Chapter 12

1113 Kata
Beberapa hari Arsen telah menjalankan tugasnya dengan baik. Mengawal tamu kehormatan Winata Yoga tanpa sedikit pun lengah. Ia terus berkoordinasi dengan anak buahnya untuk tetap memastikan keadaan selalu aman. Hingga mengantarkan tamu Winata Yoga ke bandara dengan selamat. Di saat itu pula tugas Arsen berakhir dan bisa kembali lagi ke kediaman Winata Yoga. Seseorang yang paling bahagia mendengar kepulangan Arsen adalah Giselle. Sejak kejadian beberapa hari lalu. Giselle tidak pernah lagi berjumpa dengan Arsen. Winata Yoga marah kepadanya. Lelaki itu benar-benar mengambil sikap tegas kepada putrinya agar tidak berbuat gegabah. Sikap manja Giselle yang berlebihan membuat gadis itu hampir mencelakainya sendiri. Setelah menyelesaikan tugasnya. Arsen telah membuat janji untuk bertemu dengan Winata Yoga makan siang di rumah bersama. Winata Yoga sengaja mengajak makan siang bersama Arsen sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Arsen yang telah melakukan tugas dengan baik. Sesampainya di rumah, Arsen langsung membersihkan diri dan segera menghadap Winata Yoga yang telah menunggunya di meja makan bersama sang istri dan puteri tunggalnya. Lelaki itu tersenyum lebar saat becermin. Ia berulang kali merapikan kemeja hitamnya agar terlihat sempurna. Ia merasa penampilannya harus benar-benar terlihat rapi. Rasa canggungnya saat bertemu Giselle kembali setelah beberapa hari membuat Lelaki tersebut gugup. “Tahan perasaanmu, kamu pasti bisa.” Arsen menatap dirinya di depan cermin. Ia mengingatkan kembali siapa posisinya. Ia teringat jelas apa yang pernah dikatakan John saat menelepon. Semua yang dikatakan musuh bebuyutannya itu tidak salah. Arsen memang harus tahu diri siapa posisinya dalam keluarga Winata Yoga. Arsen masih menatap wajahnya ke dalam cermin. Ia mencoba menarik napas Panjang dan langsung keluar kamar. Ia tidak ingin sang tuan menunggunya terlalu lama. Winata Yoga hanya mempunyai waktu satu jam untuk makan siang bersama Arsen dan keluarga. Giselle tampak tersenyum lebar melihat kedatangan Arsen. Gadis itu terlihat paling senang hendak beranjak menghampiri Arsen. Namun, Winata Yoga berdehem hingga membuat gadis itu duduk kembali. Lagi-lagi berkuasa itu melihat putrinya tajam mengisyaratkan agar Giselle menjaga perilakunya. Anak gadisnya itu hanya bisa menurut dan menunduk. “Selamat datang kembali Arsen. Kamu pasti sangat Lelah setelah melakukan tugas yang begitu berat beberapa hari ini.” Winata Yoga dan sang istri berdiri menyambut kedatangan Arsen. Sedangkan Giselle masih duduk menundukkan wajahnya. Ia berusaha menghindari pandangan wajah Arsen yang terlihat jelas di depannya. Arsen merasa aneh dengan tingkah Giselle yang tampak tidak biasa. Gadis itu terlihat berusaha menghindarinya. Melihat situasi yang terjadi, Winata Yoga langsung mempersilakan Arsen duduk. Giselle hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Padahal di dalam hatinya, gadis itu sangat merindukan sosok Arsen selama beberapa hari. Ia ingin meminta maaf atas semua kesalahannya. Arsen menjadi sasaran kemarahan Winata Yoga. “Untuk beberapa hari ke depan kamu tidak perlu lagi mengawal Giselle ke kampus. Dia sudah mempunyai pengawal baru yang akan menemaninya,” ujar Winata Yoga di sela-sela makan siang mereka. Giselle langsung tersedak dan protes. “Siapa, Pa? Kenapa harus diganti?” Giselle mulai tidak suka dengan sikap semena-mena Winata Yoga. Baginya lelaki itu memang sengaja menjauhkannya dari Arsen. “Ada hal penting yang harus Arsen lakukan selain menjagamu. Kamu sudah dewasa, bisa mandiri dan tahu apa yang salah dan benar.” Giselle merasa Winata Yoga menyindir kejadian beberapa hari yang lalu. Gadis itu melirik Arsen yang hanya bisa diam saja menanggapi perkataan Winata Yoga. “Pa, kalau bukan uncle siapa yang akan menjagaku?” Gadis itu langsung bertanya to the point. “Haikal. Haikal yang akan selalu menjemput dan mengantarmu ke kampus. Papa sangat percaya kepadanya bisa menjagamu dengan baik. Ia mempunyai team kemanan yang handal dan bisa menjagamu dengan baik.” “Pa, kenapa harus lelaki genit itu?!” Giselle tidak mengira Haikal menjadi pilihan Winata Yoga. Padahal Giselle sanga tidak suka dengan lelaki tersebut. “Giselle ini keputusan Papa. Tidak bisa berubah!” “Pa!” “Giselle …!” Ny. Winata Yoga mencoba menenangkan sang suami saat menghadapi puterinya. Ia sangat tahu bagaimana watak Giselle yang keras kepala dan manja. Gadis itu akan menolak apa yang tidak sesuai hatinya. Ketegangan itu membuat Arsen tidak berkutik. Ia tidak bisa ikut campur di dalamnya. Ia hanya bisa patuh apa yang diperintahkan Winata Yoga padanya. “Pa … dengarkan Giselle terlebih dahulu.” Sang istri mencoba mencari jalan keluar. Ia tidak ingin hubungan keduanya menjadi tidak akur karena keduanya bertahan dengan keinginannya. “Pa, Giselle tidak suka dengan Haikal. Di aitu terlalu genit!” “Giselle dia itu anak yang baik.” “Terserah Papa! Pokoknya Giselle enggak mau! Lebih baik Giselle berangkat sendiri ke kampus dari pada harus di antar sama dia!” Tidak mau berdebat lebih lanjut Giselle beranjak dari tempatnya meninggalkan makan siang mereka. Gadis itu kecewa dengan keputusan Winata Yoga yang sepihak memutuskan sesuatu. Giselle paham jika Winata Yoga tengah berusaha pelan-pelan membuat Giselle menjauh dari Arsen. Hal itu sempat Giselle dengar saat kedua orang tuanya berbicara serius tentang keadaan Giselle setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Bahkan mereka memang sengaja menugaskan Arsen di luar agar tidak bisa bertemu dengan Giselle. “Kamu lihat dia? Sangat keras kepala.” Winata Yoga beralih melihat Arsen yang masih terdiam. Lelaki itu tidak bisa berbuat lebih banyak. Arsen hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Meskipun di dalam hatinya Arsen juga merasa ada hal yang terasa janggal. Selama ini Winata Yoga selalu mempercayakan puteri tunggalnya itu kepadanya, tetapi tiba-tiba saja semua itu berubah. “Mungkin Nona Giselle hanya sedang ingin sendiri, Tuan.” “Setidaknya dia harus tahu, Haikal adalah lelaki yang terbaik untuknya,” ucapan Winata Yoga cukup menyentak Arsen. Lelaki itu secara tidak langsung seolah memberi peringatan kepada Arsen. Bahwa Giselle lebih layak bersama Haikal dari pada dirinya. Arsen hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Ia memang tidak punya kuasa untuk berpendapat ataupun menentang keputusan Winata Yoga. Lelaki itu hanya bisa menuruti perintah Winata Yoga ke mana pun sang tuan menyuruhnya pergi. Makan siang yang berlalu dengan ketegangan membuat Arsen merasa kacau. Setelah Winata Yoga dan sang istri pergi. Arsen memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Ia telah meminta izin Winata Yoga untuk beristirahat setelah kelelahan melakukan tugas pengawalan. Ia telah berkoordinasi dengan anak buahnya agar tetap mengamati keadaan sekitar kediaman Winata Yoga dengan baik. Bahaya bisa saja setiap saat mengancam. Hal itulah yang selalu ditekankan Arsen kepada lainnya. Ia juga berpesan agar mereka tetap melapor kepadanya jika menemukan hal janggal yang terjadi. Arsen melewati kamar Giselle sebelum kembali ke kamarnya. Lelaki itu merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Ia merasa menghindar lebih baik dari pada harus menghibur Giselle. Hal itu akan membuat Giselle semakin tidak bisa menerima keputusan Winata Yoga. “Lebih baik aku tidak peduli.” Arsen kembali melanjutkan langkahnya. Sepertinya tidur adalah pilihan yang sangat baik untuknya. Sejenak melepas pikiran penatnya dan berusaha menghilangkan bayang-bayangan Giselle dalam pikirannya.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN