Dalam semua hening yang tercipta, mengagumi masih doa yang kupinta.
Meski dunia menolak kembalinya kita, kutentang itu pada semua yang membara.
Karena kita belum selesai.
Kita hanya berhenti sebentar.
***
Bangunan-bangunan bersejarah dan juga gedung mewah menjadi yang pertama menyambut Lea ketika ia dan Altair sudah meninggalkan Cappadocia.
Kali ini Altair membawanya kesebuah hotel berbintang yang katanya terdapat saham milik b******n itu di sana.
Lea tidak tahu, tapi bagaimana Altair terus memerintahkan sesuatu kepada asistennya, dan bagaimana lelaki itu berkutat dengan semua pekerjaannya di dalam Ipad, Lea tahu betapa Altair sangat berkerja keras. Betapa sibuknya lelaki itu ditengah perjalanan mereka.
Bahkan, bagaimana Lea menuntutnya untuk kembali ke Los Angeles, Altair menolak dengan alasan ia sangat lelah dan butuh istirahat. Sialan, siapa suruh b******n itu membawanya kemari? Huh!
Tapi mengabaikan itu, Lea mulai menikmati semua pemandangan yang di laluinya. Bagaimana Zach--asisten b******n itu mengendarai mobil mereka dengan tenang. Sehingga Lea dapat menikmati segala hal yang tertangkap di matanya.
Lea bahagia, setidaknya itu yang dapat ia katakan. Selama bertahun-tahun, bagaimana Lea hanya menghabiskan hidupnya untuk bekerja dan bekerja, mendapati liburan mendadak ini, seperti sebuah harta karun. Seperti sebuah anugrah.
Tapi sialan karena ia bersama b******n itu dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seandainya mereka tidak seperti ini, mungkin harus Lea akui bahwa ia bahagia. Bahwa ia senang menghabiskan waktu bersama lelaki itu. Sebuah waktu yang membuatnya terasa berharga.
Altair menyimpan ipadnya pertama. Setelah sibuk dengan semua data-data yang ada, ia bahkan menyadari bahwa sejak tadi hanya ada jarak yang tercipta diantara dirinya dan Lea. Hanya ada kekosongan yang menyeruak didalam sana.
Lalu memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaanya nanti, Altair kembali membuka suara, setelah beberapa jam mengabaikan Lea, Altair malah merasa bersalah. Gila, karena kini ia hanya terus memikirkan bagaimana wanita itu. "Kau ingin berkunjung ke mana lagi?"
Lea tidak menghiraukan, ia masih menatap luar jendela, membuka kaca mobil itu perlahan sehingga terpaan angin mengenai wajahnya.
"Lea...aku, bahagia melihatmu lagi." jujur Altair pertama. "Aku bahagia bisa bersamamu seperti ini."
Masih tidak ada jawaban, tapi ia senang melihat wanita itu di sampingnya. Setelah bertahun-tahun lamanya, tersiksa dalam semua kerinduan itu, Altair tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi, selain perasaan bahagia ini.
"Kupikir ini hanya khayalanku, kupikir semuanya tidak nyata, tapi menemukanmu--seperti hadiah terindah setelah bertahun-tahun larut dalam kenangan kita." sambungnya lagi. "Aku tidak mengerti kenapa ini semua sesakit ini, Lea. Tapi aku bahagia, aku bahagia sekali..."
Lea masih mengabaikan semua omong kosong lelaki itu, tapi sedikitpun semua yang Altair katakan didengarnya. Meringis karena itu seperti sesuatu yang manis, padahal Lea tahu lelaki ini bahagia dan juga bohong. Tidak pernah ada kepercayaan yang ia tanamkan lagi. Lea sudah melupakan semua itu.
Lihat, Altair bahkan begitu mudah menginginkan semua yang dia mau. Lalu kemana Angel? Apa kabar wanita yang di cintai b******n ini? Bukankah dulu Altair mengatakan dia mencintai wanita itu? Lalu kemana perginya? Sehingga Lea terkekeh di dalam hatinya.
Altair tahu ia sudah hampir mengemis dan memohon. Jika memang cara itu perlu, Altair bersumpah ia akan melakukan apa saja. "Lea, apa aku harus mati? Apa dengan kepergianku kau baru memaafkanku?" erangnya putus asa.
Lea menghela napas, merasa jengah karena Altair seperti terus merengek. Lea menoleh, menatap garang lelaki itu dan berujar. "Bisakah kau berhenti? Kau membuatku muak dengan semua omong kosong itu."
"Tidak bisakah aku menebus semua itu?" mohon Altair kembali. "Dengan apapun caranya?"
Tapi Lea kembali mengabaikannya. Tidak akan pernah berhenti jika terus meladeni b******n itu.
"Zach," tegur Lea. Setidaknya ia tahu nama lelaki yang sedang menyetir itu, mengingat Altair terus menyuruhnya melakukan segala hal.
"Iya nona? Ada yang bisa saya bantu?" sahutnya sopan. Sangat sopan hingga membuat Lea merasa tidak nyaman.
"Kau punya rokok? Aku butuh benda itu." jelas Lea kemudian, begitu terang-terangan. Tanpa embel-embel apapun, karena ia mengikuti cara Altair memanggil asistennya tersebut.
"Maaf nona, saya tidak merokok." tolaknya pertama.
"Belikan benda itu untukku." timpal Lea lagi. Lebih seperti memaksa.
Lalu Zach terdiam. Tidak juga berani menjawab karena semua keputusan ada di tangan majikannya. Apalagi ketika Altair menggeleng, Zach langsung bungkam tanpa suara lagi.
"Oh c'mon, sejak semalam aku tidak menghisap benda itu. Jangan bertingkah egois, aku sudah menemanimu sejauh ini. Aku juga ingin hakku dituruti!" protes Lea. "Itu bahkan hal yang mudah, tapi kau bertingkah seolah-olah kau paling benar." sambung Lea kembali, menyinggung.
Altair mengimang sejenak. Tapi ia tahu, selalu ada yang terjadi pada setiap perpisahan. Entah itu perubahan atau pengabaian. Dan Altair berpikir ia dihukum karena mendapatkan keduanya.
Altair menghela napas berat sebelum berujar. "Zach, singgahlah kesebuah minimarket terdekat. Aku harus membeli rokok lebih dulu." perintahnya.
Lalu Zach menuruti. Tidak ada yang mampu melawan kehendak majikannya tersebut.
***
GALATA BRIDGE--ISTANBUL TURKEY
Lea mengerutkan dahi ketika mobil yang di bawa Zach menepi pada sebuah jembatan. Seharusnya mereka berada di hotel mengingat Altair berkata dia lelah dan butuh istirahat.
Lalu menemukan bahwa tujuan mereka berpindah, membuat Lea--bingung.
"Aku hanya ingin mengajakmu berjalan lagi, melihat sejak tadi kau terus menatap pemandangan diluar." jelas Altair pertama. Lalu kedua pintu penumpang terbuka, Zach yang melakukannya untuk dua orang itu.
"Zach, berjalan-jalanlah. Aku akan menghubungimu untuk lokasi penjemputan."
"Baik, Tuan. Saya pergi dulu kalau begitu."
Dan tidak butuh waktu lama hingga mobil yang dibawa Zach menghilang. Meninggalkan Lea dan Altair yang masih saling berdampingan. Tapi Lea memutar bola matanya jengah.
Kemudian, Altair membawa Lea pada sisi jembatan. Altair memang beberapa kali ke Negara ini untuk urusan bisnis. Namun--sekalipun ia hanya melewati jembatan ini. Ia tidak pernah singgah, ataupun berhenti. Lantas bersama dengan Lea, membuatnya ingin mencoba semua hal itu. Melakukan segala hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Lea masih tertegun pada pemandangan di sekitarnya. Masih tidak percaya bahwa ia berada di Negara impiannya ini. Dan berdiri di atas jembatan yang sejak dulu sudah sering ia cari tahu melalui media sosial, Lea tidak mampu mengungkapkan bagaimana perasaannya.
Lalu lalang kendaraan dan juga wisatawan yang berkeliaran membuat Lea mengulum senyumnya. Dengan pemandangan yang benar-benar menakjubkan dan dikemas oleh dua sisi berbeda.
Jika satunya bergaya eropa, satunya lagi bergaya asia.
Dan hal unik itu di perjelas dengan dua jembatan yang terdiri dari dua tingkat.
"Berikan aku rokok yang kau beli? Biarkan aku menikmatinya di sini." tegur Lea ketika sejak kembali dari minimarket, Altair tidak juga memberikan rokok itu kepadanya.
Altair merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok dari sana--lalu mengambil dua batang isinya. Yang satu ia beri untuk Lea, sementara yang satunya ia simpan di sela-sela bibirnya.
Lea berusaha meminimasirkan keterkejutannya, karena sudah lama ia tidak melihat Altair--melakukan itu.
Apalagi ketika b******n itu mulai menghidupkannya, membuat Lea tertegun.
Lalu Altair memberikan korek kepada Lea ketika ia sudah selesai dengan miliknya. Kemudian mereka berdua mulai melangkah, menyusuri semua pemandangan dari jembatan itu. Melangkah dengan pelan dan hati-hati.
Altair menyimpan satu tangan disakunya, membiarkan matanya hanya berporos pada wanita itu. "Apa kau sangat menyukainya?" tanya Altair, ia menunjuk rokok yang sedang di hisap Lea dengan telunjuknya.
Yang di balas Lea dengan menyemprotkan kepulan asapnya di wajah Altair. "Seharusnya--kau bisa menebak."
"Kau tahu ini membahayakan untuk kesehatanmu." pesan Altair lagi. Mengatakan itu agar Lea berpikir barang sebentar. "Kau tahu itu tidak baik untukmu Lea."
"Lalu?" sela Lea cepat. "Itu akan baik-baik saja jika laki-laki yang menghisapnya?" geramnya kemudian. "Itu tidak ada bedanya."
"Itu jelas berbeda." potong Altair.
Lea terkekeh, kakinya terus melangkah pelan. Berjalan bersama Altair pada setiap langkah, seperti dua asing yang baru saja bertemu. Setidaknya itu yang Lea pikirkan, paling tidak, mampu membuatnya bertahan untuk tidak membenci sosok itu.
"Aku sudah tidak peduli dengan kesehatanku lagi. Merokok juga tidak secepat itu membunuhku!" kekeh Lea. "So, tidak perlu menegurku untuk hal-hal seperti ini."
"Lea..." erang Altair frustasi. Menghela napas panjang karena ia ingin menyerah. Ingin berhenti, tapi Altair tidak bisa. Ia mencintai wanita itu.
Bagaimana Lea mendengarnya beribu-ribu kali, membuat erangan itu seperti sesuatu yang biasa. Tidak lagi dengan tujuan melebihi kata yang berakhir cuma-cuma.
"Aku membencimu, Altair."
Hening. Altair juga tidak lagi mengatakan apapun, karena ia tahu sebesar apa wanita itu membencinya. Ada banyak pertanyaan yang begitu ingin Altair katakan, membiarkan Lea menjawabnya dengan semua keinginan yang ia mau. Tapi Altair tahu, semuanya percuma. Ia belum memiliki Lea, maka menjadi sesuatu yang sulit untuknya mencari tahu. Apa yang terjadi? Apa yang wanita itu lewati.
Tapi dari semua pertanyaan itu, Altair hanya ingin tahu, sebesar apa kandungan Lea dulu? Sialan. Altair meringis karena semuanya semakin terasa menyakitkan.
"Jika aku punya kemampuan untuk menghilangkan ingatan dan kenangan buruk kita. Aku ingin melakukannya padamu, Lea."
"Sayangnya--itu tidak akan terjadi. Bahkan, bagaimana luka kecil yang kau beri dulu. Akan aku ingat hingga aku mati, Altair."
Lagi. Altair memilih untuk tidak meneruskannya. Tidak pernah mampu mendengar tutur Lea yang semakin menyakitinya. Padahal Altair paham, sebanyak apa ia menyakiti wanita itu.
"Kurasa setelah dari sini. Kita kembali ke LA. Lupakanlah untuk beristirahat di hotel." pinta Lea. "Tidak ada gunanya."
Altair terdiam sebelum mengangguk. "Baiklah, aku juga harus menghadiri rapat besok."
Selepas itu tidak ada yang berbicara. Keduanya kembali bungkam untuk waktu yang cukup lama.
Keduanya hanya terus berjalan, menikmati setiap derap langkah yang terasa panjang, tapi masih bertahan karena tidak ada yang kelelahan. Suara itu hanya di gunakan untuk meminta rokok dan mengatakan agar hati-hati--karena jalanan di sana begitu sesak dan juga penuh.
"Lea?" tegur Altair lagi. Jengah karena sejak tadi tidak hanya ada kesunyian dalam hiruk piruk orang. Padahal mereka berada ditengah-tengah keramaian.
Lea menoleh, membuang rokoknya yang tersisa sedikit. Lalu mengerutkan dahi--menunggu pertanyaan dari b******n itu.
Altair terkekeh. Ia tahu sebanyak apa kemarahan Lea, tapi wanita itu selalu mendengarkannya. "Apa kau dan Ellard, punya hubungan lebih?" tanya Altair hati-hati.
Lea menyunggingkan senyum meremehkan. "Kenapa? Kau keberatan?" Altair mengangguk cepat. Kelewat cepat hingga Lea menatapnya puas. "Ellard. Lelaki itu, dia mimpiku." jelas Lea. Tidak peduli Altair memahaminya atau tidak. Karena Lea hanya ingin b******n itu mengerti. Paling tidak cukup sekali.
***
"SIALAN! katanya kita pulang! Kenapa kau membawaku kesini?!" rutuk Lea kesal karena Altair menghentikan mereka di sebuah hotel berbintang, bukan malah kembali ke Jet pribadi lelaki ini.
Altair mengedikkan bahu malas. Sengaja mengabaikan wanita itu karena ia marah setelah Lea mengatakan--Hadley sebagai mimpinya. Membuat Altair kesal dan juga geram. Lalu ia memilih untuk berlalu, membiarkan wanita itu mengikutinya dengan wajah yang sudah di tekuk masam.
Baru saja melangkah memasuki lobi utama hotel, Altair sudah di sambut hangat oleh semua karyawan disana. Mereka melakukannya seolah-olah itu adalah suatu keharusan, lalu mengabaikan semua yang di lewatinya, Altair menghampiri asistennya di pojok lobi. Membiarkan Lea terus merutuki semua hal yang ia abaikan.
"Zach, aku harus istirahat sejenak. Dimana kamarku?" tanya Altair pertama. "Mereka sudah menyiapkannya?"
Zach mengangguk sebelum menjelaskan letak kamar dan semua fasilitas untuk bosnya itu.
Setelahnya Altair berlalu dan mulai memasuki lift yang terletak di tengah lobi utama.
Baru saja Lea ingin menyuarakan protesnya, ketika Zach sudah berlalu begitu saja. Lantas tidak punya pilihan, Lea memutuskan untuk mengikuti b******n itu. Karena Zach sudah berlalu meninggalkan hotel.
Kemudian keduanya menaiki lift dengan hening yang masih sama. Lea tidak dapat berbuat banyak mengingat ia tidak memiliki apa-apa.
Ketika lift berhenti, mereka keluar dan berhenti pada sebuah kamar di pojok ruangan.
"Kamarku yang mana?" tanya Lea kemudian. Menatap Altair dengan kening mengkerut.
Lalu Altair mengarahkan matanya pada pintu didepannya. Menatap Lea sesaat, sebelum berujar. "Hotel ini sedang penuh, jadi hanya tersisa satu kamar."
"Lalu? Apa artinya kau dan a--"
"Kau dan aku berada di kamar yang sama. Kita hanya istirahat sebentar, tengah malam kita akan berangkat. Jadi, jika kau--"
"Ya, ya. Bukalah! Kau terlalu banyak bicara!" singgung Lea lagi. Tidak perlu lagi memikirkan apapun karena ia juga lelah.
Altair menghela napas sebelum membuka pintu hotel itu dengan card di tangannya. Membiarkan Lea memasuki hotel itu terlebih dahulu. Sementara ia mengulum senyumnya puas. Penyebabnya, tidak lain karena ia berhasil menipu Lea.
Hell, ia pemilik saham terbanyak di hotel ini. Bahkan jika harus mengosongkan hotel ini seharian Altair mampu, tapi ia enggan. Ia hanya ingin terus berada dekat dengan wanita itu. Mengukir kenangan mereka yang sempat tertunda dulu. Meyakinkan bahwa Lea aman asal dengannya.
Lea masih berdiri, menelusuri pandangannya pada semua kekaguman dan fasilitas di hotel ini. Tidak membayangkan sebanyak apa uangnya akan terkuras oleh semua itu.
Lea berjalan ke balkon kamar, menemukan pemandangan laut yang di duganya sebagai pembatas antara asia dan eropa. Tapi entahlah, Lea hanya kagum dengan semua pesona indah itu.
Ketika suara Altair kembali mengusiknya.
"Istirahatlah lebih dulu. Aku bisa tidur di sofa." jelas Altair. Mengingat kamar mereka benar-benar sangat besar. "Kau bisa tidur disana," sambungnya menunjuk sebuah ranjang megah.
Lea mengedikkan bahu sebelum merebahkan diri di atas ranjang hotel itu. Benar, karena ternyata setelah seharian ini berjalan, Lea merasakan tubuhnya lunglai. Sebenarnya Lea tidak ingin menghiraukan kesempatan ini. Seharusnya ia tetap melanjutkan perjalanannya, menelusuri semua keindahan yang ada di Turki, lalu menikmatinya meskipun sendiri.
Tapi memang keinginan tidak pernah sejalan dengan kenyataan, karena Lea benar-benar lelah.
Akhirnya--setelah berkutat dengan semua lamunannya Lea memejamkan mata. Tidak peduli pada b******n yang sudah sibuk dengan semua pekerjaanya, tidak ada yang Lea inginkan selain mengistirahatkan hati dan pikirannya.
Bohong--jika Altair berkata ia ingin istirahat. Karena sejak tadi, sialnya ia bahkan tidak fokus pada semua pekerjaannya. Memperhatikan Lea jauh lebih banyak dari apa yang seharusnya ia kerjakan.
Sebenarnya Altair juga tahu berapa kali ia menemukan Lea menguap selama mereka berada di Jembatan Galata tadi. Hal itu pula yang membuatnya memilih untuk tetap datang ke hotel, dari pada kembali ke pesawat. Karena ia ingin wanita itu beristirahat sebentar.
Altair sudah meletakkan ipadnya asal. Benar-benar tidak berniat untuk melanjutkan pekerjaannya lagi, karena ia ingin melihat--Lea.
Akhirnya Altair duduk pada sisi ranjang. Tertampar pada kenyataan bahwa ini bagian terbaik yang dulu Altair sukai. Melihat wajah kelelahan wanita ini, dan menikmatinya seperti sesuatu yang mendambakan.
Lantas meyakini bahwa Lea sudah terlelap disana, Altair menyapu wajah itu lembut, mendamba seperti tidak ada habisnya, melihatnya dengan penuh kerinduan karena hanya saat ini ia bisa menikmati wajah itu sedekat ini. Mengingat Lea terus menepisnya jika wanita itu sadar.
Altair tersenyum hambar. Diam dan juga tengah berpikir sangat keras. Pikiran yang tak lepas dari apa yang mereka lewati. "Seandainya aku mengabaikan permintaan Papaku, dulu. Kita mungkin tidak berakhir seperti ini, Lea." ujarnya pertama. Altair masih menepikan anak rambut yang berkeliaran diwajah wanita itu.
"Kau tahu? Betapa aku menyesal setelah semua ini. Betapa aku benci dengan diriku sendiri."
"Kenapa aku selemah itu? Kenapa aku menuruti Papaku tanpa mencari tahu? Membiarkanmu bertarung dengan kehidupan yang keji ini."
"Jika saja aku tahu kau--hamil. Anakku. Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu."
"Bahkan jika hidupku taruhannya. Aku tidak akan sedikitpun membiarkanmu melewati semua ini, sendirian."
"Lea--aku tahu betapa banyak maaf yang terucap tidak akan menebus semua kesalahanku..."
"Tapi kumohon, izinkan aku memperbaikinya. Jangan menyukai lelaki lain, aku--tidak ingin kau bersama orang lain."
"Apa yang harus kulakukan? Untuk menebus semua itu? Katakan...katakan Lea. Tapi tolong, jangan menyuruhku pergi, karena itu diluar kendaliku..."
Altair kembali terdiam. Tidak tahu sudah sebanyak apa ia meracau tidak jelas. Tapi ia butuh mengutarakan semua itu. Ia butuh menyuarakan semua penyesalannya, tapi selalu gagal, karena Lea sudah terlalu jauh membencinya.
Kemudian Altair mengecup kening wanita itu. Menyapu wajahnya kembali, sangat lama dan lembut, menikmati sentuhan di wajah itu yang masih terasa--sama. Membiarkan dirinya terbuai pada semua keindahan Lea, lalu terjebak pada senyum yang masih sama.
Hingga waktu keberangkatan mereka dan Lea masih tertidur lelap. Altair menggendong wanita itu untuk membawanya memuju jet pribadinya. Mengingat itu sebagai sesuatu yang dulu pernah ia lakukan ketika mereka kencan pertama dulu.
Altair meringis, jika saja masih ada maaf untuknya. Meskipun harus meninggalkan semua kekayaan yang di milikinya, Altair tidak masalah untuk itu. Karena ia hanya butuh Lea.
Dari dulu hingga sekarang. Tidak akan berubah, batinnya dalam hati.
***