Fakta itu mengajarkanku untuk mengerti, bahwa selalu ada luka dalam setiap cerita. Jika membungkamnya merupakan pilihan, maka mendengar jawabannya, lebih dari sekedar kesakitan. *** Altair sudah menyilangkan kaki di sofa panjang yang tersedia di ruang kerjanya. Meneguk segelas wine di hadapannya, ia terdiam dengan pikiran yang sudah membelenggu entah kemana. Dan ia masih menyentuh ponselnya saat panggilan dari Clara terhubung padanya sejak tadi. Jika saja Clara mengatakan sesuatu yang tidak baik, Altair bersumpah ia tidak akan menerima panggilan itu, mengingat suasana hatinya sedang kacau. Tapi bagaimama perkataan Clara seakan memberi Altair semangat baru. Seolah-olah ia memiliki cara dan dipermudah untuk kembali memenangkan Lea--wanitanya. Altair tahu itu egois, terdengar jahat

