Setelah anak-anak berangkat sekolah, rumah menjadi lebih tenang. Zahra merapikan meja makan, sementara Arvin berdiri di dekat pintu, mengenakan jam tangannya. “Jadwal hari ini padat?” tanya Zahra. Arvin mengangguk. “Lumayan.” Zahra mendekat, merapikan kerah kemejanya sedikit. Gerakan kecil, namun penuh makna. “Jangan lupa makan,” katanya pelan. Arvin tersenyum tipis. “Iya, Bu.” Zahra mendengus kecil. “Masih aja.” Arvin menatapnya beberapa detik. Lebih lama dari biasanya. “Aku beruntung banget,” katanya tiba-tiba. Zahra mengernyit. “Kenapa?” Arvin menatap istrinya serius. “Punya kamu dan anak-anak. Rumah yang membuat aku selalu ingin pulang.” Zahra terdiam. Lalu tersenyum. Tidak perlu jawaban panjang. Karena mereka sama-sama tahu, itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah

