Arvin mengangguk. “Paris.” Zahra tertawa kecil. Namun jelas terlihat ia terkejut. “Mas… kamu serius?” Arvin menatapnya. “Sangat.” Zahra menggeleng pelan, masih tidak percaya. “Kenapa… tiba-tiba?” Arvin menyandarkan punggungnya. Matanya kembali ke arah Zahra. “Karena aku ingin membuatmu lebih bahagia. Kita bisa memberi Cici dan Gilang bulan madu ke Bali, jadi aku memberimu Paris.” Zahra tersenyum penuh haru, "Aku nggak minta sejauh itu, Mas," Arvin merangkul pinggang Zahra, “Kau nggak perlu meminta. Aku siap memberikanmu apapun, tanpa diminta.” Dada Zahra terasa hangat. Namun dia teringat sesuatu. “Terus… anak-anak?” tanyanya pelan. Arvin tersenyum kecil. “Dititipkan ke Mama.” Zahra langsung menggeleng. “Mas…” Arvin tertawa pelan. “Aku sudah pikirkan semuanya.” Zahra me

