XIV. Hari Pertama Bekerja

2517 Kata
Menggiringmu pada perasaan yang masih bertahan itu. Kemudian meyakinkan bahwa tidak ada salah yang membuatmu bersalah. Karena kebenaran akan menguasi, bagaimana peranmu didalam hati. *** Teriakan dan semua permintaan Altair pagi ini, benar-benar membuat Lea menahan amarahnya. Bagaimana sejak tadi pagi ia sudah sibuk kesana kemari. Menyiapkan setelan jas lelaki itu, menghidangkan sarapan sederhana untuk b******n itu, dan sebentuk suruhan lain yang Altair perintahkan kepadanya. Tapi Lea tidak punya pilihan selain menuruti itu. Lagi pula, Altair selalu punya cara untuk membuatnya menurut tanpa bantahan. Menoleh, Lea kemudian mendapati b******n itu sudah siap dengan setelan berwarna hitam yang ia pilih tadi. Lea mungkin bisa mengucapkan semua penolakan itu, tapi bagaimana Altair sudah rapi dengan setelah ditubuhnya mampu membuat Lea meneguk ludahnya. Tidak bisa dihindari bahwa penampilan Altair memang selalu mempesona seperti itu. Tapi menepis pikiran gila itu, Lea buru-buru menggeleng. Dari sana, Altair terus memperhatikan semua yang Lea lakukan. Lalu ia tersenyum geli, dan melangkah mendekati wanita itu, meneliti semua yang wanita itu kerjakan, melihatnya yang kini sudah duduk di atas sofa panjang dengan wajah ditekuk masam. Tapi pemandangan itu, kemarahan yang wanita itu perlihatkan malah membuat Altair mengulum senyumnya. Bagaimana senyum menjengkelkan yang Altair tunjukkan, membuat Lea terus menatapnya gusar. Lalu Altair mendekat, berdiri tepat dihadapan wanita itu sebelum berujar. "Hei, lupakan wajah menyebalkan itu. Pasangkan dasiku ini." kekeh Altair pertama, mengedipkan sebelah mata sebelum menyerahkan dasinya dipangkuan wanita itu. Lea mengerutkan dahi dan menatapnya garang. "Kau menjadikanku asisten atau pembantumu?!" rutuknya tidak terima. "Aku tidak mau!" Dan Altair sukses tertawa. Membiarkan kekehan geli diwajahnya semakin terdengar menyebalkan. "Itu sebuah perbedaan yang besar sayang..." erang Altair kemudian. Meyakinkan Lea bahwa wanita itu berada diposisi yang berbeda. "Pembantu tidak hanya menyiapkan yang kusuruh, tapi juga membersihkan seluruh rumah ini!" "Bukankah aku sudah melakukannya?" protes Lea lagi. Memutar bola matanya jengah. "Aku sudah membereskan apa yang kau minta sejak tadi pagi!" Altair menggeleng pelan. Memusatkan perhatiannya pada wanita itu, menatapnya dengan setengah permohonan. Hingga membuat Lea meringis dari tempatnya. "Pasanglah, kita sudah harus berangkat. Kau tidak ingin melihat sahabatmu?" decak Altair kembali. Tahu jika seperti itu Lea selalu tidak punya pilihan. Tapi Lea tetap pada keputusannya. "Kau bisa memasangnya. Kenapa menyuruhku?!" tolak Lea cepat. Ia kembali melempar dasi itu tepat di wajah Altair. Sama sekali tidak tertarik harus berhadapan dengan b******n itu. Altair menerimanya, lalu mendekat. Kembali melangkah ke hadapan wanita itu, ia menarik tangan Lea sebelum meletakkan kembali dasinya tepat ditangan wanita menyebalkan tersebut. "Aku ingin kau yang memasangnya," titahnya kemudian. Lebih seperti perintah. "Tidak ada penolakan, Lea. Kau tahu apa yang bisa kulakukan jika kau seperti ini." Ancaman itu lagi. Lea tahu Altair selalu mengelurkan omongan konyol itu utuk membuatnya takut. Untuk membuatnya tak berdaya. Setelahnya, menghela napas berat. Lea juga tidak punya pilihan. Tidak ingin emosinya terkuras di pagi hari ini. Ia berdiri dari duduknya, lalu mulai menatap Altair malas. Mereka saling bertatapan dalam diam. Memecahkan keheningan itu dengan seluruh pikiran kacau, Lea mulai menyimpan tangannya di leher Altair. Sementara Altair terus memusatkan perhatiannya pada segala hal yang Lea lakukan. Mata wanita itu, hidungnya, dan berpindah pada bibirnya, Altair tahu ia selalu senang memandangi itu. Melihat segala hal yang ada pada wanita itu untuk waktu yang lama. Walaupun dengan terang-terangan Lea sama sekali enggan menatapnya. "Aku tidak tahu bahwa leherku jauh lebih menarik dari wajahku..." goda Altair pertama. Tapi Lea sama sekali enggak untuk menyahutnya. Mengenyahkan pikiran liar di kepalanya, karena Lea harus cepat menyelesaikan proses memasang dasi tersebut. Lea mulai dengan sangat teliti, pertama kalinya ia memasangkan dasi untuk seseorang. Seseorang yang pernah menghempasnya jatuh ke jurang terdalam. Seseorang yang sudah menjatuhkan segala mimpi-mimpi dan harapan. Dan seseorang yang telah membunuhnya secara perlahan. Hingga tanpa sadar Lea mengeratkan dasi itu dikemeja Altair. Membuat Altair terkekeh, tapi matanya terus menatap Lea--lekat. "Kau ingin membunuhku?" ujarnya kembali. "Kenapa sangat terik? Ini membuatku tercekik." "A-ah, kau tidak akan mati hanya karena dasi ini." jelas Lea. Ia sudah menepuk tangan bangga, selesai dengan pekerjaan pasang memasang itu, Lea menyunggingkan senyum mengejek. "Kau jagoan, hal seperti ini tidak pantas untuk kau khawatirkan." Tapi Altair tersenyum, terlampau bahagia hanya karena hal sederhana ini. Semua sentuhan Lea, apa yang wanita itu lakukan, benar-benar menghipnotisnya di waktu yang bersamaan. Altair tahu ini memang gila, tapi ia bahagia lebih dari segalanya. Meskipun ucapan Lea kadang kala menghunusnya. "Kau sangat cantik pagi ini." puji Altair kemudian. Ia sudah menyapu rambut Lea lembut. Yang langsung dibalas dengan tepisan kasar dari wanita itu. "Sejak dulu." sahut Lea bangga. "Jadi berhenti memujiku, semua perkataanmu tidak ada gunanya." singgungnya kemudian. "Itu malah terdengar memuakkan!" Altair mengedikkan bahu sebelum berbalik badan. Tahu bahwa jika perdebatan itu dilanjutkan mereka tidak akan selesai. "Yasudah, ayo berangkat. Sepertinya Zach sudah menunggu kita di depan." Lea tidak lagi menjawab, ia hanya melangkah cepat dan mulai melewati Altair. Hari pertama bekerja, emosinya sudah di ujung kepala. Lea bahkan tidak dapat menebak apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya. *** Semua orang menunduk hormat saat Altair berjalan melewati setiap karyawannya. Wajah-wajah bingung itu terpancar jelas. Bukan, bukan karena Altair masih terlihat mempesona, karena itu memang faktanya. Tapi karena seorang wanita yang berdiri disisi bos mereka itu. Lea masih memasang wajah jutek, terlampau tidak peduli pada semua orang yang menatapnya heran. Ia hanya tetap melangkah dengan berani. Tidak menghiraukan semua orang yang sudah menatapnya penuh penelitian. "Wajahmu seperti ikan asin." ledek Altair pertama, ia sudah menyamakan posisinya dengan Lea. "Tersenyumlah, biarkan mereka melihat siapa dirimu." Menoleh, Lea menatap Altair sama masamnya. Sebelum mendengus untuk mengabaikan lelaki itu. "Alice bekerja di lantai atas dekat ruanganku. Kau akan menemuinya di sana." jelas Altair kemudian. Begitu sabar menghadapi Lea, karena sekali lagi, ia masih mencintai wanita itu. Mungkin itu bisa menjadi pedoman kenapa ia begitu menginginkan Lea. "Kenapa semua karyawanmu melihatku seperti itu? Mereka ingin aku mencolok mata mereka satu persatu?" rutuk Lea kesal. Risih dan juga bising. Altair benar-benar terkekeh. Sesuatu yang langka melihat tawa lelaki itu di kantornya. Tapi kehadiran Lea seakan menjungkirbalikan dunianya. "Itu karena kau wanita pertama yang berjalan di sampingku..." "Omong kosong." sahut Lea ketus. "Terserah, Lea. Tapi itulah faktanya. Sekretarisku bahkan tidak pernah berada disebelahku, kecuali--Zach." Kemudian pintu lift terbuka. Lea juga tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka lagi. Karena ia butuh untuk melihat Alice. Lea masih mengikuti Altair, terus mengabaikan sorot-sorot ingin tahu dari seluruh karyawan disana, ketika tubuhnya membentur punggung Altair. Lea membulatkan mata. "s**t! Kenapa kau berhenti?" rutuknya kesal. "Kau yang menabrakku? Lalu aku yang salah?" protes Altair, menggeleng tidak percaya. Tapi mengabaikan itu ia menarik tangan Lea, membawa posisi wanita itu seperti tengah di peluknya, lalu meminta seluruh karyawannya untuk mendengarkan semua yang akan ia sampaikan. "Perhatian-perhatian. Tuan Kennedy, ingin menyampaikan sesuatu." teriak Zach bersemangat. Paham betul maksud tuannya tersebut. Dan tidak butuh waktu lama untuk membuat semuanya memperhatikan CEO mereka tersebut. Lalu Altair berdeham sesaat. "Sebelumnya, aku ingin mengenalkan dua karyawan baru. Yang pertama mungkin kalian sudah kenal, orangnya berada di ujung sana." tunjuk Altair pada sosok wanita berseragam lengkap yang sudah menatapnya sumringah. Perbedaan besar sejak pertama mereka bertemu. Alice melambaikan tangan lalu menunduk hormat. Membuat Lea menatap geli sahabatnya. Lalu Altair kembali meminta perhatian. Ia terus menatap wanita di hadapannya, sementara Lea malah terus mengabaikannya. Tapi Altair tidak peduli, seluruh Ataya harus mengetahui wanita ini. "Selanjutnya wanita di hadapanku, perkenalkan namanya Lea Gavera Zelina Caesario." ucap Altair pertama. Sama sekali mengagungkan wanita itu didepan semua orang disana. "Dia akan menjadi asisten pribadiku setelah Zach. Jadi, jangan heran melihatnya terus berada disampingku." jelas Altair kemudian. Membuat semuanya membungkuk dan menepuk tangan serentak. Membiarkan Lea terus berdiri seperti seseorang yang tengah diagungkan dan didambakan. Lalu Lea memilih untuk membungkuk sebentar, sebelum melangkah mendekati Alice. Membiarkan Altair yang sudah menatapnya garang, Lea tidak peduli. Bahkan hingga lelaki itu sudah memasuki ruangannya. Lea hanya butuh untuk melihat sahabatnya itu. "Alice! Kau terlihat menakjubkan!" puji Lea pertama. Menelusuri seluruh perlengkapan yang dikenakan sahabatnya ini. Lalu Alice terkekeh. Dia mengedipkan sebelah matanya. "Kau juga! Kau tahu, semua orang menatapmu ketika kau berjalan disamping Tuan Kennedy." "Altair! Jangan memanggilnya seperti itu. Terdengar menggelikan Alice!" protes Lea kemudian. "Menjijikan, kau tahu?" "Hei, jaga mulutmu. Kita sedang berada di kantor. Bukan di Bar!" imbuh Alice kemudian. Mengedarkan pandangan pada sekelilingnya. "Kita harus berterimakasih pada b******n itu!" bisik Alice kembali. Membuat Lea menghela napas panjang. "Apa yang kau lakukan?" rutuknya. "Kau gila, Alice!" "Bekerja!" sahut Alice cepat. "Masuklah keruanganmu, aku harus bekerja setelah ini!" Lea menggeleng, tapi Alice terus mendesaknya untuk pergi. Akhirnya, menghela napas panjang, Lea menekuk wajahnya masam sebelum melangkah memasuki ruangan yang sama dengan Altair. Lea duduk pada sofa yang tersedia di ruangan itu. Tidak juga tahu harus melakukan apa karena Altair belum memerintahkannya. Mungkin semua orang tidak akan percaya bagaimana Lea terlihat begitu santai berhadapan dengan CEO mereka. Tapi ia tidak peduli, bagi Lea, Altair tetap b******n sialan yang akan selalu di bencinya! Tapi aneh karena kini matanya terus berpusat pada seluruh pekerjaan yang sedang b******n itu kerjakan. Berkas-berkas ditangannya, dan juga laptop yang terlihat silih berganti di gunakannya. Memperhatikan sesibuk apa b******n itu kini, membuat Lea tertegun. Lea juga tahu bagaimana lelaki itu sesekali melihatnya, menatapnya barang sebentar lalu kembali dengan semua pekerjaannya. Merasa jengah, Lea berdiri menghampiri Altair. Mengintip sesaat sebelum memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada bangunan-bangunan mewah yang kini tengah dilihatnya tepat dibelakang Altair. "Kau suka?" tanya Altair pertana. Ia sudah berdiri di samping Lea. Memusatkan perhatiannya pada wajah wanita itu. Lalu kembali terbenam pada keindahan wajah yang selalu ia dambakan. "Tidak juga. Aku sudah biasa melihatnya, Ellard sering mengajakku melihat bangunan dan gedung-gedung mewah seperti ini." jelas Lea kemudian. Sama sekali bukan hal biasa baginya. Altair meringis. Terkekeh geli, tapi jelas-jelas itu terdengar meremehkan. "Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya." jujur Altair kemudian. "Aku tidak suka kau terus memikirkannya, Lea." Lea menoleh, memicingkan kepalanya sebelum berujar tajam. "Bukan urusanku, aku sudah sering mengatakannya." "Lea, Ellard lelaki itu tidak ba--" "Sstt! Berhentilah Altair. Lanjutkan pekerjaanmu, jangan membuatku gusar karena perkataan sialanmu itu!" Altair menghela napas. Menatap Lea lekat, sebelum menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya. Membiarkan Lea mendengar detak jantungnya, bahwa ini masih sama seperti dulu. Seharusnya Lea tahu, seharusnya wanita itu mengerti. Lea meronta, berusaha menguraikan pelukan Altair walaupun percuma, karena lelaki itu semakin menguatkan rengkuhannya. "Altair! Lepaskan! Kenapa kau seperti ini!" pekik Lea gusar, memukul d**a Altair dengan sisa kekuatannya. Dengan semua tenaganya. "Jangan membuatku semakin muak melihatmu!" Altair menggeleng. Merengkuhkan pelukannya lebih dari sebelumnya. "Aku sedang banyak pikiran. Biarkan aku memelukmu sebentar..." Hening. Lea seakan tertampar pada kejadian bertahun-tahun lalu. Bagaimana perkataan dan perlakuan Altair seakan tidak pernah berubah sedikitpun. Tapi Lea diam, membiarkan Altair memeluknya--menjadikannya seperti yang paling berharga karena Lea terperanjat mengingat kenangan itu. "Lea..." erang Altair putus asa. Benar-benar gila karena ia ingin memiliki wanita ini seutuhnya. Tidak ada orang lain, hanya dirinya sendiri. Altair baru akan melanjutkan perkataannya ketika Lea lebih dulu menginjak kakinya dengan heels wanita itu, menatap Altair sinis sebelum membulatkan mata kepada lelaki itu. "Jangan mencoba-coba memelukku lagi atau kau akan berakhir di lempar oleh heels ini!" ancam Lea brutal. "Atau kau tahu aku akan membunuhmu!" Altair meringis tapi dia tetap menatap wanita itu. "Sinting! Kau tahu, hanya kau yang berani melakukan ini!" "Itu karena kau layak mendapatkannya!" sindir Lea. Lalu ia kembali duduk. Mengambil sebatang rokok yang sengaja ia simpan di tasnya, Lea menyilangkan kaki dan mulai menikmati benda itu. "Kenapa kau merokok di ruanganku?" protes Altair tidak terima. Lea mengedikkan bahu tidak peduli. "Lakukan saja pekerjaanmu, jangan menghiraukan apa yang kulakukan!" sahutnya garang. "Menghiraukan?" geram Altair. "Kau tidak boleh merokok di ruangan ini!" protesnya lagi. "Sudah terlanjur. Aku malas untuk pergi lagi." rutuk Lea kemudian. Altair juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena kini semuanya terbalik, Lea selalu mempunyai cara untuk menjawabnya. Akhirnya menghela napas panjang, Altair hanya terdiam dan terus memusatkan perhatiannya pada semua yang Lea lakukan. Melihatnya, memperhatikannya--lalu terbuai pada kenyatan yang masih sama. Lea tetap enggan menatapnya lagi. *** Ataya Building--adalah sebuah mimpi. Gedung mewah ini menyediakan semua fasilitas lengkap. Mulai dari tempat makan untuk seluruh karyawan, ruang bersantai dan juga taman indah yang sengaja di tata pada balkon teratas. Tidak mengherankan semua orang berlomba-lomba untuk bekerja di Perusahaan ini. Waktu istirahat yang diberikan selama satu jam, selalu dipergunakan baik oleh semua karyawan yang ada. Seperti sesuatu yang menyenangkan karena mereka di beri waktu yang cukup lama untuk mengabaikan semua pekerjaan yang selalu menumpuk tersebut. Tapi disinilah Lea berada. Di sebuah ruangan megah yang sudah di tata seperti restoran berbintang. Waktu istirahat telah tiba, Lea langsung mengajak Alice untuk berlari kesini. Karena sebelumnya ia sudah mencari tahu. Makanan mereka juga sudah tiba, Alice menceritakan bagaimana semua karyawan memperlakukannya dengan baik. Walaupun masih ada beberapa orang yang terus menatapnya sinis. "See, itu perkumpulan wanita yang kuceritakan tadi!" tunjuknya pada tiga orang wanita yang berada di pojok sana. Menoleh, Lea meneliti satu persatu wanita tersebut. Membalas tatapan para wania disana sama garangnya, lalu memberikan tatapan tidak suka kepada tiga orang wanita disana. Alice menggeleng tidak percaya, apalagi saat Lea mengacungkan jari tengahnya--membuat semua wanita itu menatapnya tidak percaya. "b***h! Kenapa kau melakukan itu di hari pertama bekerja?!" rutuk Alice kesal. Lea tidak peduli dan tetap meneruskan makannya. "Aku tidak suka, mereka pikir mereka siapa?" "A-ah, kau ingin membuktikan bahwa posisimu lebih tinggi dari mereka?" "Tidak b***h! Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran!" Lalu Alice terkekeh. Merasa tertantang pada setiap pembicaraan mereka. Sementara Altair, ia masih berada di ruangannya. Baru selesai dengan semua berkas-berkas yang membuat kepalanya pening. Dan tidak menemukan Lea membuatnya bertanya-tanya. "Dimana Lea? Kau melihatnya?" tanya Altair pada Zach, asistennya tersebut sudah berdiri di hadapannya. Zach mengangguk sopan. "Nona Lea berada di kantin tuan, bersama dengan karyawan baru bernama Alice itu." Altair melonggarkan dasinya sebelum angkat dari duduknya. "Baiklah, ayo kita ke kantin sekarang." titah Altair. Membuat Zach membulatkan mata tidak percaya. "K-kantin?" katanya gelagapan. Altair mengangguk sebelum melangkah pergi. Membuat Zach tidak punya pilihan selain mengikuti. "Ini pasti mengejutkan semua orang di kantin," ucap Zach pertama kali. Dia sendiri bahkan tidak mempercayai pendengarannya, mengingat tuannya itu tidak pernah datang ke kantin. Altair terkekeh, sebelum berujar. "Aku ingin melihat Lea, Zach." Dan benar. Baru saja Altair melangkahkan kaki pada kantin perusahaan itu, semua orang di sana langsung berdiri menyambutnya. Membuat Alice dan juga Lea bingung, karena hanya mereka berdua yang tetap duduk. "Hei, berdirilah CEO kita datang." tegur seorang laki-laki yang duduk di meja sebelah. Lea menoleh dan menemukan Altair sudah tersenyum kearahnya. Ia pikir hanya sampai situ ketika b******n itu terlihat semakin berjalan mendekat. Altair memberi kode bahwa semuanya tidak perlu seheboh itu, ia terkekeh lalu mendekati Lea. Benar-benar membuat semua orang di sana menggeleng tidak percaya. Menemukan CEO mereka di kantin dan menemui seorang asisten baru itu, menjadikan mereka objek utama gosip-gosip yang mulai berbisik. "Boleh aku duduk di sini?" kata Altair, meminta persetujuan kepada dua orang wanita di hadapannya. Lea menggeleng. Sementara Alice mengangguk bersemangat. "Silahkan tuan, duduklah!" "Alice--" protes Lea. "Sudahlah! Aku tidak ingin di pecat karena mengabaikan bosku sendiri!" sahut Alice cepat. Membuat Lea menatap masam sahabatnya itu. Dengan Altair yang sudah terkekeh di sebelahnya. "Good girl!" kata Altair pada Alice, seraya mengedikkan sebelah mata. Meninggalkan Lea yang kembali melahap seluruh makanannya lagi. Tapi ia mendengar bagaimana bisik-bisik seluruh orang di sana seperti tengah membicarakan mereka. Dasar people kurang kerjaan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN