XI. Syarat Perjanjian

2528 Kata
Melakukan segala cara untuk membuatmu kembali. Meski pada rentan yang tak akan membuatmu mengerti. Tapi, akan selalu kutegaskan hingga nanti... Tentang kita, belum berakhir disini... *** Sebuah kamar mewah dan megah menyambut pagi Lea ketika ia sudah membuka mata. Lalu merasa asing dan juga berbeda, Lea angkat dari tidurnya. Ia duduk untuk memperhatikan sekelilingnya, menemukan bahwa ini tempat berbeda dengan yang terakhir kali dilihatnya. Ia terlonjak. Lea segera angkat dari duduknya, keluar dari kamar itu karena ia tahu sudah berada di mana. s**t, sejak kapan ia berada di manssion b******n ini? Selelap apa ia tertidur sampai tidak sadarkan diri? Gila, Lea benar-benar tidak percaya. "Nona, Lea." Lea menoleh, mengerutkan dahi bingung karena ia sudah menemukan Zach di hadapannya. "Kita sudah kembali ke Los Angeles, Nona." jelasnya pertama. Paham betul dengan sorot bingung yang Lea tunjukkan. Seolah-olah ia tahu apa yang ingin Lea tanyakan. Lea menggeleng pelan. Mengerutkan dahi bingung. "Kenapa aku di sini? Kenapa tidak membangunkanku?" rutuknya kesal. "Mana b******n itu?" Zach membungkuk sopan. "Maaf nona, Tuan Kennedy melarang siapapun menganggu nona. Dia bahkan membawa nona sendiri dalam gendongannya." tutur Zach lagi. "Tuan sudah pergi ke Ataya. Ada rapat yang harus dihadirinya." "s**t! b******n itu!" umpat Lea kesal. Tidak peduli pada keterkejutan diwajah Zach. "Untuk apa membawaku kesini?" Zach menahan senyumnya, melihat bagaimana wanita ini begitu keras kepala dan selalu menjawab setiap perkataan tuan majikannya. "Nona terlalu lelah. Itu sebabnya berakhir disini." "Aku mau pulang!" ucap Lea akhirnya. "Aku mau pergi dari sini." Zach mengangguk lagi. Sangat nurut dan juga sopan, membuat Lea menatapnya--jengah. "Saya akan mengantar nona, sesuai permintaan, Tuan." Lea menggeleng. "Aku bisa pulang sendiri!" sahutnya cepat. Ia masih punya kaki dan akal sehat. Tidak perlu memanjakannya seperti ini. "Dan aku sudah lama tinggal disini, aku tidak mungkin hilang." "Tidak nona. Biarkan saya mengantar nona, kalau tidak Tuan akan memarahi saya..." Lalu Lea terdiam. Menghela napas panjang sebelum menatap lelaki itu garang. "Panggil aku Lea, berhenti memanggilku nona. Aku bukan nonamu!" Lantas Zach benar-benar tertawa. Mengangguk lagi tanda ia mengerti dengan semua perintah wanita tersebut. Kemudian Zach mulai mengantar wanita itu sesuai dengan perintah Tuannya. "Tuan, tidak pernah terlihat sekhawatir ini." jelas Zach di sela-sela perjalanan mereka. "Semuanya berbeda setelah dia bertemu non--" Menoleh Lea kembali menatapnya tajam, karena lelaki itu masih memanggilnya, nona. "Maaf...tapi saya sudah terbiasa dengan nona..." gerutu Zach kemudian. "Menyenangkan melihat kalian bersama." Lea menghela dan memilih mengabaikan itu. "Terserahlah, panggil saja apapun yang kau mau!" Zach tersenyum setelahnya. "Saya rasa tuan menyukai, nona." "Berhentilah membahas tuanmu itu, Zach. Aku muak mendengarnya." geram Lea. "Dan aku tidak menyukainya, tolong kau ingat itu." Lalu Zach benar-benar bungkam. *** Altair sudah berada di ruang pertemuan. Menghadiri rapat dengan seluruh rekan-rekannya. Kemudian mulai membahas seluruh rencana mereka kedepannya. Rapat ini berlangsung di Ataya Building. Setelah menunda rapat itu kemarin--karena ia menghabiskan waktu bersama Lea. Hari ini waktunya. Altair bersumpah jika ada hal yang lebih penting harus ia lakukan, Altair mampu menukar itu jika semuanya hanya untuk Lea. Melawan apapun yang ada, menentang segala hal yang mungkin saja menyerangnya, Altair tahu konyol mengatakan itu diatas segala kesalahannya, tapi Altair percaya selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya. Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, Altair meneliti untuk memastikan semua yang ada disana. Lalu semua sudah duduk dengan rapi, mengitari seluruh meja, sementara Altair berada di meja terujung. Duduk di tengah sana untuk menyampaikan semua keperluan dan juga kepentingannya. Lantas itu dimulai dengan Altair membahas semua perencanaan perusahaan, bagaimana sosok itu dengan gagah membagikan semua sarannya, benar-benar terlihat seperti sosok yang mengagumkan. Tidak heran banyak sekali yang memuji lelaki itu, mendambanya dan menginginkannya. "Tuan, Kennedy. Apa sebaiknya kita tidak berunding dengan perusahaan milik Laurels terlebih dahulu?" tanya seorang pria tua yang berada tidak jauh di hadapan Altair. "Ya, benar Tuan. Sepertinya menguntungkan jika Laurels terlibat dengan Ataya." seorang wanita berkaca mata ikut menyuarakan pendapatnya. Altair mengangguk terlebih dahulu. Tidak perlu diperjelas karena ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk perusahaannya sendiri. "Aku sudah membicarakannya dengan Clara Laurels. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan itu." sahut Altair kemudian. Membuat semua yang disana mengangguk mengerti, tersenyum puas karena semudah itu hanya dengan mengajak Laurels bergabung. "Apa kita tidak mencoba bergabung dengan perusahaan milik Hadley? Berkeja sama dalam pengembangan rencana ini..." ujar wanita muda berambut ikal yang berada di sana. Altair menggeleng. Lalu tersenyum mengejek. "Hadley tidak cukup hebat bergabung denganku." sindirnya pertama. Sangat tidak suka karena nama itu selalu mengingatkannya pada apa yang Lea katakan. "Tapi, Sir. Hadley satu-satunya yang ber--" "Tidak akan. Semua terjadi atas izinku. Jadi tidak ada kerja sama dengan Hadley disini!" potong Altair cepat. "Ada banyak hal yang membuatku khawatir jika Hadley bergabung dengan Ataya." Dan perkataan Altair berhasil membuat semua orang disana terdiam. Mereka tahu apa yang dikatakan lelaki itu tidak dapat diganggu gugat. Dan siang itu, semuanya fokus kembali pada pembahasan mereka hari itu. *** Lea melangkah pelan, tahu pasti semua pertanyaan yang akan sahabatnya katakan. Lalu Lea menghentikan langkahnya, memastikan apa yang di dengarnya itu--benar. Lea mengerutkan dahi bingung pada detik selanjutnya. Suara tangisan? Hell, siapa yang menangis di siang bolong seperti ini? Kemudian Lea berlari mengikuti arah suara itu, semakin diperjelas ketika ia memasuki kamar. Lea berlonjak saat menemukan Alice sudah menangis di sana, sangat keras. Hingga Lea mematung karena tidak percaya. Lalu tersadar pada detik selanjutnya, ia mendekat. Meraih bahu sahabatnya itu karena Alice benar-benar terlihat terguncang. "Alice?!" ucapnya pertama. Lea menyapu air mata yang jatuh dari kelopak indah sahabatnya itu. Sama sekali tidak tahu harus bagaimana. "Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis seperti ini?" sambung Lea kembali. Membiarkan isak tangis Alice membara diseluruh ruangan. "Seseorang menyakitimu? Kau terluka? Sesuatu yang buruk terjadi?" cecar Lea kemudian. Begitu penasaran hingga membuatnya memaksa Alice untuk segera memberitahunya. Alice menengadahkan kepalanya. Menatap Lea--gamang. Lalu menggeleng payau, "Lea...ibuku...ibu--" "Kenapa?? Kenapa dengan ibumuu??" potong Lea cepat. Mengerutkan dahi untuk menebak apa sebenarnya yang terjadi. "Kemarin, ibuku di keluarkan dari rumah sakit." isak Alice kemudian."Aku sudah menunggak terlalu banyak di rumah sakit itu. Lalu pihak rumah sakit mengeluarkan ibuku..." jelas Alice pertama. Tangisnya masih pecah di sana. "Lea--ibuku..." Lea mengelus pundak sahabatnya itu, setidaknya hanya cara tersebut yang bisa ia lakukan untuk menenangkan. Untuk meyakinkan Alice bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Lalu? Apa yang terjadi???" "Tidak ada rumah sakit yang mau menerima ibuku, Lea. Aku tidak tahu harus bagaimana, bahkan--untuk pulang ke Indonesia, tabunganku tidak banyak lagi..." erang Alice putus asa. "Tidak ada yang mampu kulakukan, Lea..." Lea terdiam di tempat. Menyadari bahwa ia mengerti apa yang Altair maksud di pesawat kemarin. Lea menggeleng tidak percaya, mengepal tangannya kuat Lea memutuskan untuk menemui b******n itu. "Alice. Aku akan membantumu, kau--tunggulah di rumah. Berhenti menangis, aku bersumpah semuanya akan baik-baik saja." yakin Lea sesaat, memeluk sahabatnya itu pelan sebelum memutuskan untuk berlalu. "Aku berjanji akan menolongmu, Alice..." Menahan seluruh emosi yang sudah di tahannya, Lea masih mengepal tangannya. Sialan! Altair b******n! Jadi ini maksud syarat perjanjian yang di berikannya itu? Apa dia mengancam Lea dengan Alice? Benar-benar gila! Lalu tidak punya pilihan lain, Lea menghentikan sebuah taksi. Tahu betul kemana tujuannya kali ini, persetan dengan rapat yang sedang Altair jalani. Lea harus mendengarkan semua penjelasan lelaki itu. Hanya butuh dua puluh menit hingga taksi yang di naiki Lea berhenti di sebuah gedung mewah bertuliskan ATAYA. Tidak lagi banyak berpikir, Lea membayar taksi dan berlari memasuki gedung tersebut. Menghiraukan satpam yang berusaha menghentikan langkahnya, Lea beruntung saat menemukan Zach berada di lobi utama gedung mewah itu. "Maaf sir, wanita ini berlari dengan sangat cepat." ucap satpam disana kepada Zach. Menghela napas panjang karena kelelahan setelah mengejar wanita gila dihadapannya. Zach memerintahkan untuk pergi, kemudian mulai menatap wanita di hadapannya bingung. "Nona Lea? Apa barangmu ada yang ketinggalan? Hingga membawamu datang kemari?" jelas Zach pertama, dia melipat koran yang di bacanya tadi, lalu menunduk hormat pada wanita di hadapannya. Lea menggeleng cepat. Mengatur detak jantungnya karena para satpam sialan itu berusaha untuk menahannya. "Altair! Kemana lelaki itu?! Aku harus bertemu dengannya!" desak Lea kemudian. "Aku harus menemukannya saat ini juga!" Zach menggeleng pelan. "Maaf nona, ta--pi, tuan Kennedy sedang melangsungkan rapat." "I don't care, Zach! Aku ingin bertemu Altair sekarang juga!" titah Lea kemudian. Tatapannya menajam, menandakan bahwa ia sedang tidak ingin main-main. Lalu Zach menghela napas. Membawa Lea menaiki lift menuju lantai teratas. Lea masih menahan diri, bagaimana emosinya berusaha untuk di redamnya. Karena ancaman Altair sangat keterlaluan. Karena ini bukan lagi tentang mereka-- ini sudah menyangkut nyawa orang lain. "Nona Lea. Nona bisa menunggu di ruangan Tuan lebih dulu. Saya akan mengatakan nona berada di sini..." jelas Zach sopan. Menunjuk sebuah sofa mewah dipojok untuk Lea singgahi. Lea mengangkat kedua alisnya menantang. "Dimana? Dimana b******n itu melakukan rapatnya?" Zach terdiam sebelum menunjuk sebuah ruangan di pojok sebelah kiri. Hingga Lea melewatinya dan berlalu menuju ruangan itu. Zach tidak punya kesempatan untuk menghentikan ulah Lea lagi. Lea melangkah dengan penuh kemarahan, tidak peduli semua orang menganggapnya apa. Persetan! Karena kali ini Lea sudah menggeram. Ia membuka pintu tempat Altair rapat tanpa permisi, begitu kasar Lea mendorong pintu itu hingga semua yang di sana menoleh dan menatapnya bingung. Tapi Lea terlanjur tidak peduli, terlanjur muak dengan semua yang lelaki itu lakukan. "Hei, siapa kau?!" "Apa yang kau lakukan?!" "Kami sedang rapat!" Setidaknya itu rutukan yang terus Lea dengar, entah dari siapa. Karena ia juga terlanjur tidak peduli. Tapi tidak dengan Altair, b******n itu sudah tersenyum mengejek dari tempatnya duduk. "Kita sudahi rapat hari ini. Kurasa calon istriku sudah sangat merindukanku!" katanya menggoda. "Lihat, dia benar-benar nekat mengacaukan rapat kita hanya untuk melihatku." sambungnya, memutuskan untuk mengakhiri rapat tersebut. Lalu semua yang di sana terlonjak sebelum membereskan semua yang mereka bawa, mulai berdiri dan melewati Lea dengan penuh hormat. Dengan panuh. Dengan penuh sorot tanya. Sementara Lea mengabaikan itu, wajahnya sudah merah padam menahan marah. "Tuan, Kennedy! Maafkan saya. Nona Lea tidak bisa di hentikan..." ujar Zach penuh salah, ketika ia sudah memasuki ruangan rapat. Altair mengangguk. "Tidak masalah Zach. Ambil syarat perjanjian itu di ruanganku, kurasa seseorang akan menerimanya hari ini." kekeh Altair. Dengan Zach yang sudah melangkah pergi. "Ada yang bisa kubantu?" tanya Altair lagi. Ia berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Lea dengan senyum mengembang yang masih sama. Lea mengepal tangannya kuat. "Kau yang melakukan itu?" tuduh Lea langsung. Menghiraukan tatapan mengejek dari Altair. "Melakukan apa sayang?" katanya menantang. Menaikkan sebelah alis menggoda. Senang dengan kemaraha yang Lea tunjukkan. "Pada keluarga Alice?! Kau yang melakukannya?" decak Lea lagi. Merasa jengah karena Altair memang sedang mempermainkannya. Altair mengedikkan bahu. "Pihak rumah sakit yang melakukannya. Sahabatmu itu sudah menunggak terlalu banyak." "Kau tidak tahu sekeras apa Alice bekerja untuk pengobatan ibunya. Kau sangat keterlaluan, Altair!" "Kenapa menyalahkanku? Seharusnya dia membayar tagihan pengobatan itu. Maka semua ini tidak akan terjadi." Lea terdiam, menatap Altair lekat dengan sorot penuh kemarahan. Mengunci pandangan mereka dengan semua tanya yang tercipta. "Kumohon--kau ingin aku bersujud? Akan aku lakukan! Tapi tolong, jangan seperti itu pada keluarga, Alice..." Altair terkekeh. Dia tahu Lea melakukannya karena wanita ini menyayangi sahabatnya itu. Tapi jika memang mendapatkan Lea harus dengan cara seperti ini, maka ia tidak peduli siapapun yang tersakiti, asal wanitanya kembali. Tidak lama pintu kembali terketuk. Zach datang dengan membawa beberapa lembar kertas. "Tuan, ini semua yang tuan minta." Altair menerimanya lalu menyuruh Zach untuk pergi dari sana. Setelahnya ia kembali menatap Lea. Menyerahkan kertas itu, yang langsung di tarik Lea dengan wajah masam. "Itu syarat perjanjian yang harus kau tanda tangani. Jika kau setuju untuk melakukannya, semua pengobatan orang tua Alice biar aku yang menanggungnya." jelasnya puas. "Biar aku yang mengurus dan menyelesaikannya." Lea baru akan membacanya ketika Altair sudah menariknya. Membawanya duduk pada kursi yang tersedia, lalu membuat posisi mereka berhadapan. "Bacalah syarat itu dengan benar. Jika kau menyetujuinya, maka kau tahu harus melakukan apa." sambung Altair seraya menyerahkan pulpen bermerk Ataya pada wanita di hadapannya. Membiarkan Lea menatapnya sinis, sebelum mulai membaca setiap tulisan pada lembaran itu. "Menjadi asisten pribadimu? Are u kidding me?" tanya Lea pertama, tidak percaya. Altair mengangguk puas. "Aku tidak punya pelayan di rumah. Jadi, aku ingin kau yang menyiapkan kebutuhanku." "Kalau begitu kau tinggal menyewa baby sister, sialan!" decak Lea geram. Lalu ia kembali membaca syarat itu, menghiraukan kekehan geli dari lelaki di hadapannya. "TINGGAL DENGANMU?" pekik Lea lagi. Menggeleng tidak percaya ketika menemukan syarat bahwa ia harus tinggal dengan b******n ini. "Kau gila! Aku tidak mau!" protesnya tidak terima. "Tidak masalah. Aku tidak keberatan meskipun kau menolaknya. Ta--" "b******n!" potong Lea cepat. "Ini sangat tidak adil!" "Kau hanya tinggal denganku. Dulu juga kita pernah melakukannya..." "Bagaimana dengan Alice? Aku sudah tinggal dengannya sejak dulu! Tidak mau! Aku tidak mau tinggal denganmu!" Altair terkekeh. "Bacalah hingga selesai. Baru protes lagi." Lea menghela napas berat sebelum kembali membaca syarat itu lagi. "Be--benarkah? Alice akan kerja di Perusahaanmu?" tanya Lea tidak percaya. Setidaknya poin itu mampu membuatnya lega. Altair mengangguk kemudian. "Kau bisa menemuinya saat di kantor. Kalian berdua, tidak perlu lagi kerja di Bar itu." "Gajihku dan Alice naik dua kali lipat dari sebelumnya? Apa ini juga benar?" "Iya, Lea. Tidak ada yang bohong dalam surat perjanjian itu." Lalu Lea terdiam, ia sudah berada di lembar terakhir. Hanya tinggal menandatangi itu, kemudian Lea resmi terjebak dengan b******n itu lagi. Tapi--bagaimana Lea menolaknya? Disaat semua ini hanya demi sahabatnya? "Aku coret syarat ke-empat. Kau tidak berhak melarangku pergi dengan siapapun. Itu sudah urusan pribadiku." jelas Lea pertama. Mencoret syarat yang mengharuskan setiap kepergiannya harus di setujui Altair. Hell, b******n itu. Dia tidak berhak mengatur dengan siapa Lea harus pergi. "Oke baiklah. Tapi tinggal denganku, tidak dapat di ganggu gugat. Kau harus selalu ada, karena kau asisten pribadiku." titahnya. Lea tahu, jika ia menandatangi ini. Segala hal gila itu pasti terulang lagi. Bagaimana ia berusaha untuk menghindar dan mengabaikan, namun malah berakhir gagal. Mendirikan tembok tinggi untuk membuat Altair tidak lagi melewatinya, malah membuat Lea kewalahan karena lelaki itu berhasil menemukan celahnya. Seperti kebencian yang masih bersarang di benaknya, Lea tidak tahu hingga kapan itu akan terkikis. Padahal Lea bersumpah hingga ia mati, Lea tidak akan memaafkan b******n ini. Tapi sekali lagi semesta senang mengajaknya bermain. Membuatnya tidak punya pilihan, karena sejak dulu memang seperti itu. Lea mengerang dalam hati, merutuki dirinya sendiri karena bertemu Altair, semua rencanannya terporak-porandakan. Segala yang di tatanya, hilang dalam sekejab. Kemudian ia mencoba untuk mengerti, meski semua kegilaan itu seakan tak pernah berhenti. Menghela napas panjang dan berat, Lea menatap lelaki di hadapannya dalam. Bagaimana mata hazel itu membalas tatapannya sama dalamnya, mereka menguci pandangan itu. Hingga Lea mulai meraih pulpennya dan menandatangi syarat perjanjian itu. Maka Lea harus siap kembali dengan segala kebajingan lelaki tersebut. "Kau memang selalu punya cara untuk menang. Tapi kau tidak pernah tahu Altair, sampai kapan kemenangan itu akan terus berpusat padamu." jelas Lea, lalu ia melempar pulpen itu tepat di hadapan Altair. Kemudian berbalik badan dan hilang dari balik pintu ruangan itu. Meninggalkan Altair yang sudah tersenyum puas dan bernapas lega. Setidaknya syarat itu bisa membuat Lea kembali dekat dengannya. Lalu Altair menghubungi Zach. Dalam satu kali deringan panggilan itu sudah di terima. Lantas dia berujar. "Zach, urus semua tentang keluarga Alice, lakukan perawatan terbaik untuk ibu wanita itu. Semuanya akan menjadi tanggung jawabku." perintahnya. "Siap, Tuan." sahut Zach, lalu panggilan terputus. Altair kembali menarik syarat perjanjian itu, lalu dia berdiri dan membawa kertas tersebut dalam ruangannya. Tidak ada yang lebih Altair syukuri selain mendapatkan wanitanya kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN