Zahra menutup pintu belakang perlahan setelah memastikan “drama kecil” di teras benar-benar selesai. Suara tawa anak-anak masih terdengar samar dari luar, kini bercampur dengan aroma khas asap bakaran yang semakin menggoda. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke dalam dapur. “Untung belum ada yang nangis,” gumamnya setengah lega. “Belum aja,” sahut Cici cepat, membuat Miranda langsung terkekeh. Mereka bertiga kembali ke posisi masing-masing. Dapur kembali dipenuhi suara peralatan masak, dentingan piring, dan aroma yang semakin kaya—perpaduan bumbu, mentega, dan sesuatu yang lebih khas… aroma arang dari luar. Miranda melirik ke arah jendela lagi. “Kayaknya bagian paling santai di acara ini justru mereka bertiga itu.” Zahra mengangkat alis. “Santai?” “Ya,” lanjut Miranda santai, “t

