Arsen masih duduk berbaring di tempat tidur. Lelaki itu berusaha memejamkan matanya, tetapi semua sia-sia saja. Ruang kamar yang lumayan luas itu seolah terasa sangat panas. Arsen menyetel pendingin ruangan hingga 16 derajat celcius. Akan tetapi, Arsen masih merasa gerah. Padahal ia hanya memakai kaus polos berwarna hitam yang mampu menyerap keringat dengan baik.
Perkataan Winata Yoga ternyata yang membuatnya tidak tenang. Raga yang butuh istirahat seolah tidak membutuhkannya lagi. Arsen tetap tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya yang terletak di lantai dua membuat Arsen melihat keadaan luar lewat jendela. Sebagai kepala pengawal, Arsen mempunyai tempat yang khusus bagi Winata Yoga. Arsen menempati kamar yang letaknya tidak jauh dari kamar Giselle.
Beberapa anak buah Arsen tampak berjaga ketat di bagian pintu depan. Sedangkan Arsen masih melihat mobil Giselle terparkir rapi di tempatnya. Hal itu bertanda jika gadis itu masih berada di rumah. Arsen sebisa mungkin tidak peduli, tetapi tetap saja ia terus mengingat tentang Giselle dan Giselle. Gadis yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Hingga gadis yang selalu bersikap manja kepadanya. Rasanya Arsen sudah terbiasa dengan semua itu. Semua akan terasa berbeda jika pada akhirnya Arsen tidak bisa lagi menjaga Giselle.
“Sepertinya aku lebih baik bergabung dengan yang lain. Tidak mungkin aku seperti ini terus-menerus.”
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Arsen terdengar diketuk. Lelaki itu mengurungkan niat mengambil kemeja putih miliknya. Ia berjalan membuka pintu kamar. Ia pikir salah satu anak buahnya datang mencari.
“Uncle ….” Giselle berdiri di depan pintu dan langsung menghambur memeluk Arsen. Gadis itu tidak peduli lagi jika ada yang melihat mereka berpelukan. Bahkan ia memang sengaja agar ada yang mengadu dengan sang ayah. Setidaknya lelaki itu tahu jika Giselle sama sekali tidak menyukai Haikal.
“Hei … kenapa seperti ini?” Arsen berusaha melepas pelukan Giselle, tetapi gadis itu tetap kekeh tidak mau melepasnya.
Arsen merasa was-was melihat sekitar takut jika ada yang melihat mereka berdua. Apalagi di setiap sudut rumah Winata Yoga terpasang CCTV. Arsen langsung mengajak Giselle masuk ke dalam kamarnya dan memastikan tidak ada yang melihatnya. Jika hal itu terjadi bisa dipastikan Winata Yoga akan marah besar.
“Giselle, tenanglah. Semua akan baik-baik saja.”
“Apanya yang baik? Aku tidak suka dengan Haikal!” Giselle mencebik kesal. Gadis itu merasa kecewa karena Arsen mendukung keinginan Winata Yoga. Padahal Giselle sangat berharap Arsen akan menolaknya dan membela Giselle.
“Kamu belum mengenalnya dengan baik. Cobalah, kamu pasti perlahan juga akan menyukainya.” Arsen masih berusaha bersikap biasa. Lelaki itu melepas pelukannya dan berjalan ke arah jendela. Melihat keadaan jika sewaktu-waktu mobil Winata Yoga memasuki halaman rumah.
Giselle berdecak kesal. Gadis itu menghentak kakinya. Ia merasa kesal karena Arsen seolah tidak peduli. Lelaki itu mengabaikannya seolah Giselle memang tidak memunyai tempat di hatinya.
“Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu. Tidak baik anak gadis berada di dalam kamar seorang lelaki.” Arsen masih berada di depan jendela. Ia sengaja menjauh dan tidak ingin mendekat. Ia menghindari tatapan mata yang selalu membuatnya tidak bisa menolak apa yang menjadi keinginan gadis tersebut.
Giselle sama sekali tidak menanggapi perkataan Arsen. Ia tetap berdiri menunggu lelaki di depannya berbalik melihatnya. Arsen sama sekali tidak mendengar reaksi Giselle. Reaksi marah dan kesal tidak terdengar sama sekali. Arsen menoleh dan melihat Giselle masih berdiri di belakangnya.
Lelaki itu harus menarik napasnya kuat. Ia berjalan mendekati Giselle. Ia memang tidak bisa menolak hatinya.
“Kamu sudah dewasa, Jangan bertingkah seperti anak kecil. Apa yang dikatakan Tuan sepenuhnya benar. Haikal adalah pilihan tepat.” Arsen memegang kedua bahu gadis yang tengah menunduk. Masih berharap lelaki di depannya mau peduli dengan perasaannya.
“Uncle … aku tidak mau.” Giselle menggeleng. Ia tidak tahu bagaimana lagi harus mengatakan padanya.
“Giselle … apa maumu? Perjodohan kalian sudah diatur sedemikian rupa. Jangan sampai membuat Papamu bermasalah.”
“Aku hanya …” Giselle masih belum mantap.
“Kembalilah, aku mau kembali bekerja.” Arsen masih membujuk Giselle agar sang gadis mau keluar.
Giselle tidak beranjak. Ia tetap pada tempatnya. Ia belum puas dengan semuanya. Apa yang dikatakan Arsen terasa konyol baginya. Ia tidak menginginkan perjodohan itu. Ia juga tidak menginginkan Arsen mengusirnya.
“Giselle ayolah kumohon jangan seperti ini. Apa yang kamu tunggu lagi?” Arsen kehilangan akal untuk membuat gadis itu beranjak.
Gadis manja yang membuat hatinya selalu berantakan itu masih berdiri dan menatapnya lekat. Arsen salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
“Kenapa uncle salah tingkah?” Giselle berusaha mencari pembenaran hatinya. Ia sangat yakin jika lelaki di depannya benar-benar menaruh hati padanya.
“Giselle, aku hanya Lelah.”
“Bohong! Lihat aku kalau memang uncle berkata jujur.” Giselle masih tidak menyerah. Gadis itu memiliki pendirian yang tidak mudah goyah.
Arsen merasa kacau. Ia lebih memilih berbalik dari pada harus menatap Giselle di depannya. Gadis manja itu langsung menarik tangan Arsen tidak membiarkan sang lelaki pergi. Ia memiliki keberanian untuk menuntut hak hatinya untuk jatuh cinta kepada siapapun, termasuk Arsen.
“Jangan pergi.”
“Giselle …”
“Uncle kenapa tidak mau melihatku?”
“Lepas!” Arsen berusaha melepas tangannya. Lelaki itu menghentak tangannya kasar hingga membuat Giselle terjatuh. Tenaga Arsen membuat Giselle kalah.
Gadis itu tersungkur dan mengusap tangannya yang sakit. Arsen yang melihatnya merasa bersalah. Giselle merasa kesakitan karena ulah kasarnya.
"Kamu tidak kenapa-apa?”
“Masih peduli padaku?”
“Giselle, ayolah, jangan seperti ini.”
“Apa aku salah jika menyukai uncle?” Giselle berkata jujur. “Apa aku salah jika menyimpan perasaanku untuk lelaki di depanku?” Giselle kembali mengungkapkan isi hatinya. “Aku mencintai uncle. Apa aku salah?”
“Tidak … kamu jangan bercanda.”
“Arsen, seorang lelaki yang selalu menemaniku. Seorang lelaki yang membuatku tersenyum. Meskipun aku selalu berada dalam bahaya. Aku tidak akan menyesal.”
“Giselle! Berhenti.”
“Kenapa? Uncle takut?” Giselle mendekatkan wajahnya, gadis itu benar-benar menunjukkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Giselle tempat kita berbeda.”
“Apanya yang berbeda? Aku sama sepertimu. Uncle jangan pernah mengelak. Aku tahu semuanya. Jawab pertanyaanku! Apakah uncle mencintaiku?”
Arsen menatap bola mata yang terus saja menatapnya lekat. Kedua tangannya menangkup wajah di depannya. Gadis cantik yang memang mempunyai tempat special di hatinya. Keduanya saling memandang menghentikan waktu yang terus saja berjalan. Bibir tipis itu seolah mengisyaratkan jika Arsen memang mempunyai rasa yang sama. Tangannya mengusap lembut pipi Giselle. Mereka saling diam tidak mengucap apa pun.
“Giselle andai saja waktu bisa kuubah. Mungkin aku akan lebih memilih tidak bertemu denganmu.”
“Kenapa? Apa yang salah?”
“Aku … hanya …”
Giselle tidak peduli dengan apa yang dikatakan Arsen. Gadis itu spontan mencium lelaki di depannya. Sontak Arsen terkejut saat kedua bibir mereka bertemu. Kedua bola mata beradu dan meminta penjelasan dengan semuanya. Giselle menutup matanya seolah membiarkan perasaannya larut. Arsen mendorong Giselle dan mundur beberapa langkah. Ia tidak ingin semuanya terjadi di luar batas hingga membuat dirinya dan Giselle bermasalah.
“Uncle menolakku?” Giselle merasa kecewa saat lelaki itu menghindarinya.
“Keluarlah!” Arsen memalingkan mukanya. Ia tetap bersikukuh tidak akan terjebak dengan hal percintaannya. Semua itu hanya akan membuatnya lemah.
Giselle terlihat menyerah. Gadis itu menunduk dan mengusap pelupuk matanya. Ia patah hati mendapat penolakan. Padahal ia sangat berharap jika Arsen menyambut perasaannya. Dua perasaan yang sama dan menyatu dalam ikatan cinta. Akan tetapi, semua tidak seindah yang Giselle bayangkan. Gadis itu harus menerima semuanya.
“Uncle …”
“Keluarlah, Tuan Winata Yoga sudah pulang. Tidak baik rasanya jika kamu masih di sini.” Arsen berjalan melewati Giselle membuka pintu kamarnya. Ia masih berpaling tidak ingin melihat gadis di depannya. Setidaknya ia bisa menguatkan hatinya untuk tidak goyah.
Giselle berjalan pelan. Ia berharap Arsen menatapnya, tetapi lelaki itu masih kekeh tidak mau melihatnya. Mungkin Giselle memang harus melepas Arsen, mencoba mengikuti keinginan Winata Yoga untuk membuat Giselle dekat dengan Haikal. Pemuda pilihan Winata Yoga yang berasal dari salah satu keluarga terpandang di Surabaya.