Pernikahan

1130 Kata
“Kita nikahkan saja Ani sama Joko Pak, toh Ani sudah datang bulan dan Joko anak yang baik. Ibu lihat-lihat juga Joko anaknya rajin,” obrolan Bu Ucup dan Pak Ucup yang di kuping oleh Ucup anaknya di belakang. Rumah yang sempit bisa dengan mudahnya saling mendengar obrolan masing-masing. “Iya Buk, boleh juga. Nanti besok Bapak bicara sama orang tuanya Joko. Joko juga sudah berumur masak orang tuanya ngak mengizinkan, kecuali kalau mereka mau putus hubungan sama kita,” Sahut Pak Ucup sembari sesekali menyesap kopi hitam yang dihidangkan oleh Bu Ucup. Di lingkungan mereka para orang tua akan di panggil dengan panggilan anak tertua mereka. “Saya ngak setuju Pak, Buk. Ani masih terlalu kecil untuk dinikahkan. Nikah sama Joko lagi. Buk Ucup itu sahabatnya Joko, Ucup tahu kelakuan Joko seperti apa. Joko itu di depan orang aja rajin, tapi aslinya pemalas. Sukanya cuma ngegame di atas pohon,” ucap langsung sewot sendiri. “Tapi setidaknya paginya ia bekerja kan Cup, jadi dia sudah bisa berumah tangga. Berumah tangga kan saling bantu membantu, mungkin kalau kerjanya berdua, Joko jadi lebih semangat. Orang itu akan berubah kalau sudah menikah, dia kan suka main game karena masih bujangan Cup,” ibunya menjawab dengan santai. “Tapi Buk.. kalau Joko tidak berubah, hidup anak Ibuk yang jadi taruhan. Kalian sadar ngak sih kalau keputusan ini terlalu beresiko untuk kebahagian Ani dan hidup Ani kedepannya,” Ucup tak mau kalau argument. “Tapi Ani udah mau kok dinikahkan Mas,” Ani malah keluar dari kamar dan menjawab dengan jawaban yang membuat Ucup berasa di sambar petir. “Apa yang kamu harapkan dari menikah di usia dini Ani, Apa hah?” Ucup marah-marah dan semakin tidka terkendali. “Terus apa yang Ani mau kalau tidak menikah Mas? Ani mau main sama teman-teman, tapi mereka juga sudah menikah dan akan menikah. Ani hanya tersenyum kecut saat mereka ngobrolin tentang anak-anak mereka. Terus apa yang Ani inginkan selain menikah saat teman-teman Ani sudah pada menikah. Ani sendirian Mas, Mas juga bakalan selalu sibuk sama teman-teman Mas saat waktu senggang. Bapak sama Ibu selalu sibuk bekerja tanpa kenal waktu. Terus buat apa Ani masih terus melajang?” Ani menumpahkan segala kekesalannya karena hampir keseluruhan dari anak seusia dia telah dinikahkan oleh orang tuanya. “Tapi Ani tetap saja, kamu tidak akan tahu masalah apa yang akan kamu temukan setelah pernikahan. Hidup setelah menikah di usia dini itu berat Ani, Mas banyak dapet cerita dari teman-teman Mas yang menikah di usia dini. Apa lagi kalau suami kamu belum bisa bertanggung jawab penuh,” Ucup berbicara menatap Ani, kedua tangannya memegang kedua bahu Ani. “Ani ngak perduli, toh banyak orang-orang yang ngak bahagia di pernikahan pertama tapi menemukan kebahagiannya di pernikahan berikutnya, hidup itu perlu percobaan Mas,” sahut Ani ketus. “Astaghfirullahal’adzim Ani, kamu belum nikah juga sudah berencana buat cerai. Terus kamu senang kalau kamu jadi janda yang sudah punya anak. Gimana nasib anak kamu Ani. Mas Heran deh, kok bisa kamu punya pola pikir yang seperti itu” Ucup emosi. "Emang orang seperti kita harus hidup seperti apa Mas? Menikah setelah berumur dan Berlaga kaya dan terhormat seperti orang kota saat masih lajang. Semua orang sudah tahu Mas dari mana kita berasal." "Ya bukan begitu juga Ani. Seenggaknya kamu perlu tahu mana yang baik mana yang enggak terlebih dulu." "Jadi Mas pikir Ani anak kecil yang ngak tahu apa-apa? Begitu?" Perdebatan diantara mereka jadi semakin sengit. Ani tidak mau kalah dar kakaknya, merasa pemikiran lebih layak untuk di dengar. Sedangkan Ucup mendebat hanya karena tidak ingin adiknya hidup lebih sengsara nantinya. Biarpun sekarang miskin, ia tidak ingin anak-anak mereka dan keponakannya kelak merasakan hidup miskin dan tidak berpendidikan seperti yang dirasakannya. Apapun itu, ucup tidak mau keturunan mereka kelak terjerat dalam lingkungan dengan pemikiran primitif seperti sekarang. “Udah, udah. Kamu juga Cup, yang mau menjalani pernikahan itu kan adik kamu. Kok kamu sewot. Ngucap astaghfirullah segala, kata-kata Ani kan ada benernya. Ibuk kan istri keduanya Bapakmu, kamu bukannya tidak tahu itu, baru ngaji juga kamu, usah sok-soa’an ceramah,” ibunya berbicara ketus. “Sudah Cup, pokoknya besok bapak bakalan bicara sama orang tuanya Joko. Kamu ngak usah sok-so’an menggurui orang tua, inget siapa yang membesarkan kamu. baru ngaji sebentar kamu, udah bisa ngelawan orang tua.” bapaknya malah berpikir jika mereka sering mengaji malah diajarkan untuk memberontak, karena sekarang Ucup sering menasihati orang tuanya masalah agama. ”Astaghfirullah, bukan gitu Pak tapi…” “Tapi apa? Kalau kamu begini terus, bapak ngak bakalan lagi suruh kamu ngaji. Mau tempat pengajian itu kami obrak abrik.” “Astaghfirullah,” Ucup menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan, mengusir detak jantung menderu karena perkataan bapaknya. “Ya sudah, terserah Bapak saja. Tapi Ucup minta agar Joko diberikan pilihan untuk mau menikah atau tidak.” “Masalah itu bapak lebih tahu dari pada kamu.” “…” Ucup tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa dengan bahu yang tidak tegap masuk ke kamar yang berdinding bambu. Ia menenggelamkan pikiran di ruangan sempit yang hanya muat untuk selonjoran itu. ** Ani menangis di kamarnya, kamar yang sebenarnya hanya bilik bambu. Dalam hatinya ia juga belum mau menikah. Tapi pilihan itu tidak ia pilih karena rasanya ia tahu diri, di lingkup mana ia sekarang tinggal. Apa sebenarnya tujuan hidupnya ia pun tidak tahu. Jika ia tidak menikah sekarang, lalu selanjutnya apa? Apa ia harus mengurung diri di rumah karena teman-teman sudah sibuk bekerja dan mengurus anak sepanjang hari. lagian kedua orang tuanya akan terus mendesaknya agar segera menikah jika ia tidak segera menuruti kemauan kedua orang tuanya. "Loh kok nangis toh ndok?" ibunya masuk ke biliknya tanpa ia sadari. "Ngak nangis kok Buk. Kelilipan aja," Elak Ani menghapus air matanya. "Kamu marah sama kakakmu atau kamu sebenarnya ngak mau nikah?" tanya ibunya sambil duduk di samping Ani. Tempat tidur mereka di buat dari kayu yang di taman di tanah, lalu di bikin seperti pondok dari bambu. Tapi di atasnya tetap di berikan kasur agar nyaman ketika tidur. "Ani hanya bingung aja Buk." "Bingung kenapa?" "Ani sebenarnya belum mau menikah, tapi Ani juga mikir Ani mau ngapain kalau ngak nikah." "Lah begitu aja kok nangis sih Ndok, cengeng sekali. Ngak usah nangis! Menikah lebih baik, dari pada kamu pacaran dan bikin dosa saja. Lebih baik menikah agar terhindar dari perbuatan dosa." "Iya Ani tahu itu. Tapi Ani juga sebenarnya belum kepikiran buat nikah." "Kamu suka Joko ngak?" Ani mengangguk dengan sangat pelan. Ia menyukai Joko, tapi bukan berarti ia mau nikah sekarang juga. "Kamu mau Joko menikah sama orang lain?" Ani kemudian menggeleng pelan. "Kalau ngak mau, ya kamu harus cepat nikah sama dia lah," jawab ibunya sangat gampang. Sepertinya bagi ibunya ini perkara yang mudah. "Iya juga sih," dengan mudahnya Ani terpengaruh. "Iya Harus," sahut ibunya meyakinkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN