Chapter 4

1026 Kata
Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Kematian membuat seseorang terlepas dari rasa sakit yang begitu hebat. Terlepas dari rasa khawatir, takut dan kesedihan. Tubuh Arsen membujur kaku di ruang mayat. Penembakan semalam membuat Giselle menjadi shock. Gadis itu pingsan saat mendapati Arsen akhirnya menghembuskan napas terakhir di pangkuannya. Lelaki itu mati tertembak karena pengorbanan besarnya kepada Giselle. Gadis itu merasa sangat bersalah karena sikapnya yang kekanak-kanakan malah membuat Arsen celaka untuk yang kedua kalinya. Bahkan sampai merenggut nyawa Arsen. Gadis itu tidak bisa menahan diri dan akhirnya pingsan. Semua para pekerja panik saat mendengar bunyi tembakan dari lantai atas berbarengan dengan bunyi sirine polisi yang datang. Mereka bergegas keluar gudang dan sebagian anak buah Arsen langsung naik ke atas untuk mengecek keadaan Giselle dan Arsen. Mereka terkejut melihat Arsen mati tertembak dan melihat Gisella yang terkulai lemah memangku Arsen. Melihat keadaan tersebut, mereka langsung menelpon Winata Yoga yang kebetulan sedang perjalanan pulang. Para keamanan polisi langsung membersihkan TKP dan membawa mayat Arsen dan Giselle ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan khsusus untuk Giselle dan autopsy pada mayat Arsen sambal menunggu kedatangan Winata yoga untuk selanjutnya. Suasana kediaman pejabat itu masih terasa begitu mencekam. Aksi tembak menembak masih begitu jelas dalam ingatan para pembantu di rumah. Mereka tidak menyangka hal itu membuat Arsen harus kehilangan nyawa. Ada rasa kehilangan, bagi mereka Arsen adalah sosok yang baik. Lelaki itu mempunya dedikasi yang besar kepada keluarga yang telah memberinya pekerjaan. Kepercayaan Winata Yoga seolah membuat Arsen benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai kepala pengawal dengan baik. Bahkan untuk masalah sepele Arsen melakukannya dengan baik. Termasuk mengatasi Giselle saat gadis itu berulah. Gadis yang selalu mengikuti Arsen ke manapun Arsen pergi itu harus menerima kenyataan sosok lelaki yang menjadi impiannya telah tewas tertembak. Sosok lelaki yang selalu ia impikan menjadi lelaki impiannya kelak. Kelembutan hatinya seolah menjadi penghangat Giselle saat gadis itu merasa sendiri di sela kesibukan kedua orang tuanya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?” Winata Yoga baru saja datang dan langsung pergi ke rumah sakit. Ia menengok putrinya yang di rawat di rang V-Vip yang dijaga khusus pihak kepolisian dan team keamanannya. “Maafkan kami yang lengah, Tuan, kami juga tidak tahu jika akan seperti ini kejadiannya.” Salah satu pengawal senior menjawab pertanyaan Winata Yoga. Ia juga menceritakan awal mula kejadian penyerangan itu terjadi. Pengintaian di dermaga yang mengakibatkan dua pengawal tewas dan tangan kanan Adi Putro tewas di tangan Arsen. Penyerangan kediaman Winata Yoga seperti balas dendam dari perkelahian di dermaga itu. Sekaligus pembalasan dendam kepada pihak Winata Yoga karena Arsen telah menggagalkan transaksi mereka dan membunuh salah satu tangan kanan terbaik Adi Putro. “Giselle?” Winata Yoga memastikan jika puterinya ikut terlibat. Pengawal itu hanya mengangguk tidak berani berkata apa pun. Ia takut sang tuan marah karena mendengar putrinya sempat dalam keadaan berbahaya. “Apa mau kamu, Nak?” Winata Yoga mendekati Giselle yang masih terkulai lemah. Matanya terlihat bengkak karena menangis. Sang ayah hanya bisa menggeleng mendengar cerita tentang perilaku anaknya yang selalu membahayakan keadaan orang lain. Sang istri mencoba menenangkan sang suami. Wanita cantik berkulit putih itu terlihat begitu khawatir melihat keadaan putrinya. Mendengar kabar yang mengejutkan dari pihak kepolisian membuat mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan keduanya, Giselle dan Arsen. “Di mana Arsen?” “Di ruang mayat.” Winata Yoga mengembuskan napasnya kasar. Ia merasa kacau karena orang kepercayaan sekaligus pengawal terbaik miliknya harus meninggal dunia karena tertembak. Ia merasa kehilangan lelaki terbaik untuk melindungi keluarga dan putrinya. “Uncle… jangan tinggalin Giselle. Jangan …” Giselle terdengar mengigau. Gadis itu terus saja memanggil nama Arsen dalam tidurnya. Air matanya meluncur dari sudut matanya. Ibunya berusaha menenangkan Giselle dan memanggil perawat untuk mengatasinya. Giselle terdengar Kembali histeris dan menangis. Gadis itu seolah tidak bisa menerima kenyataan jika Arsen telah meninggal. Ia sangat merutuki kebodohannya selalu beraminmain dengan situasi genting. Ia tidak memikirkan keselamatan siapa pun yang selalu terancam karena ulahnya. Winata Yoga memilih keluar bersama pengawalnya dan pergi melihat keadaan Arsen. Ia juga telah berbicara dengan pihak kepolisian kemungkinan untuk menjerat pelaku penyerangan kediaman miliknya. Akan tetapi, semuanya terasa sulit. Pihak kepolisian tidak menemukan bukti kuat yang mengarah ke arah Adi Putro. Bahkan penguasa itu mempunyai perlindungan khusus yang membuat Winata Yoga atau pihak kepolisian tidak mudah meneyntuhnya. Kematian Arsen seolah sangat menguntungkan bagi mereka. Tidak ada lawan sebanding yang membuat mereka takut dan mundur. Dendam mereka terbalas dengan kematian John. Tubuh kekar dan tinggi itu terbujur kaku terbalut kain putih menutup tubhnya. Goresan luka dan beberapa luka lebam masih terlihat jelas pada wajah pucatnya. Sosok Arsen sangat melekat pada Winata Yoga. Hanya dia satu-satunya yang bisa dipercaya. Dan sekarang Arsen tewas dan pergi untuk selamanya. “Aku harus mencari cara lain. Ini tidak bisa dibiarkan. Adi pUtro akan merasa menang.” Winata Yoga langsung menelepon temannya yang berada di U.S.A untuk mengatakan keinginannya soal pemasangan chips pada tubuh yang telah meninggal. Beberapa bulan yang lalu ia bertemu dengan Prof. Ruizen yang menunjukkan eksperimennya tentang chips yang ditanamkan pada tubuh manusia untuk menggerakkan semua sistem di tubuh. Manusia akan terlihat normal seperti layaknya manusia pada umumnya. Hanya saja beberapa ingatan akan musnah dan bahkan pemakai chips itu tidak akan mengingat sama sekali kejadian masa lalu yang sangat membekas di hatinya. Sistem yang terpasang pada jantung akan membuat manusia kembali hidup seperti robot manusia yang memiliki kempuan berpikir dan menalar layaknya manusia. Hanya saja hatinya yang terkontrol sistem membuat tubuh itu tidak akan pernah merespon hal yang sentimentil ke perasaan. Akan tetapi, chips itu akan berfungsi lebih saat mendapat reaksi emosi yang berat. Emosi akan menjadi tidak terkontrol dan mengakibatkan penggunanya bisa mengeluarkan kekuatan besar yang dapat merusak. Winata Yoga Kembali mempertimbangkan kemungkinan hal buruk yang terjadi jika dirinya mengambil keputusan itu. Kemungkinan buruk yang terjadi adalah Arsen tidak akan mengingat Giselle sebagaimana mestinya. Semua dalam diri Arsen oleh dikendalikan oleh satu sistem yang berasal dari chips. “Baik, saya akan segera mangatur keberangkatan ke sana.” Winata Yoga menutup teleponnya dan yakin mengambil keputusan tersebut tidak salah. Semua ia lakukan untuk keselamatan keluarganya dan semua. Ia juga sudah siap jika Giselle harus kecewa mendapati lelaki yang sangat jauh berbeda dari diri Arsen yang sebelumnya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN