah mau malam ini,” ayahnya Sari berbicara pada Eko CS dengan nada lebih ringan.
“Baik Pak,” satu per satu mereka saliman.