Hari-hari setelah liburan singkat itu kembali berjalan seperti biasa. Anak-anak kembali ke sekolah. Sibuk mengerjakan tugas. Namun saat mereka bertemu, candaan tidak pernah habis. Para remaja ini menjalani hari-hari seperti biasanya. Namun… ada sesuatu yang berubah. Bukan sesuatu yang besar dan langsung terlihat. Melainkan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, dan kini mulai memiliki makna berbeda. Anak-anak remaja terus berkembang dengan dinamikanya masing-masing. Sore itu, ruang keluarga rumah Arvin dan Zahra kembali dipenuhi suara. Arka dan Aluna duduk berhadapan di karpet, terlibat perdebatan yang entah dimulai dari mana. “Lo yang salah!” “Gue yang salah? Serius lo?” “Ya iya!” “Logika lo aneh banget sih!” Rafa duduk di sofa, membaca buku, namun sesekali melirik. Elio di

