Bab 8 : Salah Fokus

1928 Kata
Ketika mata terpesona, hati seperti diketuk oleh namanya cinta?  *** Dengan perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya aku bisa sampai ke rumah dengan selamat. Mengapa aku mengatakan begitu sebab aku membawa mobil sendirian dan menyetir dengan keadaan mood yang berantakan seperti ini, jika mengingat kembali kejadian di restoran tadi aku benar-benar ingin sekali memakan orang. Bagaimana tidak jengkel beraninya dia menolak dengan wajah datar seperti itu, apa dia tidak tahu kalau dia baru saja menolak seorang Shalu wanita dewasa yang mempunyai pesona besar bagi kaum adam.  Bukannya aku percaya diri, tetapi itu memang kenyataan. Jangan harap ketika aku pernah dikhianati oleh Arash lantas membuatku kehilangan rasa percaya diri pada diriku, memang sih aku masih takut berhubungan dengan pria dulu namun untuk sekarang aku harus membuang rasa takutku untuk kebahagian bunda.  Ya, aku melakukannya demi bunda. Aku hanya ingin bunda tidak terbebani dengan diriku yang masih sendiri dan dengan mengakhiri masa lajangku dengan segera menikah akan membuat beban bunda sedikit berkurang, padahal Eno sudah melarangmu untuk tidak melakukan hal di luar kemampuanku. Namun membicarakan dengan bunda dari hati ke hati malah membuat hubungan kami menjadi canggung nantinya.  Makanya aku melakukan rencana yang konyol ini. Dengan menghela napas, aku melangkah ke dalam rumah. Begitu sampai ke ruang keluarga aku melihat bunda sedang asyik menonton acara reality show di salah satu TV nasional, menyadari aku sudah di rumah jam segini membuat bunda mengecilkan volume TVnya dan membuka suaranya ketika aku duduk tepat di sampingnya.  "Kamu kok udah pulang sih jam segini?" tanya bunda menatapku lembut seperti biasa.  "Iya, Bun. Aku lagi nggak enak badan, jadinya pulang cepat. Di sana kan udah ada Ainun yang handle," jawabku sambil menaruh kepalaku di bahu bunda. Bunda menepuk pelan lenganku dengan sayang membuat aku merasa nyaman.  "Kalau nggak enak badan kenapa kamu masuk kerja. Ya udah, kamu sekarang istirahat sana. Bunda akan buatkan kamu bubur hati ayam kesukaan kamu dulu," ucap bunda membuatku menegakkan kepala lalu mengangguk menyetujui ucapannya.  Akupun pamit naik ke kamar untuk istirahat sekaligus mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, mungkin setelah mandi aku bisa berpikir dengan baik. aku berniat mandi saja namun ketika aku masuk kamar mandi aku malah memilih merendam, baru saja akan aku menutup mataku suara ketukan pintu kamar mandi terdengar dan tidak lama suara bunda terdengar memanggil.  "Sha, udahan dong mandinya. Bubur kamu sudah jadi nih," sahut bunda dari luar, aku segera berdiri dan memakai kimono melangkah keluar untuk menemui bunda yang sudah ada menungguku di kamar.  Benar saja bunda sudah ada di sofa dekat jendela kamarku dengan mampan bubur dan s**u berserta air putih di atas meja samping sofa yang bunda duduki, aku melangkah ke lemari dan mengambil piyama lengan pendek dan celana bahan katun yang halus. Setelah memakainya aku menghampiri bunda yang memberikan mangkuk bubur hati ayam kesukaanku.  Aku langsung memakan bubur buatan bunda dengan lahap, aku bahkan tidak sadar kalau bunda menatapku lekat. Sampai suara bunda menyadarkanku.  "Makannya pelan-pelan, Sha. Buburnya nggak akan lari kok," kata bunda sambil menahan senyum. Aku langsung tersenyum gugup lalu dengan pelan aku kembali melanjutkan makanku. Hampir sepuluh menit akhinya bubur yang ada dimangkuk habis tidak tersisa, bunda kemudian memberikan air putih untukku minum.  "Makasih, Bun." Aku tersenyum setelah menaruh gelas yang sudah setengah di atas mampan.  "Sama-sama, Sayang! Sebaiknya kamu istirahat saja sekarang, kamu kelihatan sangat capek. Semoga besok sudah baikan, atau kamu nggak usah masuk kerja dulu saja?" Aku tahu bunda sekarang sedang khawatir namun tidak masuk kantor malah aku keteteran karena masih banyak pekerjaan yang akan aku selesaikan belum lagi meeting dengan klien, makanya dengan cepat aku menolak sarannya.  "Nggak bisa, Bunda, aku besok sangat sibuk jadi nggak mungkin aku nggak masuk kantor." "Ya udah kalau gitu, kamu tidur saja. Bunda keluar, ya?" Kelihatan bunda seperti enggan dengan jawabanku namun tetap tidak memaksaku sama sekali dan memilih berjalan keluar sambil membawa mampan yang sudah kosong karena gelas s**u sudah aku minum sampai habis tadi.  Aku kembali sendiri di kamar, dengan langkah malas aku berjalan ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuhku dan menyambut hari esok dengan semangat kembali. Melupakan kejadian memalukan hari ini. Aku menutup mata dengan lambat-lambat akhinya tak lama tertidur lelap.  Paginya aku bangun dengan badan segar, melihat kearah jam digital yang berada di nakas tepat pukul 5.00 pagi aku segera bangun untuk menunaikan ibadah salat subuh. Bukannya kewajiban setiap agama Islam untuk menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangan-Nya, aku sebenarnya bukan manusia yang taat-taat banget pada ibadah. Namun aku sudah sadar dengan umurku yang makin bertambah.  Setelah berwudhu dan sholat dua rakaat, aku bergegas masuk kembali kamar mandi untuk mandi. Hari banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan. Selain meeting dengan klien, aku juga akan meeting dengan anak-anak team yang akan bertugas untuk menangani acara salah satu klien. Beginilah bekerja di WO, namun aku senang menjalaninya karena memang aku sangat menyukai pekerjaan ini. Membantu membuat acara yang mewah dan elegan untuk memuaskan klien.  Setelah memakai pakaian, aku bergegas turun untuk sarapan. Pasti bunda sudah memasak untuk sarapan, begitu sampai di ruang makan aku melihat semua makanan sudah tersaji di atas meja. Aku tersenyum berjalan kearah bunda yang posisinya membelakangiku dan langsung memeluk bunda dari belakang.  Bunda sempat menegang setelah itu menjadi rileks karena tahu, siapa lagi yang akan memeluknya kalau bukan aku. Bunda berbalik dengan wajah cemberut.  "Kamu bikin kaget Bunda saja tahu nggak, kalau bukan kena serangan, gimana?"  Aku mengerutkan bibirku. "Ih, Bunda kok malah ngomong yang nggak-nggak sih." Bunda terkekeh geli, tak lama wajahnya kembali serius. "Kamu udah enakan badannya?" Aku mengangguk. "Jadi udah mau masuk kerja juga?" "Iya, Bunda. Hari ini akan sibuk banget, aku nggak mungkin biarin Ainun handle semuanya. Kasihan juga karena dari kemarin dia terus yang tangani kerjaan aku," kataku sambil duduk di kursi dan bunda mengikuti duduk juga.  "Kan udah tugas Ainun sebagai asisten kamu, Sha." Bunda menyerahkan piring padaku yang sudah terisi dengan nasi goreng.  "Tapi kasihan juga, kalau aku bisa bantu kenapa nggak." Aku mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutku, suasana kembali hening karena aku dan bunda sudah menikmati makanan kami masing-masing.  "Ya udah aku berangkat ya, Bun," Aku bersiap setelah nasi dipiring aku sudah habis, aku mencium tangan bunda dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum," pamitku.  "Waalaikumsalam. Hati-hati," pesannya.  Sesampainya di kantor WO, aku langsung naik ke ruanganku kerana aku yakin Ainun sudah ada di atas. Dan benar saja begitu melihatku tiba Ainun segera berdiri dan menyapa, mengikuti aku masuk ke dalam ruangan seperti biasa akan membacakan agendaku hari ini.  "Hari ini jadwal Ibu hanya meeting dengan team untuk resepsi Mas Arhat dan Mbak Esti dan setelah makan siang Ibu akan meeting dengan Ibu Rasya," kata Ainun sambil menutup buku agendanya.  Aku menatapnya. "Apa nggak ada agenda lain?" tanyaku, mungkin Ainun sedikit bingung dengan pertanyaanku. Karena biasanya aku tak pernah bertanya lagi setelah dia sudah membacakan agendaku.  Walaupun bingung, Ainun tetap menjawab, "Iya, Bu. Hanya itu saja." Aku mengangguk namun ketika teringat sesuatu. "Oh ya, apa kamu sudah dapatkan iPad untuk saya?" "Sudah kok, Bu. Tapi barangnya akan diantarkan setelah jam makan siang yang artinya Ibu meeting dengan team hanya memakai note dulu," jelasnya tanggap. Aku kembali mengangguk mengerti, tak apa-apa kalau aku pakai note untuk meeting dengan team-ku kali ini.  "Ya sudah, kamu boleh keluar." Ainun mengangguk lalu pamit dari ruanganku. Aku kemudian membuka laptop dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda kemarin.  Sekitar dua jam, Ainun kembali masuk mengatakan kalau meeting akan segera di mulai karena pegawainya sudah lengkap. Akupun menuju ke ruang meeting diikuti oleh Ainun, sampainya aku melihat semua anggota team aku sudah duduk di tempat masing-masing.  Aku tersenyum lalu duduk di bagian kepala meja, kemudian memulai meeting. Oh ya, aku memang punya pegawai yang dibentuk menjadi team yang bertugas dengan kerjaan masing-masing. Meraka tugasnya di luar kantor, merekalah yang mengurus semua acara klien yang berjalan sukses. Kerena kerja keras mereka pula usaha WO aku sangat berkembang maju sampai sekarang.  "Sudah berapa persen konsepnya jadi?" tanyaku.  "Sudah jalan 75%, Bu. Tinggal dekorasi, catering dan souvenir yang belum siap," jelas Bayu, ketua team di sini. Bayu sudah ikut denganku dua tahun. Dia paling senior diantara anggota team yang lain. Makanya aku bisa percayakan padanya untuk tugas ini.  Aku menggangguk. "Terus untuk dekorasi, catering, dan souvenirnya, bagaimana?" "Aku dan Mbak Rahma yang handle, Bu! Hari ini kami mau ke tempat catering dan souvenirnya dan masalah dekorasinya sudah dipegang sama Kia dan Petra," ucap Insa.  Aku kembali mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kalian jalankan dengan baik, ya? Ingat klien kita bukan orang biasa, saya nggak mau dengar klien kita protes atau sampai nggak puas dengan hasil kerja kalian. Makanya saya percayakan penuh semua pada kalian, mengerti?" "Baik, Bu!" jawab semua kompak.  Setelah menyampaikan semua yang aku ingin katakan, akhirnya meeting aku tutup. Aku kembali ke ruangan diikuti oleh Ainun tentunya, ketika sampai ke ruanganku, Ainun langsung mengingatkan kalau sebentar lagi makan siang yang artinya aku sebentar lagi meeting dengan klien.  Karena pertemuannya dilakukan di luar, makanya aku memilih makan di luar kantor saja sekalian bertemu dengan klien sesudah makan siang. Bukannya apa, namun jalanan kalau jam makan siang biasanya macet aku tak ingin membuat klienku malah menunggu lama kalau aku sampai terlambat datang karena macet.  "Kalau begitu saya akan di luar saja sekalian bertemu dengan klien. Kamu tolong handle di sini, ya?" Aku seperti biasa akan berpesan begitu pada Ainun ketika akan ke luar bertemu dengan klien di luar.  Setelah melihat Ainun mengangguk yakin, aku akhirnya ke luar menuju mobilku yang terparkir di bawah lalu mengendarainya ke restoran dekat tempat kantor klien aku.  Karena sudah memasuki jam makan siang, agak susah mendapat tempat duduk apalagi meja restoran ini semua telah terisi. Namun ketika aku melihat ada meja yang kosong aku segera menuju ke tempat tersebut.  Ketika akan duduk, seorang pelayan datang menghampiri tempatku duduk. "Maaf, Mbak! Meja ini sudah dipesan orang!" jelasnya.  "Oh ya? Ya udah saya minta maaf ya, Mbak!" Aku berniat berbalik dan berencana keluar saja dari restoran karena sudah tidak ada lagi tempat sedangkan perutku sudah berbunyi minta diisi, mungkin karena gerakan aku yang yang terlalu cepat hingga membuat keseimbangan tubuhku yang mulai hilang. Aku segera menutup mata dan menunggu tubuhku akan menghantam lantai keramik yang keras, namun setelah menunggu tubuhku seperti melayang dan tidak sampai ke lantai karena penasaran aku membuka mata dan melihat aku sudah dalam pelukan seseorang yang menolongku.  Aku mendongak untuk melihat siapa yang sudah berbaik hati menahan tubuhku dan ketika mataku bertemu dengan mata cokelat gelap yang tajam, aku terpaku sesaat melihat keindahan matanya yang indah lalu mataku turun ke hidung mancung terus beralih ke rahangnya yang tegas kemudian yang terakhir ke bibir yang lumayan tebal berwarna hitam seperti pria ini adalah pecandu rokok.  Namun yang membuat aku salah fokus adalah bibirnya, aku menelan ludah pelan. Bibir itu seperti memanggilku untuk segera mencicipinya.  "Ekhem," Deheman dari pria ini menyadarkanku dari lamunan panjang. "Terpesona, eh?" tanyanya dingin. Membuatku tersadar ketika mendengar suara beratnya yang terasa familiar, aku melototkan matanya begitu melihat dengan kalau pria yang memeluk tubuhku adalah pelayan angkuh berwajah datar.  "Kamu!!" pekikku keras lalu segera melepas pelukannya di tubuhku namun belum sempat terlepas, kaki sebelah kananku terasa sakit sekali sehingga aku memegang kedua lengan pria itu agar aku tidak terjatuh.  "Akh," jeritku kembali mengundang perhatian.  "Kamu kenapa?" tanyanya sambil kembali memeluk pinggangku lebih erat.  "Kakiku sakit," lirihku. Sungguh aku tidak mencari perhatian namun sungguh kakiku sangat sakit sekali.  Aku terkejut ketika tubuhku melayang, tanpa meminta persetujuanku pria ini malah menggendong dengan gaya bridal style dan membawaku keluar restoran. "Kamu mau membawa saya ke mana?" Aku bertanya ketika pria ini berhenti di dekat mobil CRV hitam dan segera membuka pintu penumpang samping kemudi.  Tanpa menjawab, dia malah menurunkan tubuhku dikursi penumpang.  Ya, Allah! Mudah-mudahan aku sedang nggak diculik, doaku dalam hati.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN