**
Alan dan teman-temannya terlahir dalam agama islam, namun baik ia dan teman-temannya baru mengaji setelah pindah ke kampung yang mereka tempati sekarang.
Orang tua mereka hanya tahu jika agama mereka islam tanpa tahu seluk beluk sebetulnya seperti apa itu islam. Kalau orang lain berkata mereka hanya islam KTP, sebab islam di Indonesia itu mayoritas dan mungkin nenek buyut mereka sudah islam jadi mereka terlahir islam tanpa pernah belajar apa itu islam.
Orang tua yang hanya sibuk bekerja di kebun dari terbit matahari hingga tenggelamnya matahari tanpa tahu bagaimana cara mendidik anak.
Di tempat yang sekarang mereka tinggali mereka bertemu ustadz Hasan yang sering mengisi pengajian di langgar (musholah). Ustadz Hasan mengajari banyak hal, seperti ilmu fiqih, sejarah kebudayaan islam hingga mengajari mereka mengaji meskipun mereka semua harus mulai dari iqro satu.
Mereka memang bisa membaca huruf latin karena telah bersekolah meskipun tidak ada diantara mereka yang lulus, namun mereka buta aksara arab. Apa tidak ada pelajaran agama islam di masa mereka SD? Tentu ada. Karena ini Indonesia yang mayoritasnya adalah islam. Setiap sekolah tentunya ada pelajaran agama islam jika negri. Namun semua tulisan arab di buku cetak SD telah ada cara membacanya secara latin, dan mereka membaca tulisan latin dibawah tulisan arab tersebut.
Semasa mereka berpindah-pindah baru keli ini hati mereka terbuka untuk belajar mengaji, hidayah memang datang pada siapapun yang di kehendaki Allah. Tidak perduli sekeras apa kita berusaha untuk membuat orang lain mendapat hidayah, jika Allah belum berkata kun maka tidak akan menjadi fayukun.
Baru di tempat ini mereka mengerti apa itu hidup dan apa tujuan untuk hidup. Sebelumnya mereka hanya merasa seperti kuli yang tidak berharga. Harga mereka hanya sebatas seberapa kuat mereka bekerja maka semakin banggalah orang tuanya. Sebab bagi para orang tua pendidikan tidaklah penting, hanya sebatas bisa membaca dan berhitung maka tenagalah yang selebihnya akan diandalkan untuk menjadikan hidup lebih nyaman kelak dihari tua.
**
“Lan si Eko kata Joko udah mau nikah sama Sari anak kampung luar,” ucap menggosip di tengah ladang.
Mereka sedang melobangi tanah untuk kemudian di ini pupuk dan diaduk dengan tanahnya.
“Emang udah berasa mampu nafkahin anak orang?” sahut Alan.
“Bukan masalah mampu atau ngak mampu Lan, tapi mau ngak mau harus mau,” sahut Ucup membingungkan.
“Maksudnya?”
“Iya, si Eko ternyata udah bikin adonan duluan. Adonannya udah jadi dan harus dimasak. Kalau ngak dimasak adonannya bisa basi. Huahah,” Ucup tergelak sendiri.
“Lu ngomong apa sih Cup ngak ngerti gwa.”
“Aduh Lan, umur lu berapa sih peribahasa begitu aja ngak ngerti. Perlu gwa jelasin sedetail-detailnya.”
“Emang berapa hari sih kita belajar soal peribahasa. Kita itu hanya bersekolah sampe kelas lima SD, belajar peribahasa cuma beberapa kali doang dan ngak pernah denger peribahasa yang barusan kamu bilang tadi.”
“Sok polos lu Lan,” ucap melepaskan cangkul yang ia pegang demi memukul kepala tak nyambung Alan meskipun tidak keras.
“Apa sih Cup, makanya lu jelasin sejelas jelasnya!”
“Eko ngehamilin anak orang,” ucap Ucup sepat.
“Astaghfirullah Cup, kalo ngomong tuh mesti pake saringan deh. Kalau ngak bener bisa fitnah kamu,” Alan marah, merasa teman sendiri menjelek-jelekan teman sendiri.
“Semua temen-temen bilang gitu,” sahut Ucup.
“Ya walaupun semua bilang begitu, sebagai teman kamu ngak boleh bilang begitu. Meskipun benar ngak boleh menertawai begitu.”
“Udah lah deh Lan, kamu itu sok suci. Nanti malah kejadian sama kayak si Eko kamu.”
“Astaghfirullah, kok kamu malah nuduh sih.”
“Tuh kan kamu sok suci lagi, padahal baru ngaji kemarin sore ucapan kamu udah kayak alim ulama aja.”
“Bukan begitu, gwa kan hanya mencoba meneladani ustadz Hasan. Beliau suka bilang begitu jika sedang tidak suka pada sesuatu.”
“Alahh…. capek ngomong sama kamu Lan. Setiap kali ngomong sama kamu pasti debat.”
**
Siang hari setelah mandi dan sholat dzuhur Alan pergi ke tempat Eko, ingin memastikan dengan jelas tentang apa yang dikatakan oleh Ucup tadi.
“Ko,,…”
Eko yang sedang memetik timun itu pun berbalik.
“Apa? Mau ngatain gwa juga kaya anak-anak yang lain,” sensenya ketika berbalik, lalu berbalik badan kembali dan memetik mentimun lagi.
“Bukan, cuma mau mastiin aja bener ngak lu mau nikah?”
“Sama aja Lan, pada akhirnya lu nuduh gwa ngehamilin anak orang kan?” Eko yang terlalu sensi karena banyak teman-teman yang mengoloknya jadi tidak bersemangat untuk berbicara dengan siapapun.
“Bukan itu Ko, kalau lu memang ngak ngelakuinnya kaku harus bersihin nama baik kamu!”
“Apa yang mesti dibersihkan? Pada dasarnya ngehamilin anak orang bukan hal tabu bagi kalangan kita, tapi sayangnya gwa ngak serendah itu, gwa masih ingat betul soal dosa zina yang dikatakan oleh ustadz Hasan.”
“Terus mau ngebiarin aja semua orang nuduh kamu begitu?”
“Itu kan memang karena mereka aja yang suka bergosip. Kemarin Sari ke sini dan berkata pada orang tua gwa minta supaya gwa nikahin. Lah orang tua gwa bilang kalau gwa udah ngehamilin Sari.”
“Astaghfirullah, kok bisa begitu.”
“Yang sangat disayangkan, karena orang tua gwa marah-marah dengan suara keras jadi orang-orang lain pada ngumpul dan terjadilah gossip seperti ini.”
“Kamu udah coba jelaskan!”
“Penjelasan sudah tidak ada artinya lagi Lan.”
“Kamu bukannya beneran pacaran sama sari, kenapa sedih mau dinikahkan?”
“Pacaran sih pacaran, tapi dituduh ngehamilin anak orang itu yang ngak gwa terima.”
“Iya sih, gwa pun di posisi lu juga begitu.”
“Dan malemnya orang tua Sari dateng ke kumah karena terhasut oleh warga yang lain. orang tua Sari minta agar secepatnya menikahi anaknya karena sudah terlanjur malu.”
“Berat amat masalah lu Ko. Tapi yang jadi pertanyaan gwa adalah kenapa Sari nekat nemuin orang tua lu?”
“Gwa memang udah janji buat nikahin dia, tapi uang buat mahar belum terkumpul dan Sari terus mendesak. Sebagai seorang laki-laki gwa hanya ngak mau nantinya Sari hanya menanggung kesusahan, sebab dia bukan dari keluarga susah sepertiku.”
“Udahlah nikah aja Ko, seiring dengan waktu juga bakalan kebukti kalau omongan orang-orang pada ngak bener.”
“Tapi gwa salut sama lu Lan, lu satu-satunya orang yang ngak kehasut sama omongan orang-orang kampung sini dan berani menanyakan kejelasannya.”
“Karena kita sama-sama tahu masing-masing dari kita, dan sebagai sahabat gwa percaya lu ngak mungkin begitu.”
Pada dasarnya di era modern ini menikah dengan hamil diluar nikah sudah tidak tabu lagi. Nilai moral yang semakin rendah ditambah dengan ketidak tahuan tentang agamalah menjadi penyebabnya.
Banyak para gadis muda rela menyerahkan mahkota terindahnya pada laki-laki yang ia anggap tepat dengan alasan takut kehilangan laki-laki impiannya itu. Namun masih ada Alan dan teman-temannya yang menganggap itu tabu dan tidak boleh dilakukan.
Meskipun mereka sedang terpecah karena Eko dianggap telah menghamili anak orang, mereka tetaplah berpegang teguh pada agama jika berzina adalah dosa besar yang berat tanggungannya kelak diakhirat. Di samping itu mereka juga berpikir jika lelaki yang masih suci akan mendapatkan wanita yang suci pula. dan juga sebaliknya, jika lelaki itu suka bermain perempuan maka yang mereka dapatkan adalah wanita yang tidak baik.
Bukankah pada dasarnya semua laki-laki menginginkan wanita baik-baik, namun ada banyak laki-laki yang tidak mau menggung proses untuk mendapatkan wanita baik-baik tersebut. Terkadang ada laki-laki yang hanya berpikir bahwa wanita yang baik-baik dan suci hanya untuk dikagumi semata, meskipun ada juga laki-laki yang melihat wanita baik-baik malah ingin merusak dan merasakan menjadi yang pertama.
Di era sekarang orang seperti Alan dan teman-temannya sudah termasuk langka, kebanyak mereka sebagai laki-laki tidak suka menjaga kesucian meskipun memimpikan menikah dengan wanita suci.
**