Semakin memikirkan perananmu didalam hati.
Pada garis tertinggi yang tidak dapat dilewati.
Namamu masih memuncaki dalam cakrawala tertinggi.
***
Aneh memang, bagaimana menolak tatap itu seperti di tahan pada sebuah keinginan. Yang memerangkap dan berlonjak untuk segera menemukan.
Jika semua orang pikir menjadi asisten pribadi Kennedy merupakan sesuatu yang menyenangkan, maka itu sebuah kebohongan. Tidak ada bagian menyenangkan yang harus Lea jabarkan. Bagaimana Lea terus di perintah untuk semua hal, dan juga dipaksa membereskan berkas-berkas yang tidak ia mengerti.
Altair sialan, karena lelaki itu terus melemparkan senyum menyebalkan kepadanya. Membuat Lea menahan amarah untuk tidak memukul wajah b******n itu.
Tapi berusaha Lea menahannya, menyelesaikan semua yang Altair perintahkan lalu ia mengulum senyum geli.
Memimpikan kemana ia akan pergi bersama Ellard setelah semua pekerjaan ini selesai. Karena mereka sudah berjanji untuk bertemu. Setidaknya mengingat segala hal baik yang akan ia lewati dengan Ellard, mampu membuat perasaannya sedikit membaik. Tidak melulu soal Altair, si b******n sialan itu.
Lalu ketika semuanya selesai dan satu persatu karyawan terlihat meninggalkan perusahaan, Lea mengemasi barang-barangnya. Merasa bahwa ia juga harus pergi secepatnya.
Kemudian berniat untuk pergi karena waktunya menjadi asisten sudah selesai, sesuai jam kerjanya. Lea bersiap-siap. Tapi langkah Lea terhenti ketika suara Altair bergema di dalam ruangan. Mengejutkannya dalam waktu yang bersamaan.
"Kau mau ke mana?" ucap Altair pertama. Heran. Ia sudah menutup laptopnya asal, menarik jas yang di letakkan di kursinya lalu berjalan menghampiri Lea. Memperhatikan wanita itu lekat. "Mau pergi kesuatu tempat?" tebak Altair kembali.
"Jam kerjaku sudah selesai. Bukan urusanmu aku akan ke mana." singgung Lea kemudian. Ia melangkah dengan semangat, menarik gagang pintu, sebelum kembali berhenti sejenak diambang pintu. "Dan, kau tidak berhak tahu urusanku!"
Altair menggeleng pelan sebelum berujar. "Ingat, kau harus kembali ke rumahku nanti malam. Jangan melupakan itu, atau--"
"Berhenti mengancamku! Aku tahu apa yang harus kulakukan!" sahut Lea sebelum menutup pintu itu dengan kasar. Dengan napas tersengal, Lea tetap melanjutkan langkahnya. Ia sudah tidak menemukan Alice mengingat wanita itu sudah lebih dulu pulang.
Sesuai janjinya, mereka akan bertemu di Montana Bar. Maka di sanalah Lea akan membawa Ellard pergi. Rasanya Lea sudah terlalu merindukan bar tersebut. Padahal baru beberapa hari ia tidak kesana.
Lea melangkah semakin cepat, setergesa itu hanya karena akan bertemu Ellard. Ia begitu gencar untuk melihat lelaki itu, setelah semalam mereka membicarakan banyak hal melalui panggilan. Menceritakan segala hal yang biasa ia lakukan.
Bagaimana Ellard meminta maaf atas yang terakhir kali tidak dapat mengantarnya pulang, membuat Lea tersanjung hanya karena hal sederhana yang lelaki itu lakukan.
Lea tersenyum puas ketika menemukan Bugatti Divo milik Ellard sudah menunggunya di parkiran. Lelaki itu tersenyum dan menyenderkan punggungnya pada pintu mobil, membuat Lea menelan ludahnya hanya karena hal biasa itu. Karena Ellard benar-benar terlihat mengagumkan.
"Tuan putri, bagaimana kerja pertama hari ini, menyenangkan?" ledeknya pertama. Dia sudah membuka pintu penumpang. Menatap Lea dengan senyum menggoda.
Membuat Lea terkekeh lalu segera memasuki mobil. Dengan perasaan yang jauh lebih baik kali ini. "Not sure. Biasa saja." kekeh Lea kemudian.
Ellard mulai melajukan mobilnya, mengerutkan dahi bingung lalu menatap wanita di sebelahnya. "Apa bekerja di Bar lebih membuatmu nyaman?"
Lea menggeleng. "Tidak juga," katanya malas. "Tapi aku bebas melakukan apa saja disana..."
Dan pembicaraannya bersama Ellard tidak berhenti disitu saja, Lea masih menceritakan segala hal kepada lelaki itu.
Sementara disisi lain, hingga mobil Ellard hilang dari pandangan, seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka sudah mengepal tangan kuat. Altair bahkan tidak tahu harus bagaimana ia menahan amarahnya. Tapi satu hal yang harus di lakukannya, ia tidak akan menyerah lagi.
"Apa Tuan mau saya meminta orang untuk mengikuti nyonya Lea?" tanya Zach penasaran. Ia masih setia berdiri di belakang tuannya itu.
Altair menghela napas, lalu menggeleng. "Tidak perlu Zach, biarkan Lea melakukan semua keinginannya. Aku tidak ingin mengurungnya, setidaknya melihatnya pulang nanti sudah sangat membahagiakan." ucap Altair payau. Lalu ia mulai melangkah pergi.
Jika memang mencintai Lea masih setersiksa ini, maka Altair siap menahan semua hukuman itu hingga nanti.
Karena semua memang salahnya.
***
Membela jalanan Los Angeles, Ellard masih membawa Lea memutari kota. Melakukan semua permintaan Lea, karena bersama wanita itu terasa menyenangkan. Setidaknya itu yang satu tahun terakhir sering mereka lakukan. Tapi Ellard juga tidak bisa menyimpulkan apa yang ia rasakan, ia hanya senang bersama wanita itu. Senang dalam artian bahwa mereka puas saling membagi cerita.
"Aku tidak tahu, ternyata pertemuanmu dengan Kennedy akan membuahkan hasil. Kau beruntung bisa bekerja di perusahaan itu." ledek Ellard kembali. Sejak tadi pembahasannya bahkan tidak lepas dari semua yang Lea dapati. "Kudengar menyenangkan bekerja disana."
Lea menghela napas panjang. Menatapi jalanan lenggang di hadapannya yang mulai terasa memuakkan. "Tidak ada yang spesial, Ellard. Bekerja di Bar jauh lebih menyenangkan." sahut Lea. Ia baru ingat bahwa Ellard tidak mengetahui masa lalunya. "Walaupun tidak sepenuhnya menyenangkan, dibar tidak membuatku pusing."
Lagi pula sudahlah, Lea hanya ingin menjalani segalanya dengan semua hal baru. Melupakan yang lalu itu, kemudian menerima semuanya kembali. Membuka lembaran baru tanpa mengingat hal kelam itu dulu. Melupakan, mengabaikan, dan bentuk penolakan lain untuk segala yang yang dilewatinya.
Ellard meraih tangan Lea, menyatukan jari mereka di dalam mobil. Kemudian berujar. "Tapi kau lebih cocok berada di sana."
Lea kembali meneguk ludahnya. Tidak pernah mampu mendapati perlakuan mendadak seperti ini dari seseorang yang di sukainya. Lalu ia tersenyum geli. "Benarkah? Kau lebih menyukaiku bekerja di perusahaan itu?"
Ellard mengangguk. Menoleh sesaat untuk melihat wajah Lea, lantas kembali berujar. "Kau lebih cantik dengan seragam seperti ini. Walaupun kau selalu cantik menggunakan apa saja."
Lea terkekeh. "Ellard--kau selalu berhasil membuatku malu!"
"Tidak Lea, aku berkata yang sebenarnya. Kau selalu cantik kapan dan dimana saja..." puji Ellard tulus. Tapi Ellard sama sekali hanya menganggap itu pujian biasa.
Lea mengulum senyumnya, masih dengan tangannya di sentuh lelaki itu, Lea menahan gejolak dadanya yang berdebar tidak karuan.
"Kupikir gosip yang beredar itu bohong!" sambung Ellard kemudian, ia terkekeh geli di sebelah Lea.
Membuat Lea bingung dan mengerutkan dahi. Tidak mengerti dengan maksud lelaki itu. "Ha?"
"Itu, gosip mengenai Kennedy. Kau tahu, CEOmu itu di kira gay oleh semua orang. Karena dia tidak pernah terlihat berkencan dengan satu orang pun wanita, Clara memberitahuku malam itu."
Lea memutar bola matanya jengah. Tidak ingin lagi membahas b******n itu terus. Lea juga tidak peduli, lantas memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, Lea mengatakan tujuan awal mereka.
"Ellard--ayo kita ke Montana bar, aku sudah berjanji dengan Alice akan bertemu di sana."
Ellard mengangguk, melepaskan jemarinya dari tangan Lea. Lalu mulai membalik arah mobilnya.
Meninggalkan Lea yang sudah memukul dadanya pelan. Karena ia tidak ingin Ellard sampai tahu getaran di dadanya.
Melihat lelaki itu, bagai mimpi yang begitu sulit untuk di raihnya. Karena keberadaan Ellard--seperti khayal yang tak pernah sampai.
Tapi Lea juga tidak mengerti apa sebenarnya uang ia rasakan, apa sebenarnya perasaan yang ia miliki untuk lelaki ini. Kadang kala Lea bahagia, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi kebahagiaan itu tidak menjamin bahwa ia nyaman. Bahwa ia tenang. Lea hanya merasakan bahwa ada banyak hal berbeda setiap kali ia berhadapan dengan Ellard--itu saja.
***
Semua penjaga bar langsung menyambut Lea penuh semangat. Apalagi saat menemukan seorang Hadley di belakang wanita itu. Membuat semua yang di sana ikut membungkuk sopan.
Lea terkekeh, karena rengkuhan Ellard di tangannya tidak berhenti bahkan sejak mereka turun dari mobil.
Baru saja Lea memasuki bar, ia sudah di sambut hangat oleh Jackob. Lelaki itu menatapnya garang, seperti ingin mengatakan banyak hal. Membuat Lea terkekeh, apalagi ketika Jackob memeluknya, membiarkan Lea mengulum senyum geli.
Sementara Ellard hanya menggelengkan kepala di belakangnya.
"Ellard, bergabunglah dengan Alice lebih dulu. Setelah ini aku menyusul." jelas Lea. Membuat orang-orang menatapnya heran karena hanya ia yang berani berbicara kepada pewaris Hadley sebegitu santainya.
Lalu Ellard melangkah pergi. Membiarkan Lea berhadapan dengan Jackob, dan dengan semua tanya yang sudah terpampang nyata di wajah lelaki itu.
"Kau dan Alice berhenti tanpa pamit?! Kalian berdua memang sangat keterlaluan!" ungkapnya sedih. Menggelengkan kepala karena merasa tidak adil. "Kalian tidak membicarakan itu padaku!"
Lea terkekeh, mengelus punggung lelaki di hadapannya. "Jackob--aku dan Alice akan selalu datang kemari. Jangan seheboh itu..."
"Kalian mengejutkanku! Aku baru tahu dari asisten pemilik bar yang baru, dia mengatakan kau dan Alice di angkat bekerja di perusahaannya!" cerita Jackob lagi. Dia masih protes karena tidak terima Lea pergi dari bar itu.
Lea menghela napas, lalu berujar. "Lagi pula gajihku lebih besar di sana, tiga tahun disini Nyonya Patricia bahkan tidak pernah menaiki gajihku!" ledek Lea. Sengaja menekankan itu agar Jackob sadar. "Tapi tidak masalah, aku dan Alice akan selalu kemari. Kau tidak perlu khawatir Jackob..."
Jackob menggeleng pelan. "Tapi, bar sepi tidak ada kalian, Lea..." erangnya masih tidak terima atas kepergian mendadak dua wanita itu. "Ada banyak pelanggan kau dan Alice disini..."
"Masih ada yang lainnya, Jackob. Jangan seperti ini." decak Lea kembali. Ia mengedikkan bahu sebelum melangkah menuju meja Alice dan juga Ellard. Sama sekali tidak tertarik untuk membicarakan kepergian dirinya dan juga Alice.
Jadi ia meninggalkan Jackob yang sudah menatapnya tidak percaya.
Tidak tahu juga harus bagaimana karena menahan Lea pun percuma. Bar ini bukan lagi milik Ibunya. Tidak punya pilihan, Jackob hanya mematung ditempatnya.
"Lea, kau tahu Bella, Agatha dan Elena sejak tadi menggoda Ellard!" pekik Alice ketika sahabatnya itu baru saja bergabung.
Lea tersenyum meremehkan, meneguk segelas wine yang sudah tersedia di sana. Lalu menatap ketiga wanita yang di katakan Alice secara bergantian. "Benarkah? Kalian melakukan itu?"
Ketiganya menggeleng serempak. "Sialan, Alice yang menggoda pangeran tampanmu itu!" ucap Bella pertama.
"Kami bahkan hanya membicarakan bagaimana kalian berdua bisa berhenti secara mendadak?!" protes Elena kemudian. "Kalian tidak mengatakan apapun!"
"Dan apa? Menggoda pangeran tampanmu itu? Tidak mungkin. Kami tahu seperti apa tipe wanita yang disukainya." sambung Agatha kemudian.
Membuat semuanya terkekeh di meja. Bagaimana mereka membicarakan itu seolah-olah tidak ada orangnya di sana.
Ellard menggeleng tidak percaya. "Apa aku seperti dinding? Kalian tidak melihat keberadaanku disini?" ledeknya pertama.
Semuanya meledek serempak, kecuali Lea tentu saja. "Itu karena kau terlalu bersinar!"
"I swear, itu tidak ada hubungannya!" potong Lea cepat.
Ellard terkekeh. Menyapu rambut wanita di sebelahnya lembut, sebelum berujar. "Katakan saja bahwa aku memang bersinar, jangan malu mengakuinya!"
"Ellard--" decak Lea. "Mereka mengejekmu tahu, aku hanya berusaha membelamu!"
"Iya-iya, i know that." kekeh Ellard. Membuat Lea mengerucutkan bibirnya masam. Tapi ia senang berada disana.
"Bar ini terasa lebih sepi tanpa kalian berdua," tutur Bella kemudian. "Tega sekali.."
Lea masih menghisap rokoknya, membiarkan dirinya terus di perhatikan oleh Ellard, karena lelaki itu seakan menerima semua yang Lea lakukan. Ia mengembus asap rokoknya, sebelum menatap Bella dan berujar. "Bersabarlah Bella, bukankah lebih menyenangkan karena gajih kalian akan di tambahkan?" ledek Lea.
"Tapi juga melelahkan! Kami sudah protes agar Jackob menambah karyawan lagi!" timpal Elena.
Agatha mengangguk. "Karena pemilik bar sudah orang yang berbeda, kami semakin gencar menyuruh Jackob!"
"Itu harus, kalau perlu berikan saja semua tugas yang susah kepada lelaki itu!" Alice menyambung. "Sekali-kali memberinya pelajaran."
"Kau ingin Jackob berakhir mengacaukan segalanya?" sindir Lea. "Kalian tahu sendiri dia seperti apa..."
Sampaj semua yang di sana kembali tertawa. Lalu mereka semua mulai melanjutkan cerita kembali, meneguk berbotol-botol wine yang tersedia lalu membahas apa saja yang bisa mereka bicarakan.
Bahkan hingga Ellard pulang lebih dulu, Lea memutuskan untuk kembali ke rumah Altair sendirian, tidak tahu sudah semalam apa ia kembali setelah meninggalkan Montana Bar, karena berada di Bar lebih membuat Lea merasa nyaman.
***
"Kau tidak lihat ini sudah pukul berapa?"
Lea menoleh, menghiraukan penampilannya yang sudah acak-acakan. Ia menemukan Altair sudah menatapnya tajam. Bagaimana lelaki itu berada tidak jauh di hadapannya. Lea memperhatikan lelaki itu tengah duduk dengan rokok yang tersimpul dibibirnya, memutar bola matanya jengah Lea menaikkan kedua alisnya. "Memangnya kenapa?"
"Aku tidak melarangmu pergi, tidak memarahimu seperti yang kau mau. Tapi tolong, jika memang kau ingin pulang selarut ini, kabari aku." jelas Altair pertama. Ia sudah berdiri untuk menyamai Lea. Memperhatikan wanita itu lekat, tidak bisakah Lea melihat kekhawatirannya? "Aku tidak akan menunggumu seperti ini."
Lea terkekeh, menyeringai geli dan berujar. "Aku tidak memintamu menungguku. C'mon, Altair."
"Kau bisa mengatakan itu sesukamu. Mengucapkan apa saja yang kau inginkan." decak Altair pertama. "Tapi bisakah kau mengerti apa yang kurasakan? Bisakah kau memahami bagaimana kekhawatiranku diabaikan begitu saja?"
Tapi Lea tetap pada keputusannya. "Sudah kukatakan aku tidak peduli," beonya sekali lagi. "Sepertinya memang kau yang tidak mengerti." sambungnya kembali. "Apapun yang kau rasakan, apapun yang kau pikirkan, abaikan saja. Aku sama sekali tidak ingin tahu."
"Memang semudah itu untuk mengatakannya," ujar Altair setelahnya. Ia mengunci pandangan mereka, mengitari kegilaan yang berada didalam sana. "Kadang aku ingin menyerah Lea. Ingin menyudahi ini secepat yang aku bisa. Pertengkaran kita. Tapi melihatmu, segaka yang kula--"
"Aku lelah Altair." erang Lea kemudian. "Bisakah kau menghentikan ucapan konyol mu itu? Bisakah kau membiarkanku istirahat?"
Tentu. Apapun yang wanita itu inginkan selalu Altair kabulkan. Tapi bisakah Lea mengerti? Bisakah wanita itu sedikit saja mencoba menerima kehadirannya. Melihat bahwa dirinya ada, bahwa ia selalu berada disana. Mendambakan wanita itu, mengkhawatirkannya? Melakukan segala cara untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. "Ya aku tidak melarangmu jika kau lelah." ujar Altair akhirnya. "Tapi lain kali lihat aku, Lea..."
Memutuskan untuk mengabaikan itu, Lea tetap melangkah untuk melewati Altair. Tapi sentuhan lelaki itu berhasil membuatnya berhenti. Altair mencekal tangannya, membiarkan ia gusar dan juga muak. Membiarkan jarak mereka bersitemu ditengah sana. Hingga membuat Lea semakin menatapnya tajam.
Tapi Altair pun sama, ia menghunus pandangan wanita itu, menembusnya seperti belati tak kasat mata. Altair ingin memberi peringatan. Memberi tahu siapa dirinya disana. "Kau tidak lagi kerja di bar. Kau sudah bekerja denganku, jadi tolong ingat waktumu."
Lea memutar bola matanya jengah. Berusaha melepaskan diri lagi yang tentunya berakhir cuma-cuma. Ia membalas tatapan Altair lebih mengerikan daripada sebelumnya. Tidak peduli dengan kilatan pada mata hazel lelaki itu, Lea tidak takut lagi. Sama sekali tidak ingin peduli. "Jam kerjaku sudah selesai. Jangan mencoba mengaturku! Seharusnya kau ingat kontrak itu!"
Altair menggeleng payau. "Aku tidak mengaturmu! Aku hanya ingin kau ingat waktu!" beonya. Tahu bahwa perdebatan mereka tidak akan ada habisnya. "Aku hanya ingin kau menghargaiku..."
"Menghargaimu???" beo Lea. Tawanya pecah disana. Menjijikan mendengar perkataan lelaki itu. Haruskah Lea jabarkan bagaimana menghargai yang sebenarnya? "Kau serius mengatakan itu?"
Altair mengangguk cepat. Memang hanya itu yang ia inginkan.
"Tolong pelajari itu terlebih dahulu jika kau menginginkannya." titah Lea kemudian. "Kau sama sekali tidak tahu bagaimana menghargai yang sebenarnya." decak Lea kembali. "Dan waktuku milikku! K-kau, tidak berhak menga--"
Lea tidak ingat lagi apa yang akan ia katakan pada b******n sialan itu. Karena Altair, lelaki gila itu sudah membungkam Lea dengan sentuhan brutal dibibirnya. Lea belum sempat protes ketika lelaki itu sudah menarik bibirnya, mencecapnya lembut dan penuh kegilaan, hingga erangan Lea mulai terdengar menggilakan.
Lea tidak tahu ini efek wine yang di teguknya atau tidak. Tapi bagaimana sentuhan Altair, seperti mengingatkannya bahwa Ellard yang melakukan itu.
Lalu Lea terdiam dengan semua sentuhan lembut yang terjadi. Hingga detik terus berlalu, Lea mengumpulkan kesadarannya. Tidak juga mengerti pada gejolak dihatinya, karena semuanya semakin tidak wajar.
Mendorong tubuh Altair kasar, Lea mendekat, sebelum melangkah untuk menampar lelaki itu kuat. Sangat kuat, hingga Lea mendengar ringisan dari bibir lelaki itu.
"b******n!" pekik Lea dan mulai melangkah memasuki kamarnya.
Meninggalkan Altair yang sudah berdiri dengan semua harapan yang kembali terhempas.
Adakah jalan lain yang harus di lewatinya? Altair benci membayangkan apa saja yang Lea lewati bersama Hadley sialan itu!
Karena Altair tidak pernah ingin berbagi miliknya dengan orang lain. Seharusnya Ellard tahu--Lea adalah miliknya. Hanya miliknya. Maka tidak untuk orang lain. Maka persetan untuk semua orang yang ingin mendapatkan wanitanya itu. Jika memang mereka bersungguh-sungguh, maka lewati ia terlebih dahulu.
***