Tiga bulan kemudian. Zahra membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa hangat oleh sisa tidur, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak langsung bangun. Perasaan aneh. Tidak jelas. Ia menatap langit-langit sebentar. Lalu menoleh ke samping. Arvin masih tertidur, wajahnya tenang, satu tangannya terulur ke arah Zahra seolah bahkan dalam tidur pun ia tidak benar-benar ingin jauh. Zahra tersenyum kecil. Namun senyum itu perlahan berubah. Ia mengerutkan kening sedikit. Tangannya naik ke perutnya. Diam. Beberapa detik. Lalu ia menarik napas pelan. “Mas…” panggilnya lirih. Arvin bergumam. Belum benar-benar bangun. “Mas…” Kali ini sedikit lebih jelas. Arvin membuka mata perlahan. “Hmm… kenapa?” Suaranya serak, masih setengah tidur. Zahra tidak langsung menjawab. Ia hanya men

