IX. Cappadocia

2808 Kata
Terkadang pemikiran dan keinginan tidak sejalan. Lalu kita terperangkap pada kolom yang panjang. Pada ruang yang pernah ada kita, kau menepisnya. Katamu, perasaan kita sudah usai. Salah, kita hanya belum selesai menggenggam. *** "GILA! Apa yang kau lakukan?" pekik Lea ketika ia sudah berhasil melepaskan cekalan Altair dari tangannya. Memperhatikan lelaki itu dengan berang. Lea tidak tahu kemana b******n ini membawanya, tapi sejak menariknya secara paksa keluar dari bar, Altair terus menahan tubuhnya, sementara mobil lelaki itu terus melaju. Dan Lea dibuat semakin geram karena Altair tidak mengatakan kemana mereka harus pergi. b******n ini, dia benar-benar membuat Lea muak. Sementara itu Altair masih terdiam, tidak menjawab, ia hanya memusatkan perhatiaannya pada segala hal yang wanita di sampingnya lakukan. Menelusuri semua hal yang Lea kalutkan, teriakannya, kemarahannya--atau bahkan wajah masamnya. Altair tidak berhenti menikmati itu. Meskipun wanita itu terus melemparkan tatapan kebencian padanya. Altair tahu ia tetap saja senang memandangnya. Senang melihatnya dalam waktu yang lama. "Tuan...kita akan kemana?" Zach menegur pertama. Tidak tahu tujuan sebenarnya karena majikannya itu hanya memintanya untuk terus berkendara. "Kau ingin kita kemana?" tanya Altair pada wanita di sebelahnya. Menyunggingkan senyum menggoda, karena ia bahagia menemukan Lea disampingnya. Bahagia karena wanita itu berada dekat dengannya. "Katakan, Lea. Kau mau aku membawamu kemana? Kau mau kita kemana?" Lea menggeleng cepat. Mengepal tangannya kuat. "Pulang! Pulang sialan! Kenapa kau terus menggangguku?" pekik Lea lagi. Benar-benar gusar, karena b******n itu semakin keterlaluan. Tidak menghiraukan bahwa dimobil itu ada orang lain yang melihat pertengkaran mereka. Lea tidak peduli harus menjadi apa dirinya. Sementara Zach hanya diam dibelakang kemudi. Tidak juga banyak berbicara karena semua keinginan Tuannya itu harus terpenuhi. Altair menggeleng, berusaha menahan tangan Lea untuk menenangkan wanita itu, tapi berakhir gagal--karena Lea terus menepisnya. "Jangan menyentuhku lagi, b******n!" geram Lea pertama. Sangat menjijikan menemui Altair seperti itu. "Jangan membuatku melompat dari mobil sialan ini!" Tapi Altair menghiraukan itu, ia menatap Lea sesaat sebelum mengedikkan sebelah matanya. "Zach--" katanya pertama. Sementara matanya masih tertuju pada sosok wanita di sebelahnya. Berpendar disana didalam manik mata pekat milik wanita yang dicintainya itu. "Kita akan ke Cappadocia, malam ini." "Baik, Tuan." sahut Zach patuh. Mengendarakan mobilnya cepat. Lea terdiam di tempatnya. Membalas tatapan lelaki di sebelahnya dengan semua kemarahan. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?" "Aku?" beo Altair. "Kau, Lea." "Tidak cukup semua yang kau lakukan dulu?" singgung Lea. Karena emosinya sudah berada dititik tertinggi kepalanya. "Kau masih belum puas atas semua itu?" Altair menggeleng payau. Seandainya Lea mengerti. Seandainya wanita ini tahu. "Karena itu aku menginginkanmu. Ada banyak tanya yang ingin aku ketahui. Maka jangan menghindariku, Lea." Tapi Lea tetap dalam keputusannya. "Tidak ada hubungannya. Kita bukan lagi dua orang yang saling kenal." geram Lea pertama. "Sejak kau pergi, semuanya berbeda, jalani hidupmu seperti sebelumnya. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri!" "Menjalani hidupmu sendiri? Bekerja di Bar itu? Menemani para lelaki yang berdatangan? Bagaimana jika mereka mabuk? Mereka menyentuhmu? Mereka menyakitimu?" geram Altair. Mengutarakan semua kemarahan dan kekhawatiran itu. Tidak pernah membayangkan jika semua itu sampai terjadi. "Bukan urusanmu sialan! Jika mereka menyentuhku, maka akan aku beri yang lebih besar dari sebuah sentuhan!" sahut Lea sarkas. Sengaja agar b******n ini paling tidak mengerti. "Hidupku sudah terlanjur hancur, tidak ada gunanya lagi memperbaikinya. "Lea..." erang Altair. Menatap wanita itu payau. "Apa? Aku tidak peduli dengan diriku lagi. Kau sudah menghancurkan hidupku, jadi jangan bertingkah seolah kau tahu apa yang aku jalani!" singgung Lea dengan kemarahan yang begitu membelenggu. "Jangan bertingkah seolah kau mengerti!" "Aku tahu Lea. Aku mengerti, itu sebabnya aku ingin kita memper--" "Berhentilah, Altair." kata Lea akhirnya. "Aku tidak ingin, apakah kau tidak mengerti?" erangnya putus asa. Lalu suara Zach memecah perdebatan mereka. "Tuan, kita sudah sampai. Kita tinggal terbang..." potong Zach ketika mobilnya sudah sampai di sebuah landasan dimana Jet pribadi Kennedy terparkir. "Baiklah. Siapkan semuanya, Zach. Aku akan mengurus wanita ini lebih dulu." titah Altair. Sengaja menekankan itu agar Lea mengerti siapa dirinya. Sementara Zach sudah berlalu untuk menyiapkan semuanya. Meninggalkan Altair dan Lea didalam mobil. Altair menggeser tubuhnya, memperhatikan wanita itu lekat walaupun Lea terus memalingkan wajahnya. "Kau ingin ke Cappadocia kan? Apa itu masih menjadi keinginanmu?" tanya Altair pertama. Teringat pada semua pembicaraannya dengan Lea bertahun-tahun yang lalu. Lea terkekeh. Ia pikir semua yang Altair katakan hanya omong kosong. Lalu ia menggeleng. "Aku tidak ingat pernah mengatakan apa-apa pada b******n sepertimu." "Benarkah? Atau kita harus kembali memutar waktu? Mencoba setiap kenangan yang kita lewati?" tantang Altair setelahnya. "Kau ingin aku membantumu mengingat semua itu?" Jika saja Lea bisa membunuh b******n ini sekarang. Tapi Lea menggeram. Menatap lelaki di sebelahnya dengan kilatan marah. "Apa kau memang setidaktahu malu ini?" Altair mengangguk. "Ya, aku tidak peduli. Asalkan kau terus denganku..." Membuang napasnya kasar, Allura berujar. "Bermimpilah Altair. Aku sudah menyukai lelaki lain, tidak bisakah kau mendengar dan menerima fakta itu?" Altair terdiam sesaat. Seperti ada sebuah bom yang menghantam dadanya, tapi ia tidak peduli. Karena Altair tahu Lea pernah berada dalam situasi ini. Dalam semua luka yang sengaja diberinya dulu. Dalam setiap kenangan pilu yang wanita itu lewati tanpanya. "Tidak ada hubungannya dengan itu, Lea. Aku bisa membuatmu menyukaiku lagi." ucap Altair pertama. "Aku tidak bisa memaksamu menyukai orang lain, tapi kau juga tidak bisa memaksaku untuk tidak menyukaimu..." "Terserah! Dari dulu, hingga hari ini. Kau memang tidak pernah berubah, Altair." singgung Lea sebelum membuka pintu mobil itu. Menutupnya kasar ia keluar dari sana, melihat Altair lengah Lea berlari dari sana. Ketika tubuhnya berhasil ditahan Altair, Allura terangkat, Altair menggendongnya dengan gaya bridal, sialan karena b******n itu langsung membawanya memasuki sebuah pesawat. Bajingan ini! Lea pikir Altair hanya bergurau. Damn. Benar-benar tidak waras. Lalu keterkejutan Lea semakin diperjelas ketika pesawat pribadi yang dinaikinya ini sudah lepas landas. Lea sudah berada didalam sebuah kamar mewah yang benar-benar membungkamnya dengan semua kemewahan itu. Membiarkannya terbuai pada keterpanaan, tapi bukan itu masalahnya, karena kini b******n itu sudah berdiri di hadapannya. "Jika kau pikir aku main-main dengan apa yang aku katakan. Kau salah Lea, aku harus mendapatkan apapun yang aku inginkan." ucap Altair pertama. Seakan tahu semua yang Lea pikirkan. Ia masih menatap wanita itu lekat. "Jika memang mendapatkanmu harus bersaing dengan banyak orang, aku tidak akan keberatan." Lea menggeram. "Turunkan aku b******n. Kenapa kau membawaku pergi dari sini!" Altair punya alasan untuk membawa wanita ini pergi. Untuk membawanya melihat dunia yang kini bisa ia beri. "Kau tidak pernah kemana-mana selama tiga tahun ini, kau hanya terus bekerja, dan izin jika kau pulang ke Indonesia. Aku mengetahui semua itu Lea. Aku hanya ingin membawamu berlibur. Membawamu berjalan-jalan." Lea meneguk ludahnya. Menaikkan kedua alisnya menantang. "Apa itu sesuatu yang menyenangkan untukmu? Kau pikir mempermainkanku seperti ini, membahagiakanmu?" "Aku tidak mempermainkanmu, Lea. Aku hanya ingin menebus kesalahanku..." "Kesalahanmu? Kau tidak akan pernah bisa menebusnya. Kau tidak tahu sebanyak apa kesalahan yang kau perbuat." geram Lea. "Memang selalu mudah mengatakan maaf, tapi kau tidak akan paham bagaimana rasanya." "Karena kehamilanmu? Itu kesalahan terbesarku?" tebak Altair setelahnya. "Maka izinkan aku menebusnya kembali." Lea terkekeh. Bukan, bukan karena itu lucu. Tapi karena b******n itu mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia pikir semudah itu? Dia pikir Lea memaafkannya segampang itu? Lalu Lea meringis. Sialan, karena Altair mendengarkan semua perkataan Alice. "Itu bukan anakmu." jelas Lea pertama. Mempertegas itu agar Altair mengerti barang sedikit. "Kau tidak ada hubungan dengan itu semua." "Bukan anakku? Kau pikir aku akan mempercayainya?" imbuh Altair kemudian. Menggeleng pelan tanpa berhenti mengalihkan pandangan dari wanita itu. "Berhentilah menghindarinya, katakan padaku. Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa kehilangannya?" Menahan dirinya, Altair bersumpah betapa ia ingin memeluk tubuh Lea detik itu juga. Bersujud jika mungkin, memohon jika harus dan menjelaskan semua penyesalannya. Semua kesalahan yang diperbuatnya. "Tidak ada pembahasan masa lalu. Dengan cara apapun kau memaksaku." tegas Lea kemudian. Sama sekali tidak terkecoh. "Aku sudah melupakannya. Aku bukan jalang yang kau temui dulu, aku sudah berbeda!" "Lea...izinkan aku memelukmu," erang Altair frustasi. Ia maju selangkah untuk mendekat. Ketika yang dilakukan Lea adalah memundurkan langkahnya. "Jika kau mendekat selangkah lagi, aku bersumpah akan terjun dari pesawat ini!" ancam Lea walaupun tahu itu sangat tidak masuk akal. Altair berhenti. Menjeda langkahnya ia tahu itu tidak mungkin, tapi Altair tidak ingin Lea memeluknya karena sebuah paksaan. Kemudian pintu di ketuk. Zach datang dengan membawa semua berkas dan data-data yang Altair inginkan. Menoleh, Altair dan Lea memperhatikan kedatangan Zach yang berdiri seraya menyerahkan satu buah kertas perjanjian. "Semuanya sudah saya jadikan satu, Tuan." ucap Zach sopan. Sangat sopan hingga membuat Lea meringis. "Terimakasih, Zach. Kau sudah boleh pergi." titah Altair. Yang langsung di turuti oleh asistennya itu. "Aku menahan diri untuk tidak memelukmu. Meskipun aku bisa memenjarakanmu seperti dulu." decak Altair pertama. "Montana Bar sudak menjadi milikku. Kau tidak akan di pecat meskipun kau tidak bekerja." jelas Altair lagi. Membiarkan Lea mengerurkan dahi, bingung. Menunggu, apa yang akan b******n itu katakan. "Bekerjalah di Perusahaanku, Lea. Aku bisa menjadikanmu asistenku, bayarannya akan ku naiki dua kali lipat." sambung Altair kemudian. "Lima kali lipat, sepuluh kali lipat jika kau mau?" Lea berdecih. "Bekerja denganmu? Tidak sudi. Meskipun aku di pecat dari bar, aku tidak akan bekerja dengan b******n sepertimu!" Altair mengedikkan sebelah bahu sebelum menyerahkan semua yang Zach berikan tadi kepada wanita di hadapannya. "Bacalah ini, jika kau memang menyayangi sahabatmu, maka tandatangani syarat perjanjian itu." Lea menariknya paksa. Membuka data-data yang tidak ia mengerti. Semua pembayaran dan jumlah biaya yang sangat besar. "Kau mengancamku?" tuduh Lea berang. Altair hanya menyunggingkan senyumnya sebelum berujar. "Itu biaya perawatan Ibunya--Alice di Indonesia. Jika kau tidak menyetujui semua yang kuinginkan, maka aku tidak punya pilihan selain mengeluarkan Ibu sahabatmu itu dari rumah sakit keluargaku." ancam Altair. Senyumnya terukir sempurna, seperti sesuatu yang menyenangkan karena berhasil menemukan rencana gila ini. "Aku tahu ini bukan masalah besar untukmu, tapi mungkin kau bisa memikirkannya." Namun dugaan Altair salah. Karena Lea terlihat mengoyak semua kertas itu menjadi bagian-bagian kecil. Melemparnya tepat di wajah Altair, sebelum berujar. "Tidak ada hubungannya denganku sialan! Jadi--lakukan semua yang kau inginkan!" sahut Lea tanpa takut. Masih tidak percaya dengan semua yang b******n itu inginkan. Altair menahan diri, lalu dia tersenyum. "Baiklah, aku tidak memaksamu. Tapi untuk kali ini, biarkan aku membawamu berlibur. Aku akan membayarnya sebagai jasa kau bekerja di barku." jelas Altair pertama. "Tidurlah, aku di depan. Jika kau butuh sesuatu minta saja semuanya dengan Zach, atau dengan pramugari yang ada." sambungnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Lea yang kini sudah mengepalkan tangannya kuat. Benar-benar gila karena kali ini ia berhadapan dengan sosok Altair yang jauh lebih serakah. Lea menghela napas panjang setelah perdebatan yang terus menerus terjadi. Lalu ia mulai merebahkan diri, mengintip dari jendela-jendela pesawat dan terperanjat, tidak percaya bahwa kali ini dia akan ke Cappadocia--negara itu. Lea menjerit dalam hati, terlampau bahagia dan juga senang, tapi ia tidak ingin menunjukkannya pada Altair. Bahkan, hingga beberapa pramugari cantik masuk untuk membawakannya minuman dan makanan, Lea menghiraukan itu karena fokusnya hanya pada semua pemandangan malam yang tengah ia nikmati. Persetan dengan syarat perjanjian yang Altair berikan, dia pikir Lea akan menerimanya begitu saja? Hell! Tidak akan! Sementara Altair, dia sudah bersender pada kursi mewah jet pribadi itu. Berkutat dengan semua pekerjaan yang sedang ia kerjakan. Lalu memanggil Zach untuk sesuatu yang tetap harus ia dapatkan. "Zach, Lea menolak semua syarat dariku. Maka lakukan sekarang. Buat semua rumah sakit menolak pasien itu." "Siap tuan, akan saya lakukan secepatnya." sahut Zach patuh. Lalu Altair kembali dengan semua pekerjaannya. Ia terkekeh geli, Lea pikir Altair akan diam saja, tapi tidak. Lea tidak tahu rencana besar yang sedang Altair buat hanya untuk membuat wanita itu kembali dalam pelukannya. Katakan ia b******n, maka Altair akan mengakuinya. *** CAPPADOCIA- TURKEY. Altair sudah membawa Lea ke tempat bersejarah itu. Bagaimana wajah berseri-seri dari wanita di sebelahnya menjadi sesuatu yang Altair sukai. Ia menikmati itu. Seperti wajah itu saja sudah cukup membuat Altair mengerti, tidak ada yang lebih indah selain kebahagiaan Lea. Meskipun semua tempat terindah disuguhi dihadapannya. Altair tahu bagaimana Lea menjadikan tempat ini sebagai hal pertama yang paling di sukai wanita itu dulu. Sekarang, Altair tahu jawabannya. Seharusnya sejak dulu ia sudah membawa Lea kemari. Kenapa Altair melewatkannya? "Kau suka?" tanya Altair pertama ketika mereka berdua sudah berjalan-jalan untuk menikmati balon-balon udara yang mulai mengudara diatas sana. "Semoga kau suka, Lea..." Lea terbuai. Terpesona pada pemandangan itu, hatinya berlonjak bukan main. Seperti mengatakan bahwa inilah kebahagiaan sesungguhnya. Inilah mimpinya dulu, datang kemari--bersama Altairnya. Lantas untuk semua alasan yang pernah terjadi, lagi-lagi ini hanya sebuah kebahagiaan sementara. Karena Lea datang dengan paksaan, karena ia kemari oleh keinginan b******n yang menghempas semua harapannya. Lea tahu, meskpun hatinya berteriak gembira karena ini tempat terbaik yang selalu menjadi favoritnya, datang kesini bersama b******n itu bukan lagi sesuatu yang menyenangkan. Jadi menepis rasa bahagianya, Lea menormalkan kekagumannya. Dan memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Altair. "Apa ini masih menjadi tempat favoritmu? Aku ingat, bagaimana dulu kau selalu mengatakan ingin datang kesini." ingat Altair kemudian. "Pada semua perjanjian, taruhannya--selalu Cappadocia." sambung Altair lagi, terkekeh karena hingga hari ini ia masih mengingat semua kenangan itu dengan jelas. "Bukan urusanmu apa yang kini aku sukai. Jadi berhenti mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal." singgung Lea. Merasa jengah pada situasi seperti ini. Tapi bukan Altair namanya jika ia berhenti, pada sesuatu yang di sukainya. Lalu ia menarik tangan Lea--membawa wanita itu setengah berlari, hingga mereka berhenti di sisi sebuah balon udara yang tengah dipersiapkan. Altair mengatur napasnya, sementara Lea melepaskan diri. Benar-benar gila karena kini ia sibuk mengatur detak jantungnya. Entah karena ia lelah, atau karena berada dalam kedekatan seperti ini lagi bersama b******n itu. "Tuan, Kennedy. Saya sedang mempersiapkan balon udaranya. Setelah itu, balonnya siap mengudara dan terbang." ucap salah satu penjaga itu sopan. Altair mengangguk, lalu ia melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya. "Bisa kau pegangkan ini untukku?" kata Altair. Ia menyerahkan jasnya pada Lea, meminta wanita itu untuk menyimpannya lebih dulu. Lalu Lea menggeleng, menatapnya masam. "Aku tidak ingin menyentuh barang-barangmu!" tolaknya cepat. Lantas Altair terkekeh dan membuang asal jasnya. Tidak perlu memikirkan itu jika Lea memang tidak ingin. "Apa yang kau lakukan, gila?!" rutuk Lea kesal. Bagaimana jas yang terlihat elegan itu terlempar begitu saja ke tanah. Merapikan kemejanya yang berantakan, Altair membenarkan letak kemejanya. Mengingat hanya ada dia dan Lea disana. Sementara Zach--sudah memesankan hotel untuk mereka. Menoleh, Altair kembali berujar. "Membuangnya. Kau tidak ingin memegangnya, biarkan saja. Aku bisa membelinya lagi." Lea mendengus sebelum meraih jas ditanah tersebut, mengusapnya dengan tangannya, lalu menyimpan jas itu di punggungnya. "Ada banyak orang yang tidak mampu membeli baju. Dan kau membuangnya begitu saja?" Altair selesai dengan kemejanya. Dia mendekat sebelum menyapu rambut Lea lembut. "Berhentilah mengomel, kau terlihat seperti istriku." "Sialan! Menjauhlah!" teriak Lea seraya mendorong tubuh b******n itu. Membiarkan Altair terkekeh dengan semua yang ia lakukan. "Tuan, balon udaranya sudah siap. Tuan dan--?" "Istri saya!" potong Altair cepat. Tersenyum hanya untuk melihat wajah masam wanita itu. "Iya, tuan dan istri sudah di perkenankan untuk naik." jelas orang itu sopan. Membuat Lea membulatkan mata tidak percaya. Sialan, b******n itu! Apa katanya? Istri? Tidak sudi! "Kenapa kami hanya berdua? Sementara orang lain naik ini beramai-ramai?" tanya Lea heran. Benar-benar tidak ada orang lain selain mereka. "Maaf nyonya. Ini karena suami anda sudah menyewa ini hanya untuk kalian. Jadi nikmatilah, orang-orang berkata pemandangan dari atas sana adalah surga. Silahkan naik." ujar penjaga itu sopan. Membuat Lea menghela napas panjang, sebelum menuruti. Masih dengan jas Altair dalam tubuhnya, lelaki itu mengikuti setiap langkah Lea. Lalu Altair dan Lea dibiarkan berdua di sana sementara balon udara itu mulai mengudara. Lea memejamkan mata, berpegangan erat pada semua yang bisa di genggamnya, karena balon itu semakin meninggi. Tapi sebuah tangan meraihnya, menyentuh pinggangnya--begitu lembut dan juga penuh keinginan. Perlahan Lea membuka matanya, menatap sosok yang semakin dewasa di hadapannya. Memikirkan tentang mereka yang sudah terjadi, segala kegilaan yang pernah terlewati, lalu terdiam dengan semua kebungkaman. Sentuhan Altair, tatapan lelaki itu. Memang tidak ada yang berubah, masih sama--seperti dulu. Tapi kali ini, sosok itu menjadi lebih dewasa. Gila, karena Lea benar-benar terbuai. Lalu Lea mendorong tubuh itu pelan ketika kesadarannya sudah menyinggapi, membiarkan sentuhan itu menari-nari seiring dengan pikiran yang mulai berkeliaran. "Jangan menyentuhku!" ujar Lea. Seperti semua luka itu terus menghantui kepalanya, tanpa pernah berkesudah. "Kau menyukai ini?" tanya Altair kemudian. Benar-benar sesuatu yang gila karena semua kekaguman Lea berhasil menghipnotisnya. "Ya, jadi biarkan aku menikmati pemandangan ini. Dan jangan menggangguku!" sahut Lea tajam. Ia sudah memalingkan wajah, sengaja mengabaikan b******n itu, karena Lea tahu bagaimana ia selalu kalah dengan semua perlakuan Altair. Altair terkekeh sebelum mengangguk. Lalu dia mengikuti semua pandang wanita disebelahnya. Semua yang Lea lihat, apa yang membuat senyum di bibir wanita itu kadang kala terukir. Altair terus memperhatikan itu. Lalu keduanya sibuk dengan sudut pandang mereka. Yang satu terpana pada semua keindahan balon-balon yang mengudara, yang satu terpesona pada sosok wanita di sebelahnya. Hening. Tidak ada tutur yang tercipta, hanya gemuruh angin yang menyapu wajah keduanya. Seperti saling berbicara tapi tanpa suara. Hingga detik yang terus tercipta itu, keduanya tanpa sadar terbuai pada tatap yang sama--keindahan, dan sebuah nyaman yang sejak dulu ternyata masih saja bersarang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN