Chapter 8

1334 Kata
Arsen telah mengganti bajunya yang basah. Ulah Giselle membuat Arsen harus berganti kostum. Padahal beberapa menit lagi tuannya akan segera pulang dan Giselle masih saja betah di dalam kolam. Arsen merasa gagal telah menjalankan tugasnya membujuk Giselle. Gadis itu menunjukkan penolakan keras dengan rencana perjodohannya dengan Giselle. “Kamu tidak tahu seberapa besar usahaku untuk menjauh, tetapi kamu tetap saja selalu seperti itu.” Arsen mengambil kostum kebanggaannya sebagai kepala pengawal. Lelaki itu tidak pernah meninggalkan atributnya sekali pun meskipun pergi mengantar Giselle ke mana pun. Lelaki itu selalu menunjukkan identitasnya dan sekaligus menyadarkannya jika dirinya hanya kepala pegawal, bukan seorang pengusaha atau pejabat. Arsen melihat dari jendela kamar rombongan Winata Yoga telah sampai di halaman rumah. Lelaki itu langsung bergegas keluar kamar untuk menyambut tuannya. Tentu saja untuk melaporkan apa yang terjadi hingga membuat Giselle belum siap. Turun dari lantai atas membuat Arsen harus melewati kamar Giselle. Kamar yang berada di bagian depan lantai dua. Pintunya sedikit terbuka dan membuat Arsen mendengar percakapan dua orang perempuan di dalamnya. Arsen berhenti dan membuka sedikit pintu kamar. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Giselle masih memakai jubah handuknya dengan rambut yang masih basah. Perempuan muda di depannya masih memaksa Giselle untuk memakai baju yang disiapkannya dan membantu sang nona untuk mengeringkan rambutnya. Namun, gadis itu menolaknya keras dan berikeras tidak mau ganti baju meskipun Winata Yoga telah tiba. Giselle mendorong pelayan itu kasar karena tidak suka dipaksa. Gadis itu juga bersikeras tetap tidak akan turun untuk makan siang bersama keluarga Haikal. Ia hanya ingin menunjukkan kepada Winata Yoga kalau Giselle tidak setuju dengan perjodohan konyol itu. Giselle merasa sudah dewasa dan bisa memilih mana lelaki yang pantas untuk menjadi pendampingnya kelak tanpa ada sangkut paut kedua orang tua. Arsen tidak bisa membiarkan Giselle berbuat kasar. Lelaki itu langsung membuka pintu dan berjalan mendekat. Sang pelayan menundukkan wajahnya takut karena gagal memaksa Giselle ganti baju. Arsen memberi kode pada pelayan untuk keluar kamar dan berpesan jika masalah Giselle akan segera Arsen tangani. Wanita muda itu bergegas keluar kamar. Sementara Giselle masih terlihat masa bodoh dengan kehadiran Arsen. Dengan santainya Giselle masih duduk dan membiarkan rambutnya basah. Arsen mengambil baju yang dilempar Giselle ke lantai sebagai rasa tidak Sukanya. Arsen hanya bisa mennggeleng menanggapi perilaku Giselle yang sudah keterlaluan. “Kalau uncle ke sini hanya untuk membujukku sebaiknya Uncle pergi dan bilang sama Papa kalau aku malas buat turun!” Giselle memalingkan mukanya. Ia masih kesal dengan Arsen yang tidak peduli dengan rasa tidak Sukanya. “Baiklah tidak masalah. Aku bisa menarikmu turun dengan keadaan seperti ini.” Arsen mengambil sisir dan duduk mendekat. Dengan telaten lelaki itu menyisir rambut Giselle pelan. Tangannya bergerak luwes layaknya seorang wanita. “Apa susahnya duduk dan mendengarkan mereka berbicara?” Arsen masih berusaha membujuk Giselle menggunakan caranya. Tangannya masih terus merapikan rambut Giselle yang masih berantakan karena basah. Setelah selesai, Arsen mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Giselle. Gadis itu tidak beranjak atau menunjukkan penolakannya sama seperti yang ia lakukan pada pelayannya. Arsen berhasil membuat Giselle menurut. “Pakai ini.” Arsen menyodorkan baju berwarna putih dengan hiasan bordir di bagian pinggang. Gadis itu hanya melihat baju itu tanpa menyentuhnya. Ia masih nyaman dengan jubah yang dipakainya. “Uncle ….” Giselle kembali merengek. “Giselle, Tuan sudah pulang. Jangan buat dia kecewa. Satu jam saja, kamu cukup makan dan diam.” “Uncle tidak cemburu?” Giselle beranjak dan berdiri tepat di depan lelaki tegap di depannya. Ia memandang mata yang seolah mencoba menghindarinya sejak masuk ke dalam kamar. Giselle tahu apa yang terjadi. Arsen hanyalah berpura-pura, lelaki itu hanya menjalankan perintah papanya. Winata Yoga sangat yakin jika putrinya akan mendengar omongan Arsen. “Gantilah baju ini.” Arsen menghindar dan bergegas pergi. “Uncle!!” “Jadilah anak yang baik. Setelah ini kita bisa bicara di taman belakang seperti biasa.” Arsen langsung pergi meninggalkan Giselle dengan bajunya. Lelaki itu tidak ingin terjebak dengan perkataan Giselle dan membuatnya mengingkari janji dengan Winata Yoga. Arsen hanya bertugas sebagai kepala pengawal tdak lebih. Arsen tidak ingin memanfaatkan keadaan ia tahu posisinya. Kedekatannya dengan Giselle hanyalah sebatas professionalitas pekerjaan dan Arsen tidak boleh salah mengartikannya. *** Akhirnya Giselle menuruti perkataan Arsen. Gadis itu mau ganti baju dan turun ke bawah untuk bergabung makan siang. Arsen yang ikut bergabung acara makan siang tersebut takjub melihat Giselle. Gadis itu terlihat cantik dengan balutan gaun putih yang dipakainya. Haikal pun tidak luput memandang Giselle tiada henti. Bahkan pemuda itu sengaja duduk di samping Giselle untuk melakukan pendekatan. Arsen yang duduk dekat dengan Winata Yoga berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia berusaha mencari topik untuk mengalihkan perhatiannya. Pembicaraan Winata Yoga, Arsen dan beberapa lainnya terasa renyah. Sementara Haikal terus saja mendekati Giselle dan berusaha membuat gadis itu terpikat. Lama-kelamaan Arsen merasa nyaman. Ia sudah berusaha untuk menghindar dan mengalihkan pandangannya, tetapi tetap saja membuat Arsen tidak tenang. Lelaki itu meminta izin sang tuan untuk beranjak terlebih dahulu. Arsen memilih pergi dari pada tinggal dan membuat hatinya tidak tenang. Giselle yang melihat kepergian Arsen tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu tidak bisa pergi seenaknya untuk menjaga nama baik kedua orang tuanya. Mau tidak mau Giselle harus menunggu mereka pulang dan baru bisa pergi mencari Arsen. Satu jam berlalu, akhirnya keluarga besar Haikal berpamitan pulang. Winata Yoga dan mitra bisnisnya pun saling melempar candaan tatkala kedua anaknya terlihat berjalan bersama. Hal itu seolah menjadi titik terang hubungan keduanya. Giselle yang mendengarnya hanya bisa menggerutu kesal. Padahal ia sama sekali tidak terarik dengan sosok Haikal terlalu obsesif kepadanya. Lelaki yang terlalu menyombongkan harta dan kekuasaan membuat Giselle jenuh berada di dekatnya. Hanya saja ia tidak ingin membuat Winata Yoga malu karena sikapnya. Giselle berusaha bertahan sampai acara selesai. Setelah keluarga Haikal pergi. Giselle langsung pergi mencari keberadaan Arsen. Ia menanyakan pada beberapa pelayan yang sedang merapikan ruang makan. Mereka menjawab tidak tahu di mana Arsen. Giselle beralih bertanya dengan pengawal lainnya yang masih berdiri di sudut pintu masuk. Mereka pun tidak tahu. Hingga akhirnya ia teringat dengan perkataan Arsen yang berjanji akan bertemu dengannya di taman belakang. Tidak mau menunggu lama akhirnya gadis itu beranjak ke taman belakang. Ia sangat yakin Arsen pasti berada di sana. Lelaki itu duduk termenung di bangku taman. Arsen terlihat menyendiri dengan wajah yang terlihat banyak pikiran. Giselle mendekat dan mengagetkan lelaki tersebut. Gadis itu begitu senang akhirnya bisa menemukan Arsen. “Uncle kenapa ada di sini?” “Memikirkan rencana pengintaian nanti sore.” “Uncle tidak cemburu?” Giselle mencoba menggoda lelaki di sampingnya. Lelaki yang terlihat serius itu tidak menanggapi pertanyaan yang sama dari Giselle. “Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi. Aku mau pergi.” “Ikut ….” Giselle langsung merengek. Giselle tidak membiarkan Arsen menghindar begitu saja. Gadis itu selalu mengambil kesempatan untuk ikut dengan Arsen dengan alasan keamanan. Padahal jika dirinya ikut Arsen secara tidak langsung malah membahayakan keselamatannya. “Giselle … jangan berbuat ulah lagi.” “Bukankah selama ini baik-baik saja?” Giselle mencari pembenaran. Beberapa kali Giselle memang ikut dengan Arsen. Selama itu pula tidak pernah ada masalah karena Arsen tetap menjalankan tugasnya dan hanya mengintai dari kejauhan. Lelaki itu hanya mengawasi gerak-gerik lalu lintas sekitar area Pelabuhan. Jika ada yang mencurigakan, Arsen akan segera mengirim foto mobil beserta platnya kepada anak buahnya untuk diteliti lebih lanjut. “Giselle kali ini aku harus melakukan pengawalan tamu Tuan Winata Yoga dari Jakarta. Aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja dan tidak ada musuh yang mengintainya.” “Bukankah lebih menguntungkan? Uncle bersembunyi dan aku berada di samping uncle. Itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Kita mirip agen spy yang di film-film itu.” “Ayolah … Papa tidak akan tahu kalau uncle tidak membuka rahasia. Aku sudah menuruti kemauan uncle untuk makan siang. Sekarang saatnya uncle menuruti keinginanku!” Arsen melihat ke arah gadis yang memohon itu. Lagi-lagi lelaki itu tidak bisa menolaknya kali ini. Awalnya ia berusaha kekeh dengan pendirian hatinya, tetapi nyatanya hati Arsen luluh juga. Senyuman Gisele membuatnya tidak bisa menolak permintaan gadis itu. Apa lagi hatinya tidak tenang setelah acara makan siang.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN