Seluruh keluarga Winata Yoga telah pindah di tempat yang baru. Sebuah hunian sederhana yang terletak di daerah paling selatan kota Surabaya. Sengaja Winata Yoga memilih tempat yang jauh dari keramaian agar terhindar dari mata-mata anak buah Adi Putro. Beberapa hari ini Giselle pun harus tetap berada di rumah sampai keadaan kondusif kembali. Winata Yoga tidak ingin mengambil resiko kembali saat Arsen tidak ada. Beberapa kejadian yang hampir membahayakan putrinya membuat lelaki itu kembali memperketat penjagaan dan meminta Giselle dan sang istri tetap berada di rumah. Agenda Ny. Winata Yoga untuk acara amal bakti di beberapa panti asuhan dan yayasan sosial lainnya terpaksa harus dibatalkan. Semua agenda itu akan digantikan lainnya dengan alasan Ny. Winata Yoga ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalakn.
Sejak tinggal di tempat yang baru, Giselle merasa jenuh. Ia tidak tahu harus apa yang akan ia lakukan. Mengerjakan tugas mata kuliah secara daring membuat gadis itu bosan. Ia Kembali mengingat Arsen yang selalu menemaninya saat mengerjakan tugas. Lelaki itu yang selalu menghiburnya saat dilanda bosan.
Giselle menutup laptopnya dan melihat kolam renang yang terlihat dari jendela kamar. Kolam itu mengingatkan Giselle pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat Giselle berpura-pura tenggelam dan Arsen menolongnya. Lelaki itu dengan sigapnya membawa Giselle menepi dan wajahnya tampak begitu panik saat melihat Giselle berpura-pura tidak sadarkan diri.
“Giselle …!” Arsen berulang kali menepuk pipi Giselle. Matanya terpejam dan tubuhnya terasa dingin. Arsen langsung memanggil pelanyan untuk mengambilkan handuk.
Giselle yang hanya berpura-pura tersenyum dalam hati. Ia membuka sedikit matanya untuk mengecek apa yang terjadi. Lelaki tegap itu terlihat begitu panik dan khawatir. Lelaki yang awalnya hanya menunggu Giselle di tepi kolam itu enggan menerima ajakan Giselle untuk berenang bersama. Gadis itu merasa kesal dan akhirnya muncul ide jahilnya untuk membuat Arsen panik. Apa yang direncanakannya ternyata sukses membuat lelaki itu panik. Arsen langsung masuk ke dalam kolang dan membawa tubuh Giselle menepi.
Lelaki bertubuh tegap itu mengangkat tubuh Giselle ke tempat yang lebih teduh. Berulang kali lelaki itu mencoba memompa d**a sang gadis untuk mengeluarkan air yang masuk. Ia sudah panik dan bingung harus melakukan apa. Giselle hanya bisa tersenyum dan berharapa Arsen akan memberinya napas buatan seperi yang dilakukan di film-film.
Detik demi detik Giselle masih menunggu. Tidak ada hal apa pun yang terjadi. Tidak sabar Giselle Giselle membuka mata dan tersenyum, Arsen duduk di samping Giselle dan lelaki tegap itu terlihat merasa lega.
“Kamu baik-baik saja?”Arsen bertanya penuh khawatir. “Apa kita perlu ke rumah sakit? Aku akan menelpon Dokter Rian agar segara memeriksa keadaanmu.”Arsen beranjak dari tempatnya.
“Uncle bro mau ke mana?” Giselle menarik tangan lelaki itu. Arsen Kembali duduk dan merasa aneh melihat wajah Giselle yang tampak baik-baik saja. Bukan kali pertama Giselle selalu mempermainkannya.odohnya Arsen percaya dan selalu menurut.
“Katakan padaku apa ini sebuah lelucon?” Arsen menangkap ada keanehan. “Kamu membohongiku?”
Giselle tersenyum, bibirnya terlihat merekah karena berhasil membuat lelaki seperti Arsen panik. Gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan santainya ia beranjak dan duduk di tepi kolam.
“Siapa suruh enggak mau nurut.” Gadis itu kembali beranjak ke tepi kolam.
Arsen mengikutinya dan duduk di samping Giselle. Gadis itu terus saja mengayunkan kakinya bernyanyi riang. Tubuhnya yang terasa dingin perlahan menghangat karena sinar matahari. Kulit putihnya terlihat mulai memerah.
“Sebaiknya kamu lekas ganti baju. Sebentar lagi keluarga besar Haikal akan datang untuk makan siang.” Arsen hanya sekadar mengingatkan. Ia tidak peduli dengan tipuan Giselle untuk memancingnya.
Haikal adalah anak dari salah satu mitra bisnis Winata Yoga yang berniat akan menjodohkan keduanya. Haikal dan Giselle sendiri pernah bertemu saat pesta di balai kota. Lelaki berusia 25 tahun itu tertarik pada pandangan pertama saat melihat Giselle bersama ayahnya. Lelaki itu tidak melepas pandangannya sedikit pun dan berusaha mendekatinya. Haikal berhasil mendapatkan kontak Giselle dan terus saja menghubunginya. Beberapa kali Haikal mengajak Giselle makan malam dan gadis itu menolaknya. Ia merasa tidak nyaman jika harus makan malam berdua.
Hingga akhirnya Haikal menggunakan ayahnya untuk mendekati Giselle. Acara makan siang di kediamam Winata Yoga diatur sedemikian rupa untuk mendekatkan keduanya. Dan Arsen sebagai yang bertanggung jawab tentang Giselle. Winata Yoga menekankan agar Giselle mau makan siang bersama Haikal dan keluarganya
“Uncle tidak cemburu?” tanya Giselle. Gadis itu masih penasaran dengan perasaan Arsen kepadanya. Lelaki itu terlalu bersikap datar kepadanya. Tidak terlalu banyak hal yang ditunjukkannya, tetapi perhatian kecilnya mampu membuat Giselle beranggapan jika Arsen begitu menyayanginya lebih dari apa pun.
Giselle merasa tidak suka saat Arsen memberi jarak dengannya. Terlebih saat sang ayah berniat menjodohkannya dengan Haikal. Arsen seketika mulai memasang sikap dan menjaga jarak dengan Giselle. Gadis itu bisa merasakannya. Oleh karena itu Giselle menyusun rencana berpura-pura tenggelam di kolam renang. Hal itu semata hanya untuk memancing reaksi Arsen.
Jarak usia mereka yang terbilang sangat jauh membuat Giselle merasa nyaman dengan lelaki tegas itu. Bahkan Arsen tidak keberatan saat Giselle selalu menjadikannya tempat pelampiasan saat mendapat marah dari ayahnya.
“Kenapa masih di sini? Apa kamu akan berpenampilan seperti ini?”
Giselle masih saja mengayunkan kakinya. Ia tidak mau mendengarkan Arsen jika lelaki itu masih saja membahas tentang Haikal. Bagi Giselle Haikal adalah tipe lelaki yang terlalu terobsesi dengan kecantikannya. Lelaki yang berprofesi sebagai penerus usaha keluarganya itu sama sekali tidak menarik bagi Giselle.
“Sampai kapan uncle bro selalu menyebut namanya?”
“Sampai kamu mau beranjak dan ganti baju. Satu jam lagi Tuan akan pulang dan kamu harus sudah siap menyambutnya.”
“Kalau enggak mau? Uncle mau menggendongku?” Giselle malah berbalik menantang. Gadis itu tersenyum lebar. Ia hanya ingin tahu perasaan Arsen kepadanya.
Arsen berdiri dan mangabaikan pertanyaan Giselle yang selalu memburunya. Ia tidak tahan jika terlalu lama dengan gadis manja yang selalu bersamanya itu.
Arsen berteriak memanggil pelayan untuk membawa Giselle masuk ke dalam. Ia tidak ingin terlalu lama berdebat hingga waktu terbuang sia-sia.
“Uncle!!!” Giselle kesal. Gadis itu berdiri dan menarik tangan Arsen. Mereka berdua jatuh ke dalam kolam dan Giselle tertawa senang. Ia berhasil membuat tubuh Arsen basah. Lelaki itu hanya membuang napas kasar karena tingkah Giselle.
Gadis itu terus saja bersorak menyibakkan tangan di air. Lelaki yang masih bersikap tenang itu hendak pergi, tetapi lagi-lagi Giselle tidak membiarkannya.
“Uncle tidak bisakah kita sebentar saja di sini.”
“Giselle mau sampai kapan kamu di kolam seperti ini? Semua tidak akan merubah keadaan. Aku tetap aku dan kamu tetap kamu.”
Giselle berhenti. Ucapan Arsen membuatnya terhenti. Lelaki itu berlalu naik ke atas. Ia mengambil handuk dan langsung pergi membiarkan Giselle sendiri dengan pelayan. Lelaki itu terus saja berjalan tanpa menoleh. Mencoba bersikap professional dan tidak mencampur adukkan semuanya dengan perasaan. Ia berhutang budi pada keluarga Giselle. Tidak seharusnya lelaki itu berharap lebih pada hal yang memang tidak akan mungkin terjadi.