Sore hari sepulang sekolah, ruang tengah hampir selalu ramai. Buku-buku terbuka, tapi jarang benar-benar dibaca. Kania, Aluna, dan Elio lebih sering sibuk dengan cerita mereka sendiri. Sesekali terdengar protes kecil, tawa, atau debat ringan yang berakhir tanpa pemenang. Rafa biasanya duduk agak jauh, tetap ikut mendengarkan, tapi tidak terlalu terlibat. Berbeda dengan Arka. Ia sering terlihat santai—bersandar di sofa, memainkan ponsel, atau pura-pura tidak peduli. Tapi sesekali… matanya terangkat. Mengarah ke satu orang. Aluna. Gadis itu tertawa lepas, ekspresif, dan tanpa sadar sering menjadi pusat perhatian. Setiap kali ia bicara, Arka seperti mendengarkan—meskipun wajahnya tetap datar. “Arka, kamu denger nggak sih?” tanya Aluna suatu kali. Arka tidak langsung menjawab. Ia meno
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


