Pagi di rumah Gilang dan Cici selalu dimulai dengan suara kesibukan pagi yang rutin namun membuat rumah itu hidup. Suara sendok yang beradu dengan piring. Suara air mendidih di dapur. Dan suara satu orang yang tidak pernah bisa diam terlalu lama. “Ma! Sarapannya apa sih? Lapar banget!” Cici yang sedang berdiri di dapur hanya menggeleng sambil tersenyum. “Baru bangun lima menit, sudah lapar.” Aluna muncul dengan rambut setengah diikat, seragam belum sepenuhnya rapi, tapi wajahnya sudah penuh ekspresi. “Laper itu nggak kenal waktu, Ma.” Gilang yang duduk di meja makan tertawa pelan. “Alasan klasik.” Aluna langsung duduk di kursi, menarik piring ke arahnya. “Papa juga kalau lapar pasti nyari makan.” Gilang mengangkat alis. “Tapi Papa nggak ribut.” “Karena Papa nggak sejujur aku

