Lalu begitulah semua luka itu terlewati dengan semua pelantara.
Hal-hal yang tak sepenuhnya bisa ditebak hanya karena mengingatnya.
Namun selalu ada alasan dalam semua luka itu menjadi lebih dalam dan tak terlewatkan.
***
Lea sudah bergabung dengan Ellard dan Clara. Memperhatikan setiap pandangan yang Ellard berikan untuk wanita itu. Allura tidak tahu bagaimana menebaknya, tapi pada satu kesadaran yang dimilikinya Allura yakin ada sorot menginginkan yang Ellard tunjukkan. Sebuah pandangan yang semua orang mungkin mampu menebak apa yang terjadi disana.
Allura tidak cemburu, ia bahkan tidak berhak untuk melakukan itu. Tapi entah kenapa ada satu relung yang membuatnya kelimpungan untuk memahami segalanya. Sampai kedatangan Altair--b******n itu membuat Allura memutar bola matanya jengah.
Altair juga terlihat sudah kembali pada posisinya. Sama sekali tidak mengubah pandangan Lea untuk melihat lelaki itu.
Tidak tahu seperti apa perasaan yang masih tersimpan dihatinya, karena Lea masih membenci Altair. Atas semua yang lelaki itu lakukan pada hidupnya. Meskipun itu sudah lima tahun berlalu, lukanya masih tersimpan jelas. Masih terngiang dalam kepalanya, masih membekas pada sudut hatinya yang kini telah terkoyak tanpa sisa. Lea mengingat itu semua, sehari, sedetik, semenit, segala yang terjadi, Altair adalah pelaku utama yang pantas Lea caci maki.
Sampai akhirnya ketika suara Ellard kembali memecah lamunannya. Barulah Lea menoleh untuk melihat lelaki itu.
"Kau ingin memesan sesuatu? Pembicaraanku dengan Clara sudah selesai." katanya pertama. Dia sudah menangkup tangan Lea, membawa tangan wanita itu dalam rengkuhannya.
Lea sama sekali tidak mengerti sebenarnya apa yang Ellard pikirkan diantara mereka. Apa sebenarnya yang pantas Lea harapkan atas mereka.
Lantas Altair dan Clara menatap berang pada dua objek berbeda yang sedang mereka perhatikan. Disana, bagaimana Ellard menyentuh Lea membuat Altair geram. Dan Clara, bagaimana perhatian Ellard membuatnya menatap Lea tajam seperti ingin membunuh wanita itu.
"Apa tidak sebaiknya kita makan di tempat lain?" kata Lea kemudian. Menatap Ellard gamang "Ketempat kita biasa. Bolehkah?" mohonnya. Sama sekali tidak tertarik untuk terus berada disana.
Lalu Ellard mengangguk. Dia mengacak rambut Lea pelan, seolah-olah hanya ada mereka berdua. Seperti memperlihatkan bahwa Lea adalah pilihannya. Padahal Ellard sendiri tahu siapa sebenarnya yang ia inginkan. Lalu Ellard kembali menatap Clara dan Altair bergantian. "Sepertinya aku dan Lea harus pergi." katanya pertama. Dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Altair, sebagai salam perpisahan untuk pertemuan malam ini.
Altair menerimanya, tapi dia menekan tangan lelaki itu dengan kuat. Bagaimana perlakuannya pada Lea membuat Altair gusar. Tapi Altair sengaja, ia ingin menunjukkan bahwa ia tertarik. Bahwa ia menginginkan wanita itu.
Ellard meringis, menatap lelaki itu bingung tapi Altair tidak peduli.
"Mr. Kennedy?" pekik Ellard sedikit lebih nyaring. Barulah Altair menyudahi itu, tapi matanya terus menatap berang lelaki dihadapannya.
"Oh sorry, tanganku sangat pegal." kekeh Altair kemudian. Sengaja. Seharusnya ia patahkan tangan b******n yang berani menyentuh wanitanya itu.
Lea membulatkan mata menatap Altair tajam. Ia tahu Altair sengaja melakukannya. Mengerti bahwa lelaki itu senang membuatnya dalam kesulitan.
"Ellard--" erang Clara pertama. "Tidak bisakah kau pulang denganku saja? Daddy dan Mommy mencarimu. Kau bahkan tidak bertemu mereka di Pesta kemarin."
"C-mon Clara. Kau lihat aku bersama Lea." jawabnya malas. Tapi Ellard tetap memusatkan perhatiannya pada wajah Clara. Menunjukkan bahwa dia memuji dan mendambanya kadang kala.
Clara mengedikkan bahu tidak peduli. "Begitukah? Kau bahkan mengabaikanku terang-terangan sekarang?"
"Mr.Kennedy ada disini. Kau juga datang dengannya, dia bisa mengantarmu pulang." imbuh Ellard lagi.
Altair menyahut cepat. "Aku ada urusan, sepertinya aku tidak bisa mengantarnya."
Clara menoleh, menatap tajam si songong disebelahnya itu.
Dengan Altair yang sudah mengedipkan sebelah mata geli. Setidaknya harus ada yang harus ia lakukan.
"Tapi aku bisa meminta Zach-- asistenku untuk mengantarnya, apa kau tega membiarkan pewaris Laurels ini dengan orang lain?" kekeh Altair pertama. "Kau tidak masalah jika Mr.Laurels pergi dengan siapapun?
Ellard terdiam sesaat. Memikirkan segala kemungkinan yang akan diterimanya, mengingat Hadley dan Laurels sangat dekat. Mengimang, menimbangi apa yang harus ia putuskan.
Ellard menghela napas panjang. Menatap Lea payau lalu berujar. "Apa tidak masalah Clara ikut dengan kita?" katanya meminta persetujuan.
Jika saja Lea mampu menjawab tidak. Jika saja Lea bisa menolak dan menggeleng atas pilihannya. Tapi sialan karena itu semua hanya rutukan di hatinya. Akhirnya Lea mengangguk, berpura-pura tidak masalah atas itu.
Clara menyunggingkan senyum meledek, bersorak girang, sementara Altair sudah tersenyum puas.
"U-um Ellard, sepertinya aku bisa pulang sendiri. Aku harus kembali ke Bar." kata Lea kemudian. Ia bersumpah lebih baik tidak semobil dengan Clara daripada wanita itu menerkamnya.
Ellard menggeleng pertama. Memindahkan perhatiannya untuk menatap Lea. "Hei-hei. Aku bertanggung jawab untuk mengantarmu pulang. Jangan seperti itu." yakin Ellard lagi.
"Montana Bar? Aku juga ingin bertemu seseorang disana. Kau bisa ikut denganku." tawar Altair kemudian. Sandiwara yang begitu luar biasa.
Lantas Lea menggeleng cepat. "Tidak perlu Tuan, saya bisa pergi sendiri." tolaknya lantang. Begitu terang-terangan tanpa mempedulikan siapa peran Kennedy disini.
Ellard berpindah kembali menatap Altair. Memastikan bahwa apa yang didengarnya benar. "Benarkah kau akan ke Bar itu?" tanyanya memastikan.
Altair mengangguk sebagai jawaban. "Temanku dari Indonesia mengajak kami bertemu disana."
"Lea...aku akan jauh lebih tenang jika kau bersama Mr.Kennedy." kata Ellard setelahnya, menatap wanita dihadapannya lekat. "Aku juga tidak akan merasa bersalah jika kau bersamanya."
Lea menggeleng pelan. Benar-benar ide yang buruk. Ellard--lelaki ini apa dia tidak tahu apa yang Lea lewati jika bersama Altair b******n ini?
"Jika kau tetap ingin pergi sendiri maka tidak kuizinkan." titah Ellard setelahnya. "Biar kau bergabung bersamaku dan Clara saja."
"Ell--"
"Tidak Lea. Setidaknya jika bersama Mr.Kennedy, aku tahu kau akan baik-baik saja."
Lea menekuk wajahnya. Mengerucutkan bibirnya masam atas ide konyol itu. Sementara Altair terdiam ditempatnya. Bagaimana Lea terlihat mematuhi semua yang Hadley itu katakan membuat Altair meringis. Dulu--ia yang ada di posisi lelaki itu. Dulu, ia segalanya untuk wanita itu.
"Kau bisa pergi denganku Nona Lea. Kita searah..." tambah Altair. "Bukankah itu lebih menghemat biaya? Kau tahu taxi disini sangat mahal."
"Ya, kau dengan Altair saja. Biarkan aku pergi bersama Ellard." sambung Clara cepat. Menekankan itu untuk mempercepat segalanya. "Jangan menyulitkan dirimu sendiri, memang kau punya uang untuk naik taxi?" sindir Clara kembali.
"Clara--" potong Ellard cepat. Tapi Clara hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Lagi pula, jalang seperti itu tidak pantas menolak tawaran baik dari orang-orang seperti mereka.
Lea menghela napas, mengabaikan perkataan Clara, lagi pula wanita itu benar. Akhirnya menoleh untuk melihat Altair, Lea melayangkan pandangan membunuh pada lelaki itu sebelum berujar malas. "Baiklah, Ellard. Aku akan pergi dengan lelaki ini."
Ellard mengangguk puas. "Jangan lupa menghubungiku."
Lalu Lea melangkah pergi, dengan Altair yang sudah mengikuti di belakangnya.
Sialan. Karena pada akhirnya Lea tetap berakhir dengan b******n sialan itu.
***
"Kau benar-benar mendengarkan semua yang Hadley itu katakan. Apa yang dia berikan padamu?" tanya Altair ketika mereka sudah berada di dalam Lamborghini miliknya. Merasa jengah karena perlakuan Lea untuk Hadley sialan itu berhasil mengusiknya.
Sesekali Altair menoleh pada wanita di sebelahnya. Memperhatikan wanita itu lebih banyak dari pada jalanan yang dilewatinya. Bagaimana pandangan Lea tidak pernah berpindah.
Lea ia rus menoleh pada luar kaca mobil. Mengabaikan kehadiran Altair disebelahnya. Menghiraukan keberadaan lelaki itu, karena Lea sendiri terlanjur malas untuk menatapnya.
"Dia menyewamu dengan harga berapa? Aku bisa membayarnya dua kali lipat." sambung Altair lagi. "Sepuluh kali lipat jika memang kau mau." katanya. "Berhenti terus bergantung padanya. Kau tidak lihat Laurels dan Hadley pasangan yang cocok?" Tidak peduli jika perkataannya sudah menyinggung Lea, karena Altair menahan diri saat Lea terus menatap lelaki lain. Saat wanita itu terus mengabaikan dirinya.
Berhasil. Perkataan itu langsung membuat Lea menoleh. Memandangnya dengan berkali-kali lipat kebencian. "Bergantung padanya?" kekeh Lea pertama. "Dia bukan lelaki yang menilai orang dari kekayaan. Tidak seperti keluarga sampahmu itu!" sambung Lea geram. "Kau tidak tahu apa-apa b******n. Berhentilah berbicara dengan mulut t***l mu itu!"
Altair menghentikan mobilnya mendadak. Dia menoleh, membalas tatapan Lea sama geramnya. "Kau benar-benar berpikir lelaki itu menyukaimu?" selanya gusar. "Jangan senaif itu Lea. Kau tidak tahu apa-apa tentang Hadley."
Menghela napas gusar, Lea menatap b******n itu dengan semua kemarahan yang disimpannya. "Apapun yang aku pikirkan--bukan urusanmu, bajingan." geramnya. "Bagaimana lagi aku harus menyadarkanmu? Kau tahu? Kebencianku pada keluargamu sudah tidak bisa dimaafkan lagi! Sampah! Keluargamu sampah, Altair! Kau juga! Kau bahkan lebih kotor dari sampah!" cecar Lea. Mengeluarkan seluruh emosi yang sudah tersulut dalam dirinya.
Altair menarik tangan wanita itu, menatapnya gamang dan penuh permohonan. "Lea...pukul aku. Lakukan semua yang ingin kau lakukan, keluarkan semua kekesalanmu, kebencianmu. Tapi kumohon, dengarkan semua penjelasanku..." erang Altair putus asa. "Ada banyak Lea, ada banyak hal yang ingin kuceritakan, yang ingin kukatakan..."
Menghempas tangan lelaki itu kuat, Lea berujar. "Kau tahu apa yang aku inginkan?
"Katakan! Apapun akan aku turuti asal kau memaafkanku..." erang Altair. Benar-benar tidak tahu diri setelah semua yang ia lakukan. Tapi Altair tidak peduli, bahkan jika harus bersujud akan ia lakukan.
Menyunggingkan senyumnya, Lea menunjukkan kebencian itu dan berujar. "Menghilanglah seperti sebelumnya."
Dan perkataan Lea berhasil membuat Altair terdiam seperti sebelumnya. Menatap wanita itu--gamang. Seolah semua yang wanita itu katakan, memperjelas separah apa Altair menyakitinya dulu. Sejauh apa ia melukai wanita itu. "Tidak bisa Lea. Katakan sesuatu yang lain..." mohon Altair kemudian.
"Apa kau memang sebajingan ini? Kau ingin membuat hidupku sehancur apa lagi?" tanya Lea kemudian. Bagaimana bara kemarahan sudah menumpuk didadanya. "Apa kau puas jika kau berhasil menghancurkanku untuk kedua kalinya?"
Altair menggeleng cepat. "Aku melakukan semua itu, karenamu..."
"Karenaku?" kekeh Lea geli. "Apa aku tidak salah dengar?"
"Jika aku tidak menuruti semua yang Papaku katakan, kau a--"
"Tidak ada penjelasan." sela Lea cepat. "Kau ingat aturan pertama, jadi stop membela diri. Aku tidak peduli alasan sialan itu lagi." jelas Lea kemudian. "Kau ingin lanjut jalan atau biarkan aku pergi?" sambungnya mempertegas.
Altair menghela napas berat dan mulai menderu mobilnya kembali. Mengacak rambutnya frustasi, karena ia tidak punya kesempatan untuk mengatakan semua itu. Lantas, harus bagaimana lagi Altair mengatakannya?
"Kau tidak perlu ke Bar. Istirahat saja di rumah. Aku akan mengantarmu pulang." jelas Altair kemudian. Ia membelok mobilnya menuju rumah wanita itu.
"Aku masih punya waktu untuk kerja, bawa saja aku ke Bar." tolak Lea kemudian. "Jangan mengaturku!"
"Istirahat. Kau tidak mendengarkanku sekarang?" decak Altair tajam.
"Mendengarkanmu? Untuk apa? Kau siapa?" sindir Lea geram. "Aku bisa di marahi pemilik bar. Jadi cepat antar aku kesana."
"Tidak akan ada yang berani memarahimu. Percaya padaku kali ini." titah Altair.
"Sayangnya, aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi."
"Maka pulang dan lihat besok, tidak akan ada yang memarahimu. Jika kau tidak ingin mendengarkanku, maka diam dan lihat. Aku akan buktikan."
"Terserah kau saja!"
Lalu hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Perdebatan itu, pertengkaran yang terjadi, semua kekacauan itu. Seharusnya Altair mampu membuat Lea mengert, bisa membuat wanita itu memahaminya kembali.
Hingga Altair kembali memecah keheningan disana. Menatap Lea lagi dan lagi. "Kau bisa menjadi sekretarisku. Berhentilah kerja di Bar itu."
"Tidak sudi. Lebih baik aku menjadi pengemis daripada kerja dengan orang sepertimu!"
"Orang sepertiku?" beo Altair. "Apa aku sehina itu? Apa aku tidak pantas menerima kesempatan itu?"
"b******n!" pekik Lea cepat. Benar-benar tidak peduli dengan semua yang lelaki itu katakan. "Kau lebih dari hina!"
"Lea. Akan aku cari cara supaya kau tetap denganku. Aku bersumpah." yakin Altair akhirnya. Menghela panjang karena ia tahu tidak akan ada habisnya setiap pembicaraan itu. Lea--wanita itu sudah terlanjur membencinya.
Lea hanya memutar bola matanya jengah untuk tidak ingin peduli dan tahu lagi.
***
Altair menghentikan Lamborgininya pada parkiran Montana Bar. Setelah mengantar Lea pulang, ia memutuskan untuk datang kemari. Mengingat ia harus bertemu dengan Sean dan juga mempertegas siapa pemilik bar ini kini.
Semua penjaga langsung menyambutnya hormat, membungkuk sopan karena sepertinya mereka sudah tahu siapa lelaki itu.
"Tuan Kennedy." kata semua penjaga itu serempat. "Selamat datang..."
Altair mengangguk. Lalu teringat sesuatu yang harus dikatakannya. "Apa Zach sudah memberitahu kalian?"
"Siap! Sudah Tuan." jawab mereka tegas. Serempak. "Silahkan masuk."
Kemudian Altair berlalu dan memasuki bar, mencari-cari sosok Sean, karena sejak terakhir kali bertemu sahabatnya itu, dia masih berada di sini.
"Altair!"
Altair menoleh, menghela napas panjang karena ia sudah tahu siapa yang berani meneriakinya sesantai itu.
Sean langsung merangkulnya, membawa Altair menuju tengah Bar dan memperkenalkan wanita yang sedang di sewanya untuk menemaninya minum malam ini.
Altair menoleh untuk melihat siapa yang Sean bawa, ketika teriakan dari wanita itu berhasil membuatnya menggeleng.
"b******n! Apa yang kau lakukan disini?" teriak Alice pertama. Berlonjak karena ia menemukan Altair tiba-tiba berada di hadapannya. Meskipun kesadarannya sudah hampir habis, Alice tetap mengenali b******n itu.
Sean membulatkan mata, sementara Altair mendengus malas disebelahnya.
"Hei, kau mengenalnya?" tegur Sean pada Alice. Membawa wanita itu untuk lebih dekat dengannya.
Alice mengangguk. Menatap Altair dengan semua kemarahan dimatanya. Kemarahan yang juga membekas atas apa yang lelaki itu lakukan pada sahabatnya. "b******n ini! Dia sudah menyakiti sahabatku!" teriaknya nyaring. Tangannya tak henti-henti menunjuk wajah Altair. Begitu kentara bahwa ia sangat membencinya.
Tapi Altair terkekeh, dugaannya benar. Lea sudah menceritakan masa lalunya dengan wanita itu. Tapi Altair tidak ambil pusing, karena wanita itu terlihat sangat mabuk. Sangat kacau hingga Altair tahu wanita ini tidak sadar tengah berhadapan dengan siapa.
Sementara Sean berada dalam kebingungan yang menyeruaknya. Kelimpungan karena ia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. "Apa maksudnya?" tanyanya pertama. "Sialan, wanita ini minum terlalu banyak." rutuk Sean kemudian. Ia bahkan melupakan sudah berbotol-botol wine yang diteguknya bersama wanita ini.
Altair memilih untuk tidak memperpanjangnya. Akhirnya, menatap sahabatnya itu gamang ia beeujar. "Sean--tanggung jawablah. Wanita ini mabuk." kekeh Altair pertama.
"Bertanggung jawab apa sialan? Aku hanya menyewanya untuk menemaniku minum." rutuk Sean. Tidak ingin membuang-buang waktunya.
"See, dia sangat cantik. Kau tidak tertarik?" goda Altair lagi. Dia sudah meneguk winennya sendiri. Membiarkan lantunan musik menghentak kepalanya, Altair terus memperhatikan interaksi sahabatnya dan wanita itu.
"Benar-benar gila. Kau pemilik bar ini? Kau yang harus bertanggung jawab, antar dia pulang." cecar Sean lagi. Masih tidak terima dengan tatapan intimidasi dari sahabatnya itu.
Altair punya cara untuk melangkah lebih jauh lagi. Untuk sekadar percaya bahwa selalu ada langkah-langkah yang membuatnya satu tingkat lebih dekat bersama Lea. Kau yang mengantarnya, aku akan menemanimu."
Sean mengerutkan dahinya bingung. "Untuk apa? Kau menginginkan wanita ini?" tuduhnya. "Dia bekerja disini, kurasa aku tidak perlu mengantarnya pulang."
Altair menggeleng cepat. "Tidak, aku menginginkan sahabatnya. Jadi, jika kau mengantarnya pulang--aku punya kesempatan untuk melihat wanita itu." kekeh Altair geli. Tidak peduli bahkan baru beberapa menit ia tidak melihat Lea, tapi rasanya sudah semenggebu itu untuk terus menemukan wanita itu. Melihatnya, memperhatikannya, mendambanya seperti biasa.
"Apa? Menginginkan sahabatku?" sela Alice. Perkataan Altair tiba-tiba saja memekik ditelinganya. "Berkacalah b******n! Sahabatku menyukai Ellard--pangerannya!" Alice masih menyambung, meski tubuhnya sudah terlihat sempoyongan. "Kau tidak ada dalam kamusnya lagi, kau b******n tidak bertanggung jawab yang tidak berhak bersamanya!" cecarnya kembali.
Membuat Sean benar-benar mengacak rambutnya frustasi. Tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. "Apa yang sebenarnya terjadi??" katanya lagi.
Tapi Altair tetap terkekeh. Ia masih menikmati winenya, meneguk minumam itu berkali-kali dengan terus meladeni setiap perkataan wanita dihadapannya.
"Apa sahabatmu itu mengatakan dia menyukai lelaki itu?" tanya Altair pertama, merasa tertantang karena ia yakin setiap orang yang hampir hilang kesadaran sering mengatakan sesuatu yang terdengar benar.
"Dia tidak mengatakannya. Tapi aku tahu dari cara mereka saling memandang. Berhenti mengusiknya, tidak puaskah kau melukainya??" gerutu Alice, meskipun tubuhnya masih ikut bergoyang dengan suara musik yang ada.
"Hei, Alice. Mari kita pulang, kau benar-benar terlihat kacau." jelas Sean kemudian.
Tapi Altair menahannya. "Sean, biarlah. Aku masih ingin menanyakan sesuatu kepadanya."
Sean benar-benar mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Aku tidak melukai sahabatmu itu. Aku hanya melindunginya dengan cara yang salah." sahut Altair, kali ini ia memindahkan posisi duduknya untuk sejajar dengan wanita itu.
"Melindunginya? Itu kata-kata paling sialan yang pernah kudengar! Kau akan menyesal jika tahu apa yang Lea alami bertahun-tahun lalu!" pekik Alice lagi, tangannya tidak berhenti meneguk semua wine yang masih tersisa di atas meja mereka.
"Kalian membicarakan apa? Sialan, aku seperti orang bodoh berada disini!" rutuk Sean kesal. "Siapa Lea?"
Altair terkekeh lalu membungkam mulut sahabatnya itu dengan beberapa cake yang ada.
"Apa aku menyakitinya sejauh itu? Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" tanya Altair pelan. Ia sudah memutar tubuh Alice, membawa wanita itu untuk menghadapnya.
"Kau masih bertanya? Lea menceritakan semuanya padaku! K-kau, kau benar-benar binatang!" teriak Alice. Lalu ia menangis.
Membuat Altair dan Sean kalut.
"s**t! Apa yang kau lakukan?" pekik Sean geram.
"Aku hanya bertanya, kenapa dia menangis?" kekeh Altair. Ia mengerutkan dahi bingung.
"K-kau benar-benar jahat. Kau menyakitinya sejauh itu, kau tahu? Dia hamil ketika kau meninggalkannya--lalu dia keguguran karena depresi!" teriak Alice sebelum luruh jatuh ke lantai. Yang langsung disambut oleh Sean cepat.
Lalu segelas wine yang dipegang Altair kini ikut terjatuh kelantai. Ia membulatkan mata tidak percaya, menggeleng pelan untuk mengabaikan perkataan itu. Pernyataan Alice terakhir seakan menamparnya. Benarkah? Apa Altair tidak salah dengar? Apa yang baru saja diketahuinya adalah kebenaran?
Kemudian memberi alamat rumah Alice, Altair menyuruh Sean mengantar wanita itu. Sementara ia sendiri--memilih untuk bertahan di bar.
Kali ini, Altair meminta untuk disajikan beberapa vodka. Setelah mendengar pernyataan itu--Altair hanya ingin menghilangkan kesadarannya.
Jika memang itu benar, Altair tahu alasan Lea membencinya sedalam ini. Karena dia memang seperti binatang.
Hamil? Hanya satu kata itu yang kini terus berputar dikepalanya, bahkan hingga ia tidak saarkan diri karena terlalu mabuk.
***