VIII. Ide Brilliant

2734 Kata
Jika cara baik tidak cukup mampu membuatmu kembali, maka cara buruk harus segera kulalui. Karena namamu akan selalu tersimpan rapi. Meski kau menolak setiap kali kuberusaha memperbaiki. Tapi satu yang selalu kentara sekali, mendapatkanmu lagi akan ku-usahai. *** Alice membuka mata perlahan, meringis karena kepalanya terasa berat. Lalu dia menemukan semangkup sup panas diatas nakas. Dia memijat pangkal kepala pelan, rasa mual masih menyerangnya. Lalu tidak menemukan Lea di sampingnya, Alice tahu kemana perginya sahabatnya itu--lari pagi seperti biasa tentunya, mengingat itu hobi yang selalu Lea lakukan setiap pagi. Lantas ingatannya melayang pada kegilaan yang terjadi semalam. Alice berusaha mengingatnya, ketika suara Altair berputar di kepalanya. Hal itu yang membuat Alice tersadar dengan semua pembicaraannya bersama b******n itu. Alice membulatkan mata tidak percaya. Merutuki dirinya sendiri karena dia mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Alice menggeleng kuat, berusaha mengabaikan suara-suara Altair dikepalanya. Dia memutuskan untuk berlari ke kamar mandi--menjernihkan pikirannya lebih dulu. Setidaknya mempersiapkan diri untuk amukan Lea selanjutnya. Alice tidak tahu kenapa dia bisa mengatakan itu, tidak mengerti kenapa alam bawah sadarnya menjadi sekacau itu, tapi dia mau b******n itu tahu. Alice ingin cepat atau lambat b******n itu memahami apa yang selama ini dia lakukan terhadap sahabatnya. Jika memang kenangan itu sudah terlanjur menghancurkan sahabatnya, Alice hanya ingin Lea menemukan sedikit keberaniannya. Mengatakan itu paling tidak agar b******n tersebut bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi diantara keduanya. Lalu disisi lain, Lea sudah menghentikan larinya dan memutuskan untuk pulang. Menemukan Alice dibawa oleh Sean, benar-benar mengejutkannya semalam. Sean--lelaki itu, Lea tidak tahu bagaimana bisa semua itu terjadi. Seperti dunia ini begitu kecil dan hanya berputar disekitarnya. Sampai sosok yang sudah lama tidak dilihatnya itu kini benar-benar berada dihadapannya dan sialnya bersama sahabatnya pula. Lea tidak tahu apa sebenarnya rencana yang Tuhan beri untuknya. Tapi satu hal yang Lea inginkan, jika memang hal-hal baik itu pantas untuknya, Lea memohon berilah titik terang atas semua itu. Dan Lea harus kembali secepatnya, untuk tahu, untuk mendengar semua penjelasan dari sahabatnya tersebut. Karena semalam bagaimana Lea menemukan Sean, keduanya hanya terdiam dan--syok. Seakan tidak percaya bahwa mereka bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Lantas semalam Lea memutuskan untuk mengakhiri keterkejutan mereka, meminta Sean pergi secepatnya dan langsung membawa Alice masuk. Tidak puas dengan semua ketidaksengajaan itu, Lea harus mendengar semuanya dari Alice. Apapun, bagaimanapun segalanya bisa semakin membingungkan seperti ini. Lea membuka pintu rumahnya pertama. Menemukan sahabatnya itu sudah duduk santai ia bersorak. "Alice!!" teriaknya ketika ia sudah berada didalam rumah. Melempar sepatu olahraganya asal, ia berlari untuk menemui sahabatnya itu. Lalu meringis ketika menemukan Alice sudah tersenyum dan fokus melahap sup yang dibuatnya pagi tadi. "Ya? Kenapa seheboh itu?" kekeh Alice kemudian. Dia berusaha untuk menenangkan diri sendiri. Sementara mengabaikan Lea yang sudah menatapnya tajam. Lea duduk pada sisi ranjang. Menatap lekat sahabatnya itu dengan sorot penuh keinginan. "Kenapa kau bisa bersama Sean??!" "Sean?" tanya Alice bingung. Mengetuk tangannya diatas meja seperti sedang berpikir. Seperti sedang memutar ingatan apa saja yang harus diketahuinya. Menghela napas, Lea tahu sahabatnya itu memang seperti ini. "Jangan berpura-pura tidak tahu! Dia mengantarmu pulang semalam!" decak Lea geram. Membuat Alice terkekeh di depannya. "Aku menemaninya minum semalam..." jelas Alice kemudian. Tidak pernah berhasil menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu. "Yeah, kau mungkin bisa menebak apa yang terjadi." "Just drink? Kau minum dengan banyak orang, tapi baru malam ini kau diantar sampai depan rumah!" imbuh Lea kemudian. Mendesak Alice untuk segera menceritakannya. "Ini terasa tidak benar, Alice." Alice menggigit bibirnya, menyeringai seraya merapikan anak rambut diwajahnya. Dia menatap sahabatnya itu dan berujar. "...And kissing." kekeh Alice setelahnya. Lea membulatkan mata tidak percaya. Menggeleng pasrah. "Kau berciuman dengan orang yang baru kau kenal?" Alice terkekeh dan mengangguk malu-malu. "Lelaki itu menyenangkan, dia membuatku menjadi diriku sendiri tadi malam. Kau tahu kami menceritakan banyak hal." "Are you crazy, Alice!" sela Lea cepat. "Itu bukan alasan terbaik untuk berciuman." Alice mengedikkan bahu tidak peduli. "Lagi pula, sentuhan lelaki itu menyenangkan, Lea." Lea tidak tahu harus menanggapi apa kebodohan sahabatnya ini. Ia menghela napas dan berujar. "Kau memang menakjubkan." Alice mengedipkan sebelah mata puas. "Sepertinya kau mengenal lelaki itu right?" tanyanya pertama. "Bagaimana lelaki itu?" Lea menggeleng cepat. Tidak ingin membahas sesuatu yang tidak penting seperti itu." "Ceritakan padaku. Sepertinya...aku menyukainya." paksa Alice lagi. Memohon dengan melas untuk membuat sahabatnya itu iba. Lea tidak punya pilihan selain berujar pasrah. "Sean Danilova Kenrick." beo Lea kemudian. Alice membulatkan mata. "Dia saudara kembar Angel? Wanita yang Altair cintai itu??" Lea mengedikkan bahu, lalu bersiul geli. Setidaknya Alice tahu apa saja yang dilewatinya dimasa lalu dulu. "s**t! Kenapa dia setampan itu?? Dia bahkan lebih tampan dari Ellard!" puji Alice kemudian. Membayangkan bagaimana kenangan satu malam yang dilewatinya bersama lelaki itu. Lea mengerutkan dahi dan memukul sahabatnya itu pelan. "Gila! Kau benar-benar tidak waras!" "Yeah, mungkin karena aku terpesona. Ck, dia berasal dari keluarga Kenrick? Huh, sepertinya mimpiku berakhir sepertimu." ledek Alice. "Kupikir dia orang biasa." "Tidak ada orang biasa yang menghabiskan duitnya dibar, Alice." rutuk Lea kemudian. Alice terdiam sesaat, menyunggingkan senyum geli sebelum berujar. "Apa aku harus mendukungmu balik dengan b******n itu? Agar kita bisa double date?" goda Alice kembali. Dengan Lea yang sudah menatap sahabatnya itu garang. "In your dream!" decak Lea. Lalu Alice menjulurkan lidah untuk menggoda sahabatnya itu. "A-ah, Sean berkata bahwa bar itu milik sahabatnya." jelas Alice kemudian. Lalu detik selanjutnya keduanya menoleh dan membulatkan mata tidak percaya. "WHAT?!" pekik keduanya bersamaan. "Apa itu artinya Altair pemilik bar itu? s**t! Sean berkata seperti itu, lalu tidak lama Altair gabung bersama kami!" ingat Alice kemudian. Benar-benar baru saja paham apa sebenarnya yang ia hadapi. Lea menghiraukan fakta bahwa bar itu milik Altair. Bagaimana lelaki itu bergabung bersama Alice semalam, lebih membuat Lea penasaran. "Dia bergabung denganmu?!" Alice menutup mulutnya cepat. Keceplosan karena seharusnya, dia tidak mengatakan itu. Seharusnya ia tidak perlu memperjelas apa yang sebenarnya terjadi semalam. "Hm--a.." "Katakan! Jangan mencoba membohongiku," potong Lea cepat. Membuat Alice menyeringai di sampingnya. Alice ikut duduk pada sisi ranjang, tepat disebelah Lea, dia bergelanyut manja ditangan sahabatnya itu. Mengelus, memijatnya lembut, memuji Lea untuk membuat dirinya sendiri aman. Tapi Alice tahu dia tetap akan mengatakan semua yang dikatakannya semalam. "Ish! Apa yang kau lakukan?!" rutuk Lea kesal. "Aku tahu jika kau sudah begini, Alice." "Kau tahu kan aku sangat mabuk semalam??" jelas Alice pertama. "Kau tahu sekacau apa diriku semalam? Lea menatap Alice tajam sebelum mengangguk pelan. Menelusuri kejujuran disana, menjelajah apapun yang bisa membuatnya menemukan sesuatu dimata sahabatnya itu. Alice menghela napas panjang sebelum berujar. "Altair...ralat. b******n itu, dia terus bertanya tentangmu." ujar Alice pertama. "Kau tahu aku sering mengatakan yang tidak-tidak jika terlalu mabuk. Benarkan?" jelasnya kembali. Meminta pembelaan karena Lea paling memahaminya. Lea mengangguk. Benar, Alice selalu lupa diri jika mabuk terlalu berat. Mengingat terakhir kali dia mengumpat Nyonya Patricia--si pemilik bar. Dan berakhir mendapatkan gajihnya dipotong. Kenangan itu tidak akan pernah Lea lupakan, karena Alice benar-benar gila jika tidak sadarkan diri. Jika wanita itu terlalu mabuk dengan gila. "Sepertinya...aku mengatakan sesuatu tentangmu." ringis Alice, dia menatap Lea penuh ampun. Memohon jika itu perlu. "Jangan menatapku seperti itu..." "Seperti apa?" potong Lea cepat. "Kumohon...kau mengatakan apa?" erang Lea frustasi. Tidak. Tidak boleh. Apa yang ia takutnya tidak boleh terjadi. Lea bersumpah, tidak ada yang boleh tahu hal itu. "Kehamilanmu..." Jawaban Alice tidak hanya menyentaknya, tapi juga membuatnya hampir lumpuh dan mati. Lea terpaku ditempatnya. Lea tidak ingin mengungkit itu, tidak ingin mengingat semua hal t***l itu lagi, karena ia tengah berusaha melupakannya. Karena ia tengah berusaha mengabaikannya. Alice tahu kesalahannya. "Lea...maafkan aku." mohon Alice putus asa. "Aku tidak sadarkan diri saat mengatakan itu." Lea masih terdiam, tidak tahu juga harus bagaimana karena Alice mabuk. Sahabatnya itu tidak sengaja mengatakannya. Tapi ini gila, karena Alice membongkarnya kepada Altair sendiri. Lea menggeleng, mengacak rambutnya frustasi. "Apa Altair semalam dalam keadaan mabuk juga?" tanya Lea kemudian. Berharap bahwa Altair mengabaikan semua yang Alice katakan. Berharap bahwa lelaki itu tidak mengingat apapun yang sahabatnya katakan. Alice mengedikkan bahu. "Kurasa kami semua mabuk." "Semoga dia melupakannya." decak Lea. Membuat Alice semakin merasa bersalah. "Kau marah padaku??" tanya Alice kemudian. Lea menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak marah. Kau juga mabuk, aku tidak mungkin menyalahkanmu karena itu." Lalu Alice langsung membawa Lea dalam pelukannya. "Aku menyayangimu Lea! Kau sahabatku!" "Gantinya--cuci bajuku selama sebulan." ancam Lea. "Itu hukuman karena kau membongkar rahasia terkelam ku." Membuat Alice menatapnya--gamang, tapi dia tidak punya pilihan selain menyetujui itu. "Baiklah..." "Itu sebabnya aku benci setiap kali meninggalkanmu mabuk bersama orang lain." geram Lea kembali. "Kau sangat kacau jika sudah mabuk, Alice. "Itu karena kau tidak ada." sahut Alice tidak mau kalah. "Jika kau ada dibar tadi malam, semuanya tidak akan begini..." "Jadi kau menyalahkanku??" protes Lea tidak terima. Alice hanya terkekeh lalu menggeleng. Sementara Lea merenung atas apa yang akan dihadapinya. Setidaknya ia harus siap dengan semua pertanyaan yang akan b******n itu lontarkan padanya. Sialan, karena selama ini Lea menutupinya. Semuanya akan terbongkar seiring berjalannya waktu. Jika saja Lea mampu menjaga kandungannya itu, mungkin perasaan bersalah ini tidak akan menghantuinya selama ini. Tapi menepis itu lagi, Lea mencoba mengubur semuanya kembali. Melupakan semua kenangan buruk itu, karena Altair hanya bayang-bayang masa lalunya. Dan tidak lebih dari itu. *** Altair masih bertahan di ruang kerjanya sejak tadi. Memutuskan untuk tidak datang ke kantor, dia lebih memilih untuk tetap di rumah. Jika semalam ia terlalu teler karena bergelas-gelas vodka yang di teguknya. Kali ini sudah tersedia beberapa wine di hadapannya. Tapi Altair belum menyentuhnya, karena ia harus mengingat semua yang Alice katakan. Kehamilan Lea. Hanya itu yang terus bersarang di otaknya. Sehingga membuat Altair terdiam untuk memikirkan cara yang tepat agar Lea berada di sisinya. Agar wanita itu mengerti bahwa ia ingin bertanggung jawab. Tidak untuk sementara lagi, tapi selamanya akan Altair pastikan. Tidak peduli jika saingannya Hadley, atau bahkan lelaki yang menggoda Lea di depan bar, Altair menginginkan wanita itu kembali. Karena dari dulu hingga sekarang--Lea masih menjadi satu-satunya wanita yang ia cintai. Tidak ada yang lain. Dan selama lima tahun itu pula, Altair tidak pernah berniat untuk kencan dengan orang lain, karena ternyata masih tersimpan Lea di sisa hatinya. Pada sudut hatinya yang dalam dan rapuh. Altair tahu, masih tersisa banyak ruang dalam semua kedalaman yang menyeruak disana. Altair mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana penampilannya terlihat kacau begitu kentara sekali. Sebelumnya--ini tidak pernah begini. Altair menjalani hari-hari seperti biasa. Hingga menemukan Lea kembali--semuanya kacau lagi. Altair menengadahkan kepala karena pintunya diketuk. Zach tiba dengan beberapa berkas di tangannya lagi. Bukan sesuatu yang mengherankan karena Altair terus mendesaknya untuk mencari tahu segala hal mengenai Lea. "Tuan, saya sudah menemukan alasan kenapa pekerja di Montana Bar memiliki gajih yang berbeda." jelas Zach pertama. Altair memperhatikan--menunggu asistennya itu untuk melanjutkan penjelasannya. "Itu karena para wanita yang bekerja di sana, di gajih sesuai pelanggan yang mereka temani untuk minum, Tuan." "Oke." sahut Altair singkat. Sudah terlanjur lelah untuk menghadapi apa yang akan ia lakukan setelah ini. "Dan--soal wanita bernama Alice Briana Eilaria, saya menemukan fakta mengejutkan soal keluarganya, Tuan." kata Zach lagi. Seperti sesuatu yang membanggakan. Sementara Altair masih mendengarkan, ia mengetuk mejanya dengan pulpen. Menunggu sesuatu yang mungkin dapat membantunya. "Wanita itu berasal dari Indonesia. Dia datang ke Negara ini kurang lebih tiga tahun yang lalu, bersama satu temannya yang juga bekerja di Montana." jelasnya kemudian. "Lea Gavera Zelina, bersama wanita yang tuan minta saya cari tahu." Altair mengangguk mengerti. "Katakan saja intinya, Zach." Lalu Zach mulai menceritakannya. "Ibu wanita bernama Alice itu di rawat di salah satu rumah sakit milik keluarga anda Tuan. Dan kemungkinan besar beberapa minggu lagi pihak rumah sakit akan mengeluarkannya." tambah Zach lagi. Altair mengerutkan dahi. Masih belum mengerti dengan semua penjelasan Zach. Zach kembali menjelaskan. Sangat mengerti bahwa Tuannya itu tidak suka sesuatu yang berbelit-belit. "Keluarganya sudah menunggak pembayaran cukup lama, Tuan. Itu sebabnya pihak rumah sakit memutuskan untuk mengeluarkan pasien itu." Altair terdiam sesaat. Memutar isi kepalanya cepat, ketika sebuah ide brilian berhasil dia dapatkan. Jika semua yang ada pada Lea tidak mampu membuat Altair mendapatkan wanita itu lagi. Maka Altair harus membuat ancaman baru dengan orang terdekat Lea. Dan kini, Altair menemukan jawabannya. "Zach! Terimakasih, aku akan menaikkan gajihmu." timpal Altair dan memukul pelan pundak asistennya itu. Lalu ia berlalu meninggalkan ruangannya. Altair bergegas untuk menemui Lea secepatnya. Karena kali ini, bisa di pastikan Lea tidak punya pilihan untuk menolak. Setidaknya itu yang dapat Altair pikirkan. *** "Alice, aku harus menanyakan ini pada Jackob. Jika memang bar itu bukan milik Nyonya Patricia lagi, kita harus bagaimana?" erang Lea frustasi. Mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju bar. Alice mengedikkan bahu. Menggeleng pelan karena dia juga bingung. "Sialan, aku bahkan merutukinya semalam. Meneriakinya dan sebentuk pembelaan yang aku lakukan untukmu." jawab Alice sama putus asanya. "Sekaya apa b******n itu? Kenapa nyonya Patricia menjualnya begitu saja?!" sambungnya heran. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan itu, Lea." Lea juga menggeleng tidak mengerti. "Ini semakin membingungkan Alice. Bagaimana jika kita dipecat? Apa yang harus kita lakukan di Negara ini??" Alice mengimang apa saja alasan yang tepat untuk mereka pikirkan. Lalu menatap sahabatnya itu lejat, Alice berujar kembali. "Kau--maafkan saja b******n itu. Mungkin kita akan baik-baik saja..." Membuat Lea menatapnya tajam. "Tidak akan Alice. Aku tidak akan memaafkannya. Kau tahu sebesar apa dia me--" "Ya, ya. I know. Aku hanya bergurau Caesario. Jangan mengambil hati." potong Alice cepat. Mempertegas bahwa dia sangat memahami perasaan sahabatnya itu. Alice tidak setolol itu untuk mengorbankan perasaan sahabatnya sendiri. "Bahkan, jika harus mencari pekerjaan lain. Akan aku lakukan." yakin Lea lagi. Pasrah karena ia benar-benar tidak akan tinggal diam. "Memaafkan b******n itu?" kekeh Lea hambar. "Terlalu sulit hanya untuk memikirkannya, Alice." Alice mengerti. Tapi keadaan mereka tidak cukup baik untuk berbuat banyak hal. "Kau yakin? Hanya di Bar kita mendapatkan uang yang cukup." Lea menghela napas berat. "b******n itu! Kenapa kami di pertemukan lagi??" "Mungkin sudah saatnya. Siapa tahu takdir kalian memang bersama." sahut Alice. "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, Lea." Lea menggeleng cepat. "Tidak Alice. Seharusnya tidak perlu lagi ada pertemuan diantara kami. Cerita kami sudah selesai." "Tapi kau tidak bisa melawan jika itu takdirmu." imbuh Alice lagi. "Bagaimana jika semuanya baik-baik saja jika akhirnya kau memaafkannya? Mungkin juga memang kalian ditakdirkan bersa--?" "Tidak akan." potong Lea cepat. Ia sudah memukul sahabatnya itu dengan tas kecil yang dibawanya. "Sialan kau Aluce!" Membuat Alice terkekeh dan mulai merangkul sahabatnya itu. "Kita akan tetap bertahan di Negara ini. Jika kau menikahi Ellard..." godanya lagi. "Oh c'mon. Berhentilah Alice. Kau benar-benar menyebalkan!" pekik Lea, karena kini Alice sudah mempercepat langkahnya. "Kau sama saja menjualku." pekiknya geram. Tapi Alice hanya menjulurkan lidah untuk meledeknya. Lalu ketika sudah sampai di bar, Lea langsung memutuskan untuk berbicara pada Jackob. Mereka sudah duduk bersama pada meja di pojok bar. Suasana malam ini jauh lebih lenggang dari biasanya, mungkin karena ini masih terlalu awal untuk para pelanggan datang dan minum-minum. Sengaja memilih tempat terujung karena Lea tidak ingin karyawan yang lain menganggapnya sedang merayu Jackob. "Apa yang buat seorang Lea mengajakku bertemu?" kekeh Jackob pertama. Dia terus memusatkan perhatiannya pada setiap gerak-gerik Lea. Lea menggeleng pelan. Tidak ingin berlama-lama karena ia butuh kepastian. "Apa Nyonya Patricia bukan pemilik Bar ini lagi?" Jackob mengangguk mantap. "Aku sudah mengatakannya, tapi kau tidak percaya!" "Itu karena ku pikir kau sedang berbohong. s**t, lalu bagaimana dengan kami?" Jackob mengerutkan dahi bingung. "Kenapa dengan kalian?" tanyanya heran. "Apa kami tetap akan bekerja disini?" decak Lea. Jackob terkekeh. "Of course bodoh. Kau ingin kerja di mana lagi?" singgungnya. "Tentu saja kalian akan tetap bekerja disini." Lea menghela napas. Setidaknya jawaban itu mampu melegakannya. "Lalu siapa pemilik bar ini sekarang?" "Aku tidak tahu. Tapi mereka membayar besar hanya untuk bar kecil ini." jelas Jackob kemudian. "Ataya, a-ah mereka membeli bar ini atas nama Ataya." sambungnya antusias. Lea meneguk salivanya berat. Damn. Semuanya benar, Lea tidak salah. Karena b******n itu memakai nama tengahnya. "Lalu kenapa kau masih disini?" tanya Lea heran. "Bukankah pemiliknya bukan lagi ibumu?" Jackob mengedipkan sebelah mata menggoda. "Untuk melihatmu." "Ish. Aku serius Jackob." tanya Lea lagi. "Jangan bercanda disaat seperti ini." Jackob terkekeh. "Aku tetap menjadi pemantau seperti biasa." Lalu Lea meneguk segelas wine di hadapannya. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia juga kelimpungan untuk sekedar mengerti. Untuk sekedar memahami. Ketika bisik-bisik bergemuruh didalam sana, Lea ikut memperhatikan sumber yang menjadi objek semua orang dibar. Menoleh kedepan untuk melihat siapa yang baru memasuki bar, karena semua orang sudah membungkuk dengan sopan. Apalagi ketika langkah lelaki itu semakin jelas menuju arahnya. Lea mematung di tempatnya. Mencoba mengatur degup jantungnya, karena sosok tegap berjas rapi itu sudah menatapnya dengan kilatan permohonan. Sialan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN