Tidak menunggu lama, akhirnya Winata Yoga mengatur keberangkatannya ke U.S.A tanpa sepengatuhan Giselle. Ia tidak ingin putrinya menenatng apa yang dilakukannya. Ia juga meminta pihak kepolisian untuk merahasiakannya. Ia tidak ingin Adi Putro mengetahui apa yang telah dilakukannya. Ia juga meminta pihak kepolisian untuk Mengembuskan kabar jika Arsen telah meninggal karena tertembak.
Winata Yoga telah berangkat Bersama beberapa team keamanan dan beberapa anak buahnya. Mereka langsung terbang ke U.S.A tanpa membiarkan Gselle melihat mayat Arsen untuk yang terakhir kalinya. Gadis itu masih dalam pengaruh obat bius begitu lama hingga gadis itu tertidur lama setelah histeris.
Giselle terbangun mendapati ibunya duduk di samping brankar. Wanita itu terlihat begutu Lelah menemaninya. Wajahnya Lelah sekali karena belum sempat beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Ia menjaga Giselle yang terus saja memanggil nama Arsen berulang kali. Gadis itu mengigau terus belum bisa menerima kenyataan Arsen meninggal dunia.
“Ma …” Giselle memanggil lirih mamanya.
Wanita itu terbangun dan langsung mendekat. Ia menanyakan apa yang diinginkan putrinya. Wanita itu mengambil air putih dan memberikannya pada Giselle.
“Ma … Uncle …”
“Giselle, tenanglah. Semua sudah terjadi. Jangan membuat dirimu menyesal. Semua sudah menjadi takdir.” Ny. Winata Yoga mencoba menasihati sang putri. Jangan sampai karena putrinya terlarut dalam kesedihan hingga membuatnya terpuruk.
“Semua salah Giselle. Aku terlalu bersikap kekanak-kanakan hingga membuat uncle harus terluka.” Gadis itu menyadari kesalahannya semalam yang membuat Arsen malah tertembak karena kelengahannya.
Ny. Winata Yoga tersenyum. Ia paham betul denga napa yang semuanya terjadi. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Giselle tentang atas kematian sang pengawal. Baginya semua itu sudah menjadi garis hidup Arsen. Tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali Tuhan berkehendak.
Wanita itu mencoba menghibur putrinya dan Kembali memberi pengertian pada Giselle. Jangan sampai putrinya selalu terlarut dalam masalah dan berbuat nekat karena pemikirannya. Ia sangat paham bagaimana Giselle bertindak. Anak gadisnya belum sepenuhnya dewasa di usia yang bisa dikatakan cukup matang bagi seorang perempuan. Gadi masih selalu bersikap manja dengan pikirannya yang masih seperti ABG usia 17 tahun. apa yang ia inginkan harus dituruti dan tidak ada kata tidak baginya.
“Ma … antar aku beretemu dengan Uncle Arsen untuk terakhir kalinya.” Giselle memohon kepada mamanya.
Wanita itu terlihat berpikir dan belum sadar jika sang suami dan Arsen telah pergi meninggalkan rumah sakit beberapa menit yang lalu.
Winata Yoga memang sengaja tidak memberitahunya dengan alasan keamanan. Ia hanya berpesan kepada pihak rumah sakit untuk tetap merahasiakan kepergiannya dan meminta mereka mengatakan jika mayat Arsen telah dikubur dengan alas an keamanan.
Giselle dan ibunya keluar kamar untuk melihat mayat Arsen. Kedua Wanita itu berjalan menyusuri koridor dengan ditemani anak buah Arsen yang masih hidup. Mereka hanya diam dan tidak berbicara sepatah kata apa pun. Saat tiba di depan ruang mayat Giselle hanya merasa aneh melihat pintu yang tertutup rapat tanpa penjagaan. Padahal harusnya ada polisi atau team keamanan yang berjaga di sana.
Tidak sabar gadis itu langsung membuka pintu kamar dan terkejut tidak mendapati mayat Arsen di sana. Tidak ada siapapun di dalam ruangan. Hanya beberapa brankar kosong dilapisi kain putih dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat.
Giselle langsung keluar dan langsung pergi menemui perawat yang berjaga . Gadis itu tidak sabar jika harus menungg terlalu lama. Ny. Winata Yoga terlihat kewalahan mengejar Giselle. Kondisi anaknya belum begitu stabil. Ia takut anaknya Kembali jatuh pingsan karena belum bisa menerima kematian Arsen.
“Giselle!” Ny. Winata Yoga masih memanggil putrinya.
Gadis itu tidak menggubris dan masih saja lari menuju ruang jaga perawat di sebelah utara ruangan.
“Mbak, di mana Uncle Arsen? Kenapa tidak ada di ruang mayat?” Giselle memaksa. Ia merasa kecewa tidak bisa melihat mayat Arsen untuk terakhir kalinya.
Mereka berpandangan mendengar pertanyaan Giselle. Salah satu mereka menelepon dokter agar bisa ke ruang jaga bertemu dengan Giselle menjelaskannya. Mereka takut salah bicara dan membuat Giselle semakin histeris.
“Mbak … ke mana?” Giselle masih memaksa. Ia tidak sabar nendengar jawaban mereka.
“Giselle sabarlah, dokter akan segera datang.” Sang mama masih berusaha menenangkan putrinya agar tidak membuat keributan.
Tidak mau menarik perhatian. Ny. Winata Yoga menarik putrinya untuk duduk di bangku memanjang di sebelah ruang jaga. Ia ingin putrinya bisa lebih tenang menghadapi semuanya.
“Tenanglah, kondisi kamu belum pulih.”
“Ma ….”
“Giselle …”
Kedatangan dokter membuat Giselle langsung beranjak dan tidak sabar bertanya tentag keberadaan Arsen. Sang Dokter kemudian menjelaskan bahwa mayat Arsen telah dibawa pergi pihak keluarga untuk segera di urus mayatnya.
Seketika Giselle langsung lemas mendengarnya. Ny. Winata Yoga juga menanyakan keberadaan sang suami. Dokter menjelaskan jika setelah mayat Arsen pergi Winata Yoga langsung Kembali bertugas dengan kawalan beberapa polisi dan pihak keamanan. Setelah selesai menjelaskan, sang dokter meminta izin pergi untuk Kembali bekerja.
“Sayang, tenanglah. Memang sudah ketentuannya Arsen meninggal dan harus segera dimakamkan.” Ny. Winata Yoga lagi-lagi harus menghibur putrinya.
Gadis itu duduk dengan tatapan kecewa. Ia masih belum percaya kepergian Arsen yang begitu cepat. !5 tahun bukanlah waktu yang sebentar mereka Bersama. Ia mengenal Arsen sejak kecil hingga sekarang. Kedekatan mereka tidak bisa terpisahkan saat itu. Arsen begitu baik menjaganya hingga beranjak dewasa.
Lelaki bertanggung jawab itu selalu melindungi Giselle dari bahaya apa pun. Namun, semuanya telah berakhir. Giselle harus menjalani hidupnya sendiri tanpa seorang Arsen yang selalu memaksanya untuk berangkat kuliah, memaksanya makan, memaksanya memakai sabuk pengaman dan memaksanya untuk selalu tersenyum saat kedua orang tuanya begitu sibuk. Giselle harus melewati harinya sendiri.
Berapa banyak pengawal pengganti Arsen tidak akan bisa menggantikan sosok bertubuh tegap dan tinggi itu. Arsen tetaplah Arsen, tidak ada yang bisa menggantikan kehadirannya.
Ny. Winata Yoga akhirnya Kembali mengajak puterinya untuk Kembali ke ruang rawatnya. Ia tidak ingin Giselle semakin menurun kondisinya karena kehilangan Arsen. Beberapa pengawal terlihat baru saja datang mencari keberadaan mereka yang menghilang begitu saja. Mereka tampak begitu khawatir karena mendapat amanat dari Winata Yoga untuk menjaga keluarganya dengan baik. Terutama Giselle dengan Ny. Winata Yoga. Di saat seperti ini adalah kemenangan bagi Adi Putro melihat kematian Arsen. Mereka akan merasa bebas melakukan berbagai transaksi dan paling penting, Winata Yoga tidak memiliki kekuatan yang kokoh sepeninggal Arsen.
“Nona, sebaiknya kita Kembali ke ruang rawat.” Seorang pengawal menghampiri Giselle membantu memapahnya.
“Tidak perlu! Aku bisa sendiri.” Giselle bersikap ketus. Ia tidak menginginkan kehadiran mereka.
Ny. Winata Yoga meberi kode pada mereka agar berjalan di balakang mereka. Menandakan jika keadaan Giselle sedang tidak baik. Mereka menurut dan berjalan di belakang membiarkan Giselle dan sang Nyonya berjalan terlebih dahulu.