Hidup kadang tak seindah bayangan
Ada kalanya prasangka dan caci maki datang mendera
Bila tak mampu jangan melawan
Cukup diam dan tunjukkan kita tak seperti yang mereka katakan
***
Hampir setengah harian Ranum menemani Arya keliling ke beberapa swalayan, outlet atau toko-toko yang bekerjasama dengan produk mereka. Usai pengecekan, Arya mengajak Ranum mampir ke suatu tempat. Betapa terkejutnya Ranum, ternyata yang disinggahi Arya adalah masjid. Ia senang melihat dan mengenal pribadi seperti Arya. Hatinya mulai tersentuh hanya karena hal sesederhana namun mengagumkan baginya.
Benaknya mulai berkelana mengkhayalkan sesuatu. Namun, tak mampu ia harapkan kenyataannya. Dirinya terlalu malu pada Sang Pencipta bila harus meminta terlalu banyak.
"Kita asaran dulu ya, Num. Kamu nggak lagi ada tamu kan?"
Ranum menggeleng seraya tersenyum. Keduanya berpisah mencari tempat wudhu masing-masing. Lalu menjalankan kewajiban mereka sebagai umat muslim.
Sementara itu di kantor, seharian ini Indi dilanda mood tak baik. Mukanya tertekuk dihias cemberut dan bibir manyun tak karuan. Ia masih kesal atas sikap Arya pagi tadi. Sudah lama Indi menyimpan perasaan pada pria itu. Baginya, Arya adalah tujuan hati yang masih tersembunyi, dan menanti waktu tepat untuk diungkapkan ketulusannya.
"In, kamu udah selesein garapan laporan hari ini?" tanya Ainun menyadarkan lamunan temannya. Pertama Indi diam tak menjawab, barulah kedua kali ia menoleh dan tersentak agak terkejut.
"Heh, melamunin apa kamu? Nggak biasanya juga mukamu lecek kayak koran diinjek-injek," kata Ainun sambil geleng kepala.
Indi membenarkan kacamata sebentar, ia hanya tersenyum dengan ketrpaksaan diri. "Udah mau kelar kok ini, Mbak," balasnya.
"Kamu lagi ada masalah? Sini, cerita aja sama aku. Daripada mbok pendam sendirian nanti malah jadi penyakit loh."
"Nggak kok, Mbak. Cuma agak capek aja sama lapar, biasalah," dalihnya asal.
"Nggak mungkin. Wajahmu itu nggak pinter bohong loh. Aku tahu kamu pasti cemburu kan lihat Pak Arya sama Ranum pergi berdua? Ndak usah menutupinya dariku, In. Aku ini udah kenal kamu lama."
Perkataan Ainun teramat menohok baginya yang tengah dilanda kesangsian hati. Indi menghela napas pendek. Mencari asupan oksigen yang bisa dihirup untuk merefresh paru-parunya yang seolah ikut merana. Serta membuang karbondioksida, seakan sekalian ingin melenyapkan emosi jiwa yang membuncah tanpa ampun.
"Ranum itu dulu teman satu sekolahku, Mbak."
"Hah? Serius? Bagus dong kalian bisa nostalgia masa sekolah malah."
"Dulu kami sahabat baik. Sampai akhirnya dia kecewakan keparcayaanku."
Ainun menyimak baik-baik cerita Indi. Bukan hal aneh bila mereka sering saling curhat, bahkan di jam kerja seperti ini. Saat senggang atau bila ada waktu luang, pasti keduanya akan bertukar pikiran. Bagi Ainun, Indi sudah seperti adik sendiri. Walau hanya terpaut beda dua tahun lebih tua, gayanya masih bisa mengimbangi yang di bawahnya.
"Terus kenapa kok kamu kaya nggak suka ketemu dia lagi?"
"Karena dia udah bikin aku sakit hati, Mbak."
"Sakit hati gimana, In? Kamu cerita mbok ya jangan setengah-setengah. Bikin orang makin kepo aja."
"Dulu di depanku dia dukung aku suka sama seseorang. Tapi pas di belakangku dia malah jadian sama cowok itu. Bayangin aja gimana sakitnya, Mbak. Aku tahu dia jauh lebih cantik dariku. Aku nggak ada apa-apanya sedikit pun. Hanya saja, caranya yang bohongin aku dan main di belakang gitu yang bikin kecewa. Padahal, kalau dia jujur baik-baik di awal, aku mungkin nggak akan sekecewa waktu itu."
Mendengar kisah pilu Indi, sontak Ainun lumayan iba. Ia sangat antipati terhadap manusia sejenis pelakor kalau bahasa gaulnya sekarang. Alias perebut laki orang. Cerita punya cerita, pacarnya yang sekarang jadi tunangan, dulu pernah dua kali kepergok selingkuh oleh Ainun. Entah kenapa ia bisa memaafkan pria itu, meski dikhianati berulang kali. Rencananya mereka juga sebentar lagi akan menikah. Sebagian persiapan pun telah disiapkan.
"Jadi, si Ranum itu mantah pelakor gitu?!" pekiknya tanpa sadar. Membuat yang lain spontan mendengar dan mendongak kaget.
Buru-buru Indi meminta Ainun kembali tenang dan jangan berisik. Ia tak mau dianggap penyebar aib orang lain. Sebenci apapun ia pada Ranum. Bukan haknya mengumbar masa lalu buruk mereka. Sekarang, Indi malah menyesal sudah sembarangan menceritakan kisahnya pada Ainun. Maklum saja, ia memang kadang susah mengontrol emosi bila dilanda cemburu membabi buta begitu.
Akibat ulah tak sengaja Ainun barusan, beberapa orang jadi kasak-kusuk tak jelas.
Hingga Arya muncul bersama gadis yang tengah mereka gosipkan. Malangnya, ini adalah hari pertama Ranum masuk kerja. Namun, ia harus menerima gunjingan tanpa klarifikasi lebih awal pada sang terdakwa. Gadis itu tersenyum menyapa teman-temanya. Semua kaum hawa di sana terlihat membalas dengan senyum sinis. Entah mengapa mereka sejak awal memang terlihat tak suka dengan kehadiran Ranum. Apalagi, setelah para pria menatapnyan dengan pandangan kagum luar biasa.
Beruntungnya, kaum adam di sana tak mudah termakan gibahan kawan-kawan sejawatnya. Mereka tetap ramah membalas senyuman Ranum. Terlebih trio jones yang langsung melambaikan tangan dibarengi mimik wajah bahagia.
"Sebentar lagi kan jam pulang, kamu bisa sambil masukin data-data tadi ke komputer ya?"
"Baik, Pak Arya."
Arya berlalu menuju ke ruangannya sendiri, sedangkan Ranum langsung menghampiri kubikelnya di antara Ainun dan Indi. Ia duduk menghadap layar di depannya dan mulai mengerjakan tugasnya.
Ainun menyeret kursinya sampai mendekati kursi Ranum. "Num, gimana Pak Arya?" celotehnya sengaja memancing tanggapan Ranum. Mencari tahu kebenaran apakah Ranum benar-benar perempuan yang suka bermain dengan pria mana pun atau tidak.
Di sisi lain, Indi tak acuh. Makin geram batinnya tiap kali melihat Arya bersikap baik pada Ranum. Padahal, biasanya Arya itu dingin dan cuek. Hanya bicara bila diperlukan. Hanya perhatian kepada orang-orang tertentu. Itu pun yang sudah lama dikenal berdedikasi tinggi pada perusahaan. Contohnya seperti Indi. Ia tak menyangka, seorang pria seperti Arya juga mudah terjebak oleh pesona Ranum Widyawati. Satu tangan Indi mengepal dan meremas kertas hvs di atas mejanya sendiri.
"Maksudnya Mbak Ainun?" Ranum tak mengerti arti pertanyaan Ainun padanya.
"Kamu suka nggak? Soalnya, pengalaman sih ya, banyak anak baru sering kesemsem sama Pak Arya biasanya. Apa kamu juga salah satunya?"
"Nggak mungkin Mbak, kalau kayak gitu. Saya cuma kagum karena beliau care. Itu saja."
"Care gimana nih maksudmu?"
"Suka mengingatkan kalau ada yang salah, Mbak. Saya jadi terbantu pas belajar di lapangan tadi," jelasnya.
"Oh gitu. Berarti kamu nggak ada rasa lebih? Semacam jatuh cinta pada pandangan pertama gitu?"
Ranum menggeleng tegas. Sempat diliriknya Indi yang duduk gusar di tempatnya. Ia harap Indi dapat mendengar pernyataannya barusan. Agar tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka. Dan berharap kebencian Indi padanya lekas pudar.
Percakapan tak lagi diperpanjang. Mereka kembali sibuk melakukan tugas masing-masing. Sesekali Ranum bertanya pada Ainun bila ada yang ia tak pahami atau kurang ia mengerti. Sampai jam pulang tiba. Ainun pulang lebih dulu karena pekerjaannya sudah rampung, juga jemputannya telah menunggu di luar.
Handoko sigap menghampiri Ranum. Ia sudah mempersiapkan diri sepanjang hari untuk mengantar gadis itu pulang. Tak peduli seberapa jauh dari arah rumahnya sekali pun. Kesempataan emas yang bagus. Karena dua saingannya sedang tidak bisa berkutik. Seno dan Bimo agaknya harus lembur untuk menyelesaikan laporan data. Mereka sempat mengacak rambut sebal melihat Handoko curi start lebih dulu.
"Ranum, pulang sama aku aja yuk? Dijamin aman sampai tujuan," celotehnya percaya diri.
"Jangan mau, Num! Motornya sering mogok tuh!" teriak Bimo mengompori keadaan.
"Bener! Si Han kalau naik motor ugal-ugalan nggak jelas!" imbuh Seno.
Ranum hanya tersenyum menanggapi info dadakan mereka berdua. Lalu kembali melihat Handoko yang berdiri di depan kubikel Ranum dengan mimik harap-harap cemas.
"Makasih atas tawarannya, Ko. Tapi, saya pulang sendiri saja," tolak Ranum sopan.
Seno dan Bimo kegirangan melihat teman mereka tak berhasil dengan tujuan terselubung alias pedekatenya. "Nah loh, gagal nih ye," ledek duo jones berbarengan.
Alhasil Handoko pun ke luar sambil garuk tengkuk. Indi berdiri usai mematikan komputer. Teman-teman lain juga sudah pulang sejak lima menit lalu. Ranum menyusul setelah menyelesaikan kerjaan.
Ketika menuruni tangga, derap langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Arya menyandingi jalan Ranum. "Num, pulang sama siapa? Ada yang jemput?" tanyanya kilat.
"Sendiri aja, Pak. Ini baru mau pesan ojek online."
"Nggak usah pesan. Bareng sama saya aja."
"Nggak usah, Pak-"
Belum selesai Ranum bicara, Arya lebih dulu memotong ucapannya. "Kamu mau baikan sama Indi kan?" tanyanya kemudian.
"Sepertinya susah, Pak. Indi kelihatan benci banget sama saya."
"Usaha dulu, baru bilang susah. Saya bantu kalian."
"Caranya gimana, Pak?"
"Ikut saya," ajak Arya tanpa sadar menarik dan menggandeng tangan Ranum. Gadis itu kaget dan sontak melepaskan pegangan tangan atasannya. Ia tak mau orang-orang memandangnya sebagai karyawan yang tidak tahu diri nantinya. Baru pertama kerja tapi sudah pegangan tangan dengan bos. Membayangkan nyinyiran orang saja ia ngeri duluan.
Arya minta maaf dan mempersilakan Ranum jalan lebih dulu. Di luar Indi sudah menunggu Arya. Rupanya ia dikirimi pesan oleh Arya untuk pulang bersama. Betapa tak sukanya saat Indi menatap Ranum jalan di dekat Arya. Perasaannya mulai tak enak.
"Kalian berdua ikut saya ambil barang dulu. Sekalian saya antar pulang nanti. Jangan membantah," tegasnya.
Indi dan Ranum saling pandang sejenak. Bedanya, Indi menatap dengan amarah. Sementara Ranum menatap dengan sungkan.
Sepanjang perjalanan, mereka terbungkam tanpa kata. Arya menepikan mobil untuk membeli sesuatu di minimarket. Indi melihat di seberang jalan ada penjual es cincau hijau kesukaannya. Ia turun berniat untuk membeli. Ranum ikut turun mencari udara segar. Pengap bila di dalam mobil saja, sendirian pula.
Jalanan sedang ramai dilalui kendaraan bermotor. Indi diliputi ketidakfokusan saat akan menyebrang. Hampir saja ia keserempet motor kebut-kebutan yang melintas. Untung Ranum cepat tanggap dan menarik lengan Indi mundur.
Gadis itu bukannya berterimakasih, ia justru menepis tangan Ranum, "Jangan sok baik sama aku! Aku nggak suka, Num! Anggap aja kita nggak pernah kenal sebelumnya!" cecarnya.
"Aku cuma mau memperbaiki pertemanan dengan kamu, Indi. Apa salahku?" tukas Ranum jujur. Ia akhirnya punya kesempatan mempertanyakan kesalahan apa yang pernah ia buat, sampai sikap Indi berubah drastis terhadapnya.
"Di mataku kamu banyak salah! Kamu cantik! Kamu punya bentuk tubuh ideal! Kamu juga baik dan ramah! Kamu sempurna! Dulu kamu disukai Dimas! Sekarang kamu juga disukai Pak Arya! Tolong Num, menjauh dariku!"
Ranum terdiam saat tahu alasan di balik perpecahan pertemanan mereka. Cinta Indi yang selalu bertepuk sebelah tangan. Menjadikan Ranum sumber kesalahan dan penghalang terbesar baginya. Gadis itu tak menyangka, hanya karena dua pria yang disebutkan Indi, ia harus menerima kebencian Indi tanpa alasan jelas sebelumnya.
"Aku-"
"Cukup ya! Bagiku, kamu itu cuma seorang pengkhianat! Kalau memang kamu punya hati nurani, jaga sikap kamu! Jangan rusak hubunganku dengan Pak Arya seperti kamu merusak hubunganku dengan Rendi!"
Lagi-lagi Ranum hanya bisa mematung tanpa suara. Indi berjalan pergi menuju penjual es cincau dengan perasaan berkecamuk. Lebih sedih lagi Ranum, ia harus menelan pil pahit dari kata-kata temannya. Rasanya lebih menyayat dari sebilah belati. Gadis itu termenung. Lalu berbalik dan masuk mobil sambil menyeka lelehan air mata.
"Sampai kapan orang akan berpikir aku adalah perempuan perusak?! Aku nggak ingin jadi tuduhan terus-menerus!" gumamnya menahan sesak yang menggunung. Terlihat jelas, ada sebuah kenangan pahit melintas dalam angannya.
=======♡ Perfection ♡=======
Sekilas sapa_
Hai, apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya gais. Btw, harap maklum kalau masih ada tipo melanda. #hehe #peace
Terimakasih buat yg selalu setia ngikutin cerita-cerita sederhanaku. Mudah-mudahan selalu diberi kelancaran rezeki dan kebaikan dari Yang Maha Kuasa.
Tetap semangat dan keep strong gais!!
========================