“Heh Lan, tuh temen-temen kamu udah pada mau nikah. Kamu kapan? jangan cuma main aja dipikirin,” ayahnya Alan duduk di kursi depan rumah yang terbuat dari bambu bikinannya sendiri, sedangkan Alan baru pulang dari kerja di ladang.
“Maksud Bapak Eko?” Alan duduk di sisi ayahnya.
“Iya Eko dam Joko,” sahut ayahnya sembari menyeruput kopi hitam yang baru diantar istrinya ke depan. Rata-rata rumah di sini hanya bilik bambu. Selain karena tidak punya urang, mereka juga tidak mau membuat rumah yang lebih mahal, sebab biasanya hanya ditinggali beberapa bulan saja.
“Joko?” Alan tampak terkejut.
“Lan,Lan. Kalian itu temenan dari kecil, masak temen mau kawin kamu ngak tahu.”
“Joko mau nikah sama siapa Pak?” Alan bertanya cepat.
“Sama Ani.”
“Ani? Maksud Bapak adinya Ucup?”
“Iya, siapa lagi. Kamu itu, kayak kampung kita gede aja. Orang nama Ani itu satu-satunya kok,” sahut ayahnya santai, namun tidak bagi Alan yang sudah gusar.
“Bapak dapat berita dari mana?” tanya Alam lagi antusias.
“Tadi Bapaknya Ucup ke sini. Katanya baru pulang dari rumah joko membicarakan soal pernikahan Joko dan Ani.”
“Terus Jokonya setuju?”
“Ya setujulah, orang sudah dirundingkan sama orang tua dari dua belah pihak.”
Spontan Alan berdiri dan berlari pergi.
“Loh, kamu mau ke mana?” teriak ayahnya.
“Cari Joko Pak,” sahut Alan sembari berlari.
**
Seperti yang Alan duga, sore-sore begini biasanya mereka sudah ada di tongkrongan seperti biasa.
Alan tiba dengan ngos-ngosan, ia terlebih dulu mengatur nafas sebelum bisa bicara.
Alan mendonga, tiga temannya ada di pohon yang sama, tapi diantara mereka tidak ada satupun yang saling bicara dan juga tidak sedang main game. Mereka hanya diam seribu bahasa sembari sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alan tidak mengatakan apapun, setelah selesai mengatur nafas, ia ikut naik ke atas pohon. Eko ada di dahan paling atas sementara Joko dan Ucup di dahan setelahnya.
“Rumit,” ucap Alan setelah ia bisa duduk di dahan paling bawah.
“Lu mah enak, orang yang ngak terserang masakah sekarang kan cuma elu,” sahut Joko.
“Memangnya apa masalahnya Joko, coba jelaskan. Gwa tadi barusan aja denger dari Bapak, tapi gwa ngak percaya kalau lu mau nikahin bocah. Dan tadinya gwa pikir lu udah babak belur di hajar sama ucup. Eh pas sampe di sini malah diem-dieman kayak nyamuk habis kena tepok.”
“Eh, kalau itu modar namanya Lan. Lu nyumpahin temen-temen lu modar emangnya,” sahut Ucup.
“Ya habisnya, biasanyakan lu pada berisik kayak nyamuk lagi kawinan. Sekarang malah diem bae kayak orang bisu.”
“Kita semua lagi pada mikir gimana solusi dari permasalahn kita Lan. Eko, dituduh ngehamilin anak orang dan dipaksa kawin. Dan sekarang Joko juga sama, dipaksa kawin sama orang tua gwa dan orang tunya dia. Mana Ani setuju lagi buat dikawinin. Tuh bocah heran deh, tuaan umur toge juga, udah mau kawin aja,” celoteh Ucup.
“Gwa punya, dari kemaren-kemaren gwa udah mikirin permasalahannnya Eko,” sahut Alan.
“Punya apa maksud lo,” jawab Ucup. Yang lain menatap Alan penuh penasaran.
“Ya ide buat membereskan permasalah lu,” Alan membalas tatapan Eko.
"Serius?" Eko teramat antusias.
"Terus gwa?" Joko bertanya masih dengan wajah di tekuk.
"Beresin dulu satu-satu. Setelah permasalahan Eko kelar baru kita cari solusi buat permasalahannya Elu."
"Mmm," Joko manyun.
"Tapi lu punya duit ngak Ko? Soalnya ini perlu duit. Ngak banyak, paling lima puluh rebu doang," tanya Alan menatap Eko.
"Kalau lima puluh rebu doang mah ada," sahut Eko.
"Ya udh, sekarang kita siap-siap. Kita berangkat ke ke Desa sekarang. Sekalian kita langsung temui Sari."
"Tapi yakin berhasil?" tanya ucup dengan nada tak percaya.
"Udah, coba dulu. Yuk buruan! Keburu malam nanti."