Membuatmu menoleh adalah sebuah kesulitan.
Lalu menahanmu untuk tetap berada disisi lebih dari ketidakmungkinan.
Tapi pada tatap yang saling membingungkan, kutegaskan segalanya akan kembali kudapatkan.
***
Setelan jas berwarna hitam dan dasi yang senada menjadi pilihan Lea untuk b******n itu. Ia sudah berada di walk in closet milik Altair. Memilih jas yang sudah berjejer rapi secara acak karena ia ingin secepatnya pergi dari kamar lelaki itu. Benar-benar muak hanya karena harus melakukan ini setiap harinya.
Dengan kemarahan yang masih membara setiap kali mengingat perlakuan Altair semalam, Lea berusaha menepisnya. b******n itu--dia selalu membuat Lea semakin membencinya. Perasaan marah yang bahkan tidak akan pernah ada habisnya ia utarakan.
Lantas mengabaikan itu, Lea ingin berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Akhirnya ia berpindah pada sayap kiri ruangan itu, mengambil sepatu pantofel untuk b******n tersebut, Lea menggeser sedikit kacanya. Melakukan itu dengan acak karena Lea tidak ingin terjebak didalam sana terlalu lama.
Tapi usaha Lea terhenti karena ia menemukan sesuatu yang--mengejutkan. Sesuatu yang membuatnya berhasil membulatkan mata tidak percaya. Juga sebuah objek yang membuatnya mampu tertegun dan bertahan disana. Sebuah foto berukuran sedang yang tengah di lihatnya dari balik lemari.
Dan itu dirinya. Itu fotonya saat di pantai dulu. Sebuah momen bahagia yang Altair tangkap pada kencan pertama mereka. Pada perjalanan pertama mereka yang berhasil membuat Lea mencintai lelaki itu lebih dari apapun.
Jika saja kini mereka terbenam pada waktu yang baik, jika saja mereka kembali dengan waktu yang pantas diterima, Lea tahu pasti menemukan itu membuat jantungnya menggila.
Tapi kali ini ia meringis. Menatap tidak suka foto dirinya sendiri karena Lea membenci kenangan itu. Kenangan buruk yang tidak sepatutnya Lea lihat lagi. Ia sudah berdiri sejauh ini dan berkutat pada keinginan untuk melupakannya. Untuk mengabaikannya.
"Kenapa lama sekali?"
Dan Lea menoleh kesumber suara, menemukan Altair sudah berjalan mendekat. Ia buru-buru menarik sepatu pantofel yang tersedia di sana. Lalu berbalik badan. Melempar jas yang pertama di ambilnya untuk Altair, sehingga lelaki itu menyambutnya cepat.
"Kau tidak lihat ruangan ini sangat besar? Merepotkan, memilih semua itu untukmu!" sindir Lea tidak suka. Ia masih memeluk sepatu pantofel pilihannta, sementara matanya menunggu gerakan Altair dalam setiap perlakuannya. "Seharusnya jika kau tidak sabar, kau bisa memilihnya sendiri!"
Altair membuka kaos hitam yang melekat di tubuhnya. Menatap Lea dengan semua gerakan yang terus ia lakukan, ia ingin menatap wajah menyebalkan itu tanpa henti. Melihatnya sepanjang hari atau pun berhari-hari. "Hanya memilih jas saja kau sudah kerepotan, bagaimana jika memilih nama anak kita nanti?"
Lea meneguk ludahnya. Bukan, bukan karena perkataan mengenai nama anak itu. Melainkan karena tubuh berotot Altair, semakin di penuhi tato. Lea ingat semua bagian pada tubuh lelaki itu, segala hal yang sampai kini tidak lepas dalam ingatannya. Dan Lea tahu terakhir kali ia melihatnya, sebuah tato ditubuh Altair tidak sebanyak itu.
Lantas mengabaikan ledekan Altair, Lea memilih untuk membicarakan hal lain. "Kau menambah tatomu?"
Altair mengangguk setelahnya. Mengulum senyum geli karena Lea menyadari hal lain tentangnya. Hal sederhana tapi berhasil membuat Altair senang. Membuatnya merasa bahwa masih ada satu kesempatan yang akan diterimanya. "Aku menambahnya dibeberapa bagian."
Lea tidak lagi menyahut. Merasa pertanyaannya bahkan sudah terlalu jauh. Ia memilih dengan memutar bola matanya. Menunggu Altair dengan sabar mengancingkan kemeja putihnya, lalu membiarkan dua kancing teratasnya terbuka.
Sederhana memang, tapi Lea sempat tehipnotis oleh tubuh b******n itu. Namun ia menggeleng setelahnya, mengabaikan itu karena tidak ada lagi bayangan Altair di hidupnya. Hanya Ellard--pangeran tampannya itu.
"Hari ini kita tidak ke kantor. Aku harus menghadiri rapat di perusahaan Laurels." jelas Altair ketika mereka sudah meninggalkan walk in closet miliknya. "Ada yang harus kuselesaikan disana..."
Lea mengangguk sebagai jawaban. Sama sekali tidak ingin tahu lagi. Masih mengikuti Altair dari belakang, hingga lelaki itu berhenti mendadak, membuat tubuhnya kembali menabrak punggung lelaki itu.
Altair membalik badan, menemukan Lea sudah menatapnya masam. Membuat Altair terkekeh. "Jangan terus melamun, itu membuatmu tidak fokus bekerja."
Lea menaikkan sebelah matanya. Menyilangkan kedua tangannya di d**a, lalu mengangkat dagunya tinggi. "Bukan karena aku tidak fokus! Tapi kau yang selalu melakukan semuanya sesukamu!"
"Kau tahu? Hanya kau yang berani melawan semua omonganku." kekeh Altair geli. Ia sudah maju untuk mengacak rambut wanita itu. Perkataan sama yang entah keberapa kalinya Altair utarakan.
"Jangan menyentuh rambutku, b******n!" pekik Lea geram. Menatap Altair garang lalu melewati lelaki itu cepat. "Kau menghancurkan poniku!"
Membiarkan Altair terus meneriakinya geli. "Lea--kau melupakan tugasmu. Bawalah berkas-berkas ini!" pekik Altair. Ia mengedikkan sebelah matanya menggoda.
Membuat langkah Lea terhenti lalu berbalik dengan wajah semakin di tekuk masam. Sialan, karena b******n itu selalu berhasil mengerjainya.
"Apa aku harus ikut menemui Laurels itu?" tanya Lea akhirnya. "Aku sama sekali tidak tertarik."
Altair mengangguk sebagai jawaban. "Aku harus mengenalkan asisten pribadiku." jelasnya kemudian. "Mau tidak mau, kau harus ada disana, Lea..."
Lalu Lea memutar bola matanya jengah. "Apa tidak sebaiknya aku ke kantor Ataya saja? Aku ingin menemui Alice." saran Lea. Mengikuti semua keinginannya. "Lagi pula aku tidak mengerti apapun."
Menggeleng, Altair memilih untuk merengkuh pinggang wanita di sebelahnya. Menatap Lea lekat sebelum berujar. "Ini masih jam kerjamu. Jangan membantah."
Menepisnya kasar, Lea menghela napas sebelum memasuki mobil yang pintunya sudah di buka oleh Zach.
"Selamat pagi, Zach!" tegur Altair pertama. Masih dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.
Hingga membuat Zach melongo karena kehadiran Lea benar-benar mengubah tuannya tersebut.
"Tuan, rapatnya sebentar lagi akan di mulai. Sepertinya tidak hanya Ataya, tapi perusahaan lain ikut andil dalam rapat ini." jelas Zach kemudian.
Altair mengangguk, masih dengan menatap wanita di sebelahnya. Ia terkekeh menemukan kesulitan Lea dalam menyalin segala yang di perintahkannya.
"Zach, setelah rapat di kantor Laurels. Jadwal selanjutnya apa?" tanya Altair kemudian. Mengabaikan ipadnya yang menyala tengah menampilkan data-data perusahaan.
"Pertemuan dengan rekan dari Spanyol, Tuan." sahut Zach kemudian. "Hari ini waktunya."
Altair mengangguk setelahnya. Menoleh, dan mendapati Lea yang masih terlihat kebingungan dengan laptop di pangkuannya.
Altair terkekeh, menyentuh tangan Lea dengan jemarinya, lalu membawa jemari wanita itu menggeser tuas laptop. "Ini, begini cara menyelesaikannya." jelas Altair. Membiarkan jemari mereka bertautan disana. Merasakan kehangatan ditengah-tengahnya.
Menoleh, Lea mendapati wajah b******n itu sudah berjarak hanya beberapa centi dari wajahnya. Mendengar deru napas Altair jatuh ke wajahnya, Lea menggeser posisinya. Karena rasanya ia sendiri sudah mulai kesulitan bernapas. Sialan.
"Kerjakan saja punyamu, biar aku menyelesaikan ini sendiri!" singgung Lea, lalu mulai fokus dengan pekerjannya lagi. "Jangan mengacau."
Membiarkan Altair yang sudah tersenyum semakin geli di sebelahnya.
Lalu Zach, dari balik kaca mobilnya ia memahami betapa wanita itu memberi penerang untuk jalan gelap yang sudah Tuannya lewati.
Meski Zach tidak tahu kisah kelam di dalamnya. Tapi sorot menginginkan dari CEOnya tersebut, terlihat begitu kentara sekali. Memang tidak bisa menghindari, tidak hanya Zach seluruh Ataya mungkin mengakui itu.
***
"Ellard!" pekik Lea bersemangat ketika menemukan lelaki itu baru saja memasuki lobi utama gedung dihadapannya.
Lelaki itu menoleh, menghentikan langkahnya dan memghampiri Lea. Tapi sebelum itu Ellard sepertinya meminta seorang laki-laki yang berada di belakangnya tadi untuk pergi terlebih dahulu.
Masih memeluk berkas-berkas Altair di dadanya, Lea menyeringai saat langkah kaki Ellard semakin mendekatnya.
Membuat semangatnya jauh lebih membara dari pada sebelumnya. Apalagi saat Ellard menyentuh puncak kepalanya, Lea mengulum senyumnya geli. Kentara sekali ia senang atas perlakuan sederhana lelaki itu.
Tanpa tahu bagaimana sejak tadi, Altair menatap tidak suka semua kehebohan yang Lea perlihatkan hanya karena melihat salah satu kedatangan Hadley itu.
"Mr.Kennedy, selamat pagi. " sapa Ellard ramah. Ia sudah tersenyum melihat Altair.
Tidak peduli pada sosok garang yang Altair perlihatkan, karena Ellard juga tidak tahu menahu masa lalu mereka.
"Apa wanita ini bisa diandalkan? Atau dia melakukan sesuatu yang buruk?" tanya Ellard lagi. Tapi semua itu hanya sebentuk godaan yang ia lontarkan untuk Lea.
Menoleh, Lea menatap lelaki di hadapannya manja. Bagaimana ledekan Ellard, membuatnya manyun. Ia menatap tajam lelaki itu. "Ellard, jang--"
"Iya, aku hanya bergurau sayang." kekeh Ellard lagi. Kembali mengacak rambut Lea, yang hanya dibalas dengan rengekan geli wanita itu.
Altair terkekeh. Bagaimana perlakuan Ellard kepada Lea berhasil membuat wanita itu bungkam. Lalu Altair tidak tahu harus bagaimana, selain menikmati pemandangan itu dengan amarah yang kian lama semakin memuncak. Seharusnya itu dirinya. Seharusnya hanya ia yang berhak atas wanita itu.
"Senang bisa melihatmu lagi, Mr.Kennedy." tutur Ellard. Begitu ramah dan juga penuh sopan santun.
"Tidak perlu berlebihan Mr.Hadley." sahut Altair tidak suka. Tidak peduli jika Ellard tersinggung atau tidak, karena jika dia tersinggung itu jauh lebih baik.
"Hei-hei, calm down. Aku senang melihatmu lagi. Siapa tahu kita bisa menjadi rekan bis--"
"Akan kupikirkan!" potong Altair cepat. Sehingga membuat Ellard terkekeh. Sementara Lea, ia sudah menoleh untuk menatap Altair tidak suka.
"Bolehkah aku membawa asistenmu ini pergi untuk mengambil beberapa minuman?" izin Ellard sopan. Ia mengedikkan bahu kepada wanita di hadapannya. Membiarkan Lea yang sudah terbuai pada setiap perkataan dan perlakuan yang Ellard berikan.
Tapi perkataan Altair seakan menghempas mimpi Lea untuk terus berada di sebelah pangeran tampannya itu.
"Sorry, Hadley. Lea masih punya banyak urusan denganku!" sahut Altair cepat. "Ada berkas dan data yang harus ia selesaikan untuk rapat sebentar lagi." sambungnya kemudian. "Jadi, jangan mengajaknya pergi sementara waktu."
Lea berdecak pinggang. Membulatkan mata tidak percaya.
Dan Ellard pun menyeletuk. "Hei, rapat belum dimulai. Aku masih punya waktu untuk membawa Lea sebentar..." mohonnya lagi. Kali ini lebih terdengar seperti menginginkan.
Lea semakin jadi menatap Ellard dengan penuh cinta. Membuat Altair semakin muak berada dalam situasi ini.
Lantas mengabaikan lelaki itu, Altair lebih baik memgambil langkah yang di pilihnya. Apalagi ketika jarak Ellard dan Lea begitu dekat, membuat Altair mengepal tangannya gusar.
Geram. Altair lebih memilih untuk membawa Lea, menarik wanita itu dekat dengannya, ia menatap Ellard dengan binar tidak suka yang kentara sekali, lalu menggiring Lea agar pergi dari sana secepatnya.
Meninggalkan Ellard yang sudah mengerutkan dahi bingung, tapi ia tidak peduli. Karena ia harus bertemu Clara lebih dulu sebelum rapat mereka di mulai.
"Altair! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" protes Lea keras. Ia sudah berhasil melepaskan diri dari rengkuhan Altair. Meringis, Lea menatap tajam lelaki di hadapannya itu.
Altair terkekeh, menyunggingkan senyum mengejek, lalu membalas tatapan Lea tidak kalah tajamnya. "GILA. Kau seperti orang kesetanan hanya karena melihat lelaki itu. Apa kau tidak menyadari bahwa disini kau adalah asistenku?" tegur Altair sarkas. "Kau tidak mengerti bahwa sekarang masih jam kerjamu?"
Lea memutar bola matanya jengah. Ia menegakkan tubuhnya, mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. "Apa hubungannya dengan aku menyapa Ellard! Kau sangat tidak waras!" geramnya. "Dan aku tidak pergi! Kenapa kau mempermasalahkannya?!"
"Ada hubungannya!" potong Altair kemudian. Karena kita seharusnya sudah sampai di lantai teratas. Karena kau berbicara kepada lelaki itu, kita terlambat naik!" sindir Altair tidak suka. Ia masih menatap Lea, memperjelas bagaimana posisi mereka kali ini.
Lea menghela napas panjang. Memeluk laptop di dadanya semakin kuat, sebelum berujar. "Apa kau tidak bisa naik sendiri? Atau a-ah kaki dan tanganmu tidak bisa di gunakan untuk menekan tombol lift?!"
"Persetan dengan itu Lea. Ini masih jam kerja, aku tidak ingin melihatmu berbicara dengan Ellard lagi!" titah Altair sebelum memasuki lift. "Dan jangan membantah untuk itu!"
Membiarkan Lea mengikutinya, lalu berharap wanita itu menyadarinya. Tidak bisakah Lea mengerti? Barang sebentar saja, bahwa Altair tidak suka. Bahwa Altair cemburu! Sialan, karena Lea bahkan terlihat enggan ingin tahu soal perasaan miliknya lagi.
***
Semua orang sudah berkumpul di meja panjang dalam sebuah ruangan yang sudah di tata rapi. Kecuali Kennedy, dia bahkan belum memperlihatkan wajahnya, mengingat lelaki itu selalu datang terlambat setiap kali rapat akan di mulai.
Pertemuan kali ini tidak lain--selain membahas tentang kerja sama perusahaan dan beberapa aspek menguntungkan yang mulai berdatangan.
Menjadikan pertemuan itu semakin seru karena mereka akan membahas keunggulan masing-masing dalam tiap perusahaan.
Hal sederhana, tapi benar-benar menakjubkan bagi semua pengusaha muda yang sukses itu.
Lalu ketika pintu utama ruangan itu terbuka, Altair memasukinya dengan santai, sementara wanita di belakangnya masih terus mengikuti dengan patuh.
Clara--sebagai pemilik gedung pertemuan ini terlonjak. Menemukan seorang wanita yang mengacaukan hubungannya dengan Ellard, membuat keningnya mengkerut.
"What the! Apa yang kau lalukan disini?" pekik Clara pertama. Membuat semua orang yang berada di sana menoleh. Kecuali Ellard.
Lea menghela napas. Seandainya Altair tidak memaksa dan mengancamnya, Lea juga tidak sudi berada disini.
Tapi membantah niat itu, Lea berusaha menerimanya karena ia juga akan bertemu--Ellard.
Ellard menahan tangan Clara, mengusap pangkal tangan wanita itu sebelum berujar. "Lea--wania itu asisten, Kennedy."
"Asistenku, aku ingin dia ikut dalam rapat ini." ujar Altair kemudian. "Bertingkahlah yang seharusnya, Clara."
Semua orang tahu teguran itu terdengar mengerikan. Paham bahwa jika Kennedy sudah berbicara ada banyak yang harus diperhitungkan.
"Oh c-mon, Alta--"
"Tidak ada penolakan lagi. Silahkan Mrs. Laurels. Cepat mulai saja rapat ini!" titah Altair. "Jangan membuang waktu semua orang disini."
Lalu yang lain hanya mengedikkan bahu sebelum menerima saja kehadiran Lea. Tapi tidak dengan Clara, wanita itu bahkan terus menyiratkan bara api kearahnya. Yang di balas Lea dengan tepisan tidak peduli, karena tujuannya hanya satu, melihat wajah--Ellard.
Lalu setelah kehadiran Altair, barulah rapat benar-benar di mulai.
Sementara Lea, ia mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin penting dalam setiap pembicaraan, karena Altair memintanya untuk melakukan itu.
"Mr. Kennedy, lebih baik kau menata kembali perencanaanmu, kare--"
"Tidak bisa Mr. Harry, aku sudah merencanakan itu sejak lama." potong Altair cepat, sangat berani karena ia tidak akan pernah mendengarkan siapapun melawan keputusannya. "Aku juga mempertimbangkan banyak hal untuk perencanaan itu."
"Tidak berniat bergabung dengan Perusahaanku? Kita bisa saling menguntungkan?" tawar Ellard kemudian. Masih bersikeras untuk membawa Altair menyetujui ajakannya. "Aku akan membantu perencanaan yang kau pikirkan itu..."
Tapi Altair terkekeh. Ia menyunggingkan senyum mengejek, sama sekali tidak tertarik sebelum berujar. "Bekerja sama dengan Laurels saja sudah sangat merepotkan, apalagi dengan banyak perusahaan lain. Itu akan jauh lebih memusingkan!" sindir Altair. Tidak gentar sekalipun meskipun semua yang disana sudah menatapnya tidak percaya.
Lea tidak tahu kemana seluruh arah pembicaraan para orang berjas di hadapannya. Tapi satu hal yang mungkin Lea pahami, mereka seperti tengah memamerkan sebanyak apa kesuksesan dan kekayaan yang mereka dapati. Lalu semuanya berlomba mempertontonkan kehebatan masing-masing dalam tiap pertahanan.
Hingga membuat Lea meringis membayangkannya. Tapi satu hal yang mungkin bisa Lea katakan, Altair--b******n itu begitu mengagumkan, ia menjabarkan mengenai Ataya dengan sangat baik. Dan sialnya, itu berhasil membuat Lea terpana.
Sialan, karena dua orang lelaki itu silih berganti mengecoh kepalanya. Ellard--pangeran tampannya. Dan juga Altair--b******n sialan itu.
***
Langit jingga sudah menyambut Lea ketika ia baru saja keluar dari gedung Laurels.
Tidak tahu sudah berapa lama ia berada di sini, tapi rapat itu seakan tidak pernah berkesudah.
Akhirnya--saat Clara mengatakan rapat selesai, hanya Lea satu-satunya wanita yang melompat girang.
Apalagi setelah sejak tadi ia muak karena Altair terus mendesaknya untuk tetap berada di dekat lelaki itu, Lea berusaha menahan diri.
Kini tidak lagi, jam kerjanya sudah berakhir. Lea menemukan lelaki itu baru saja melewati lobi utama dan tentu saja Lea tahu Altair melangkah untuk menghampirinya.
"Apa? Jam kerjaku sudah habis! Tidak ada alasan untuk ancaman-ancaman norak itu!" sindir Lea kemudian. Sama sekali mengerti apa yang akan Altair katakan padanya.
Altair menyimpan tangannya pada dua saku celananya, menghela napas untuk melihat wajah masam Lea. "Ayo pulang, aku ingin membawamu kesuatu tempat." ajak Altair kemudian. "Sebentar saja..."
Lea menggeleng cepat. Sangat cepat, hingga membuat Altair meringis. Lalu baru saja Altair menyentuh ujung telunjuk Lea, ketika jemari mereka hanya bertabrakan sesaat, karena Lea sudah melangkah memasuki Buggati Divo Metalic yang berhenti tepat di depan mereka.
"Aku bawa asistenmu sebentar ya," ledek Ellard dan mulai berlalu dari sana.
Meninggalkan Altair yang sudah mematung di tempatnya. Jika memang sekeji ini karma yang diterimanya. Bolehkah berhenti sebentar?
Altair baru akan berlalu, ketika Clara sudah berjalan mendekatinya. Dan Altair tahu pertanyaan yang akan wanita itu sampaikan selanjutnya.
Dan lagi, Altair tidak punya pilihan menolaknya. Karena Clara Laurels--temannya.
***