Bab 6 : Pria Angkuh

1561 Kata
Percuma tampan kalau sifatnya sombong dan dingin..  *** Bunda Calling...  Aku menatap kearah ponselku dengan perasaan bimbang, apakah aku harus mengangkatnya atau tidak. Namun aku tak mau membuat bunda cemas dengan keadaan aku yang belum pulang ke rumah padahal jam sudah menujukkan pukul 21.05 malam. Ya, aku memang tak berniat pulang dulu setelah aku curhat bersama Eno.  Karena aku memilih menginap dulu di rumah Eno, bukan karena apa. Aku menginap atas dasar saran dari sahabatku itu supaya aku bisa menenangkan diriku dulu, memang aku belum juga memberitahukan bunda kalau aku menginap di sini. Tak ingin membuat bundaku khawatir akhirnya aku mengangkat panggilannya.  "Assalamualaikum, Bun." Terdengar dari seberang sana bunda menghela napas lega. "Waalaikumsalam.. Alhamdulillah, kamu di mana?" "Maaf, Bunda, aku lupa ngabarin kalau aku akan nginap di rumah Eno malam ini. Nggak papa kan, Bun?" aku menahan diri untuk tak menangis saat mendengar bunda yang ceria seperti tak menangis sama sekali tadi.  "Nggak papa sih, cuman kok mendadak sih, Sha? Biasanya kan kamu bilang dulu sama Bunda." "Maaf, Bun, iya ini memang mendadak karena tiba-tiba Eno minta di temanin di rumahnya katanya dia lagi takut karena ada isu di perumahannya sedang nggak aman karena kemarin tetangganya ada yang kemalingan." Sungguh kali ini aku tak bohong, perumahan tempat tinggal Eno memang lagi kurang aman sekarang-sekarang ini, maka dari itu sekalian aku menenangkan diriku. Aku juga bisa menemaninya di rumah malam ini.  "Astagfirullah, bahaya itu. Ya udah, kamu hati-hati ya di sana. Kunci rapat pintu dan jendela rumah Eno ya, jangan sampai lupa." Aku tersenyum tipis mendengar bawelnya bunda berpesan, bunda memang selalu begitu. Khawatirnya selalu berlebihan, namun aku rasa setiap orangtua akan bersikap berlebihan kalau menyangkut keselamatan anaknya.  "Iya, Bunda juga hati-hati ya di rumah," pesanku pada bunda juga.  "Iya, Sayang, kalau begitu kamu istirahat gih. Besok kerja, kan?" "Iya Bundaku Sayang," balasku sambil terkekeh membuat bundaku juga ikut terkekeh.  "Ya udah, Bunda tutup ya teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Setelah telepon aku tutup, aku menyimpan ponselku di atas meja samping ranjang. Kembali menjatuhkan tubuhku di atas kasur kamar tamu di rumah Eno. Sengaja aku memilih tidur terpisah dengan Eno, karena biasanya kalau aku sedang menginap kami pasti akan tidur bersama.  Aku memang butuh ketenangan diri dulu, memikirkan semua keputusan yang akan aku ambil nanti.  *** Paginya aku terbangun dengan perasaan ringan, walau aku belum menemukan solusi dari permasalahanku saat ini. Tetapi setidaknya semuanya terasa ringan karena aku sudah membaginya dengan Eno semalam, entah apa yang terjadi padaku kalau aku tak memiliki sahabat seperti Eno dalam hidupku.  Begitu selesai mandi dan berpakaian. Ya, sebenarnya baju kerja ini milik Eno yang aku pinjam hari ini karena memang aku sangat mendadak menginap di rumahnya. Tanpa rencana dan tanpa membawa baju ganti, untung saja postur tubuh Eno sama dengan postur tubuhku. Keluar dari kamar, aku mendengar suara berisik dari arah dapur. Pasti Eno sudah bangun dan sedang membuat sarapan di dapur, benar saja ketika aku sampai. Aku melihat Eno sudah repot dengan segala urusan dapur, sepertinya dia akan goreng nasi sebab aku melihat Eno sedang sibuk mengupas beberapa bawang.  Aku menghampirinya lalu mengambil posisi tetap di sampingnya.  "Ada yang bisa gue bantu?" tanya langsung membuat Eno terkejut akibat aku yang tiba-tiba berada di sampingnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.  Sambil terus mengelus dadanya. "Gila lo!! Gue kaget tahu, kalau gue kena serangan jantung gimana. Lo mau tanggung jawab?" Aku terkekeh lalu menoyor pelan kepalanya. "Lebay lo! Ya kalau kena serangan jantung mah tinggal gue bawa ke rumah sakit, gampang kan?"  Eno mendelik. "Lo doain gue kena penyakit jantung ya?"  "Kan tadi lo yang bilang duluan, syukur-syukur gue berniat bawa ke rumah sakit." "Bangke." Kami tertawa bersama.  "Jadi apa yang bisa gue bantu?" tanyaku lagi.  Eno menunjuk sayuran yang ada di baskom kecil. "Lo tolong cuci sayur itu dulu ya," perintahnya, aku segera mengambil sayuran itu lalu mencucinya di tempat cuci piring.  Tepat sepuluh menit, sarapan buatan Eno akhirnya selesai juga. Kami berdua duduk di ruang makan untuk sarapan bersama, di meja hanya ada nasi goreng, telur mata sapi, dan juga roti gandum serta selai kacang. Aku memilih nasi goreng sedangkan Eno memilih roti gandum sebagai menu sarapannya, Eno memang tak makan nasi kalau sarapan sebab itu roti gandum adalah pilihannya sedang aku tak bisa kalau tak makan nasi.  Selesai sarapan, aku dan Eno keluar ke halaman depan. Setelah mengunci pintu rumahnya kami berjalan ke mobil kami masing-masing, setelah menyalakan mesin aku membunyikan klakson pada Eno lalu menjalankan ke jalan raya menuju kantor WO aku yang cukup jauh dari rumah Eno.  Begitu sampai aku segera masuk ke ruanganku di lantai tiga, begitu melihat Ainun duduk di kursinya aku menyapanya seperti biasa. "Selamat pagi, Ai." Ainun mendongak dan tersenyum sopan. "Selamat pagi juga, Bu." Seperti biasa Ainun akan mengikutiku masuk ke dalam ruangan untuk membacakan agendaku hari ini. "Jadwal anda hari ini janji temu di restoran rekomendasi oleh Ibu Kinara untuk memastikan menu makanan apa yang akan mereka pilih diacara resepsinya nanti siang ini, Bu, selebihnya Ibu hanya di kantor saja memeriksa keuangan bulan ini." Aku menganggukkan kepala mengerti. "Baiklah, kalau begitu kembali ke meja kamu."  Ainun pamit ke luar, setelah pintu ruangan ditutup aku langsung memeriksa keuangan bulan ini. Sebelum aku pergi ke restoran yang di maksud oleh Ainun atas permintaan klienku, Kinara.  *** Setibanya aku di restoran yang di maksud oleh Kinara, aku masuk ke dalam dan menjadi menatap sekeliling suasana restoran ini. Kesan pertamaku adalah mewah, elegan, dan romantis. Sudah dipastikan kalau makanan di sini enak, terbukti pengunjung di restoran ini lumayan banyak. Aku berjalan menuju meja untuk dua orang di samping jendela besar yang berlapis kaca tebal.  Aku memang sengaja duduk di situ, karena rata-rata satu meja di isi empat buah kursi yang di tempati orang-orang yang akan meeting atau keluarga yang sedang makan siang bersama. Karena aku sendiri datang ke sini makanya aku ambil tempat duduk untuk dua orang saja.  Setelah duduk, aku memanggil pelayan yang kebetulan lewat di sampingku.  "Iya, Mbak, mau pesan apa?" "Tolong keluarkan semua makanan terbaik di restoran ini, saya akan mencoba semuanya." Mungkin karena heran nafsu makanku yang banyak pelayan itu malah menatapku heran, namun melihat reaksiku yang biasa saja akhirnya pelayan itu mengangguk kepalanya kemudian berlalu dari hadapanku segera. Aku mengambil iPad dalam tasku lalu memeriksa email masuk, saking seriusnya menatap tabku tak lama mejaku di senggol oleh seseorang pelayan yang sedang membawa sebuah minuman. Aku mendongak karena kaget namun belum selesai sampai di situ, minuman yang di bawa pelayan tersebut jatuh ke mejaku tanpa bisa aku hindari minuman malah tumpah dan sebagian terkena di iPad-ku.  Aku dengan cepat mengambil iPad yang aku simpan di atas meja namun terlambat iPad-ku sudah basah bahkan sampai ke layarnya, aku masih melongo menatap lesu layar iPad-ku yang sudah gelap menandakan kalau iPad-ku mati. Sampai suara berat terdengar membuatku mendongak.  "Maafkan saya, Mbak, saya nggak sengaja," katanya sambil menatapku dengan pandangan datar, aku balas menatapnya dengan lekat. Ia memang minta maaf tapi wajahnya tak menunjukkan penyesalan sama sekali terbukti ia memasang wajah datar saat mengucapkan kata maaf.  Aku menatap dari atas sampai bawah, pria ini angkuhnya minta ampun padahal ia hanya pelayan di sini. Harus di pertanyakan pelayanan di restoran semewah ini, bagaimana bisa mereka mempekerjakan orang yang yang tak bisa menghargai pelanggannya dengan baik. Bahkan untuk minta saja ia terlihat tak ikhlas padahal kan dia yang ceroboh.  Suara ketukan pelan pada mejaku, menyadarkanku dari lamunan.  "Hoi, matanya jangan lihat gitu kenapa!! Naksir kamu sama saya?" Aku terkesiap mendengar pernyataannya yang baru saja keluar dari mulutnya, apa tadi dia bilang. Aku naksir dia? Yang benar saja, kenal juga baru hari ini. Aku segera berdiri langsung menatapnya tajam.  "Jangan bercanda kamu ya, udah salah minta maaf saja nggak ikhlas sekarang dengan percaya dirinya kamu bilang saya naksir kamu. In your dream!!"  Wajahnya memerah seperti menahan amarah, bodoh amat dah. Emang benarkan yang aku katakan tadi.  "Yang jelas saya sudah minta maaf, lagian saya juga akan bertanggung jawab untuk mengganti iPad kamu yang rusak," ujarnya masih dengan nada angkuh.  Aku tertawa remeh, "Ganti kamu bilang? Kamu hanya pelayan di sini, mana sanggup ganti iPad saya."  Dia menunjuk aku dengan wajah yang garang. "Kamu...." Namun belum sempat ia melanjutkan perkataannya sebuah suara lain terdengar.  "Ada apa ini?" Kami menoleh kompak kesumber suara, seorang pria dewasa yang mungkin juga seumuran dengan pelayan angkuh itu menatap kami dengan tajam secara bergantian. Pelayan itu hanya melengos sedangkan aku memilih bertanya. "Anda siapa, ya?" Pria itu tersenyum sopan. "Saya Raja, salah satu pemilik restoran ini. Ribut-ribut begini ada apa, ya?" Aku tersenyum senang, akhirnya pemiliknya keluar juga tanpa perlu aku mencarinya dengan susah payah. "Perkenalkan saya Shalu, Pak. Ini pelayan Bapak sudah sangat ceroboh menumpahkan minuman yang dia bawa di meja saya lalu airnya kena dengan iPad saya yang ada di meja," jelasku pada pria pemilik restoran ini yang bernama Raja. "Dia juga tadi minta maaf tapi dengan nada yang nggak ikhlas begitu, dan dengan sombongnya mau ganti. Kayak sanggup ganti saja." Ia menatapku tajam, kubalas juga dengan tajam.  Raja berdehem keras, menyadarkan kami dari saling bertatapan tajam. Aku dan pria angkuh melihat lagi kearah Raja.  "Begini saja, sepertinya masalah anda begitu serius maka dari itu bagaimana kalau kita pindah tempat yang lebih privasi untuk membicarakan hal ini. Lagian apa anda nggak sadar kalau sekarang anda dan pelayan saya ini jadi bahan perhatian." Aku seperti tersadar lalu menatap ke penjuru restoran dan benar saja kami memang jadi bahan perhatian di sini.  Kembali menatap Raja, aku akhirnya mengalah. "Baiklah," kataku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN