Semenjak pertemuannya dengan Giselle di kamar. Arsen perlahan mulai menjauhi gadis itu. Ia memilih banyak tugas di luar dari pada harus menjadi pengawal Winata Yoga. Ia merasa canggung jika harus berhadapan dengan lelaki yang menjadi orang tua gadis yang disukainya. Arsen memilih mengintai aktivitas Adi Putro di sekitar pelabuhan untuk melupakan perasaan konyolnya pada Giselle. Setidaknya Arsen butuh waktu untuk kembali benar-benar siap berada di barisan terdepan pengawal Winata Yoga.
Dua orang anak buah Arsen yang membantu merasa aneh melihat Arsen. Lelaki itu terlihat tidak semangat dan seperti kehilangan rasa percaya diri. Tiga hari mereka habiskan waktu di dermaga tanpa menyentuh Gudang Adi Putro sama sekali. Padahal saat itu Arsen dan kedua anak buahnya berencana menggagalkan transaksi illegal yang terjadi.
Arsen mendapat informasi tersebut dari mata-matanya yang menyamar sebagai pekerja di Gudang Adi Putro. Kesempatan itu tidak akan Aren lepaskan untuk menjerat Adi Putro dan anak buahnya masuk ke dalam penjara.
“Mau sampai kapan kita tetap di sini?” salah satu anak buah Arsen mulai jenuh dengan pengintaian mereka.
“Kalau kalian lelah, kalian bisa kembali. Aku akan di sini sendiri.” Arsen mengetuk dashboard mobil. Keadaan wajahnya terlihat kacau. Jambangnya mulai tumbuh, beberapa hari Arsen tidak mencukurnya.
“Tapi, Bos.”
“Pergilah. Katakan pada Tuan Winata Yoga aku masih mengintai di sini.”
Kedua anak buahnya akhirnya memilih meninggalkan Arsen. Mereka pikir Arsen memang butuh waktu untuk sendiri. Perubahan lelaki tersebut memang terlihat sangat jelas. Siapa yang mengenal keseharian Arsen pasti sudah mengerti apa yang terjadi.
“Sepertinya aku memang perlu pamanasan.” Arsen keluar mobil setelah kedua anak buahnya pergi. Lelaki itu mengambil topi hitam lengkap dengan kacamatanya.
Ia berniat menyamar untuk menyusup masuk ke dalam Gudang Winata Yoga. Lelaki itu memang sengaja membiarkan anak buahnya kembali agar tidak membuat mereka celaka. Arsen lebih memilih bekerja sendiri dan tidak ingin lainnya terlibat dalam pertarungan yang bisa membuat mereka celaka sewaktu-waktu.
“Sekarang saatnya untuk bermain.” Arsen tersenyum. Lelaki itu berjalan mengendap menghimpit pintu masuk Gudang Adi Putro.
Beberapa mobil boks baru saja masuk dan diikuti sebuah mobil sedan berwarna hitam. Arsen menyiapkan senjata di balik jaket hitamnya. Ia hanya membawa sebuah pistol dan beberapa cadangan peluru yang ia simpan di saku celana. Ia sangat yakin jika Adi Putro yang berada di dalam mobil sedan itu.
Saat pagar Gudang bagian depan terbuka lebar, Arsen mencoba menyusup untuk masuk ke dalam. Lelaki itu ingin mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Mata-mata Arsen telah mengirim denah gudang yang membuat Arsen lebih leluasa bergerak dan bisa dengan jelas tahu letak tempat paling aman dan jalan untuk kabur saat keadaan terdesak.
Beberapa penjaga yang terlihat sedang makan siang membuat Arsen lebih mudah menyusup. Ia mengendap perlahan menghimpit di balik tumpukan pallet kayu yang tidak terpakai.
Suara john sang musuh bebuyutan Arsen terdengar tertawa lebar. Ia dengan beberapa anak buahnya terlihat sedang bertemu dengan beberapa orang yang membawa sebuah karung besar di punggungnya.
Mereka sepertinya telah selesai melakukan transaksi. Arsen tetap focus dengan apa yang mereka perbincangkan. Arsen mengirim pesan pada mata-matanya mengenai lokasinya berada. Setidaknya Arsen membutuhkan bantuannya untuk merekam percakapan yang terjadi di dalam sana.
“Sepertinya aku melewatkan sesuatu.” Kedua tamu Adi Putro telag pergi membawa mobil sedan hitam mereka.
Ternyata Arsen salah tebak, tidak ada Adi Putro di dalam sana. Hanya ada John dan beberapa anak buahnya. Sepertinya Arsen terlambat masuk ke dalam. Satu per satu dari mereka pergi dan pintu gudang kembali tertutup rapat. Hanya Arsen yang berada di dalam gudang pengap tempat penyimpanan tumpukan palet.
Arsen keluar dari persembunyiannya. Ia melihat keadaan sekitar yang terlihat sangat sepi. Hanya ada debu yang tertinggal dari jejak kakinya. Ia mengirim pesan kembali pada anak buahnya.
[Ke mana mereka?] Arsen mengirim pesan. Ia merasa keadaan berubah tidak biasa. Instingnya bekerja dan mengatakan bahaya tengah mendekat, tetapi Arsen tidak melihat siapa pun di sekitarnya.
Sebuah foto yang Arsen terima membuat lelaki itu terkejut. Mata-matanya tertangkap dan lelaki itu disekap John dan anak buahnya.
[Ucapkan selamat tinggal!]
John mengirim sebuah video pemukulan anak buah Arsen selama beberapa detik. Arsen langsung menelepon John berulang kali, tetapi tetap saja lelaki botak itu tidak mau mengangkatnya. Wajah anak buah Arsen terlihat lemah tidak berdaya.
“Inilah akibat terlalu ikut campur urusan kami!” Sebuah perkataan John terdengar di video berdurasi pendek tersebut.
Arsen mencari cara mengetahui di mana anak buahnya tersebut disekap. Lelaki itu mencoba mencari tahu lewat denah yang ia dapat. Ia mencoba melihat lagi dengan seksama lokasi dalam video. Ia menemukan beberapa tabung gas di belakang mereka. Arsen juga menemukan beberapa helm proyek yang bertuliskan safety.
“Ruang keselamatan!” Arsen akhirnya menemukan di mana anak buahnya berada. Lelaki itu bergegas beralri kea rah paling barat gudang. Tempat itu berdekatan dengan pintu rahasia keluar gudang yang Arsen ketahui dari denah tersebut.
Beberapa penjaga berada di depan pintu. Arsen sangat yakin jika John berada di dalamnya. Arsen mencoba mencari cara untuk mengalihkan perhatian penjaga tersebut. Ia harus bisa menyelamatkan mata-matanya yang disekap. Anak buahnya itu mempunyai jasa yang sangat besar membantu Arsen mengetahui seluk beluk gudang Adi Putro.
Sebuah panggilan masuk dari Giselle terus-menerus bergetar. Gadis itu lama tidak menghubungi Arsen setelah pertemuan mereka yang terakhir. Kabar yang sempat Arsen dengar dari beberapa anak buahnya, Giselle mulai diantar jemput Haikal. Bahkan beberapa kali Giselle sempat makan malam bersama pemuda itu. Mendegarnya, Arsen berusaha tidak peduli. Arsen memutuskan panggilan itu, tetapi Giselle kembali meneleponnya. Tanpa berikir Panjang Arsen langsung mematikan ponselnya, ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun meski Giselle sekali pun.
“Maaf, aku harus menyelamatkan Rendi.” Arsen memasukkan kembali ponselnya. Lelaki itu membuang batu ke sembarang arah hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
Arsen berhasil mengalihkan perhatian dan berhasil masuk ke dalam. Ia telah disambut dengan pukulan anak buah John yang telah siap menyambutnya. Semua memang telah direncanakan John agar Arsen berada di sarangnya.
Sudah lama John mencurigai anak buah Arsen yang menyamar sebagai pekerja. Saat Rendi mengintip dan merekam mereka. Salah satu anak buah John menangkapnya dan mengadu pada John.
“Hello kawan kita bertemu di sini. Kamu sudah merindukan pukulanku?” John tertawa lebar. Lelaki itu seakan mengejek Arsen yang terperangkap di tempatnya.
Semua anak buah John telah mengepung keberadaan Arsen dan bersiap menyerang. Lelaki itu tidak bisa mengelak dan lari.
“Kamu bisa licik, aku pun bisa lebih licik!”
“Di mana Rendi?” tanya Arsen yang tidak melihat siapa pun di sana.
“Cih! Masih bertanya di mana pecundang itu?” John berjalan mendekati Arsen. Kedua musuh bebuyutan itu seakan siap bertarung mengalahkan satu sama lain. “Rendi sudah mati! Aku membuangnya ke laut! Kamu tahu mobil boks yang keluar tadi?” John kembali mengingatkan Arsen dua mobil yang masuk dan terus keluar gudang. “Mobil itu yang membawa mayat pecundang itu! Ha ha ha ha ha “
“b*****h!” Satu pukulan Arsen melayang tidak tepat sasaran. Tagannya terasa lemah saat mendengar Rendi telah meninggal. Arsen gagal menyelamatkan anak buahnya. Ia benar-benar menjadi bos yang tidak berguna.
“Ha ha ha apa yang kamu lakukan? Menyerangku dengan tenaga seperti itu? Seperti ini lebih baik!” John mengunci tangan Arsen dan memukul perutnya. John menorongnya hingga tubuhnya jatuh tersungkur.
Arsen masih merasa lemas. Semua tertawa melihat keadaan Arsen yang tidak berdaya. Seorang Arsen tidak bisa melakukan pukulan sempurna. Bahkan melawan anak buah John saja Arsen tidak mampu.
“Dasar lembek! Bergaulah dengan anak gadis tidak bisa membuatmu berpikir sehat. Payah!” Kembali John memukul Arsen yang tidak berdaya.
Lelaki berkepala botak itu tidak membiarkan Arsen berdiri. Suara John semakin lama semakin terdengar panas. Arsen tidak rela John menghina sang gadis. Tangan Arsen mengepal dan melempar genggaman debu yang berhasil ia ambil. Arsen teringat dengan Giselle yang beberapa kali meneleponnya. Ia merasa gadis itu dalam keadaan terdesak hingga harus meneleponnya.
“Sialan!” John mengusap matanya yang terasa perih.
Beberapa anak buahnya langsung maju menyerang Arsen. Namun, dengan mudah Arsen menangkisnya. Ia seolah mendapat kekuatannya kembali. Dendamnya begitu membara karena kematian Rendi. Ia akan berbuat lebih untuk membalas kematian Rendi.
“Rasakan!” Arsen memukul brutal yang berusaha menyerangnya. Lelaki itu berhasil menumbangkan John dan beberapa anak buahnya. Semua tidak berdaya karena pukulan Arsen. Seperti biasa lelaki itu bisa memenangkan pertaruangannya dengan John.
Tidak mau membuang waktu, Arsen langsung keluar dan mencari jalan pintas untuk segera keluar. Yang ada di dalam pikirannya adalah Giselle. Arsen berhasil keluar dari gudang dan langsung mencari mobilnya. Lelaki itu menghidupkan ponselnya dan berusaha menghubungi Giselle, tetapi gadis itu tidak mengangkatnya sama sekali.
“Angkat Giselle!” Arsen langsung menghidupkan mobilnya. Lelaki itu langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Instingnya mengatakan Giselle sedang tidak baik.