Bab. 3- Takdir

1472 Kata
Pertemuan dan permulaan adalah dua hal yang bisa mendatangkan sebuah hubungan baru... Entah berpisah atau bersatu... *** Ainun mencolek lengan Ranum dan membisikkan sesuatu. "Udah, Num. Ikutin aja," katanya. Mau tak mau, akhirnya Ranum mengikuti langkah kaki Arya. Keduanya berjalan bersisihan ke luar gedung, menuju area parkir. "Kamu sama Indi pernah satu sekolahan ya?" Arya membuka obrolan saat mereka baru masuk ke dalam mobil. "Pak Arya tahu dari mana?" "Ijazah kamu. Saya juga tanya ke Indi. Tapi katanya dia nggak kenal kamu." Gadis di sampingnya tertunduk seraya menarik napas pendek. "Sebenarnya kami dulu berteman baik, Pak. Sayangnya, mungkin karena saya pernah ada bikin kesalahan tanpa sengaja, jadinya dia nggak nyaman sama saya." "Kesalahan apa?" Arya menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya perlahan. Bisa dibilang, Arya ini bukan tipikal mudah ingin tahu tanpa sebab. Akan tetapi, entah kenapa, melihat Ranum seolah mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Dan membangkitkan rasa perhatian lebih pada gadis itu. Hingga tanpa sadar, ia terus berusaha mencaritahu. Terkadang, naluri simpati serta empatinya memang sulit ditahan. Ranum menggeleng. Sejujurnya, ia tidak tahu tepatnya di mana letak kesalahan tersebut. Ia hanya merasa kalau dirinya pernah berbuat tidak menyenangkan sampai Indi mengjauhi dan membencinya. "Saya kasih tahu Pak Arya gini bukan untuk cari simpati. Saya minta tolong Pak Arya nggak cerita ke siapa-siapa soal saya dan Indi. Dan juga, saya nggak mau terkesan merebut posisi Indi, Pak." "Posisi yang mana maksud kamu? Indi itu gadis baik. Saya heran, biasanya dia nggak pernah protes kalau saya mendadak tukar jadwal sama anak lain. Ternyata ada masalah sama kalian, pantesan dia sensi dari awal kalian ketemu di ruangan saya." Ranum hanya tersenyum tipis. Ia mencari topik lain untuk mengalihkan pembahasan. "Oh ya, Pak Arya sudah berkeluarga? Maksud saya menikah dan punya anak?" "Apa tampang saya udah kelihatan setua itu ya?" "Biasanya malah yang kelihatan muda justru yang sering menipu mata, Pak." "Belum. Saya masih sendiri. Orang tua saya di Lumajang. Di sini saya tinggal ikut kakak saya." "Nggak dapat kompensasi rumah pribadi atau tunjangan buat sewa kontrakan ya, Pak?" "Sebetulnya dapat. Cuma daripada saya buat ngontrak, mending uangnya saya pakai buat bayar cicilan rumah." "Boleh gitu, Pak?" "Kan tahunya perusahaan saya bayar tinggal di tempat kakak. Memang bayar, cuma ya nggak seberapa. Paling bantu bayar listrik, air, atau kadang beliin sembako tiap bulan buat kakak ipar masak." "Oh gitu..." "Kamu sendiri, asli sini?" "Bukan, Pak. Saya asli Kediri. Udah lama kerja dan tinggal di sini. Orang tua di sana." "Ngontrak?" "Iya, sebelahan sama Indi juga." "Wah, bagus dong. Siapa tahu kalian bisa akur lagi nantinya." "Mudah-mudahan, Pak." "Cewek tuh aneh ya kalau berantem. Beda sama cowok. Kami kalau ribut ya sekalian adu jotos, tapi habis itu kelar semua. Nggak diem-dieman atau malah saling perang batin kayak kaum hawa kebanyakan." Tak ada jawaban dari Ranum lagi. Ia sibuk menikmati pemandangan hiruk pikuk jalanan di luar sana dari balik jendela kaca mobil. Sementara, Arya sesekali melirik ke arahnya. Menikmati wajah cantik Ranum dalam kediaman berbaur kekaguman. Hatinya terus berusaha bersabar agar tidak terjerat pada cinta yang salah. Baginya, menyukai seorang gadis hanya berdasar tampilan fisik semata bukanlah hal yang bisa dibenarkan sepenuhnya. Setidaknya, ia harus mendalami karakter dan sikap sang gadis sebelum menentukan serta membiarkan isi hatinya terjebak lebih jauh lagi. Yang menjadi tanda tanya besar batin Arya adalah, kenapa baru sekarang ia tertarik dengan seorang gadis? Setelah dua tahun bekutat dengan usaha penglupaan diri terhadap mantan kekasihnya yang tak bisa dimiliki. Banyak gadis cantik singgah di hidupnya. Tak satu pun menarik minatnya. Ia merasakan ada ikatan aneh antara dirinya dengan kehadiran Ranum yang tiba-tiba menyusup dalam hidupnya. Arya salah satu manusia yang tidak percaya dengan kebetulan. Namun, ia sangat percaya pada takdir dari Sang Kuasa. Bila dua orang dipertemukan dengan bermodal hati yang berdebar, bisa jadi ada rahasia Sang Pencipta terselip dari kisah keduanya. Jika tidak berteman, mungkin berjodoh... Di salah satu tempat makan, Arya memberhentikan mobil dan memarkirkannya. Ia mengajak Ranum turun untuk sarapan dulu. Ia belum sempat makan pagi karena kakak iparnya sedang pulang kampung ke rumah orang tua. "Mau ngapain ke sini, Pak?" "Makan lah, Num. Masa mau konser sih?" "Saya sudah makan tadi pagi, Pak." Baru berkata demikian, perutnya malah mengeluarkan bunyi. Memang rasa sungkan belum mampu mengalahkan rasa lapar yang menyerangnya. Sejak semalam ia belum makan. Ia harus lebih irit sebelum gajian turun akhir bulan nanti. Uang Ranum sebagian besar telah habis untuk menyewa bangsalan. Ia tak suka kos umum, dikarenakan biasanya lebih sering berisik dan susah punya privasi tenang. Jika saja Rendi tidak menemukan tempat kerja baru Ranum dua minggu lalu, pasti gadis itu tak repot pindah-pindah segala. Ia hanya ingin hidup dengan damai tanpa adanya gangguan dari sang mantan kekasih. "Num! Kok malah begong? Ayo masuk? Apa nunggu saya gandeng dulu?" seru Arya, menyadarkan Ranum dari lamunan tak tentu. Gadis itu segera mengekori langkah atasannya. Dalam hati berdoa semoga makanan di tempat ini tidak mahal. Ia jarang punya waktu untuk menikmati kuliner keliling. Paling-paling masak sendiri kalau ada waktu. Atau masak nasi dan tinggal beli lauk di warung terdekat tempat tinggalnya. Ternyata, Arya membawa Ranum ke sebuah rumah makan prasmanan. Harganya juga termasuk ramah di kantong. Banyak anak-anak muda yang diperkirakan mahasiswa makan di sana. Setelah menikmati hidangan, rasanya juga tidak mengecewakan. Entah kenapa Ranum bagai tersihir dengan suasana di sekitaran. Melihat orang-orang di sekeliling makan sambil bergurau atau sekadar ngobrol satu sama lain. Gadis itu merasa batinnya yang kosong menghampa serta lama terkurung , kini akhirnya mulai terbebaskan. Ia bersyukur telah terlepas dari Rendi. Pria yang sering menekan mental dan pikirannya. Termasuk hatinya. Segala kehidupan dan keseharian Ranum sangat dibatasi dan penuh kekangan. Sampai Ranum lelah dan memilih pergi dari kehidupan Rendi. Sayangnya, sang mantan seolah sudah sangat terobsesi padanya. Sering Rendi menemukan keberadaan Ranum berulang kali. Ranum berharap kali ini ia akan tetap aman. "Num? Num?" Panggilan Arya baru masuk ke dalam gendang telinga Ranum. Gadis itu tersentak kaget. Arya mengingatkannya untuk tidak sering melamun. Apalagi di tempat ramai begini. "Melamun itu nggak baik. Kelihatan banyak tekanan banget kayaknya hidupmu." Hanya senyum samar yang bisa Ranum tunjukkan. Tak ada yang tahu, seperti apa ia menyimpan duka dan lukanya selama ini. Tak ada yang memahami, bagaimana sulitnya ia mendapatkan kebebasan macam ini. Ranum melanjutkan makan. Menikmati perkedel dan sayur daun singkong di atas piring. Arya sudah menawarkan ayam goreng atau ikan untuk lauk Ranum. Akan tetapi ditolak dengan alasan sedang tak ingin makan itu. "Makanan favoritmu apa, Num?" "Ehm ... pindang Kudus, Pak." "Pindang Kudus? Makanan apaan itu? Ikan? Sayur? Atau?" "Pindang Kudus itu salah satu makanan khas daerah di kabupaten Kudus. Bisa dibilang rasanya d******i antara soto dengan rawon. Isinya daging, daun melinjo, dan rempah-rempah pokoknya enak. Di sini belum ada saya nemu." "Jauh banget mainmu sampai ke Kudus? Ada kerabat di sana?" "Iya, adik saya menikah dengan orang sana. Dan ikut suaminya tinggal di sana." Sedetik Arya menautkan satu alis. Ia menerka sesuatu. Artinya, sang adik mendahului kakaknya ke pelaminan. Setahunya, kalau orang tua Jawa itu cenderung melarang keras akan hal tersebut. Ia heran kenapa Ranum bisa? "Kamu diduluin sama adikmu? Ortumu nggak gimana-gimana?" "Saya yang memaksa. Awalnya orang tua nggak setuju. Tapi, setelah saya kasih pengertian, alhamdulillah ... akhirnya mau memahami. Dan untuk menghindari gunjingan tetangga, lebih baik saya kerja di luar kota sekalian. Mikirin omongan orang terun cuma menguras energi aja, Pak," jelasnya panjang lebar. "Nggak takut jodohmu lama datengnya? Kan katanya gitu?" "Pak Arya percaya itu?" Sontak Arya menggeleng cepat. Ia salah satu pria yang tidak mudah percaya hal-hal demikian. Adat budaya boleh dilestarikan, untuk yang memang seharusnya ada. Kalau sudah mengenai kepercayaan seperti ini, ia memilih untuk tidak sependapat. Baginya, jodoh, rezeki, maut, semua ada waktu dan jatahnya masing-masing. "Saya juga nggak percaya, Pak. Buat saya, jodoh itu ibarat dua jalan yang berbeda tapi akan jadi satu arah tujuan. Walaupun banyak tikungan, belokan, dan hambatan, bila memang Sang Kuasa berkehendak pasti akan ketemu juga nantinya. Bukan soal umur dan dulu-duluan." Argumen yang cukup masuk akal dan terdengar benar menurut Arya. Pria meneguk air minum sampai habis tak bersisa. Sudut matanya masih melirik intens wajah cantik Ranum yang mirip Bunga Zainal. "Pak Arya sendiri kenapa belum menikah?" "Masih pre order jodoh, Num." Ranum hanya mesem sambil geleng kepala. "Kamu lebih percaya kebetulan atau takdir?" "Takdir, Pak." "Kenapa?" "Karena sebuah kebetulan adalah bagian dari takdir..." Arya terdiam. Seolah ada sesuatu terngiang dalam ingatannya. =======♡ Perfection ♡======= Sekilas sapa_ Harap maklum ya gais kalau masih ada tipo melanda. #peace cerita ini memang sempat ku up di wp tapi sedikit-sedikit akan kuperbaiki lagi di sini. Maapkan bila masih banyak kekurangan atau apalah itu namanya. Aku berusaha tuangkan imajinasiku ke dalam setiap ceritaku. Memberi sentuhan pesan supaya gak sekadar kisah kosong belaka. Mudah-mudahan selalu menghibur dan menginspirasi kita semua. Hehe. Terimakasih... Semoga sehat selalu buat kita semua. Tetap semangat dan keep strong. #senyum
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN