Satu-satunya kemewahan yang paling berarti adalah kedamaian yang selalu terisi didalamnya.
Mungkin cara apapun mampu membuatmu berpikir gila untuk mendapatkan, tapi kesalahan tidak semudah itu menghilang dalam ingatan.
***
Rumah mewah dan megah menyambut kedatangan Lea kali ini. Jika semua orang berlonjak dan kagum untuk tinggal ditempat seperti itu, maka Lea pengecualian. Sama sekali tidak tertarik meskipun ia membulatkan mata dan terbuai dengan semua yang lelaki itu miliki.
Tapi Manssion Altair--malah menjadi sesuatu yang biasa saja dimatanya. Lea bahkan lebih mengagungkan rumah sederhana tempatnya dan Alice tinggal.
Lalu Lea mulai melangkah masuk, mengikuti Zach yang sudah membawa kopernya, padahal Lea memaksa agar dirinya sendiri yang membawa itu. Tapi lagi-lagi kalah oleh keinginan Zach, dengan alasan Altair akan memecatnya jika membiarkan Lea begitu saja. Dan akhirnya ia selalu tidak punya pilihan. See? b******n itu benar-benar tidak waras.
"Wellcome home."
Menoleh, Lea mendengar seruan girang dari suara berat itu. Menemukan Altair sudah menyeringai puas, Lea tahu senyum mengejek terukir jelas diwajah lelaki itu. Menatapnya malas, Lea memutar bola matanya jengah, karena melihat Altair membuat kekesalannya semakin berlipat ganda.
"Aku tidak perlu sambutan dari b******n seperti mu!" sindir Lea kemudian. Tidak peduli sebanyak apa u*****n yang sudah ia beri pada Altair, karena berhadapan dengan lelaki itu benar-benar melelahkan. Menguras seluruh tenaganya.
Lalu Altair terkekeh, mengedipkan sebelah mata menggoda. "Kau ingin sambutan yang lebih mewah?" tanya Altair kemudian.
Membuat Lea menatapnya garang. "Jangan membuatku marah di hari pertama. Kau tahu ini lebih terasa seperti di penjara!"
"Aku tidak mengurungmu, Lea. Aku hanya memintamu tinggal denganku." sahut Altair kemudian. "Sama sekali tidak ada larangan atas apa yang ingin kau lakukan..."
Tapi Lea terlanjur percaya bahwa apapun yang Altair katakan sama sekali tidak ada gunanya. "Itu sama saja dengan mengurungku!"
"Tidak. Itu dua hal yang berbeda, setidaknya aku membebaskanmu pergi. Asal tidak pada jam kerja." yakin Altair kembali. "Kau boleh melakukan apa saja, Lea..."
"A-ah tentu, kau bahkan tidak berhak melarangku."
Altair menghela napas sebelum berjalan mendekat, menyentuh pinggang wanita itu yang lagi-lagi di balas Lea dengan tepisan kasar.
"Jangan menyentuhku!" geram Lea. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi!" beonya kembali. Menekankan itu agar b******n itu mengerti.
Altair menggeleng seraya menatapnya--payau. Tapi ia juga tidak punya pilihan. "Baiklah. Aku akan mengantarmu ke kamarmu." jelasnya dan mulai melangkah melewati Lea.
Lea menatapnya tajam, sebelum mulai mengikuti lelaki itu. Hingga langkah Altair terhenti di depan kamar yang terletak di lantai dua. Dia mulai membukanya dan membawa Lea masuk.
"Kenapa kau membawaku di kamar yang berada tepat di sebelah kamarmu?" protes Lea keras. Tidak terima pada pilihan Altair, tapi jika saja boleh jujur ia juga menyukai kamar ini.
"Kamar yang lain belum di siapkan. Ada banyak debu karena hanya aku yang tinggal disini." jelas Altair pertama. "Tapi, jika kau memang tidak suka, kita bisa berpindah ke kamar lain." sambungnya menjelaskan. Membiarkan Lea memilih semua itu.
Lea tidak menjawab, merasa percuma dengan semua protes kerasnya. Ia memilih memperhatikan sekeliling, ketika nuansa putih dan abu-abu menyambutnya pertama.
Lea meneguk ludahnya, membayangkan betapa kamar ini berkali-kali lipat lebih besar dari kamarnya yang sebelumnya. Dan Lea menyukainya lebih dari yang ia kira.
Tapi mengabaikan keterkejutannya, Lea berdeham dengan tujuan supaya Altair segera berlalu dari sana. Membiarkannya berhenti berpikir, karena ini sudah membuatnya nyaman.
"Kau suka? Jika tidak aku bisa membawamu ke kamar yang lain." jelas Altair lagi, mencoba memberikan yang terbaik untuk wanita di hadapannya. Memastikan bahwa Lea suka, wanita itu betah dan juga nyaman.
"Aku sengaja menyiapkan kamar ini, jika itu yang ingin kau tahu. Pemandangan dari sini, sangat luar biasa. Aku tahu kau suka melihat sesuatu yang indah." tambah Altair menimpali. "Aku memberikan yang terbaik yang kubisa, Lea..." sambungnya jujur. "Bagaimana dulu kau selalu mengatakan bah--"
"Pergilah, aku ingin tidur." sela Lea kemudian. Memotong omongan Altair cepat, karena ia membenci membahas masa lalu mereka. Ia marah mengingat apa saja yang sudah mereka lewati.
Altair mengangguk. Tersenyum getir, sebelum melanjutkan. "Katakan saja jika kau butuh sesuatu, kamarku di sebelah."
"Ya,ya,ya." sahut Lea ketus. Memberikan arahan dengan matanya agar Altair segera pergi.
Tapi Altair masih bertahan disana. Meyakinkan bahwa Lea memang ada bersamanya. "Katakan saja semua yang kau inginkan." katanya pertama. "Apapun yang kau butuhkan. Aku akan menyiapkan semuanya untukmu."
Lea benar-benar jengah. Menatap Altair kembali dengan sorot tidak suka. Ia berujar. "Kau tahu apa yang kubutuhkan?" ujar Lea pertama. Dan Altair menunggu untuk tahu. "Pergilah dari sini."
Dan Altair mengangguk setelahnya, lalu ia beranjak dari sana. Menatap Lea sesaat ketika dirinya sudah sampai di ambang pintu, ia tersenyum dan menutup pintu itu dengan seringai penuh kemenangan. Setidaknya Altair tahu ia bahagia wanita itu ada bersamanya. Kebahagiaan yang tidak mampu Altair jabarkan. Altair tidak tahu bagaimana menemukan Lea kembali benar-benar membuat dunianya cungkir balik dalam suatu waktu. Membuatnya mengerti bahwa ada hal baik yang sudah dilakukannya dengan menunggu.
Tapi satu yang pasti, Altair tahu dunianya seperti telah kembali dan ia bahagia.
***
Kepergian Altair tidak membuat Lea langsung merebahkan diri, melainkan menelusuri kamar barunya. Membulatkan mata dengan semua kekaguman, karena ini benar-benar menakjubkan. Bohong jika Lea tidak terpesona, karena semuanya di tata seperti yang Lea sukai. Atau mungkin Altair memang sengaja melakukannya.
Lea berpindah pada sisi jendela, disambut langsung oleh pemandangan kolam berenang di sayap kiri dan juga halaman megah dengan tanaman yang sudah di tata rapi. Lea tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya, tapi situasi ini benar-benar membingungkan. Membuatnya seperti terjebak pada masa-masa kelam itu lagi. Membuatnya mengingat semua luka itu kembali.
Lea mungkin memang pengecut, sehancur dan sekacau itu, tapi Lea melakukan semuanya untuk bertahan. Untuk membuatnya berharap bahwa ada jawaban dan segala hal baik yang menunggunya.
Tapi pada akhirnya, Lea dihadapi pada jawaban yang akan selalu sama, sejak dulu hingga sekarang, ia tidak pernah diberi sebuah pilihan.
Dan Lea masih bertahan pada sisi jendela, ia menatap kosong pemandangan di hadapannya. Semua kemewahan itu, kemegahan yang dimimpikan semua orang, tapi aneh karena ia hanya merasakan itu dipenuhi dengan kekosongan.
Lea tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak tahu apa yang sebenarnya ia lewati. Tapi disana--dimanssion mewah milik Altair, Lea dibuat bertanya-tanya pada apa yang sebenarnya lelaki itu lakukan? Apa yang Altair perbuat hingga membuat lelaki itu dengan keji meninggalkannya dulu?
Lea ingin tahu banyak hal, segala yang sampai kini masih ia pikirkan. Tapi Lea tidak ingin dianggap rendahan. Tidak ingin dianggap bahwa setelah bertahun-tahun itu ia masih menunggu. Walaupun kadang kala Lea ingin sekali mengakuinya. Tapi bekas luka itu, ingatan mendalam tentang hidupnya yang kacau, jatuh bangun, hancur tak terelakkan, seandainya Lea bisa meyakinkan itu hanya wisata masa lalu. Seandainya ia bisa dengan mudah mengabaikan dan melupakan.
Lea tidak tahu sejauh apa lamunan yang dilewatinya hingga tanpa sadar sebulir air bening jatuh dari kelopaknya. Cepat Lea menepis itu, terkekeh karena kebodohan yang tengah dilakukannya. Bodoh, untuk apa ia menangisi kegilaan didalam kepalanya itu? Lagi pula, cepat atau lambat ia harus meyakinkan diri sepenuhnya. Keyakinan yang suatu waktu akan ia tanamkan bahwa tidak pernah ada tentang mereka. Tentang dirinya dan Altair. Juga tentang segala hal mengenai kenangan kuno itu.
Ketika suara dari handphonenya berbunyi. Lea menyadarkan dirinya. Beranjak, Lea menghela napas sebelum membuka pesan dari sahabatnya disana, kemudian merebahkan diri di ranjang yang luar baisa megah tersebut, akhirnya Lea menghabiskan waktu untuk bertukar pesan dengan Alice. Setidaknya menceritakan apa saja yang terjadi pada sahabatnya membuat Lea lega.
Alice Eilaria
Kau baik-bajk saja? Sesuatu yang buruk terjadi? Kenapa kau tidak mengabariku?
Alice Eilaria
Ataukah kau senang kembali bersama b******n itu? Sampai-sampai kau lupa memberitahuku?
Lea Caesario
Yang benar saja Alice? Apakah wajahku tadi tampak bahagia?
Alice Eilaria
Hehe maafkan aku, Lea. Kau tahu, kau yang terbaik. Jadi, kau harus selalu bahagia. Jangan terus memasang wajah jelekmu itu.
Lea Caesario
Kau yang jelek. Huh!
Alice Eilaria
Apa tuan putri kita ini mendapatkan pangeran dan istananya?
Lea Caesario
Bitch. Tidak sudi memiliki pangeran seperti b******n itu.
Alice Eilaria
Bajingan mempesona? Itu maksudmu?
Lea Caesario
Serius? Kau benar-benar matre! Altair memberimu pekerjaan dan kau kini memuja-mujanya?
Alice Eilaria
Dia atasanku, setidaknya aku harus menghormati bosku Lea ckck?
Lea Caesario
Terserah. Bagaimana ibumu? Segalanya sudah baik-baik saja?
Alice Eilaria
Barusan mereka menghubungiku lagi, everything ok. Mamaku jauh lebih baik, terimakasih Lea, apa aku harus mentraktirmu?
Lea Caesario
Tidak perlu. Kau hanya mampu membawaku makan di pinggiran.
Alice Eilaria
Sialan, kau juga sama b***h!
Lea Caesario
HAHAHAHAA karena kita miskin
Alice Eilaria
Sepertinya tidak lagi, bukankah kau akan menjadi istri seorang billionare?
Lea Caesario
Semoga saja, tapi bukan b******n itu.
Alice Eilaria
Ck, sudah kukatakan jangan terlalu membencinya.
Lea Caesario
Bukan urusanmu, aku akan selalu membencinya, Alice. Kau tahu sebanyak apa dia melukaiku.
Alice Eilaria
Baiklah tuan putri, keputusan ada ditanganmu. Aku hanya akan mendukung segala yang kau lakukan.
Lea Caesario
Tidurlah, besok kau harus kerja. Aku sudah lelah.
Alice Eilaria
Ternyata terlalu sepi tidak mendengar celotehmu sebelum tidur.
Lea Caesario
Aku tidak salah dengar? Bukankah setiap malam kau yang tidak pernah berhenti berbicara?
Alice Eilaria
Berhenti saling menyalahkan. Kita sama.
Lea Caesario
Wkwkw kau ini, bye!!
Alice Eilaria
See you, b***h! Gdnight too!
Lea menghela napas panjang, menyimpan handphonenya disebelah ranjangnya, lalu mulai memejamkan mata.
Terlalu banyak memikirkan sesuatu ternyata membuatnya sangat lelah. Tapi ada perasaan lega setelah semua yang ia lakukan. Setidaknya, Lea tidak perlu membuat sahabatnya itu memikirkan banyak hal.
Lea mampu menebak apa saja yang akan ia lewati, tidak sulit mengatasinya karena ia dan Altair sudah pernah tinggal bersama. Tapi Lea membenci lelaki itu, kebencian yang tidak akan pernah ada habisnya, lalu mampukah ia menatap wajah b******n itu? Disaat ia sendiri lelah untuk terus berdebat dengan lelaki itu.
Dalam keheningan yang tengah ia perhitungkan, Lea menjabarkan segala permohonan yang ia semogakan. Berharap ada jalan ataupun sebuah titik terang atas apa yang terjadi diantara mereka. Paling tidak, Lea ingin ada jawaban atas semua kemarahan yang selama ini membuncah dihatinya.
***
Masih menyibak rambut dengan handuk kecil di tangannya, Altair baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah melakukan olahraga ringan di ruangan khusus yang tersedia di mansionnya tersebut, Altair menyudahinya dengan alasan sederhana--ia ingin melihat Lea.
Tapi Altair selalu tahu bahwa apapun yang akan ia lakukan, entah tujuannya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja, Lea akan tetap membencinya. Memberi pandangan tidak suka sampai Altair sendiri hapal wajah masam wanita itu. Mengerti bahwa ia juga akan menikmati wajah itu dalam waktu yang lama. Altair hanya meyakini bahwa ia tidak akan menyerah. Tidak setelah ia dapat maaf dan jika mungkin membawa Lea dalam pelukannya kembali.
Altair mencintai wanita itu. Pernyataan yang tidak pernah ada habisnya untuk ia ucapkan. Untuk ia jabarkan. Karena Altair sendiri tidak tahu harus dengan cara apa ia membuktikannya. Tapi satu hal yang tidak akan lepas setelah semua yang terjadi, Altair bersumpah ia tidak akan pernah lelah. Tidak akan pernah menyerah.
Kemudian Altair melangkah pelan, berhenti tepat diambang pintu kamar Lea, ia berharap wanita itu tidak mengunci kamarnya. Walaupun Altair memiliki kunci cadangan, terasa tidak benar jika ia tetap memaksa masuk.
Lalu memutar gagang pintu itu, Altair tersenyum lega karena ternyata Lea tidak mengunci pintu kamar tersebut. Entahlah, mungkin wanita itu lupa. Atau karena Lea sudah terlanjur lelah setelah merapikan seluruh perlengkapannya.
Kemudian Altair melangkah masuk, berjalan pelan hingga kakinya berhenti pada sisi ranjang.
Altair tersenyum samar, tidak menyangka bahwa ia akan menemukan Lea kembali. Melihat wanita itu dalam tidurnya yang sampai hari ini masih terlihat sama--mengagumkan. Mampu membuatnya meneguk ludah karena segala hal yang ada pada wanita itu.
Mendambakan Lea sampai tidak berhenti, lalu terpana dengan kehadiran wanita itu lagi dan lagi.
Altair duduk pada sisi ranjang--sangat pelan, karena ia tidak ingin Lea tahu.
Altair menyapu wajah itu lembut, merapikan anak rambut Lea seperti yang dulu selalu ia lakukan, lalu menatap wajah itu seakan tidak pernah berkesudah. Altair masih saja percaya bahwa ia mencintai Lea.
Tertampar pada kejadian lima tahun lalu bagaimana ia meninggalkan wanita ini setelah apa yang Lea beri, lalu menyakitinya dengan serangan yang benar-benar gila.
Altair sadar kenapa Lea membencinya separah ini, tapi sekali lagi ia berjanji--ia akan membuktikan bahwa ia tidak main-main lagi. Bahwa ia akan selalu menjadikan Lea wanitanya, sejak mereka bertemu pertama kali, bahkan hingga ia tutup usia.
"Aku tahu kau pantas membenciku, Lea. Tapi beri aku kesempatan untuk memulainya lagi, untuk memperbaikinya kembali." ucap Altair pelan. Bagaimana setiap kali melihat Lea, dia selalu meracau tidak jelas.
"Aku mencintaimu, bahkan hingga hari ini. Tidak bisakah kau melihat itu?"
"Semua yang aku lewati, semua yang aku miliki, aku hanya ingin membaginya denganmu."
"Jadi, berhenti menatapku dengan pandangan tidak suka itu. Kau membuatku menahan untuk tidak memelukmu..."
"Semua waktu yang kulewati. Kau tidak tahu sehancur apa aku setiap detiknya. Setiap pikiran yang tertuju untuk dirimu?"
"Harus bagaimana? Harus dengan cara apa? Harus seperti apa agar kau memaafkanku?
Altair menggeleng cepat. Menyudahi perlakuannya pada wajah terlelap itu, seperti orang gila karena ia begitu menginginkan Lea
Lalu Altair bersumpah sejak malam ini, bahkan hingga orang tuanya melarang hubungannya dengan Lea lagi, Altair tidak akan peduli. Karena kini ia sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Bahkan hingga ancaman yang akan David berikan untuk membuatnya meninggalkan Lea lagi, Altair bersumpah itu tidak akan pernah terjadi.
Karena menemukan Lea, mendapatkan wanita itu, lalu memilikinya--sudah menjadi pilihan Altair sejak ia tahu bahwa wanita itu seperti di takdirkan berada di sini. Bersamanya. Dengannya.
Altair mengecup kening Lea pelan, tanpa Lea tahu, lalu berdiri untuk beranjak dari sana. Ketika handphone Lea berbunyi.
Altair menoleh karena layar handphoenya menyala, lantas pesan dari Ellard mengisi layarnya, membuat Altair terdiam dengan tangan mengepal kuat.
Shit! Dia pikir, dia siapa?
Bahkan, jika Hadley sekalipun mencoba untuk mendapatkan Lea--maka lelaki itu harus berhadapan dengannya. Karena Altair tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan Altair berlalu cepat dengan kebisingan yang mendadak menyerangnya.
Lantas kepergian Altair, membuat Lea membuka mata ketika tahu bahwa langkah kaki lelaki itu semakin samar. Tadi, apa yang b******n itu lakukan, semua perkataannya bahkan sapuan lembut yang Altair berikan, Lea merasakannya.
Hell, Lea bahkan belum terlelap. Bagaimana ia bisa tertidur di tempat baru dengan nyenyak? Bahkan meskipun tubuhnya sangat lelah, matanya menolak untuk terpejam.
Lea hanya terbaring dengan semua pikiran yang tak kunjung membuatnya terlelap. Hingga langkah kaki seseorang mengejutkan Lea, tapi ia tetap enggan untuk membuka mata.
Ketika kicauan b******n itu membuat Lea tahu, bahwa lelaki yang sudah menyentuh wajah dan dahinya adalah Altair sialan.
Lea juga tidak tahu kenapa ia tidak bereaksi--entah memukul lelaki itu atau mengumpatnya. Ketika yang ia lakukan hanya diam, dan terus mendengarkan semua ucapan memuakkan dari lelaki itu.
Lea menggeleng cepat, terlampau gila karena ini mulai tidak wajar. Bagaimana semua perkataan Altair tadi malah memberi efek yang luar biasa, hingga membuat pikirannya tertuju pada kalimat-kalimat itu.
Lea meringis. Kesempatan kedua? Memperbaiki? Memulai lagi? Dia pikir, Lea akan tersentuh lalu mulai memaafkannya? Hell. Pemikiran paling bodoh yang perlu lelaki itu tahu.
Akhirnya, menggeleng kepala kuat. Lea lebih memilih untuk mengambil handphoennya kembali. Menemukan pesan dari Ellard--malah membuat senyumnya terukir.
Lea tidak tahu apa yang terjadi, karena ia sudah larut dengan panggilan dari Ellard yang mendadak itu.
Tapi satu hal yang masih membuat Lea ragu akan semua ini. Apa ia memang menyukai Ellard? Pangeran tampan dambaan semua orang itu? Ataukah mimpi Lea sudah terlalu tinggi? Hingga membuatnya tidak berhenti mengkhayalkan wajah Ellard, bahkan hingga matanya terlelap?
Gila--semuanya semakin membingungkan. Tapi Lea tidak juga ingin terjebak pada sakit yang sama lagi. Karena ia pun tahu, seolah-olah bisa menebak, bahwa Ellard bukan ditakdirkan untuknya.
***