Jaman sekarang pria dan wanita itu sudah setara, jadi tak masalah kan. Kalau yang mengajak menikah itu wanita duluan..
***
Di sinilah aku berada, di ruang VVIP restoran bersama pria angkuh ini dan juga pemilik restoran yang bernama Raja. Atas saran dari Raja kami akhirnya sepakat untuk menyelesaikan masalah ini di tempat yang lebih privasi, tak lama suara Raja pun terdengar.
"Nah! Sekarang kalau kalian ingin menyambung perdebatan kalian, silahkan." Aku menoleh cepat kearah Raja, apa katanya tadi. Lanjut perdebatan di sini? Yang benar saja, bukannya ia akan menjadi penengah antara kami. Lagian kan yang salah itu pegawainya kenapa malah seperti lari dari tanggung jawab begini.
"Lho, bukannya Bapak Raja ini akan jadi penengah masalah kami? Kenapa Bapak seolah lari dari tanggung jawab begini."
Raja melirik pelayan itu sebentar, lalu menatapku dengan tersenyum. "Bukannya saya nggak mau tanggung jawab, hanya saja saya merasa pelayan saya ini bisa menyelesaikannya sendiri. Benar kan, Irvin?"
Pelayan itu ternyata bernama Irvin menatap dingin pada Raja yang notabene adalah bossnya, sungguh tak ada sopannya sama sekali. Yang di tatap pun balas dengan senyuman jahil, aku benar-benar tak mengerti arti kode-kode antara boss dan pegawai di hadapanku ini.
Aku berdehem keras untuk menarik perhatian mereka berdua. "Ehemm," Sepertinya memang berhasil karena kedua langsung menatapku. "Ini kenapa saling lembar kode-kodean begini," ujarku.
"Ah nggak kok, saya yakin Irvin bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Soalnya saya ada pertemuan penting setelah ini. Dan kamu," tunjuknya pada pelayan itu, "Saya harap kamu bisa bersikap lebih baik lagi kepada pengunjung kita, biar bagaimana pun pengunjung itu adalah raja."
Pelayan itu terlihat mengangguk kaku dengan wajah yang masih datar.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya. Begitu Raja menghilang dari balik pintu, aku beralih menatap pelayan itu yang masih memasang wajah dingin dan kaku. Sambil terus menunggu apa yang akan ia katakan. Namun setelah sekian lama ia tak juga mengeluarkan suaranya sama sekali.
Kerana lelah, aku akhirnya yang membuka suara. "Kalau kamu diam saja kayak begini, bagaimana kalau saya saja yang bicara," Melihat ia masih diam saja aku kemudian melanjutkan. "Saya tahu kamu nggak akan pernah sanggup untuk mengganti iPad saya walau dengan gaji kamu sekalipun, maka dari itu saya akan buat penawaran sama kamu. Saya akan anggap masalah ini selesai tapi dengan menuruti satu permintaan dari saya."
Yang tadinya ia menatapku dingin dan sekarang ia malah menatapku lekat, sampai aku gugup dengan tatapan tajamnya. Ia seperti berpikir sambil terus menatapku, lalu tak lama ia bersuara juga. "Tergantung, kalau permintaan kamu menguntungkan bagi saya akan saya penuhi tapi kalau saya rugi saya nggak akan penuhi."
Aku tersenyum manis. "Oh tentu saja akan sangat menguntungkan bagi kamu," ucapku yakin.
Ia mengangkat sebelah alisnya, "Baiklah, apa permintaan kamu?" tanyanya.
"Kamu harus menikahi saya," ajakku langsung pada pria di hadapanku ini.
Sang pria mengernyit sebentar lalu dengan tampang angkuh menjawab, "Untuk apa saya harus menikahi kamu, kenal saja baru hari ini?"
Aku menatapnya jengah. "Untuk membungkam semua mulut-mulut kotor dari keluarga, tetangga, dan teman-teman saya."
Jujur aku tak tahu kenapa aku nekat mengajukan penawaran pada pria yang bahkan baru aku kenal hari ini, aku hanya yakin ia orang yang tepat untuk membantuku keluar dari masalahku. Ya, aku memang ingin mengajak pria di hadapanku ini menikah. Bukan hanya untuk membahagiakan bundaku, namun juga untuk membungkam mulut semua orang yang ada di sekitarku.
Lamunan terhenti begitu mendengar suaranya kembali.
"Jadi saya hanya dijadikan tumbal sama kamu?" tanyanya dengan menatapku intimidasi.
Aku balas menatapnya dengan berani dan tak gentar menjawab, "Ya."
Pria itu menatap lekat tepat di mataku. Membuatku salah tingkah. "Apa untungnya bagi saya?"
Aku tersenyum menang, ternyata gampang sekali menawarkan pernikahan pada pria yang bahkan belum sehari aku kenal ini.
"Kamu bisa minta apa saja, uang, mobil mewah, atau rumah?" tawarku. Aku yakin ia akan setuju, apalagi aku tahu ia pasti butuh uang untuk hidupnya.
Pria itu menatapku semakin tajam. "Saya memang hanya pelayan di sini, tapi bukan berarti kamu bisa membeli saya dengan uang," jawabannya tentu saja membuatku kaget. Ah aku lupa ego pria dewasa sangat tinggi.
"Terus kamu maunya apa?" Baiklah aku akan mengikuti apa maunya dulu, mengalah untuk menang.
Pria itu menatap aku tepat di mataku kemudian tersenyum licik. "Kamu."
Jawabannya sontak membuatku terkesiap sesaat, mungkin aku salah dengar sekarang. Apa katanya tadi? Aku... Setelah tersadar, aku yang masih menatapnya."Aku?" tanyaku memastikan. Mungkin ia lagi bercanda namun ketika tak ada reaksi yang ia perlihatkan, aku tahu kalau ia serius.
Bukannya menjawab ia malah bahkan bertanya, "Kenapa? Bukannya kamu nggak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk membayar saya untuk menikahi kamu, kamu malah beruntung mendapatkan suami yang tampan seperti saya dan yang pastinya, gratis."
Aku melengos, begitu percaya dirinya saat mengatakan hal itu. Tak mau kalah aku membalasnya cepat, "Sudahlah! Jangan bercanda lagi, saya tahu yang kamu butuhkan sekarang adalah uang."
Masih dengan tatapan dingin ia langsung berdiri dari tempat duduknya, namun sebelum pergi ia berkata, "Kalau begitu kamu bisa cari tumbal lain untuk menikahimu, karena saya nggak akan melakukannya. Berapa uang pun yang kamu tawarkan saya nggak tertarik sama sekali," tegasnya kemudian berlalu dari ruangan ini meninggalkan aku sendirian yang masih melongo atas penolakannya, sebenarnya aku tak heran lagi kenapa ia menolak. Ya, pastinya karena bisa dilihat dari sifatnya kalau ia memang sangat angkuh.
***
Setelah dari restoran aku kembali ke kantor, aku langsung menuju ruanganku. Aku bahkan tak sempat mencoba semua pesananku karena sudah kehilangan mood untuk makan, setelah mendapat penolakan dari pelayan angkuh dan dingin itu aku langsung meninggalkan ruang VVIP dan pergi dari restoran tanpa berbalik lagi.
Sungguh harga diriku sangat jatuh, bisa-bisanya ia berani menolakku bahkan statusnya hanya pelayan saja. Sungguh harga dirinya sangat tinggi, aku kira karena ia hanya seorang pelayan begitu ditawari uang dengan jumlah banyak ia akan luluh. Ternyata tidak sama sekali, bahkan dengan beraninya ia menawarkan diri dengan aku yang ia mau. Yang artinya kami akan menikah sungguhan padahal aku hanya ingin menikah dengannya hanya di atas kertas saja yang artinya hanya kontrak.
Aku tak tahu kenapa aku bisa kepikiran dengan menikah kontrak, ini mungkin pengaruh sinetron-sinetron yang biasa bunda tonton ketika menunggu aku pulang kerja. Karena biasanya aku akan menemani bunda untuk menonton. Ya, mungkin itu. Aku sekarang jadi korban sinetron, ingatkan aku untuk tidak menontonnya lagi nanti.
Begitu sampai di depan ruanganku, Ainun menyadari kehadiranku terkejut. Mungkin ia kaget karena aku tiba-tiba pulang kembali ke kantor padahal baru setengah jam aku keluar tadi, tersadar akan kagetnya Ainun langsung berdiri menyapaku, "Ibu sudah kembali?" tanyanya heran, aku hanya menganggukkan kepala lalu segera masuk ke dalam ruanganku untuk menenangkan diri dulu. Ya, aku butuh sendiri untuk sementara saja tanpa gangguan apapun bahkan dari Ainun sekaligus.
Aku duduk di kursiku sambil menyandarkan punggungku di sandaran kursi, menutup mata sejenak untuk menyegarkan pikiranku yang sempat kacau setelah dari restoran tadi. Asyik dengan pemikiranku sendiri, aku bahkan tak sadar kalau ponselku yang di atas meja bergetar tanda pesan masuk. Dengan gerakan malas aku mengambil ponsel dan melihatnya, ada satu pesan melalui WA dari Eno.
Eno Subakti : Pulang kerja nanti, kita nonton yuks
Tanpa menunggu lama aku dengan cepat membalasnya.
Aku : Gue kayaknya nggak bisa deh, soalnya habis ngantor gue mau langsung pulang saja. Takut bunda khawatir lagi, lo ajak si Ummi saja gih
Aku sengaja menolak ajakannya, alasan pertama karena memang aku ingin langsung segara pulang agar bunda tak kesepian di rumah. Juga alasan kedua karena sekarang moodku dalam situasi buruk dengan bertemu Eno hari ini, ia akan segara sadar ada yang tak beres dengan aku karena ia adalah sahabat yang paling peka.
Eno Subakti : Yaudah deh, lo temanin bunda lo saja di rumah dulu. Gue nonton berdua saja sama Ummi
Sudah aku duga jawaban Eno tak terlalu memaksa kali ini, jangan salah biasanya ia akan berhasil membujukku seperti waktu ikut acara reuni kemarin. Aku hanya membaca tanpa membalas pesannya, tak lama ketukan pintu ruanganku diketuk pelan namun tak lama pintu itu terbuka dari luar memunculkan Ainun sedang berjalan masuk ke dalam ruanganku sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanyaku.
Ainun menyerahkan beberapa katalog yang baru datang, katalog itu biasanya jadi contoh untuk klien-klienku yang akan memakai jasa kami untuk acara pernikahan mereka. "Ini Bu, katalognya sudah tiba."
"Simpan saja di atas meja Ai, ohiya saya minta tolong carikan iPad untuk saya."
Ainun mengerutkan dahinya, "Lho, bukannya Ibu sudah ada iPad ya."
Aku mengangguk, "Iya sih, tapi iPad saya sudah rusak karena terkena air tadi." Tanpa banyak kata pun akhirnya Ainun menganggukkan kepala mengerti lalu pamit ke luar dari ruanganku.
Aku kembali menghela napas panjang, sebaiknya aku pulang. Karena aku mana bisa kerja kalau moodku sudah hancur begini, lebih baik aku istirahat di rumah saja. Ya, itu adalah keputusan yang baik.
***