Pintu gerbang kediaman Winata Yoga terbuka lebar. Arsen langsung menghentikan mobilnya di tempat biasa. Ia melihat beberapa anak buahnya terlihat begitu tegang. Suasana malam yang lumayan dingin membuat beberapa tangan dari mereka terasa dingin. Ekspresi semua yang berada di sana terlihat begitu tegang.
Arsen turun dari mobil dan langsung mengampiri salah satu anak buahnya. Ia merasa ada hal yang janggal. Tidak biasanya mereka menunjukkan ekspresi seperti itu saat Arsen datang.
“Apa yang terjadi?” tanya Arsen tidak sabar.
Anak buahnya hanya terdiam tidak membalas pertanyaan Arsen. Mereka hanya menunduk dan takut salah bicara hingga membuat Arsen marah. Begitu pula yang lain. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Arsen.
Tidak ada yang memberi jawaban, Arsen langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Di sana ada beberapa anak buahnya yang menemani Winata Yoga dan istri yang terlihat begitu panik. Sang tuan terlihat sedang menelpon dengan ekpsresi wajah panik. Berulang kali Winata Yoga berusaha mebelepon, tetapi sepertinya gagal. Wajah sang istri pun terlihat khawatir, sedangkan Arsen tidak melihat keberadaan Giselle di sana.
“Apa yang terjadi?” Arsen kembali bertanya pelan pada anak buahnya. Ia tidak ingin kehadirannya merusak suasana.
Mereka terdiam tidak ada yang menjawab. Di saat suasana yang genting tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara. Merasa tidak ada jawaban, Arsen langsung mendekati Winata Yoga untuk mencari kepastian. Perasaannya mulai khawatir saat tidak melihat Giselle di antara kedua orang tuanya.
Gadis itu biasanya yang paling semangat saat menyambut kedatangan Arsen pulang. Dan sekarang momen itu tidak terlihat lagi. Arsen pikir mungkin saja gadis itu sedang marah karena Arsen telah menolak teleponnya beberapa kali.
“Tuan apa yang terjadi?” Arsen tidak sabar dan langsung bertanya pada Winata Yoga.
“Bagaimana hasil pengintaianmu?” tanya Winata Yoga. Lelaki itu terlihat menyembunyikan sesuatu. Sedangkan sang istri masih terlihat khawatir.
“Rendi ketahuan dan mati terbunuh.” Arsen menunduk dan miris mengingat video yang ditunjukkan John saat itu.
John berhasil mengelabuhi Arsen tentang kematian Rendi. Ia pikir anak buahnya itu masih bisa selamat. Namun, kenyataannya John telah mengabisinya dengan cara yang kejam.
Winata Yoga terdiam. Ia sudah biasa mendapat kabar duka meninggalnya salah satu anak buahnya yang masuk ke dalam area Adi Putro. Lelaki itu masih bersikap biasa dan tidak menunjukkan hal kepanikan.
“Kamu urus seperti biasa, santuni keluarganya, jangan sampai ada yang tahu perihal kematian Rendi di tangan musuh.” Winata Yoga berujar tegas. Setelahnya lelaki itu pergi menjauh dan kembali berusaha menelepon. Ia tidak menanggapi pertanyaan Arsen tentang apa yang terjadi.
Sang tuan sepertinya memang sengaja tidak ingin Arsen terlibat di dalam hal yang membuatnya panik. Setelah Winata Yoga dan sang istri menjauh, Arsen langsung bertanya kembali pada anak buahnya dan memaksa mereka untuk menjawab pertanyaannya.
“Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa Tuan terlihat panik?”
“Dia …” Salah satu anak buahnya terdengar bingung menjawabnya.
“Di mana Giselle?” Arsen kembali bertanya. Ia masih belum tenang jika tidak mengetahui keberadaan Giselle.
“Nona …”
“Kenapa? Apa yang terjadi?” Arsen menarik kerah anak buahnya untuk memaksanya berbicara. Arsen sangat paham jika situasi kediaman Winata Yoga terasa berbeda. Ada hal besar seolah ditutupi darinya.
“Nona belum pulang.”
“Apa?!” Arsen langsung terkejut. Lelaki itu langsung melepas kerah anak buahnya. Ia terkejut mendengar berita tentang Giselle.
Arsen hanya merasa bingung kenapa Winata Yoga justru menyembunyikan hal tersebut darinya. Sang tuan seolah tidak menginginkan Arsen ikut campur dengan hal tersebut.
“Sejak kapan Giselle keluar rumah?”
“Pa—gi ta—di.” Anak buah Arsen terdengar ketakutan. Ia takut jika Winata Yoga mendengarnya berbicara dengan Arsen.
Semua pekerja dan pengawal kediaman Winata Yoga harus merahasiakannya dari Arsen. Hal itu memang sengaja Winata Yoga lakukan agar konsentrasi Arsen tidak terpecah saat menjalankan misinya. Winata Yoga sangat paham jika keadaan Giselle sangat berpengaruh besar terhadap Arsen. Dan Winata Yoga tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia akan berusaha menyelesaikan masalah Giselle sendiri dengan bantuan beberapa anak buahnya dan team polisi.
“Dengan siapa dia keluar?!” Arsen terdengar marah. Ia merasa kecewa kenapa semua merahasiakannya.
Anak buahnya masih terdiam. Ia tidak berani menyebut nama yang dikabarkan akan menjadi tuannya. Ia juga takut jika Arsen malah berbuat hal di luar batas karena emosinya.
“Jawab pertanyaanku! Dengan siapa Giselle keluar?!”
“Tu--an Haikal ….”
“Sudah kuduga, lelaki b******k itu pasti sedang bersama Giselle.” Arsen mengepal tangannya. Ia merasa apa yang dikatakan Giselle memang benar tentang Haikal. Lelaki genit itu terlihat begitu obsesif pada Giselle hingga membuat sang gadis merasa tidak nyaman.
Tidak mau membuang waktu, Arsen langsung pergi mencari keberadaan Giselle. Ia tidak peduli dengan Winata Yoga yang tidak mengizinkannya ikut campur dalam hal tersebut. Arsen sangat tahu apa yang harus ia lakukan.
Giselle sempat meneleponnya, hal itu pertanda jika gadis itu tengah membutuhkannya. Arsen berulang kali mencoba melepon Giselle, tetapi ponselnya tidak aktif. Hanya suara mesin operator yang menjawab telepon. Arsen tidak tahu ke mana ia harus mencari Giselle.
Arsen menelpon team kepolisian yang biasa bekerjasama dengannya untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut keberadaan Giselle. Harusnya Giselle dinyatakan hilang jika sudah 1*24 jam. Akan tetapi Winata Yoga tidak bisa tenang karena Giselle tidak bisa dihubungi. Lelaki itu mendapat kabar jika keberadaan Giselle terkahir kali berada di café dekat taman Surabaya. Camera CCTV lalu lintas sempat merekam mobil yang ditumpangi Giselle keluar dari café tersebut saat pukul Sembilan pagi. Setelah itu, team kepolisian belum menemukan jejak lagi di mana keberadaan Giselle berada. Mereka sudah melacak keberadaan nomor ponsel Giselle berada. Akan tetapi, ponselnya malah tidak aktif.
Arsen menepikan mobilnya sebentar. Ia butuh ketenangan untuk berpikir. Suasana malam yang telihat begitu sepi membuat lalu lintas tidak begitu padat. Jalanan terlihat begitu lengang dan hanya beberapa mobil yang melintas. Lelaki itu mulai berpikir ke mana ia harus mencari Giselle.
“Sial! Kenapa aku lupa kalau aku pernah memasang alat pelacak di ponselnya.” Arsen baru teringat beberapa bulan yang lalu Arsen pernah menaruh alat pelecek pada ponsel Giselle yang lain. Gadis itu memang mempunyai dua ponsel. Satu ponsel sengaja ia sembunyikan dari Winata Yoga. Terkadang Giselle merasa kesal karena hidupnya selalu diatur dan diawasi oleh pengawal ayahnya. Hanya dengan Arsen, Giselle mau terbuka dan dekat. Sedangkan dengan lainnya Giselle merasa tidak nyaman.
Gadis itu pernah menghilang dan pergi melihat konser bersama teman-temannya. Giselle beralasan tidak ingin mendapat pengawalan. Ia malu dengan teman-temannya karena hal tersebut. Sejak kejadian itu Arsen memasang alat pelacak di ponsel Giselle yang bisa terhubung langsung dengan ponsel miliknya. Hal itu Arsen lakukan jika sewaktu-waktu ia perlukan untuk mengetahui posisi Giselle berada.
Arsen langsung membuka aplikasi yang menghubungkan lokasi Giselle. Lelaki itu tersenyum karena melihat titik keberadaan Giselle yang tidak jauh dari lokasinya berada. Hanya saja yang membuat Arsen terkejut adalah Giselle berada di sebuah club malam terbesar yang berada di kota Surabaya. Setahu Arsen selama ini Giselle tidak pernah berkunjung ke tempat seperti itu. Gadis itu bukanlah gadis liar penyuka dunia malam. Gadis itu hanyalah gadis manja yang kemanapun ia pergi selalu ditemani pengawal utusan Winata Yoga.
“Sedang apa kamu di sana?” Arsen berulang kali memastikan keberadaan Giselle. Ia sangat yakin Winata Yoga akan sangat marah jika mengetahui putrinya berada di sebuah club malam yang di dalamnya banyak sekali p****************g dan beberapa gadis cantik yang menjajakan tubuhnya. “Jangan bertindak bodoh!” Arsen tidak sabar langsung meluncur ke tempat Giselle berada.
Ia bertekad akan menghajar Haikal habis-habisan jika sesuatu terjadi pada Giselle. Ia tidak peduli jika Winata Yoga akan marah besar kepadanya. Baginya tidak ada hal yang lebih penting selain keselamatan Giselle. Bahkan jika harus membunuh Haikal, Arsen siap melakukannya.