Pada kelam yang menyayat hingga kehati,
aku berusaha bertanya apa yang salah pada hati.
Kemudian,
kutemukan alasan paling tepat dan terpati.
Tentang kita,
masih memenuhi relung hati.
***
The Los Angeles County Museum Of Art -- Los Angeles.
Museum seni itu mampu menghipnotis Lea ketika pertama kali melihatnya. Membuatnya meneguk ludah dan tertegun karena semua keindahannya. Walaupun ia sudah tinggal di Negara ini selama tiga tahun belakangan, satupun tempat wisata yang ada belum pernah Lea datangi. Jadi--mungkin ini yang pertama.
Lea meneguk ludahnya, terpana pada objek yang sedang di perhatikannya dan juga pada sosok lelaki di sebelahnya.
Bagaimana Ellard sudah merengkuh pinggangnya dan membawanya menelusuri museum itu. Lea mengulum senyumnya. Perasaan itu, Lea hanya ingin mengatakan bahwa ia bahagia. Tapi pada satu sudut hatinya yang runyam itu, Lea juga tidak tahu harus menyimpulkan apa.
Akhirnya menghela napas, Lea menoleh. Memperhatikan lelaki disebelahnya yang masih fokus menatap lurus segala hal yang ada disana. "Kau menyukai seni?" tanya Lea pertama. Tidak tahu objek mana yang kini menjadi pusat perhatiannya. Entah segala lukisan yang ada disana, ataukah lelaki yang kini berada disebelahnya.
Lelaki itu mengangguk. Mengacak rambut Lea lembut seperti biasanya, sebelum berujar. "Sebelumnya, aku ingin menjadi pelukis." ujar Ellard kemudian. Mengakui apa yang ia inginkan sejak dulu.
Lea membulatkan mata tidak percaya. Menajamkan apa yang baru saja didengarnya. Mengatasi keterkejutannya itu, ia menaikkan kedua alisnya--sebelum terkekeh. "Benarkah? Lalu kenapa tidak kau lakukan?"
Ellard mengedikkan bahu, malas. "Orang tuaku menentangnya..." sahut Ellard kemudian. Suaranya terdengar--gamang. Tapi ia berusaha menerima itu semua. "Yeah kau tahu sendiri, Hadley begitu keras mendidik anaknya."
Lea menggigit bibirnya. Tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa, karena lagi-lagi karena orang tua. "Tapi kau juga sudah menjadi billionare muda." ledek Lea kemudian. Berusaha menyemangati. Lagi pula, siapa yang tidak mengenal lelaki ini? "Selalu ada hal terbaik yang datang disaat kita merelakan sesuatu yang kita inginkan."
Ellard mengangguk akhirnya. Ia mengerti. Memahami itu, memang, segala yang ia lakukan adalah untuk kebaikannya sendiri. "Aku juga mensyukuri itu. Kadang, orang tua hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya. Tapi mereka tidak pernah tahu, sesuatu yang terbaik bagi anaknya apa." decak Ellard kemudian. "Mereka hanya menuntut tanpa ingin tahu apa yang kita rasakan..."
Lea mematung, tertegun dalam rengkuhan lelaki itu. Bagaimana rasa sukanya seperti berlipat ganda. Tapi dalam suatu waktu Lea meringis, membayangkan wanita seperti apa dirinya, memimpikan Ellard dalam hidupnya seperti sesuatu yang--mustahil. Lelaki ini--Lea tahu sedalam apa kesulitan yang harus dilewatinya.
"Ellard?" tegur Lea kemudian. Menengadahkan kepala untuk melihat lelaki itu. Memperhatikannya lebih dalam lagi.
Lelaki itu mengangguk, kali ini rengkuhannya berpindah menjadi merangkul pundak Lea. Membawa Lea pada setiap sisi museum, lalu membiarkan wanita itu ikut dalam semua yang di nikmatinya.
"Kau tidak malu berjalan denganku?" tanya Lea lagi. Benar-benar hanya ingin memastikan itu, mengingat betapa keluarga Hadley sangat terkenal di Los Angeles. "Apa baik-baik saja, seseorang sepertimu pergi denganku?"
Ellard terkekeh. Lalu menggeleng setelahnya. "Malu kenapa? Kau mengenakan baju dan sepatu. Dandananmu juga tidak heboh, tidak ada penjelasan yang bisa membuatku malu bersama denganmu." jelas Ellard kemudian. "Kau temanku Lea, untuk apa perasaan malu itu harus kita tunjukkan?"
"Ellard--" erang Lea. "Kau tahu apa maksudku..." jelasnya kemudian. Tapi perkataan terakhir Ellard-lah yang membuat Lea meringis. Teman? Ya. Sampai akhir mungkin Ellard hanya menganggapnya seperti itu.
"Karena kau wanita dari bar?" kekeh Ellard kemudian. Menebak apa yang wanita itu maksud. Ia menghela napas sebelum membawa posisi Lea berhadapan dengannya. Menangkup wajah wanita itu, lalu menyapu wajah itu lembut. "Lea...aku bahkan senang mengenalmu. Kau yang menyelamatkanku setahun yang lalu. Berhenti mengatakan itu, bekerja di mana saja bukan masalah asal kau bahagia menjalaninya."
Dan benar. Perkataan Ellard, selalu berhasil membuat Lea terbuai. Bagaimana bisa Lea mengabaikan pangeran tampannya itu? Disaat Ellard bahkan terlampau sempurna untuk sekedar ia mimpikan.
Lalu memeluk lelaki itu, Lea menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Ellard. Begitu menenangkan dan juga nyaman. Merasakan apa saja yang selama ini ia pendam. Tapi satu hal yang terpati, disana--Lea tidak mendengarkan apapun dalam detak yang dimiliki Ellard.
Jika saja Lea tahu kejelasan hubungan mereka, ia pasti menjadi satu-satunya wanita beruntung di dunia ini. Menjadi satu-satunya wanita yang bahagia atas akhir bahagia yang ia mimpikan.
"Ck. Kau selalu membuatku mengoceh banyak hal." gerutu Ellard kemudian. Ia sudah menguraikan pelukan itu. Menatap Lea sesaat sebelum kembali membawa Lea memutari museum tersebut. "Jangan berpikir yang tidak-tidak Lea, nikmati hidupmu."
"Ellard, kau tidak masalah aku bekerja dengan Altair?" tanya Lea lagi. Jemari mereka sudah saling bertautan, melangkah pelan dengan penuh cerita yang masih saling mereka tukarkan. Tapi bagaimana Lea harus memastikan segalanya? Perasaanya? Apa memang Ellard tidak pernah melihatnya lebib dari pada yang ia pikirkan?
"Dengan Kennedy? Tentu saja tidak. Kenapa? Kau tidak suka bekerja dengannya?" tanya Ellard heran. Bingung sendiri karena Lea tiba-tiba mengatakan itu. Ellard mengerutkan dahinya--bingung. Memastikan.
Lea menggeleng kemudian. Tapi jawaban dari Ellard seakan menghempas harapannya. "Sudahlah, tidak jadi."
Ellard menoleh, lalu terkekeh. Tidak juga ingin tahu, karena ia hanya ingin menikmati semua karya seni terindah di museum itu.
"Jika saja kau tidak datang ke Montana setahun yang lalu, kita tidak mungkin saling mengenal seperti saat ini." ingat Lea lagi. Berusaha menemukan setiap topik pembicaraan mengenai mereka. "Satu tahun kita saling bertukar cerita, tidak terasa sudah selama itu..."
"Kau bahagia bertemu denganku?" goda Ellard kemudian. Menaikkan kedua alisnya.
Lalu Lea mengangguk cepat. Sangat cepat karena ia tidak perlu berpikir atas itu. "Kurasa, satu-satunya orang kaya yang tidak sombong hanya kau."
Menyunggingkan senyumnya, Ellard berujar kembali. "Benarkah?" kekehnya. "Mungkin karena kita sudah sering bersama. Orang-orang mengatakan aku paling sombong di antara saudaraku."
Lea menggeleng. "Itu karena mereka tidak mengenalmu." sahutnya cepat. "Kau Hadley yang terbaik, Ellard! Kau lelaki terbaik yang kukenal!" sambung Lea antusias.
Dengan Ellard yang sudah memecah tawa disana." Jngan berlebihan, Lea." kekehnya. "Bagaimana bekerja dengan Kennedy?" tanya Ellard akhirnya.
Memutar bola matanya jengah, Lea menggeleng. Sama sekali tidak tertarik untuk membahas b******n itu. "No comment."
Lalu keduanya tertawa disana. Masih dengan jemari yang saling bertautan mereka terus melangkah dengan penuh cerita--tanpa beban.
Dan perlakuan Ellard, seakan membuat Lea lupa pada setiap hal yang akan dilakukannya. Karena ia terlanjur bahagia setiap kali bersama lelaki itu. Kebahagiaan yang tidak mampu Lea jabarkan.
***
Altair tengah meneguk wine yang sudah tersedia di mejanya. Setelah Clara memanggilnya, mereka memutuskan untuk pergi ke Club milik keluarga Laurels.
Lalu disinilah mereka berada. Masih dengan menyilangkan kedua kakinya, Altair merebahkan kepalanya pada kursi yang tengah di dudukinya. Menahan amarahnya, karena ia tidak tahu bagaimana lagi menahan Lea.
"Apa Kennedy sekarang sedang patah hati? Kau menyukai asistenmu itu? Wanita yang di sewa Ellard dari bar tersebut?" tanya Clara bertubi-tubi. Ia mengedikkan sebelah mata menggoda. Tidak pernah melihat Altair, sekacau ini. "Yang benar saja??!"
Altair menggeleng malas. Tahu bahwa Clara akan selalu menanyakan itu. "Sudahlah, Clara. Berhenti membahasnya, bukankah kau yang patah hati?" serang Altair balik. Mengingat bagaimana Clara begitu menyukai Hadley sialan yang satu itu. "Pikirkan dirimu sendiri."
Clara menggeleng pelan. "Tidak, Ellard sudah meminta izinku. Lagi pula nanti malam aku akan kencan dengannya." sahutnya bersemangat. "Seharusnya kau bertanya apa hubunganku dengan Ellard. Kau sama sekali tidak pernah ingin tahu ceritaku."
Altair menegakkan tubuhnya. Perkataan Clara begitu menenangkannya. "Apa hubunganmu dengan Hadley sudah membaik?" tanya Altair penasaran. Setidaknya hanya itu yang ia tahu pasti. "Kau dan Hadley itu akan dekat kembali?"
Clara mengangguk riang. "Sejak pulang dengannya kemarin, kurasa hubungan kami semakin membaik. Dan ya, Hadley yang satu itu memang selalu memperlakukan wanita dengan baik. Tidak heran asistenmu itu sering bersama dengannya." kekehnya kemudian. "Dan Ellard--dia memang semenyenangkan itu, dan dia pendengar yang baik."
Altair hanya manggut-manggut mengerti. Sama sekali tidak tertarik atas segala hal mengenai kebaikan lelaki itu. Jadi ia menyunggingkan senyumnya dan berujar. "Maka dapatkan dia kembali. Bukankah kau begitu menyukainya?" saran Altair kembali. "Kau dan Hadley sangat cocok, Clara."
Clara memainkan segelas wine ditangannya. Meminum itu dalam sekali tegukan, lalu berujar lagi. "Pasti. Akan kudapatkan, Ellard--dia milikku. Tidak ada orang lain yang boleh memilikinya." kekehnya bangga, mengedipkan sebelah mata. "Ini hanya masalah waktu, Altair."
"Apa kau begitu menyukai lelaki itu?" tanya Altair lagi. "Sebebarnya apa yang terjadi?"
Clara mengedikkan bahu. Mengulum senyumnya geli. "Dia memiliki semua yang kuinginkan, Altair. Ellard lelaki terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku, bahkan hingga aku menyakitinya dulu, dia masih menerimaku sampai saat ini." jelas Clara kemudian. "Tidak ada yang harus kukatakan selain, aku mengerti perasaan Ellard. Memahami bahwa masih ada yang belum selesai diantara kami."
Membuat Altair merenungi kata-kata wanita di hadapannya. Lalu Altair mengacak rambutnya frustasi. Berpikir keras cara apa yang harus ia lakukan agar Lea menjauhi lelaki itu? Tapi Altair kembali berkutat dengan pemikiran sia-sia itu. Lagi pula, jika Clara memang benar, Altair hanya harus menunggu bukan?
Tidak tahu pikirannya mengarah kemana, karena Ellard--- Hadley yang satu itu seperti sosok sempurna yang terdapat dalam setiap dongeng. Hingga membuat Altair sendiri kesusahan untuk memikirkannya. Satu hal yang Altair tahu, ia harus lebih berjuang karena saingannya tidak sembarang orang.
"Aku tidak mengenal Hadley seperti kau mengenalnya. Tapi--apa tidak ada sisi buruk yang lelaki itu miliki?" tanya Altair kemudian. Hanya menuntut untuk jawaban yang ia inginkan. "Apapun..."
Clara menggeleng cepat. "Tidak ada, Ellard pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan, Altair."
"Itu karena kau menyukainya. Jika saja orang itu bukan Ellard, kurasa kau sudah menceritakan semua keburukannya." sindir Altair kembali. "Aku bisa menghitung sebanyak apa lelaki yang kau caci maki setelah kau menolak mereka."
"Tidak, Altair. Karena itulah faktanya, aku mengenal Ellard. Laurels dan Hadley sudah sejak dulu mengenal satu sama lain." potong Clara cepat. "Dan untuk lelaki yang pernah kuceritakan, itu karena mereka tidak sepadan denganku."
Altair tahu bahwa tingkat kepedan Clara adalah yang tertinggi. Jadi ia menggeleng malas. "Tidak ada habisnya membicarakan Hadley--mu itu. Hubungi dia, katakan kemana dia membawa asistenku!"
Clara terkekeh. Tapi ia mengabaikan permintaan Altair. "Biarkan saja, kenapa kau begitu khawatir? Ellard tidak akan mengusik asistenmu itu!" yakin Clara kembali. "Kau tenang saja."
"Seharusnya kau marah jika orang yang kau sukai bersama wanita lain." protes Altair kembali. "Kau tidak bisa sesantai ini, kau harus berjuang lebih keras lagi!" beo Altair kembali.
Tapi perkataan Altair berhasil membuat Lea tertawa lepas. "Ataukah kau yang marah?" goda Clara kembali. "Aku tidak masalah untuk itu, aku juga bebas pergi dengan siapa saja."
Altair mengangguk. "Ya, karena wanita itu belum menyelesaikan pekerjaanya." jawab Altair beralasan. "Dan Hadley mu itu sudah membawanya pergi!"
Clara menyunggingkan senyum geli, "Apa kau sangat menyukai wanita bar itu?" tanyanya kembali. "Sebenarnya, apa yang dia miliki?"
"Bukan urusanmu, Laurels!"
"Ck. Kau tidak bisa menutupinya Tuan Kennedy. Aku tidak tahu apa yang wanita itu miliki, tapi dia berhasil membuat pandanganku terhadapmu berbeda."
Altair mengerutkan dahi bingung. Menaikkan kedua alisnya tidak mengerti. "Maksudmu?"
"Karena kupikir selama ini kau gay." kekeh Clara kemudian. Memberi ledekan telak tepat diwajah lelaki itu.
Membuat Altair menatap tajam wanita dihadapannya. Sementara Clara, semakin menyeruakkan kekehan gelinya.
Lalu keduanya kembali berlomba untuk menemukan siapa pemenang minum wine terbanyak kali ini.
Setidaknya melakukan itu mampu membuat ketenangan melimpungi mereka, terutama Altair tentu saja.
***