Kejadian yang hampir saja membuat Giselle celaka di dalam mobil membuat Winata marah besar. Lelaki berwibawa itu tidak bisa mentolerir kejadian yang hampir saja membuat putrinya mati karena ledakan bom. Beruntugnya tim langsung bisa mengatasinya saat detik-detik terakhir. Bukan hanya Giselle yang selamat, melainkan orang-orang yang berada di hotel itu ikut selamat. Kejadian menghebohkan itu membuat beberapa team keamanan langsung mengamankan Giselle dan membawanya pulang bersama Winata Yoga. Sebagian lagi mengawal tamu kehormatan Winata Yoga yang beberapa jam baru datang ke hotel tempat mereka menginap.
Winata Yoga menyampaikan permintaan maaf kepada tamunya karena hampir saja membuat mitra bisnisnya celaka dan acara pertemuan mereka kacau. Mereka harus menundanya di lain waktu sampai suasana kembali kondusif. Winata Yoga langsung membawa Giselle pulang tanpa memedulikan Arsen yang masih terlihat khawatir pada putrinya.
Baginya, Arsen telah melakukan hal yang begitu fatal. Giselle hampir celaka bersamanya dan hal itu sangat ceroboh membawa Giselle dalam keadaan yang tidak seharusnya. Winata Yoga berpesan pada Arsen untuk menemuinya nanti di rumah saat tugas mengawal tamu kehormatannya selesai. Tiga hari Arsen harus tetap menjaga keamanan mitra bisnisnya di hotel. Winata Yoga sangat yakin jika keselamatan mitra bisnisnya belum seutuhnya aman. Ia tahu pasti masih ada sisa bahaya yang mengintai.
Winata Yoga tidak ingin hal buruk terjadi pada mitra bisnisnya selama berada di Surabaya. Oleh karena itu ia meminta Arsen lebih baik tetap berada di hotel daripada harus menyerahkan semuanya kepada anak buahnya. Ia lebih percaya dengan Arsen ketimbang lainnya. Namun, Winata Yoga sedikit kecewa hingga tidak membiarkan Giselle dan Arsen bertemu setelah Giselle selamat. Meskipun putrinya merengek-rengek sekali pun. Ia tidak akan mengabulkan permintaan Giselle. Ia tahu jika putrinya hanya akan mengacaukan semua yang membahayakan nyawa orang banyak.
Dari kejauhan Arsen hanya bisa melepas kepergian Giselle dengan rasa cemas. Ia merasa lega sang gadis telah selamat, tetapi hatinya belum sepenuhnya tenang saat Giselle pergi dengan raut wajah yang tampak sedih. Arsen tidak bisa berbuat banyak. Winata Yoga telah mengambil keputusan. Arsen tidak bisa menolak dan tidak bisa juga membantah. Lelaki itu harus patuh sebagai rasa hormat kepada lelaki yang telah membuatnya menjadi Arsen yang sekarang.
“Sudahlah, Bos. Lupakan saja, Nona Giselle hanyalah sebuah mimpi.” Salah satu bawahan Arsen menepuk bahu Arsen. Lelaki muda itu menyadarkan atasannya yang memang terlihat sangat mengharapkan Giselle.
“Kembali bekerja!” Arsen tersadar dirinya terlihat begitu mencolok. Ia mengalihkan rasa malunya dengan menegur anak buah di sampingnya.
“Siap!” Lelaki muda itu langsung pergi meninggalkan Arsen. Ia tahu jika kondisi suasana hati Arsen sedang tidak baik. Ia tidak ingin membuat lelaki itu terpancing amarah dan membuatnya berada dalam kesulitan.
Arsen masih berdiri di basement hotel tempat kejadian. Hanya tinggal beberapa pekerja hotel yang membersihkan bekas bom yang hampir saja meledak. Arsen masih berdiri dan terasa melihat begitu jelas wajah panik Giselle di dalam mobil. Ia sendiri tidak mengira jika keadaan malah berbalik menyulitkannya. Padahal sebelumnya Arsen telah memastikan semua aman-aman saja saat meninggalkan Giselle di dalam mobil. Namun, Arsen masih saja kecolongan . Semua itu memang trik John dan anak buahnya untuk mengalihkan Arsen dan mendekati Giselle sebagai target mangsanya. Sedangkan tamu Winata Yoga hanyalah sebuah alibi untuk membuat Arsen keluar bersama Giselle. Hal it sudah bisa ditebak John dan anak buahnya. Di mana pun Arsen berada. Gadis itu tidak akan pernah lepas dari lelaki tersebut.
“Sial!! Ini semua hanya akal-akalan John.” Arsen masih menggeram kesal. Ia benar-benar belum bisa melupakan kejadian yang hampir membuat Giselle celaka.
Satu panggilan telepon masuk membuat Arsen tersentak dari lamunannya. Sebuah private number muncul dan membuat Arsen curiga. Lelaki itu berjalan menjauh dari basement dan mengangkat teleponnya di tempat yang sepi. Ia tidak ingin mengundang curiga atau yang lain ketakutan.
“Hello … kawan … bagaimana pertunjukannya? Pasti sangat mengasyikan. Aku turut berduka cita.” Suara John terdengar tertawa lebar. Suaranya terdengar mengejek dan bisa menebak apa yang telah terjadi.
“John!” Arsen sudah bisa menebak musuh bebuyutannya itu yang menelepon.
“Iya, aku di sini. Kamu tidak perlu berteriak memanggilku.”
“b******k!! Apa maumu! Jangan sampai aku mematahkan kepalamu jika kamu berani sedikit saja menyentuh Giselle!” Arsen erdengar sangat marah.
“Awww!! Sang singa telah mengamuk. Hummm tidak masalah, karena hal itu akan sangat mengasyikkan!” John masih saja memancing kemarahan Arsen. Lelaki bitak itu sangat senang mendengar Arsen yang marah.
John dan anak buahnya sudah mendapat kabar tentang penjinakan bom. Ia juga sudah tahu bagaimana reaksi Winata Yoga saat kejadian. Hal itu yang membuat John terus tertawa lebar. Ia tahu percuma menyentuh Giselle. Ia tahu jika nyawa gadis itu tetap akan selamat. Ia tahu Arsen, bagaimana lelaki itu akan bertindak hanya untuk menyelamatkan sang nona besar. Apa yang dilakukan Arsen hanya semata ingin memecah hubungan Arsen dan Winata Yoga. Semua itu akan membuat posisi John semakin baik. Saat hubungan Winata Yoga dan Arsen buruk akan memberi celah John untuk bisa menyentuh keluarga besar Winata Yoga dengan leluasa. Target John adalah Arsen keluar dari keluarga besar Winata Yoga.
“Dasar pecundang! Kamu harus tahu diri siapa kamu?” John kembali mengejek. Lelaki itu memang sengaja membuat hati Arsen semakin marah. “Kamu hanya seorang mantan petarung yang sama sekali tidak berguna! Mantan petinju yang sudah tidak memiliki kekuatan! Kamu hanyalah seorang yang kecil di mata Winata Yoga! Jangan pernah bermimpi untuk bisa bersama seorang putri!” John kembali tertawa. Lelaki itu menutup teleponnya dan merasa puas telah membuat Arsen semakin kacau.
Lelaki berbadan tegap itu tidak bereaksi dengan perkataan John. Arsen masih berdiri memegang poselnya yang masih menempel di telinga. Apa yang dikatakan John memang terasa benar. Arsen hanyalah seorang biasa yang Winata Yoga tolong saat keadaan terpuruk. Saat Arsen terpuruk harus menerima kekalahan yang membuat dirinya berada pada titik nol kehidupan. Saat Arsen tidak lagi dianggap di dalam dunianya. Saat Arsen hanya dianggap sebagai pecundang yang tidak bisa mengalahkan lawan. Winata Yoga datang memberinya pekerjaan dan mengembalikan rasa percaya dirinya yang kuat. Hingga membuat Arsen bisa dipercaya menjadi seorang kepala pengawal Winata Yoga. Semua itu membuat Arsen bisa menjalani kehidupan dengan baik. Akan tetapi perkataan John seolah menampar lelaki itu untuk tersadar dari mimpinya. Bertemu dengan seorang gadis yang memang status sosialnya begitu jauh dengan Arsen.
Rasa hormatnya terhadap Winata Yoga membuat Arsen harus benar-benar tahu siapa dirinya sebenarnya. Arsen harus bisa menempatkan perasaan dan rasa tanggung jawabnya. Dua hal yang memang sangat berbeda. Kebiasaan yang selama ini ia lakukan ternyata membuat dirinya terjatuh dalam lubang yang suatu saat bisa menghancurkannya. Hatinya terlanjur terpaut pada seorang gadis muda yang selalu menarik perhatiannya. Arsen memang tidak bisa menolak jika hatinya memang terpaut pada Giselle.
“Giselle.” Arsen bergumam.
Lelaki itu memasukkan ponselnya dan mengusap wajahnya. Ia hanya tersenyum dan kembali ke tempat semula. Ia mencoba kembali pada kenyataan bahwa dirinya berada dalam dunia yang begitu keras. Di mana waktunya ia habiskan setiap saat untuk bertarung dengan bahaya yang mengancam. Setiap saat nyawanya bisa saja terancam dan dirinya mati terbunuh.