Chapter 6

1053 Kata
Part 6 Tubuh kaku berada di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan canggih di dalamnya. Winata yoga telah berkonsultasi dan berbicara dengan Prof. Ruizen dan beberapa temannya dengan dampak terburuk yang terjadi dan rentan waktu chips tersebut. Menurut Ruizen chips yang terpasang hanya memiliki masa waktu lima tahun untuk bertahan. Setelah waktu itu habis, kekuatan chips itu akan melemah dan membuat tubuh Arsen tidak akan berfungsi lagi dengan baik. Selama pemasangan chips team ahli akan melakukan pengawetan tubuh Arsen dengan formula yang mereka siapkan agar tubuh itu tidak membusuk. Menyiapkan semua elemen penting yang akan terpasang di dalam tubuh Arsen agar tersambung dengan pusat inti chips pada jantung. Semua serangakian itu bisa memakan waktu hampir satu bulan untuk mendapatkan Arsen kembali seperti semula. Selama itu Winata Yoga akan Kembali ke Surabaya agar tidak membuat yang lain curiga. Membuat berita kematian Arsen memang benar adanya. Tubuh Arsen mulai diawetkan selama beberapa hari di ruangan khusus yang mereka buat. Tubuh yang hampir membusuk itu Kembali terlihat kencang seperti semula. Tidak ada bau busuk yang tertinggal. Bekas tembakan yang bersarang di d**a Arsen dibersihkan dan team bedah langsung membukanya untuk menyiapkan elemen yang disiapkan. Sebuah layar monitor menunjukkan skema operasi tubuh Arsen untuk melihat pemasangan chips pada jantung Arsen. Menyambungkan semua system yang telah terekam dan membuat Arsen Kembali normal. Profesor Ruizen tampak begitu serius melihat luka yang bersarang pada jantung Arsen. Ia agak kesusahan untuk memasang benda kecil itu kedalamnya. Ia bertukar pendapat untuk melakukan segala kemungkinan yang ada jika dirinya gagal dalam pemasangan chips kali ini. Sebuah reputasi nama akan ia pertaruhkan. Setelah berhasil, ia akan melakukan eksperimen dengan mengendalikan Arsen dari monitor pengatur chips. Jika hal itu berhasil. Ia akan memasang system kendali itu pada elemen terkecil di chips tersebut yang akan menjadi elemen pengendali semuanya secara otomatis. Semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Percobaan itu bisa terjadi berulang kali jika professor Ruizen salah menempatkan elemen tersebut dan tubuh Arsen tidak bereaksi. Namun, bisa saja cepat jika tubuh Arsen dapat menerima semua elemen system yang terpasang di tubuhnya dengan baik. Sementara itu, kepulangan Winata Yoga membuat Giselle marah dan kecewa kepada sang papa. Ia merasa lelaki itu tidak membiarkan Giselle untuk bertemu dengan Arsen yang terkahir kalinya. Giselle sengaja mengunci dirinya di dalam kamar dan tidak mau makan di luar bersama Winata Yoga dengan sang istri. Beberapa hari Giselle masih berduka. Ia tidak bisa begitu saja melupakan sosok Arsen. Hal yang paling membuatnya bersedih karena dia adalah penyebab semuanya. Masih teringat jelas semua terjadi di kamar tempatnya tidur. Giselle merengek menahan Arsen dan berakibat Arsen terbunuh karena sikap kekanak-kanakannya. Tok tok tok Ketukan pintu terdengar berulang kali. Winata Yoga memanggil putrinya berulang kali, tetapi Giselle masih berbaring menutup tubuhnya dengan selimut. Ia tidak peduli dengan ketukan pintu dan suara yang memanggil Namanya berulang kali. “Giselle! Giselle!” Winata Yoga memanggil sang putri. Ia merasa khawatir hal buruk terjadi. Beberapa hari sang gadis mengurung diri di kamar tidak mau keluar. Giselle hanya makan satu kali saat Winata Yoga pulang ke rumah. Setelahnya Giselle memilih mengurung diri dan tidak mau makan sama sekali. “Sayang, buka pintunya. Jangan seperti ini.” Kembali Winata Yoga berusaha membujuk anak gadisnya. Ia masih mempunyai beberap jam sebelum harus memimpin rapat di balai kota. Ia menyempatkan sedikit waktu untuk mencoba berbicara dengan Giselle. “Giselle ini Papa. Bukalah pintunya.” Giselle tidak beranjak dari tempatnya. Ia terus menangis dan menangis hingga matanya Lelah untuk merasakan semuanya. Tidak mau menunggu lama, Winata Yoga memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintu kamar sang gadis. Mereka berhasil membukanya dan terlihat Giselle berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. Pria berwibawa itu berjalan mendekat. Sesekali ia memang harus meluangkan waktu untu berbicara lebih dekat dengan Giselle semenjak kematian Arsen. Winata Yoga sangat paham bagaiamana kedekatan mereka sejak dulu. Putrinya begitu ketergantungan dengan sosok Arsen yang selalu memanjakannya. Kematian Arsen seolah membuat Giselle kehilangan separuh nyawanya. “Giselle.” Winata Yoga membuka selimut putih yang menutup tubuh Giselle. Gadis itu tampak berantakan dengan mata yang terlihat sembab. Giselle bergeming dan Kembali menutup tubuhnya. Tidak mau bersuara sebagai tanda protes kepada Winata Yoga. “Maaf, Papa minta maaf. Papa tidak ingin kamu semakin bersedih dengan kematian Arsen. Papa harap kamu bisa mengerti.” Giselle masih tidak bersuara. Ia tidak peduli dengan alas an yang dikatakan papanya. Baginya semua itu tidak bisa mengubah rasa sedihnya. “Semua itu terjadi karena takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri. Arsen tidak akan suka melihatmu seperti ini.” Mendengar nama Arsen membuat Giselle langsung beranjak. Ia mengusap air matanya dan melihat ke arah Winata Yoga. “Pa, tapi kenapa Papa enggak nunggu Giselle untuk melihat Uncle terkahir kalinya?” “Papa tidak mau kamu terpuruk ketika melihat mayat Arsen.” “Pa…” Giselle Kembali menangis. Gadis berstatus mahasiswa itu seolah tidak peduli dengan usianya yang telah dewasa. Winata Yoga mencoba menghibur putrinya dan memberi kode pada pnegawalnya agar meninggalkan mereka berdua. Satu momen yang sangat langka  terjadi saat Winata Yoga meluangkan waktu dengan Giselle anaknya. “Bagaimana kalau kita pindah rumah saja. Hal ini sangat baik untuk emosimu. Kamu tidak akan teringat terus dengan Arsen.” Lelaki berbibawa itu telah merencanakan kepindahan mereka untuk kebaikan putrinya dan tentunya untuk menghindari Adi Putro. Setelah penyerangan malam itu Winata Yoga sangat yakin Adi Putro masih tetap mengincar Giselle untuk menjatuhkannya. Kematian Arsen adalah awal dai kebahagiaan mereka. Selanjutnya bisa dipastikan Giselle adalah sasaran selanjutnya.  “Pa, bisakah Papa menghentikan semua permusuhan ini. Kali ini Uncle Arsen, besok bisa juga nyawaku terancam, besoknya lagi Mama dan besoknya lagi Nyawa Papa yang terancam. Aku lelah, Pa. Aku ingin hidup normal.” Giselle mengeluarkan keluh kesahnya. Permusuhan mambuat banyak korban berjatuhan karena ego kedua pihak. Salah satu tidak ada yang mau mengalah dan malah sibuk menghimpun kekuatan untuk saling menyerang dan menjatuhkan. “Kamu tidak tahu apa yang terjadi. Papa tidak bisa membiarkan kecurangan dan kejahatan berkuasa. Jika Papa meninggal Papa sangat ikhlas, tetapi tidak dengan kamu dan mamanya. Seluruh kekuatan akan papa himpun untuk melindungi kalian semua.” “Termasuk mengorbankan uncle.” “Arsen adalah orang terbaik Papa. Kamu harus ingat tidak akan ada yang bisa membunuh Arsen kecuali dirinya sendiri.” Ucapan winata Yoga seolah mengandung makna tentang kehadiran Arsen Kembali, tetapi Giselle masih belum mengerti ucapan papanya. Ia hanya berpikir manusia tidak akan bisa hidup Kembali setelah meninggal. Semua akan kekal di tempatnya      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN