Chapter 16

1290 Kata
Arsen berada dalam sebuah klub terbesar di Surabaya. Suara musik yang begitu keras membuat Arsen benar-benar harus berkonsentrasi untuk mencari keberadaan Giselle. Lelaki itu belum menemukan keberadaan Giselle di dalam club. Tiba-tiba saja sinyal keberadaan Giselle melemah. Arsen harus mencarinya ke segala penjuru klub yang terbilang besar. Beberapa gadis malam menyambut Arsen dengan lekuk tubuh yang menggoda. Mereka bergelayut manja seolah menganggap lelaki berbadan tegap itu adalah mangsanya. Tidak segan beberapa dari mereka menggerayangi tubuh Arsen agar tergoda. Hal itu tidak serta merta membuat Arsen mengimbanginya. Lelaki itu bersikap dingin dan menyingkirkan beberapa tangan nakal yang menyentuhnya. “Dasar munafik! Masuk tempat seperti ini bisa-bisanya sok suci.” Salah seorang gadis malam berceloteh. Ia merasa kesal karena Arsen menepis tangannya. Gadis itu merasa terhina karena Arsen sama sekali tidak tertarik dengannya. Marah  mendengarnya lelaki itu langsung berbalik dan mencekal tangannya. Tidak ada alasan yang cukup kuat membuatnya berada di tempat hiburan malam selain karena Giselle. Lelaki itu it uterus mencekal tangan gadis itu hingga membuat sang gadis malam meringis kesakitan. Suara letupan music yang membuat semua pengunjung berbaur satu sama lain membuat tidak ada yang menyadari perilaku kasar Arsen. “Lepas! Sakit … apa maumu?” “Lihat gadis ini?” Arsen mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Giselle. Lelaki itu berharap wanita yang bersamanya melihat Giselle dan bisa menjadi petunjuk baginya. “Dia?” Gadis itu terlihat menyembunyikan sesuatu. Arsen curiga melihat ekspresinya. Gadis itu seolah tidak mau bicara. Beberapa dari mereka langsung pergi meninggalkan temannya yang ditahan Arsen. “Katakan! Kamu melihatnya?” “Aku tidak tahu apa-apa.” Gadis itu semakin ketakutan. Ia berusaha kabur, tetapi Arsen tidak membiarkannya lepas begitu saja. “Kamu menyembunyikan sesuatu?” tebak Arsen. Ia sangat yakin gadis di depannya ketakutan saat Arsen menunjukkan foto Giselle. Arsen langsung menarik gadis itu menuju bawah tangga. Suara music yang sangat keras membuat Arsen kesusahan saat mengintrogasinya. Saat lengah, gadis itu langsung kabur ke lantai atas dan menghilang. Arsen kehilangan jejak dan langsung menyusulnya naik. Beberapa ruangan khusus tampak berjejer di lantai dua. Semua pintu tertutup rapat. Sekilas Arsen melihat gadis tersebut masuk ke dalam satu ruangan yang terdapat dua penjaga di depan pintunya. Dari kejauhan dua penjaga pintu terlihat menjaga ketat ruangan di paling ujung. Arsen yakin ruangan itu seperti ruangan khusus untuk tamu istimewa. Gadis itu bisa masuk dengan mudah tanpa dicegah kedua penjaganya. Arsen mulai berjalan menuju ruangan tersebut. Kedua penjaga itu bereaksi saat Arsen datang. Mereka menghalangi Arsen untuk masuk ruangan khusus yang dipesan oleh VIP mereka. “Anda dilarang masuk!” “Saya mau mencari seseorang!” Arsen masih berusaha memaksa masuk. “Siapa anda?! Tidak ada kepentingan di sini dilarang masuk!” Kedua penjaga itu mendorong Arsen. “Saya mencari Nona Giselle!” Kedua penjaga itu beradu pandang. Sepertinya mereka mengenal nama Giselle. Arsen menangkap ada rahasia di balik pandangan mereka. Tanpa berpikir Panjang Arsen langsung mengambil celah menendang mereka dan menjatuhkan mereka. Kedua lelaki itu lengah dan Arsen berhasil melumpuhkan mereka dalam hitungan menit. Mereka tidak bisa melawan dan kesakitan. Postur tubuh yang besar tidak menjamin mereka mempunyai tenaga yang besar untuk melawan Arsen. Mereka tidak berdaya hanya dengan beberapa kali tendangan dan pukulan dari Arsen. Lelaki itu langsung membuka pintu bercat hitam bertulis V-VIP. Sebuah ruangan yang luas terlihat dengan satu deret meja dan kursi dengan sebuah layer besar di bagian samping. Beberapa perempuan seksi terlihat sedang memanjakan seorang lelaki yang tidak lain adalah Haikal. Lelaki itu terlihat begitu menikmati kebersamaannya bersama para gadis. b******u dan sesekali menciumi mereka satu per satu. Arsen sama sekali tidak melihat Giselle di sana. Bahkan, gadis yang sempat Arsen tahan terlihat ketakutan melihat Arsen berdiri di depan meja Haikal. “Hei … kamu rupanya yang sudah membuat gadisku kesakitan.” Haikal terdengar seperti mabuk. Ia masih merangkul gadis di sampingnya. “b*****h! Di mana Giselle?!” Arsen tidak tahan dan langsung menarik Haikal dari para gadis. Mereka hanya bisa menjerit melihat perlakuan Arsen. Para gadis langsung berlari berkumpul di sudut ruangan. Dua orang penjaga di depan tidak bisa menolong Haikal karena berhasil dilumpuhkan. “Malang sekali nasibmu!” Haikal tersenyum mengejek. “Berharap mendapat berlian, kamu itu hanyalah sebuah kotoran di kubangan! Tidak pantas mendapat gadis kaya bermartabat seperti Giselle!” Perkataan Haikal seolah menyindiri Arsen. Pemuda itu seolah tahu bagaimana hubungan Arsen dan Giselle yang memang dekat. “b*****h! Di mana Giselle!” Tanpa ampun Arsen memukul Haikal. Ia tidak peduli pemuda di depannya adalah anak mitra bisnis Winata Yoga yang begitu penting. Jika Winata Yoga marah kepadanya Arsen siap menanggunggnya asal tidak terjadi sesuatu pada Giselle. Para gadis hanya bisa menjerit melihat Arsen yang memukuli Haikal. Pemuda itu tidak berdaya dan tidak melawan. Kondisi Haikal yang mabuk berat membuat pemuda itu terlihat lunglai. Arsen sekali lagi memaksa Haikal untuk berbicara, tetapi Haikal masih saja tidak menjawab. Satu pukulan keras mengenai wajah Haikal hingga membuat pemuda itu pingsan. Melihat beberapa gadis yang ketakutan membuat Arsen tertuju pada satu gadis yang sempat kabur darinya. Gadis itu bersembunyi di balik gadis-gadis yang bersama Haikal. Ia terlihat sangat ketakutan saat Arsen berjalan mendekat. Gadis itu takut jika Arsen akan memperlakukan hal yang sama seperti yang diterima Haikal. “Di mana Giselle?!” Arsen bertanya kasar. Ia tidak peduli gadis-gadis di depannya ketakutan karena gertakan suaranya. “Kami tidak mengenalnya.” Salah satu gadis menyahut pertanyaan Arsen. “Aku tidak bertanya padamu!” Gadis itu langsung terdiam. Arsen langsung menatap tajam gadis yang berada paing belakang. Semua gadis di depannya menyingkir memberi jalan Arsen untuk mendekat. Mereka langsung pergi setelah Arsen mendekati gadis yang sempat kabur darinya. “Katakan padaku di mana Giselle!” “Aku tidak tahu apa-apa.” Gadis itu sangat ketakutan. Ia tidak bisa pergi ke mana pun. Ruang geraknya terbatas. Arsen menutup semua aksesnya. Hingga membuat gadis itu tidak bisa lagi lari darinya. “Lantas kenapa kamu lari?!” “Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Giselle. Yang aku tahu dia ke sini bersama Haikal. Gadis itu terlihat menolak saat Haikal membawanya ke atas. Setelah itu …” Gadis itu menghentikan ucapannya. Ia terlihat tidak berani melanjutkan perkataannya. “Katakan! Ke mana Haikal membawa Giselle pergi?!” Gadis itu ketakutan. Melihat ekpsresi Arsen yang begitu marah membuatnya gugup dan tidak bisa berbicara. “Katakan! Aku akan melepaskanmu setelah kamu katakan di mana Giselle!” “Dia di—ba—wa pergi teman Hai—kal.” Arsen semakin terkejut. Haikal malah memberikan Giselle pada lelaki lain bak barang yang bisa dilempar ke mana saja. “Sialan! Ke mana dia membawanya?!” Arsen masih memburu gadis di depannya dengan pertanyaan. Ia masih belum mendapat petunjuk jelas tentang keberadaan Giselle. Gadis itu masih ketakutan. Ia benar-benar takut Arsen akan marah besar jika gadis itu mengatakan sebenarnya. “Katakan!” “Mereka berempat di ruang sebelah.” Arsen memukul dinding di samping sang gadis. Lelaki itu meluapkan emosi membayangkan apa yang terjadi dengan Giselle. Sang nona bersama tiga orang lelaki yang sama sekali tidak dikenal. Bahkan Arsen tidak tahu siapa tiga lelaki tersebut. Melihat celah untuk kabur, gadis di depan Arsen langsung lari. Ia tidak ingin menjadi bulan-bulanan kemarahan Arsen seperi Haikal. Gadis itu masih ingin wajahnya tetap mulus tidak tergores luka apa pun. “Kamu memang b******k! Bisa-bisanya membawa Giselle pergi dan malah membiarkannya bersama lelaki yang sama sekali tidak ia kenal. Marabatmu sebagai lelaki nol besar! Hanya mengandalkan kekuasaan orang tuamu dan berbuat sesukamu dengan gadis manapun!” Arsen kembali memukul tembok di depannya.   Ia tidak peduli punggung tangannya terluka. Arsen hanya mengkhawatirkan keadaan Giselle. Ia harus segera mencari keberadaan Giselle bersama tiga lelaki asing. Ia tidak ingin kejadian buruk terjadi hingga Arsen harus merutuki kebodohannya karena tidak mengangkat telepon dari Giselle waktu itu. Arsen menjadi lelaki yang paling bersalah jika kehormatan Giselle hancur di tangan lelaki yang tidak bertanggung jawab.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN