XII. Meninggalkan Rumah

2650 Kata
Seharusnya, ada banyak keputusan yang bisa diterima. Menyaringnya, hanya untuk memastikan mampukah ia melewatinya. Kemudian tersadar, bahwa terjebak dan diam. Merupakan pilihan akhirnya. *** Lea sudah kembali dengan keadaan kacau. Membayangkan hari-hari selanjutnya yang akan ia lewati, lalu meringis pada detik selanjutnya. Lea tidak akan bisa, tidak akan mampu membayangkan apa saja yang harus dilewatinya bersama b******n itu. Mungkin itu tidak buruk jika saja mereka baik-baik saja. Tapi ini berbeda, ini tidak lagi sama, bagaimana bisa Lea semudah itu menerima semua yang b******n itu lakukan? Bagaimana ia mampu memaafkannya disaat semua yang lelaki itu lakukan sudah mengecewakan Lea sejauh ini... Lea tahu sebanyak apa kebodohan yang dilakukannya dulu, sebanyak apa ia menyerahkan dirinya kepada sosok itu. Terlena, terbuai, membiarkan dirinya hancur tak berdaya. Menerima semua yang dilakukan lelaki itu, melewati kemarahan dan kesedihan, tapi hanya sebatas itu. Kemudian Lea berjanji untuk tidak pernah berurusan dengan b******n sialan itu, mengingat sebanyak apa dia melukai Lea, ketika semuanya kembali terabaikan dan terbantahkan. Tapi juga Lea tidak punya pilihan karena semua ini demi--Alice. Lea menyayangi sahabatnya itu, segala hal yang mampu ia lakukan asal Alice baik-baik saja. Karena mereka bukan hanya sekedar teman mereka sudah seperti keluarga. Dan lagi-lagi Lea berandai, jika saja mereka punya cara lain. Lea tidak tahu apa yang membuatnya menyetujui syarat itu selain Alice, tapi--bagaimana semua kegilaan itu seakan terulang kembali, maka Lea bersumpah Altair harus menerima semua sakit yang sama. Membalas segala hal yang ia mampu untuk membuat lelaki itu memahaminya. Lea melangkah pelan memasuki rumahnya, menemukan Alice terlihat lebih lega dari sebelumnya. Cepat Lea menghampiri sahabatnya itu, kemudian ikut duduk di sebelah Alice. Lalu menghidupkan rokoknya pertama, kemudian membawa tubuh Alice untuk menghadapnya, setelahnya mereka berhadapan. Membiarkan kesedihan disana menjawab segalanya. "Lea--ibuku, dia--dia sudah kembali ke rumah sakit. Semua pengobatannya sekarang sudah ditebus, dia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik dari sebelumnya..." ucap Alice bersemangat. Menatap sahabatnya itu--payau. "Aku tidak tahu apa yang terjadi..." Lea tersenyum. Mencoba memikirkan itu sesuatu yang baik, karena Altair menepati janjinya. Karena lelaki itu bertanggung jawab atas kontraknya. "Syukurlah, jangan menangis lagi. Kau membuatku khawatir," Kemudian Alice mengangguk. "K-kau? Apa yang kau lakukan?" tanya Alice gelagapan. Mengerti bahwa semua yang terjadi adalah campur tangan sahabatnya itu. Seharusnya Lea menyembunyikan ini, membiarkan semuanya berlalu begitu saja, meyakinkan Alice bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi syarat perjanjian itu membuatnya tidak punya pilihan. Apalagi Lea harus tinggal dengan b******n itu, bagaimana ia dapat menyembunyikannya dari Alice? Sahabatnya itu harus tahu segalanya. Lea berdeham sesaat, kemudian berujar. "Al--tair. Dia, yang merencanakan ini." "Ini? Apa yang dimaksud dengan ini?" tanya Alice bingung. Mengerutkan dahi tidak mengerti. Lea mengedikkan bahu. "Aku pergi bersama Altair ke Turki." kata Lea akhirnya. "Lelaki itu memaksaku setelah menjemputku dibar waktu itu." "TURKI?" pekik Alice tidak percaya. "Turki yang asli?" beonya kembali. Masih tersisa keterkejutan dimatanya. Lea terkekeh sesaat sebelum mengangguk. "Ya, ke Cappadocia. Dia menarikku setelah aku dan Jackob berbicara kemarin. Bar itu sudah ganti pemilik, Altair membelinya. b******n itu pemiliknya sekarang, Alice." "s**t!" rutuk Alice tidak percaya. "Be-benarkah? b******n itu pemiliknya?" Lea mengangguk. "Aku sudah menceritakan semua tentang Altair, padamu. Kau pasti mengerti, apapun yang dia inginkan. Maka dia berjuang untuk mendapatkannya. Right?" imbuh Lea pertama. "b******n itu selalu punya banyak cara. Dia punya segala hal untuk mempermudah itu semua." "Iya, i know. Terus? Apa yang terjadi?" desak Alice. Merasakan bahwa kali ini ada banyak hal yang tidak diketahuinya. Segala hal yang ternyata penuh dengan teka-teki hingga membuatnya kelimpungan pada dunia yang Lea lewati. "Waktu itu dia memberoku kontrak perjanjian itu." decak Lea pertama. "Altair memaksaku menjadi asisten pribadinya. Dan aku menolak itu." jelas Lea setelahnya. "Lalu, kupikir semuanya sudah selesai. Dia juga tidak memaksa, walaupun sedikit memohon." "Kau benar-benar pergi dengan b******n itu? Kau tidak masalah dengan itu?" tanya Alice lagi, mencoba kembali memastikan. Tapi Alice tahu hanya dengan melihat mata sahabatnya itu, seperti menunjukkan bahwa ada banyak sekali keraguan disana. "Aku mengenalmu, Lea..." erang Alice akhirnya. "Keluargamu dirawat, di rumah sakit keluarga Kennedy. Altair mengancamku dengan itu, ku pikir dia bohong. Kupikir dia hanya bergurau untuk menggodaku." ujar Lea kembali. Mengingat ulang pembicaraan mereka dijet lelaki itu. "Lalu menemukanmu menangis aku tahu, dia tidak main-main." Alice membulatkan mata tidak percaya. "Altair? Dia yang melakukan semua ini?" Lea mengangguk. "Dia bahkan tahu kau menunggak terlalu lama. Itu alasan dia mengeluarkan Ibumu, sebagai bahan untuk mengancamku." geram Lea, kesal setiap mengingat itu. "See? Dia berhasil." Alice kembali menggeleng tidak percaya. Lalu ia angkat dari duduknya. "Biar aku yang bertemu dengannya. Aku akan memohon untuk itu..." Lea menarik tangan sahabatnya tersebut. Menahan Alice, lalu menatapnya--gamang. "Percuma Alice, dia menginginkanku. Kau menemuinya pun tidak ada gunanya..." "Lea...bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Lea menghela napas panjang. Paham betul sorot bersalah yang Alice perlihatkan. Tapi jika itu mampu membantunya, Lea bersumpah ia tidak masalah atas itu. "Sudahlah, aku juga telah menandatangi syarat perjanjian." "Syarat perjanjian? Apa maksudnya?" decak Alice lagi. "Sesuatu yang b******n itu pinta?" Lea mengangguk. "Aku sudah menandatangi syarat perjanjian yang Altair minta. Mulai sekarang aku menjadi asistennya." "Lea...maafkan aku. Apa semua ini karenaku?" Lea mengelus pangkal tangan sahabatnya itu. Meyakinkan Alice bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. "Tidak Alice, kau sahabatku. Apapun akan aku lakukan untuk mendukungmu..." Alice langsung membawa Lea dalam pelukannya. Menenggelamkan tangisnya dalam pelukan sahabatnya. "Lea...aku tidak tahu harus membalasmu bagaimana." isaknya haru. "Kau, k-kau sudah membantuku banyak hal, Lea." "Tidak apa, kau tahu aku menyayangimu." yakin Lea kemudian. "Kau tahu aku menganggapmu lebih dari sekedar sahabatku, kita keluarga Alice. Keluarga harus saling membantu..." "Aku tahu kau membenci b******n itu...bagaimana kau menghadapinya nanti?" jelas Alice, masih merasa bersalah. Ia menggeleng iba, tidak tahu juga harus bagaimana. "Aku akan mengatasinya Alice." imbuh Lea setelahnya. "Kau mengenalku. Dan satu lagi Alice, kau akan berhenti dari bar. Bekerja di kantor Altair." jelas Lea kemudian. Membuat Alice kembali membulatkan mata tidak percaya. "Be-benarkah?" pekiknya girang. "Apa b******n itu yang mengatakannya?" Lea mengangguk. "Gajih kita akan di naiki dua kali lipat. Dia yang mengatakannya." Lalu Alice melompat girang. "Astaga, apa yang harus aku lakukan pada b******n itu, aku bahkan sering merutukinya." "Kau berbahagia diatas penderitaanku?" timpal Lea masam. Menggerutu karena wajah Alice sudah berseru bahagia. Tapi Lea tidak bisa memungkiri bahwa senyumnya juga ikut mengembang sempurna. Membuat Alice kembali memeluk sahabatnya itu. Mencium kedua pipi Lea sebelum terkekeh di sebelahnya. "Aku tidak tahu harus dengan cara apa membalasmu, kau menyelamatkan hidupku Lea. Hidup keluargaku..." "Sudahlah, kau juga sudah banyak menolongku. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana jika tidak bertemu denganmu, Alice." Setelahnya Alice hanya semakin mempererat pelukannya. Merasakan kelegaan yang hampir tidak pernah ia rasakan lagi. Kemudian tidak tahu harus bagaimana menanggapinya, karena Lea yang melakukan semuanya. "Aku harus berkemas, syarat perjanjian itu membuatku harus tinggal di rumah b******n itu." jelas Lea kemudian. Ia sudah berdiri untuk menyiapkan segala keperluannya. "Kuharap kau tidak keberatan..." Lalu jawaban dari Alice menghempas harapan Lea. Ia pikir sahabatnya itu akan menahannya atau bersedih atas apa yang Lea alami. Ketika Alice malah menatapnya dengan wajah berseri-seri. "Apa kau akan tinggal di manssion mewah milik Kennedy? Astaga! Ini benar-benar menyenangkan!" puji Alice kemudian. "Kau memang sepantasnya tinggal disana Lea. Setelah semua yang lelaki itu lakukan." Lea mengerutkan dahi sebelum melempar sebuah kaos tepat di wajah sahabatnya itu. "b***h! Kau bahkan tidak terlihat sedih? Aku harus meninggalkan rumah yang sudah menemani kita selama tiga tahun!" Lalu Alice terkekeh. "Agar aku memiliki alasan untuk melihat manssion itu. Aku akan mengunjungimu di sana!" "Sialan! Kau benar-benar tega!" rutuk Lea kesal. Memasang wajah masam sekali lagi karena Alice benar-benar meledeknya. "Jahat sekali..." Membuat Alice semakin mendesaknya untuk segera pergi. Meninggalkan Lea yang sudah berkemas dengan wajah di tekuk masam. "Setelah ku pikir-pikir, Altair lebih baik dari Ellard!" cetus Alice kemudian. "Altair--b******n itu mungkin memiliki banyak hal yang tidak kuketahui." Lea mendengus. Malas meladeni sahabatnya itu. Alice benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat setelah tahu Altair menolongnya. "Altair sangat baik. Mungkin dia sudah berubah?" kekeh Alice lagi. "Mungkin dia benar-benar berbe--" "Kau mengatakan itu hanya karena dia mengabulkan mimpimu bekerja di kantoran!?" rutuk Lea kemudian. Memotong pembicaraan sahabatnya itu. Memutar bola matanya jengah karena Alice terkesan membela b******n tersebut. Alice terkekeh. "Kau tahu sebesar apa mimpiku, Lea. Altair seperti menyelamatkanku..." "Ya! Tapi menistakanku!" sahut Lea garang. Lalu meminta Alice untuk menghentikan pembahasan mereka mengenai b******n itu, karena Lea sudah benar-benar muak. Walaupun Lea tahu Alice tidak akan berhenti menggodanya. Setidaknya Lea tahu ia behasil membuat sahabatnya itu berhenti menangis. Dan mereka bahagia. *** Alunan musik di Bar sudah menyambut Altair ketika ia telah menghempas tubuhnya di kursi panjang bar tersebut. Memperhatikan sekelilingnya dengan ogah-ogahan, Altair menelah segala hal yang dapat dilihatnya. Disambut girang oleh Axel dan Arion, kedua lelaki itu terlihat jauh lebih bersemangat. Menggoda Altair dengan semua omong kosongnya. "Kupikir b******n ini sedang bermimpi mengajak kita bertemu seperti ini." sindir Axel pertama. Tahu betul bahwa Altair selalu tidak punya waktu untuk berkumpul dengan mereka. "Apa Kennedy punya waktu untuk bersantai seperti ini?" timpal Arion kemudian. Ikut menyindir, karena paham dengan sifat temannya yang satu itu. Tahu bahwa Altair tidak pernah menyetujui ajakannya. Altair terkekeh, meneguk winenya pertama. Lalu menatap kedua lelaki di hadapannya bergantian. "Itu sebabnya aku tidak pernah menyetuji ajakan kalian, karena aku terlalu sibuk." "Menjadi pemiliki perusahaan memang selalu merepotkan," kekeh Axel pertama. "Tapi kau juga pemilik perusahaan, sialan!" geram Arion. Membuat ketiganya terkekeh. Selalu saja, jika sudah berkumpul seperti itu tidak akan ada yang mengalah diantara mereka. Arion menaikkan kedua alisnya. Menunggu. "Ingin mengatakan sesuatu?" Arion kembali bertanya. "Kennedy selalu memiliki tujuan dalam setiap pertemuan." "Kupikir karena dia merindukanku," tambah Axel ketus. "Yeah walaupun tahu itu sama sekali hanya omong kosong." Meninggalkan Altair yang sudah menyeringai dengan wine di tangannya. "Ck. Soal Hadley, ceritakan padaku tentang keluarga itu." titah Altair kemudian. "Kurasa kalian berdua tahu segalanya." Menghela napas pertama, Axelion menggeleng geli. "Sudah kuduga, b******n ini! Dia tidak mungkin menemui kita jika tidak ada yang ingin di ketahuinya." singgung Arion lagi. Altair mengedikkan bahu acuh. "Semua yang kalian tahu, aku ingin mendengarnya." jelas Altair, lebih seperti memerintah. "Jangan melewatkan apapun." "Apa ada yang sedang terjadi? Kenapa kau mendadak ingin tahu mengenai Hadley?" tanya Axel penasaran. Menatap tajam Altair untuk meneliti apa yang lelaki itu inginkan. "Kau ingin melawan perusahaan Hadley?" Lantas membuat Arion ikut menoleh dan mengerutkan dahi bingung. Sama-sama menunggu. Tapi Altair mengedikkan bahu acuh. "Memang Hadley mampu melaway Kennedy?" sahutnya bangga. "Kurasa Hadley bukan lawan yang berat." "b******n ini!" rutuk Axel kembali. Membuat Altair dan Arion terkekeh dari tempatnya. "Hanya ingin tahu, beberapa karyawanku mengusulkan untuk kerja sama dengan perusahaan Hadley, tapi aku masih memikirkannya." jelas Altair beralasan, padahal fakta sebenarnya karena dia hanya ingin mencari tahu sosok seperti apa yang Lea kagumi itu. Sosok seperti apa yang berhasil membuat wanitanya seperti hilang kendali. "Jangan mencurigaiku." kekeh Altair setelahnya. "Kurasa, Hadley bukan orang sembarangan. Dia sangat sulit untuk ditebak," timpal Arion kemudian. "Itu sama sekali tidak membantu." sindir Altair, membuat kedua lelaki di hadapannya terkekeh. "Hadley benar-benar gila kuasa, itu salah satunya." timpal Axel kemudian. Meyakini itu karena ia mengenal Hadley. "Dan juga penuh obsesi." tambah Arion kemudian. "Tidak tahu dengan yang lain, tapi Ellard--lelaki itu sangat gila." jelas Axel lagi. "Gila?" tanya Altair bingung. "Bagaimana dengan gila yang dimaksud? Kalian juga mengatakan aku gila." kekeh Altair geli. "Tapi ini gila di versi yang berbeda. Dia melebihi itu, aku tidak tahu dia sudah berubah atau tidak. Tapi dulu, waktu kami sekolah, Ellard--lelaki itu terkenal sangat gila." imbuh Arion kemudian. "Mungkin semua orang tahu bahwa Hadley dan Laurels pernah menjalin hubungan." decak Axel lagi. "Clara dan Ellard--kedua orang itu pernah menjadi berita utama, membicarakan dua keluarga besar itu tidak pernah ada habisnya." kekeh Axel kembali. "Tapi semuanya berbeda sejak Clara berselingkuh. Tidak tahu benar atau tidak, tapi katanya itu hanya gosip murahan. Lagi pula, semua orang tahu Ellard Hadley masih sangat mencintai Clara Laurels. Begitu pula sebaliknya." "Yeah, semua orang tahu hanya dengan melihatnya." imbuh Arion. "Tidak pernah ada habisnya membicarakan kedua pengusaha besar itu." gumamnya. "Dan aku tidak tahu kau ingin info dalam konteks yang mana." jelas Arion kembali, menatap Altair lekat. "Sepertinya aku sudah mengerti." kekeh Altair. "Terimakasih telah memberitahuku." Arion dan Axel saling pandang sebelum mengangguk. Masih membahas tentang kedua keluarga berpengaruh itu. Sementara Altair terdiam sejenak. Mulai mengerti dengan pembahasan kedua lelaki di hadapannya. Lalu ia terus mendesak segala hal yang harus di ketahuinya. Hingga pembahasan mengenai keluarga Hadley terutama Ellard--selesai. Altair tersenyum miring--penuh ejekan. Mulai memahami situasi sebenarnya, bahwa keputusannya untuk membuat Lea dekat dengannya, adalah benar. *** Sepuntung rokok yang sudah hampir habis baru di padamkan pada sebuah asbak kaca, disisi tempat mereka duduk. Dua orang wanita sedang meneguk sebotol wine secara bergantian, melepaskan seluruh kepenatan mereka dalam satu waktu. Karena rasanya waktu semakin cepat berlalu. Sudah seharian pula mereka menghabiskan waktu bersama, berandai-andai pada semua mimpi mereka. Kemudian terkekeh, karena semuanya hanya khayalan yang tak akan pernah sampai. Tapi keduanya tidak juga menghentikan omong kosong mengenai mimpi mereka, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di kedepannya. Entah mimpi-mimpi itu menjadi nyata, atau mereka harus tertampar pada kenyataan yang ada. Tapi keduanya bahagia. Setidaknya hidup telah mengajarkan mereka banyak arti dan juga pelajaran yang sesungguhnya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Alice kemudian. Ia tahu meledek Lea merupakan sesuatu yang menyenangkan, tapi melihat bagaimana kondisi sahabatnya itu membuat Alice juga, tidak tega. Lea menghela napas panjang. Mengangguk untuk memastikan dirinya baik-baik saja. "Akan ku-usahakan. Aku hanya mengkhawatirkan bagaimana kau bisa tinggal sendirian." "Hei-hei, jangan mengkhawatirkanku. Pikirkan saja bagaimana kau akan menghadapi b******n itu setiap hari," ledek Alice kemudian. "Pasti menyenangkan melihat kalian bertengkar setiap hari, Lea." Lea menggeleng pelan. "Aku tidak bisa membayangkannya." decaknya. "Bagaimana aku bisa?" "Everything oke. Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku, jika b******n itu melakukan sesuatu yang buruk, katakan padaku! Kita akan membasminya bersama!" yakin Alice lagi. "Kita akan membalasnya semampu yang kita bisa." Lea menoleh, terkekeh di detik selanjutnya. "Ya, kau benar. Kita harus bekerja sama untuk membasmi b******n sialan itu!" "Lea--jangan terlalu membencinya, kau tahu pepatah benci dan cinta? Siapa tahu kau juga termakan pepatah bodoh itu!" "Tidak Alice, waktuku mencintainya sudah habis. Tidak akan ada lagi setelahnya, mungkin ada. Tapi dikehidupan selanjutnya." Lantas perkataan Lea membuat Alice tertawa geli, Lea memang juara dalam menjawab setiap perdebatan. Ketika bel rumah mereka berbunyi. Keduanya menoleh untuk sesaat, lalu mulai angkat dari duduknya karena mereka sudah bisa menebak siapa yang datang. Lea juga sudah menyeret kopernya, sementara tangannya yang lain masih menyesap rokok yang kini sudah bertengger manis di bibirnya. Alice membuka itu, di susul oleh Lea. Dan keduanya menemukan--Zach sudah berdiri di sana. "Permisi nona Lea, Tuan Kennedy meminta saya untuk menjemput nona." ucap Zach pertama. Lea mengangguk. Membuang rokoknya asal sebelum memeluk Alice erat. Seperti mereka akan berpisah, padahal mereka masih bertemu setiap saat. "Besok kita akan bertemu di kantor. Persiapkan diri untuk hari pertama kerja di Perusahaan." ledek Lea kemudian. "Jangan mabuk-mabukan." Membuat Alice menjitak kepala sahabatnya itu. "Shut up, kau membuatku malu b***h!" "Aku harus pergi, jaga rumah ini. Jika ada waktu luang aku akan mengunjungi rumah ini." jelas Lea kemudian. "Atau aku bisa kembali.: "Ya,ya. Sudahlah, nikmati tinggal di dalam manssion. Itu pasti menyenangkan." "Tidak ada yang menyenangkan setiap kali berurusan dengan Altair. Itu lebih terasa memuakkan," singgung Lea. Dengan Alice yang sudah terkekeh dan membalas pelukan sahabatnya itu. Lalu Zach yang menyusun koper Lea, membuka pintu penumpang untuk wanita yang sangat di agungkan Tuan majikannya itu. Kemudian berlalu dari sana. "Zach? Aku akan tidur di mana?" tanya Lea di sela-sela perjalanan mereka. Zach tertawa sesaat, lalu kembali menormalkan ekpresinya. Pertanyaan Lea seperti sesuatu yang lucu. "Nona, manssion Tuan, ada belasan kamar. Nona tinggal memilih untuk tidur di mana." "Huh, majikanmu itu sangat menyebalkan." "Tapi Tuan sangat perhatian dengan nona." "Perhatian? Omong kosong. Kau mungkin belum mengenalnya, Zach." "Saya sudah mengenalnya sejak lama, nona. Tuan Altair--dia sangat mengagumkan." "Teruskanlah, puji saja majikanmu itu. Lagi pula, aku tidak ingin tahu!" jelas Lea. Zach tidak lagi bersuara, hanya terus menderu mobilnya dengan kecepatan sedang. Membawa wanita ini sampai dengan selamat. Maka segalanya akan baik-baik saja. Setidaknya Zach tahu apa yang tuannya inginkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN