Arsen akhirnya mengalah. Lelaki itu membawa Giselle pergi dengannya tanpa ada seorang yang tahu termasuk Winata Yoga. Tugasnya sebagai pengintai keselamatan tamu besar Winata Yoga seolah menjadi pekerjaan yang bisa terlihat santai bisa juga menjadi pekerjaan yang membahayakan. Arsen juga tidak tahu bahaya yang akan mengancam jika ada musuh yang berusaha mencari celah untuk menyerang. Itulah pekerjaan Arsen. Setiap hari pekerjaannya selalu bertaruh dengan nyawa. Terlepas dari semua itu pertemuannya dengan Giselle seolah menjadi obat dari semua lelah dan pekerjaan yang membahayakannya.
Beberapa anak buahnya menawarkan bantuan kepada Arsen, tetapi lelaki itu menolaknya karena ia tidak ingin ada yang tahu keberadaan Giselle dengannya. Hal itu bisa membuat sang tuan marah karena untuk kesekian kalinya Giselle selalu saja membuat ulah.
“Uncle tidak lelah dengan semua pekerjaan ini?” tanya Giselle. Gadis itu memutar audio music di dalam mobil.
Satu lagu milik Kelly calrkson masih menjadi favorit Giselle. Menurutnya suara penyanyi tersebut sangat menyentuh dan membuatnya suka.
“Ini sudah menjadi tanggung jawabku. Tidak ada yang membuatku lelah selain menghadapimu.” Arsen masih santai mengemudi mobilnya. Lelaki itu melempar senyum khasnya hingga membuat gadis di sampingnya memberengut kesal.
“Uncle …!!”
“Sudahlah jangan berbuat ulah lagi Kamu harus menerimanya. Bukankah apa yang aku katakan benar?”
Giselle diam. Apa yang dikatakan Arsen memang benar. Giselle selalu berbuat ulah dan membuat Arsen selalu kebingungan menghadapinya. Sudah kesekian kalinya ia harus mendapat luapan kemarahan Giselle karena kesibukan kedua orang tuanya. Gadis manja itu seolah menjadikan Arsen menjadi tempat paling nyaman baginya.
“Diam dan jangan banyak berbicara. Aku akan melihat keamanan sekitar tempat ini.” Arsen memberi kode. Pengintainnya akan segera dimulai. Saat itu pula Giselle harus benar-benar menjadi gadis yang penurut jika tidak ingin mendapat marah dari Winata Yoga.
Mereka telah sampai di parkiran hotel tempat tamu Winata Yoga akan menginap. Arsen telah memarkirkan mobilnya sesuai titik aman yang tidak akan ada yang tahu. Arsen sengaja menyiapkan tempat itu karena jangkaunnya yang jauh dari titik pusat pengintaian. Selain itu tempat itu berpotensi jarang dijamah siapa pun.
“Uncle …”
“Iya?” Arsen berhenti. Ia belum sempat membuka handle pintu mobil.
“Hati-hati.” Giselle tersenyum melebarkan bibirnya. Gadis itu memberi semangat agar sang kepala pengawal bisa melakukan tugasnya dengan baik.
Arsen mengangguk. Ia menyimpan pistol di balik jasnya. Lelaki itu mengusap kepala Giselle dan tersenyum. “Aku pasti baik-baik saja.” Setelahnya Arsen langsung memasang michrophone yang terhubung dengan lainnya. Lelaki itu bersiap melakukan pengintaian untuk memastikan keadaan tamu Winata Yoga baik-baik saja. Arsen mulai berkoordinasi dengan yang lain sebelum turun dari mobil. Mereka saling mengkode untuk memastikan semua baik-baik saja. Mereka belum menemukan tanda-tanda yang mencurigakan. Semua masih terlihat biasa sampai menunggu kedatangan tamu Winata Yoga.
Perlahan Arsen berdiri di balik dinding parkiran hotel. Ia sangat yakin ada hal janggal terjadi. Beberapa titik parkir terlihat lengang tidak ada siapapun. Seolah tempat itu memang khusus dipersiapkan untuk mangsanya.
“Posisi mencurigakan.” Arsen berbicara pelan dan mengirim tanda kepada rekannya. Ia melihat sekelabat bayangan yang berpindah tempat. Ia sangat yakin ada beberapa orang di titik parkir tersebut. Namun, anehnya mereka bersembunyi seolah mempunyai rencana jahat.
Arsen kembali mengirim kode sebagai tanda siaga di tempatnya. Ia akan berusaha mengatasinya sendiri sebelum meminta bantuan anak buahnya.
“Hummm sepertinya kalian memang ingin bermain-main denganku.” Arsen tesrenyum, meregangkan otot tangan dan lehernya. Gayanya menunjukkan petarung kelas professional yang siap bertarung dengan lawan.
Kacamata hitam menjadi pinranti wajib dan pistol yang bersembunyi di balik jasnya. Arsen tetap berhati-hati dan tidak gegabah. Salah Langkah, nyawa yang akan menjadi taruhannya. Bunyi derap Langkah yang teratur membuat Arsen mengikuti asal suara. Lelaki itu menaksirkan ada beberapa orang di sana. Hanya saja Arsen belum tahu berapa banyak orang yang akan menjadi lawannya. Ia juga harus memastikan mereka bersenjata atau hanya memang mengintai dan akan memberikan informasi pada tuannya.
“Kondisi siaga 1” Arsen menangkap ada bayangan di belakangnya. Langsung sigap lelaki itu langsung menarik tangan lawan dan menjatuhkannya. Satu Gerakan yang gesit untuk menghindar. Lawannya terlihat meringis kesakitan karena gagal menyerang Arsen. “Siapa yang menyuruhmu?” Arsen menekan perut musuhnya. Lelaki itu menarik rambut bagian depan sang musuh agar mau berbicara.
“Sampai mati aku tida akan mengatakannya!”
“Keras kepala!” Arsen semakin mengeratkan tangannya. Ia beranjak dan mengunci kedua tangan musuhnya. “Baiklah kalau itu maumu. Bersiaplah membusuk di penjara bersama tikus!” Arsen bersiap membawa lelaki yang berhasil ditangkapnya.
Arsen mengirim kode untuk mengirim bantuan. Ia mengatakan berhasil menangkap seorang lelaki. Saat lengah tidak sengaja lelaki itu lepas dan mendorong tubuh Arsen. Lelaki itu merusak microphone Arsen dan menendang tubuh tegap di depannya hingga terjatuh.
Sebuah pukulan mendarat sempurna dan melukai pipi Arsen. Sudut bibirnya berdarah dan tubuhnya hilang kendali. Lagi-lagi lawannya berhasil melumpuhkan Arsen. Satu tendangan keras berhasil membuat tubuh Arsen terhuyung ke belakang.
“Cih! Seperti ini tenaga kepala pengawal yang tersohor itu? Lemah!”
Arsen masih mengatur keseimbangannya. Ia kecolongan start awal hingga membuat wajahnya terluka. Bisa dipastikan setelah ini Arsen akan mendapat ceramah dari Giselle yang mlihat bibirnya berdarah. Namun, hal itu tidak akan membuat Arsen gentar. Arsen tetap menjalankan tugasnya dan mengambil resiko apa pun yang akan terjadi padanya.
Tiga orang muncul dari belakang lawan. Mereka membawa sebuah pistol yang bersiap untuk dimainkan. Sebuah senyum seringai seolah menandakan Arsen tidak bisa berkutik.
“Tunggu saja malaikat maut datang menjemputmu! Tidak akan ada yang bisa membantumu sekarang!” Salah satu dari mereka tertawa lepas.
Satu lawan berempat. Satu keadaan yang tidak seimbang. Arsen masih santai menghadapinya. Ia tidak takut sedikit pun dengan keadaan yang menyudutkannya. Lelaki itu merapikan jas dan mengusap darah tipis yang keluar dari sudut bibirnya. Ia tidak pernah menyerah dan mengatur strategi melumpukan lawan dengan perbandingan jumlah yang tidak imbang. Hal itu tidak masalah, Bukan Arsen Namanya jika tidak bergelut dengan bahaya.
Arsen bersiap memasang kuda-kuda terbaiknya. Satu tangan bersiap mengambil pistol yang bersembunyi. Satu Gerakan kaki yang bersiap menghindar hujaman peluru yang menyerang.
“Mati kau!” Keempat musuh menarik pelatuk pistolnya.
Dor!
Arsen langsung merendahkan tubuhnya menghindar dengan gesit dan menyerang lawan menggunakan kaki membentuk setengah lingkaran. Tidak ada yang mustahil bagi seorang Arsen, satu lawan empat tidak pernah membuatnya gentar. Berapa banyak musuh yang dihadapinya tidak akan membuatnya jera.
Lelaki itu menembak beberapa kali melumpuhkan kaki lawan. Bunyi tembakan peluru terdengar begitu keras dari tempat Giselle berada. Gadis itu mulai waswas dengan apa yang terjadi. Gadis itu berusaha membuka pintu mobil, sialnya Arsen ternyata menguncinya dari luar. Lelaki itu sangat tahu bagaimana Giselle, ia tidak akan membiarkan sang nona berkeliaran di luar saat dirinya melawan musuh dengan taruhan nyawa sekali pun.
“Uncle!!!”