Arsen muncul dengan senyum lebarnya. Bibirnya terlihat berdarah dan beberapa luka lebam bagian pipi. Giselle menagis di dalam mobil mendegar tembakan peluru beberapa waktu lalu. Gadis itu berpikir Arsen dalam bahaya. Hal itu membuat Arsen hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah sang nona. Giselle terdiam sesaat ketika melihat Arsen datang. Ia berhenti menangis memanggil-manggil nama Arsen.
“Uncle …! Buka pintunya!” Giselle mengetuk kaca mobil. Antara senang dan sedih gadis itu bisa melihat Arsen kembali.
Arsen masih melipat tangannya melihat tingkah Giselle. Di saat badannya terasa remuk, Arsen masih bisa tersenyum melihat tingkah Giselle yang menurutnya sangat lucu.
“Uncle …!!!” Giselle menunjukkan ekspresi makin kesalnya. Arsen tidak beranjak dan malah tersenyum.
Sebuah tembakan tiba-tiba menyerangnya. Arsen terkejut dan langsung berbalik di balik Tiang besar di dekatnya. Ia bersiaga menyiapkan pelurunya. Lelaki itu berhati-hati sambil melihat keadaan sekitar. Giselle yang terlihat ketakutan langsung bersembunyi di bawah kaca mobil.
Sekilas Arsen mengintip dan memastikan Giselle tidak berbuat gegabah yang membahayakan dirinya sendiri.
Suara hentakan sepatu kembali terdengar, suaranya semakin nyaring dan terdengar semakin mendekat. Seorang pria berkepala botak mengenakan kaus hitam datang membawa pistol di tangannya. Wajahnya sangat tidak asing bagi Arsen. Lelaki itu adalah musuh bebuyutannya dari awal dirinya menjadi pengawal Winata Yoga.
“John! Sudah kuduga dia dibalik semua ini!” Arsen masih menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang.
Lelaki itu berjalan mendekati mobil. Arsen khawatir jika keberadaan Giselle diketahui. Jangan sampai pihak lawan mengetahui jika Giselle mengikutinya. Hal tersebut akan membuat posisi Arsen lemah.
“Arsen keluar kamu! Jangan jadi pecundang! Aku tahu kamu di sini bersama gadis manja itu! Keluar atau kuledakkan mobilmu! John mengertak sekali lagi.
Lelaki botak itu berdiri di depan mobil sambil melihat sekeliling. Ia masih mencari persembunyian Arsen.
Dor !!
Satu tembakan kembali mengudara. Arsen masih bersembunyi dan berjalan memutari tiang besar di dekatnya. Ia masih mengintai John dari tempatnya. Dari kejauhan Arsen melihat Giselle yang mengintip dari balik kaca mobil.
Arsen memberi isyarat agar Giselle tetap bersembunyi dan tidak menampakkan diri. Gadis itu menurut dan kembali bersembunyi. Kini Arsen tinggal menuntaskan pekerjaannya membuat John si kepala botak itu pergi dan takut jika bertemu dengannya.
“Hei Sialan! Keluar kamu!”
“Botak! Ada apa kamu mencariku?”
Akhirnya Arsen keluar dari persembunyiannya. Lelaki berjalan santai dengan tetap memasang mata elang. Sebuah pistol telah bersembunyi di balik saku celananya.
“Ha ha ha akhirnya kamu muncul juga.” John terdengar tertawa lebar.
“Ada apa kamu mencariku botak?!”
“Masih bertanya? Kamu telah melukai anak buahku b******k! Kamu selalu saja ikut campur urusanku.”
“Ah, dia anak buahmu? Ck ck ck ck pantas saja payah!” Arsen tertawa.
"Sialan!" John tidak sabar untuk melawan. Tidak menunggu lama lelaki itu langsung menyerang Arsen mengunakan kekuatan tangganya. Ia berusaha menyerang Arsen dan melukai musuh bebuyutannya. John dan Arsen adalah dua musuh bebuyutan yang selalu ada saat kedua tuannya bertikai.
Dari dulu John selalu menjadikan Arsen target utamanya. Sayangnya Arsen terlalu lihai dan selalu berhasil menghilang saat keadaan terdesak.
Arsen berhasil melumpuhkan John dengan satu kali tendangan. Bukannya marah, lelaki itu justru malah tertawa terbahak-bahak. Ia seolah tahu kelemahan Arsen yang akan membuat posisinya menang.
“Tendanglah sepuasmu sebelum kamu menangis! Ha ha ha …”
Arsen masih tidak mengerti, lekaki botak itu menyeringai. Ia mengeluarkan sebuha remot pengendali yang bisa kapan saja ia kedalikan.
“Satu kali pencet semua akan selesai! Wus….!” John kembali tertawa.
“Sialan!!! Di mana kamu pasang bomnya?” Arsen berteriak. Ia tidak segan langsung menarik baju John, tetapi semua percuma lelaki itu hanya tertawa. “b******k!!!”
“Pukul saja, tidak akan berubah keadaan. Gadis manis itu akan mati seketika. Ha ha ha ha.”
Arsen melepas baju John. Ia baru sadar ternyata John mengunakan cara licik. Ternyata lelaki itu menggunakan bom untuk menyerang.
“Sialan!” Arsen langsung berlari menuju mobil. Ia harus bisa melumpuhkan bom tersebut sebelum bom itu meledak dan membuat Giselle celaka.
“Selamat berjuang. Aku tunggu lima menit lagi kabar duka darimu!” John pergi menghilang, lelaki itu sangat puas bisa membuat Arsen ketakutan. Ia sangat tahu bagaimana Arsen melindungi sang nona. Tidak ada hal yang paling penting selain keselamatan Giselle Winata Yoga.
“Giselle! Giselle!” Arsen mengetuk kaca mobil. Ia panik dan berusaha mencari keberadaan bomnya. Ia mencari kunci mobil, tetapi lelaki itu tidak menemukannya.
Giselle muncul dan tersenyum. Gadis itu sama sekali tidak tahu jika nyawanya sedang terancam.
“Uncle buka pintunya!” Giselle mencoba membuka handle pintu.
“Jangan!!!” Arsen langsung berteriak hingga membuat Giselle berheni berusaha membuka pintunya.
Ia baru sadar jika peledak itu John kaitkan dengan handle pintu mobil. Seketika Giselle berhenti, Arsen memberi isyarat agar Giselle tetap tenang. Ia memajukan telapak tangannya agar Giselle menahan keinginannya untuk membuka pintu.
“Tetap di situ jangan bergerak!” Arsen masih memberi kode Giselle untuk tetap di tempat.
Arsen menemukan peledak itu di bawah mobil. Waktu terus berjalan membuat Arsen harus berbuat secepatnya. Ia berusaha mencari cara untuk menjinakkan bom tersebut, tetapi Arsen tidak berhasil. Waktu terus berjalan dan jika Arsen salah Langkah akan berakibat fatal untuk keselematan Gisel yang berada di dalam mobil.
Tidak berpikir Panjang, Arsen langsung menelepok pihak keamanan dan kepolisian untuk melaporkan apa yang terjadi. Setidaknya ada tim khusus yang akan menangani bom tersebut. Arsen masih berjalan mondar-mandir menunggu menit-menit terakhir bom akan meledak. Lelaki itu semakin gelisah melihat keadaan yang genting. Giselle tampak panik dan ketakutan.
“Apa yang terjadi?” Winata Yoga datang dengan beberapa tim penjinak bom. Lelaki itu terlihat sangat marah melihat putrinya berada di dalam mobil.
“Maaf, saya benar-benar minta maaf.” Arsen merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengajak Giselle dalam bertugas. Ia harusnya tahu jika setiap Giselle selalu berakhir dengan keadaan yang menyulitkan.
Winaya Yoga tidak menanggapi perkataan Arsen. Lelaki itu langsung memerintahkan tim untuk segera menjinakkan bom tersebut. Keselamatan putrinya lebih penting di balik apa pun.
Semua tim tampak begitu serius. Mereka benar-benar harus jeli memutuskan kabel yang menghentikan fungsi otomatis yang membuat bom meledak.
Detik-detik terakhir membuat ketegangan semakin terasa. Arsen memerintahkan semuanya untuk mundur. Termasuk Winata Yoga. Ia tidak ingin ledakan bom itu mencederai orang di sekitarnya. Detik terus berjalan sedangkan tim masih berusaha mematikannya. Arsen tidak sabar melihat keadaan Giselle yang semakin takut. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat sampai berkeringat. Gadis yang tampak manja itu tidak berdaya di dalam mobil. Sedangkan Arsen tidak bisa melakukan hal apa pun untuk menolongnya.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
“Mundur …!!!” Arsen berteriak kencang. Sontak beberapa orang di sekitar langsung menarik diri menghindar. Mereka takut saat bom itu meledak dengan dahsyat.