Keinginan terbesar orangtua itu adalah melihat anak-anaknya bahagia..
***
Malam menjelang, dengan tubuh yang telah lelah aku sampai di rumah. Begitu masuk aku melihat bunda sedang duduk di ruang keluarga dengan foto figura kecil yang familiar di mataku, pelan-pelan aku mendekat tanpa menimbulkan suara. Begitu jarak yang kurasa cukup aman, aku berhenti kemudian menatap bunda dari tempatku berdiri dengan jelas.
Benar kan, ternyata figura foto adalah foto pernikahan bunda dan almarhum ayah. Dari sini juga aku bisa melihat dengan jelas wajah bunda terlihat murung dan sedih, bahkan sesekali bunda terlihat menghapus air mata yang jatuh di wajah tuanya. Aku berusaha menahan air mata yang akan siap jatuh juga di pipiku, sambil terus menutup mulutku kuat.
Tak lama kemudian suara beliau terdengar di gendang telingaku, bundaku menangis sendirian di ruang yang sepi dan gelap ini. Akhirnya aku pun ikut tersiak tanpa suara, aku sudah pernah bilang kan kalau aku paling tak bisa melihat bundaku menangis. Rasanya aku sangat ingin berlari kearahnya kemudian memeluk tubuh renta bundaku.
Namun sekuat tenaga aku menahannya, aku tak mau bunda tahu kalau aku berada di sini melihatnya menangis. Bunda itu tipe orang yang tak akan bercerita apa yang menjanggal di hatinya, beliau lebih suka menutupinya sendiri tanpa mau berbagi padaku. Padahal aku siap untuk menampung segala beban bundaku.
Hampir sepuluh menit berlalu, akhirnya bunda berhenti menangis setelah memenangkan diri, bunda berbicara lirih pada foto yang ada di tangannya.
"Kamu tahu, Mas. Aku masih merasa bersalah pada Shalu. Kasihan dia harus berkorban demi adiknya, dan dengan waktu menyetujui Shakila menikah. Rasanya aku sangat merasa bersalah padanya karena terus memaksanya untuk terus dan terus mengalah demi amanah kamu untuk membuat keluarga kita tetap bersatu, walau aku tahu Shalu nggak pernah keberatan atas permintaanku. Dan membuat bebanku makin berat adalah sampai sekarang Shalu memilih sendiri tanpa ada pendamping hidup," menghela napas sebentar bundaku kembali melanjutkan. "Aku takut karena dia trauma pada pengkhianatan Shakila dan Arash membuatnya takut memulai hubungan dengan lawan jenis, aku takut dia nggak mau menikah. Aku takut kalau waktuku sudah habis di dunia ini, siapa yang akan menjaganya, menemaninya, dan melindunginya kelak. Aku nggak mau anak kita kesepian di masa tuanya kelak, namun aku juga nggak mungkin memaksanya, kan? Malah dia akan menjadi terbebani nantinya."
Begitu bunda selesai berbicara pada foto almarhum ayah, aku langsung pergi dari tempat itu menuju keluar dan dengan cepat masuk ke dalam mobilku dan menjalankannya meninggalkan rumahku di mana masih ada bundaku di sana. Setelah berhenti di pinggir jalan aku langsung menenggelamkan wajahku pada setir mobil dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua kekecewaan dan juga rasa sedih yang ada di hatiku.
Ternyata selama ini beban bunda, itu sebabkan olehku sendiri. Percuma aku terlihat baik-baik saja di depan beliau sebab beliau tahu kalau aku terlihat kuat dan cuek namun aku menyimpan luka hati dan juga trauma teramat besar, rasa percaya pada pasangan juga menjadi salah satu pertimbangan mengapa aku masih sendiri sampai saat ini.
Jadi perkataan tante Vina di cafe tadi itu semuanya benar, walau aku tahu tak mungkin bundaku bercerita pada tante Vina namun terlihat sekali kalau tanteku itu lebih peka terhadap perasaan bunda daripada aku anak kandungnya sendiri. Anak macam apa aku ini, aku memang membahagiakan bunda dengan segala materi yang kupunya namun batin bunda juga sama terlukanya sepertiku. Dengan luka yang berbeda tentunya.
Aku yang selalu mementingkan pendapat bunda di atas segalanya, sekarang merasa sangat egois sekali. Setelah aku menenangkan perasaanku dan mengontrol segala emosiku aku mengambil ponsel yang berada ditasku, lalu mencari nama Eno di kontakku. Menunggu teleponku di angkat di seberang sana.
"Hallo." Aku menghela napas lega karena Eno ternyata belum tidur.
"Lo di rumah kan, No?" tanyaku langsung.
"Ya, aku ada di rumah kok. Ada apa?"
"Aku ke sana ya, tunggu aku."
"Oke, aku tunggu."
Klik..
Setelah menutup teleponku, aku mengendarai mobilku ke rumah Eno. Hanya ia yang aku butuhkan sekarang, aku tak mungkin ke rumah Ummi. Karena Ummi masih tinggal bersama orangtuanya, tak mungkin juga aku bertamu malam-malam begini ke rumahnya. Yang ada orangtuanya malah terganggu lagi.
Selang lima belas menit, akhirnya aku sampai ke rumah Eno. Kenapa aku lebih memilih Eno karena ia memang tinggal sendirian sejak dua tahun yang lalu, orangtua Eno memilih menghabiskan masa tuanya di kampung halaman ibunya di kota Padang. Tanpa permisi aku masuk ke dalam rumah sahabatku ini karena tahu Eno tak akan mengunci pintunya setelah tahu kalau aku akan datang.
Benar kan dugaanku, begitu aku membuka pintu. Eno sudah menungguku di sofa ruang tamunya sambil memainkan ponselnya, begitu melihatku Eno tersenyum lalu berdiri menyambutmu dengan merentangkan kedua tangannya. Aku berlari kearahnya langsung masuk ke dalam pelukannya dan menangis tersiak, Eno menepuk pelan punggungku dengan lembut hal itu membuatku mengeratkan pelukan kami.
Aku masih menangis dalam pelukan Eno, begitu agak tenang aku melepaskan pelukan kami. Aku bahkan baru sadar kalau kami berpelukan sambil berdiri, Eno menarik lembut tanganku untuk duduk di sofa. "Udah enakan nggak?" tanyanya lembut.
Aku tersenyum lalu mengangguk pelan. "Iya. Maaf ya, lo pasti pegal gara-gara gue peluk erat banget dalam keadaan berdiri lagi."
"Nggak papa kok, kayak sama siapa saja lo. Ohiya, lo udah mau cerita lo kenapa menangis?"
Aku kembali teringat bunda yang menangis sambil berbicara dengan foto pernikahan mereka, lalu mengalirlah semua ceritaku pada Eno. Dari awal aku pulang kerja, melihat bunda menangis dan berbicara dengan foto almarhum ayahku di ruang tengah, mendengar isi hati bunda yang sebenarnya ingin aku segera menikah karena takut aku trauma dengan pengkhianatan Arash dan Shakila padaku.
Eno mendengarkan tanpa memotong semua perkataanku, aku kembali mengeluarkan air mata ketika mengingat bundaku lagi. Sungguh hal yang ingin aku lakukan selama ini adalah kebahagian bunda dan kalau bunda bahagia dengan melihat aku menikah akan aku lakukan. Eno kembali menenangkanku dengan mengelus pelan lenganku dan menghapus air mataku yang masih tersisa di kedua pipiku dengan kedua tangannya.
"Itulah feeling seorang ibu kandung pada anaknya, jangan pikir bunda lo nggak peka pada diri lo dan nggak mengerti lo. Padahal sebenarnya beliau-lah yang paling tahu tentang lo daripada gue dan Ummi, sahabat-sahabat lo. Walaupun lo nggak pernah cerita padanya. Tapi beliau tahu semuanya, ikatan ibu dan anak itu sangat kuat. Karena darah lebih kental daripada air." Aku mencerna semua perkataan Eno dengan baik, benar apa yang di katakan oleh Eno. Bunda sangat peka pada anak-anaknya sedangkan aku malah tak pernah peka dengan keadaan bunda sama sekali.
"Ya, lo benar banget. Gue yang selalu menjunjung Bunda di atas segalanya, tapi ternyata guelah yang membuat Bunda kepikiran terus-menerus tentang masa depan gue." Aku menunduk sejenak.
"Terus, apa rencana lo selanjutnya?" tanya Eno padaku.
Aku pun mendongak menatap serius Eno, "Kalau memang menikah akan membuat Bunda bahagia, gue akan melakukannya." putusku tanpa berpikir panjang.
Eno menatapku tajam, sepertinya ia tak setuju dengan keputusanku kali ini, "Lo jangan gila deh, Sha. Lo pikir menikah itu bisa sembarangan apa? Emang lo udah punya calonnya?" Aku menggelengkan kepala. "Nah kan, sebaiknya lo bicarakan dulu sama Bunda lo. Baru ambil keputusan, gue yakin kok Bunda lo akan mengerti."
"Ya iyalah, Bunda sangat mengerti. Karena sampai sekarang pun Bunda nggak pernah bilang apa-apa ke gue tapi beliau cerita semuanya pada almarhum Ayah kalau Bunda lagi sendirian di rumah, pantas saja Bunda selama ini selalu pergi ke rumah Shakila untuk mengalihkan perhatiannya. Karena kalau di rumah sendirian Bunda akan terus kepikiran."
Eno terlihat menghela napas, "Tapi mengambil keputusan menikah tanpa calon dan juga kepercayaan pada sebuah hubungan itu bukan keputusan yang baik, Sha."
"Sekarang yang terpenting itu adalah Bunda, No. Gue rela ngelakuin apapun untuk beliau walau harus mengorbankan perasaan gue sendiri." Aku masih keras kepala. Eno melototkan matanya tajam.
"Lo pikir dengan lo menikah tapi nggak bahagia akan membuat Bunda lo bahagia juga. Gue yakin kalau lo tetap nekat menikah dengan keadaan lo yang masih takut dan trauma sama hubungan dan suatu saat Bunda lo mengetahuinya, Bunda lo malah makin sedih kalau ternyata putrinya nggak bahagia dalam pernikahannya. Lagian emang gampang cari calon yang mau lo ajak nikah apa?"
Itu juga yang aku pikirkan sekarang, menikah bukan sesuatu yang gampang. Butuh kemantapan hati yang kuat, siap lahir juga batin, komitmen, konsisten, dan pastinya calon suami yang siap menikahi aku. Semua itu tak semudah dengan ucapan. Belum lagi kalau ternyata keputusan menikah akan semakin membuat bundaku kepikiran saja, itu sama saja aku tak perlu menikah kalau malah menambah beban bunda.
Menghela napas panjang, aku menatap intens Eno. "Terus gue harus gimana dong?"
Eno tersenyum lembut, mengangkat tangan kanannya menepuk bahuku pelan. "Tenangkan dulu diri lo, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Gue nggak ngelarang lo untuk mengedepankan Bunda lo di atas segalanya, tapi ingat lo juga berhak bahagia."
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum haru, lalu memeluk erat Eno yang duduk di depanku. "Makasih udah mau dengar curhatan gue ya."
Eno tersenyum balas memeluk aku tak kalah erat. "Sama-sama, Sayang. Itu gunanya sahabat, kan?"
Kami tertawa bersama, aku tak pernah bosan untuk mengatakan. Bahagianya aku bisa mempunyai sahabat seperti Eno dan tentu juga Ummi di hidupku.