bc

Alan Pradipto (Sang Pembangun)

book_age4+
35
IKUTI
1K
BACA
drama
genius
high-tech world
civilian
like
intro-logo
Uraian

Jangan bayangkan aku adalah pria ganteng, punya banyak uang, punya mobil mewah dan semua serba ada, bekerja di perusahaan besar. Tidak, aku tidak seperti itu. Aku hanyalah laki-laki desa yang berjuang dari mimpi, aku hanya laki-laki sederhana dengan wajah biasa saja. Bukan laki-laki yang di sukai banyak wanita seperti gambaran dalam telenovela.

Aku hidup di pedalaman, hidup terus berpindah-pindah dari hutan ke hutan. Tapi percayalah aku saksi yang sering bicara akan keindahan alam Indonesia.

Hidup bertemankan kemiskinan dan kesengsaraan adalah takdir bagi kami, tapi bukan takdir yang akan kami bawa hingga mati, aku akan mengubahnya, hingga hidup kami terang benderang karena ada cahaya baru yang menyinari.

Aku Alan Pradipto, kisahku membangun daerah pedalaman menggema seantero negeri, inilah yang menjadi jalan kesuksesanku. Dari pria biasa yang tidak lulus SD menjadi pria yang tetap sederhana namun namanya menggema di penjuru dunia.

Inilah kisahku, si pria biasa yang mengawali semua dari mimpi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Alan Pradipto
Alan Pradipto, ia terkenal sebagai seorang pembual yang punya khayalan tingkat tinggi namun tidak berpendidikan tinggi. Pendidikan yang rendah namun punya cita-cita tinggi inilah yang menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Namun Alan, tetaplah seorang Alan yang kepercayaan dirinya tidak akan kalah meskipun badai menerjang sekalipun. Setiap ia berkata tentang masa depan ia hannya mendapat olokan dan cibiran. Itu hal biasa baginya, ia tidak akan kalah dan tidak akan mundur. Ia hanya berharap ini adalah kampung terakhir yang ditinggalinya dan tidak perlu pindah-pindah lagi. Jika kalian tahu orang Jawa menempati seluruh bagian wilayah di Indonesia maka Alan dan keluarganya juga termasuk. Hingga saat ini mereka telah delapan kali berpindah tempat. Jika ayahnya merasa tempat tinggal mereka kurang menghasilkan maka ayahnya memutuskan untuk pindah dan menjual semua barang mereka. Alhasil mereka harus memulai lagi dari nol segala hal di tempat baru, termasuk penyesuaian lingkungan di tempat tinggal yang baru. Di kampung ini, Alan dan keluarganya sudah tinggal selama enam tahun. Ini adalah tempat terlama yang Alan tinggali. Biasanya hanya sekitar dua tahun atau kurang dari itu. Alan hanya menghitung perpindahan delapan kali yang bisa ia kenang, namun tidak tahu selama ia belum bisa mengenang berapa kali orang tuanya berpindah tempat. Alan punya seorang kakak perempuan yang telah menikah di usia dini dan sekarang ikut suaminya. Bagi keluarga miskin seperti mereka anak perempuan yang sudah haid harus segera dinikahkan, karena anak perempuan hanya di pandang sebagai beban keluarga. Dan jika ia telah menikah maka beban itu akan berkurang dan berpindah pada suaminya. Alan juga termasuk orang yang menentang pemikiran primitif itu. Karena semakin dini perempuan dinikahkan, akan semakin besar garis kemiskinan pada keluarga. Dan tentunya itu membuat para perempuan jauh dari kata bahagia, karena di usia dini telah harus memomong anak dan juga bekerja meskipun mereka belum berpengalaman. Dari sinilah ada banyak perempuan yang menikah bahkan sampai lima kali, karena ia telah menikah di usia dini dan akhirnya dicampakan oleh suaminya dan kemudian pulang ke keluarga. Namun karena di keluarga dianggap beban maka ia akan dinikahkan kembali dengan laki-laki lain. Bahkan mereka tidak tahu apa itu masa iddah. Alan adalah salah satu penentang pemikiran primitif itu, selain banyak anak-anak yang telah bersekolah dan keluar dari lingkaran itu yang menentang seperti Alan. Namun Alan adalan satu-satunya orang yang tidak berpendidikan namun menentang pemikiran para orang tua di sana. Alan hanya bersekolah hingga kelas lima SD, bahkan ia tidak memiliki ijazah SD karena orang tuanya yang suka pindah-pindah. Ia tidak malu untuk bersekolah meski di olok-olok teman-temannya karena ia yang telah besar namun masih sekolah SD. Akibat orang tua yang suka pindah-pindah ia masih di kelas empat SD ketika berumur tiga belas tahun. Dan akhirnya orang tuanya tidak mau lagi menyekolahkannya. Orang tuanya menganggap, anak seumur itu harus sudah bekerja mencari nafkah lalu kemudian menikah. Setiap pindah Alan dan keluarganya tinggal di kampung pedalaman yang isinya juga rata-rata sesama transmigrasi. Dan jika pindah biasanya mereka rombongan, jadilah teman-temannya itu-itu saja. Meskipun hampir puluhan kali mereka berpindah tempat, namun lingkaran lingkungan dan pergaulan yang itu-itu saja dan begitu-begitu saja tidak bisa mengubah apa-apa, pemikiran para orang tua tetap saja terbelakang. Hanya sedikit perubahan di tempat baru adalah Ustadz yang baru mereka kenal dan mau mengajari mereka mengaji walau baru iqro' satu. Yah mereka tidak pernah tahu apa itu mengaji meski agama keturunan mereka adalah islam. Satu-satunya huruf hijaiyah yang mereka tahu adalah alif, karena gurunya sering bilang 'Masak alif kayak tiang aja kok ngak tahu', itu kata-kata yang sering ia dengar ketika SD. Jangan berpikir jika SD dengan sarana lengkap di sana hingga mana mungkin mereka tidak tahu apa itu iqro', tidak begitu. Rata-rata SD di desa yang dekat dengan tempat tinggalnya itu tidak memiliki perpustakaaan. Di era yang sudah modern dan Alan yang sudah bekerja, akhirnya ia bisa membeli ponsel android meskipun di bilang kentang dan versi paling rendah dari android. Bagi Alan tidak masalah, yang terpenting mereka tahu isi dari dunia luar, bukan hanya pohon yang rindang dan kicauan burung. Sejak itulah ia mulai merancang mimpi akan masa depan, belajar hanya dengan membaca artikel-artikel di atas pohon untuk mendapatkan sinyal. **

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook