Chapter 17

1061 Kata
Arsen membuka satu per satu ruangan di lantai atas. Arsen belum juga menemukan keberadaan Giselle. Semua tidak sesuai yang dikatakan gadis malam tersebut. Giselle tidak ada di ruangan sebelah tempat Haikal berada. Arse telah membuka semuanya. Hasilnya nihil, tidak ada Giselle atau lainnya. Hanya tinggal satu ruangan yang menjadi harapan Arsen. Arsen berjalan mendekati pintu. Lelaki itu mendekat dan mencoba mendengar suara dari luar. Suasana terdengar hening. Ruang dirancang kedap udara membuat suara di dalam tidak akan terdengar jelas. Satu harapan besar membuat Arsen yakin membuka pintu di depannya. Ia tidak peduli jika harus mengganggu privasi orang di dalamnya yang sedang bercinta. Bagi Arsen Giselle lebih penting. Tidak mau berpikir terlalu lama Arsen langsung membuka pintu dan tercengang melihat adegan di depannya. Tiga orang lelaki tengah mencumbu Giselle dalam keadaan mabuk. Gadis itu menari sepuasnya dengan pakaian yang terbuka. Giselle juga tidak sadar jika beberapa lelaki bersamanya tengah menggerayangi tubuhnya. Arsen sangat terkejut melihatnya. Lelaki itu terlihat marah dan langsung menghampiri mereka. Satu per satu dari mereka dipukul tanpa ampun. Sementara Giselle terus saja menari tanpa tahu keberadaan Arsen. Musik yang terus mengalun membuat Giselle terus saja menggerakkan badannya. Gadis itu benar-benar di luar batas kesadarannya. “Hei siapa kamu? Kenapa datang-datang mengganggu kami?” tanya salah seolah lelaki yang bersama Giselle. Lelaki itu juga dalam keadaan mabuk. Ia berusaha berdiri, tetapi pukulan Arsen membuatnya kesusahan. Satu teman lainnya berusaha bangkit dan memukul Arsen. Akan tetapi pukulannya melayang dan tidak mengenai Arsen. Masa bodoh dengan mereka Arsen segera menarik tangan Giselle. Lelaki itu melepas jaketnya dan menutupi tubuh Giselle yang sedikit terbuka. Gadis itu merasa terusik karena Arsen menghentikan kesenangannya. Giselle berulang kali mendorong tubuh Arsen. Ia tidak ingin pulang dan masih ingin menari dan menari. Beberapa botol minuman di meja terlihat kosong. Menandakan mereka telah menghabiskannya. Giselle berada dalam pengaruh minuman keras hingga tidak sadar jika dirinya hampir saja dilecehkan oleh lelaki yang tidak ia kenal akibat ulah Haikal. “Giselle! Kita pulang!” Arsen masih berusaha menarik tangan Giselle. “Uncle? Kenapa ada di sini?” Giselle menepis tangan Arsen. Tubuhnya linglung dan masih menggerakkan sedikit badannya. “Pulang, Tuan mengkahawatirkanmu.” “Papa? Uncle tidak khawatir?” Giselle mengentikan tariannya. Gadis itu melihat Arsen dengan keadaan tidak sepenuhnya sadar. “Uncle masih peduli padaku? Pergi! Pergi saja! Biarkan aku di sini!” Giselle mendorong Arsen. Gadis itu menunjukkan kemarahannya dalam keadaan mabuk. Ia terus mendorong tubuh Arsen tanpa perlawan. Arsen membiarkan Giselle meluapkan semua kemarahannya. Ia sangat tahu bagiamana Giselle. Selama ini Arsen tidak pernah membiarkannya, Arsen selalu menjawab telepon Giselle dalam keadaan genting sekali pun. Ekspresi wajah Giselle pun berubah seketika. Wajahnya terlihat begitu bersedih. Ia berhenti memukul Arsen dan tiba-tiba saja menangis. “Uncle jahat! Uncle menolakku!” “Giselle sebaiknya kita pulang.” Arsen masih berusaha membujuk. Berbicara dengan Giselle dalam keadaan mabuk membuat semuanya percuma. Gadis itu berada di luar kendali. Sebanyak apa pun Arsen berbicara menjelaskan semuanya akan terasa percuma. Giselle masih terus saja meracau. Sementara Arsen mengirim pesan ke anak buahnya jika dirinya telah menemukan Giselle. Arsen juga berpesan agar menyampaikan pesannya kepada Winata Yoga agar tidak khawatir dengan anak gadisnya. Giselle dalam keadaan aman. “Aku adalah wanita dewasa! Uncle tidak perlu peduli lagi padaku!” Tubuh Giselle limbung. Arsen berusaha menangkapnya, tetapi Giselle kembali mendorong tubuh Arsen. Sang gadis begitu membenci kepala pengawal itu. “Giselle dengarkan aku.” Arsen langsung mencengkram kedua bahu Giselle. Lelaki itu tidak bisa membiarkan Giselle pulang dengan keadaan seperti itu. Bahkan Ia merahasiakan tempat Giselle ditemukan. Arsen tidak ingin Winata Yoga marah besar jika mendengar keadaan Giselle tengah mabuk dan berada di salah satu klub malam di Surabaya. Nama besar Winata Yoga akan berpengaruh jika ada yang mengetahuinya. Haikal adalah satu-satunya orang yang menjadi biang masalah. Arsen merasa puas telah memukul Haikal dan temannya. Ia puas telah memberi mereka pelajaran karena telah menyentuh Giselle. "Kita pulang.” “Enggak mau! Uncle dan Papa tidak pernah peduli dengan perasaan Giselle!” “Giselle …” Arsen mencoba melunak. “Uncle tidak pernah peduli, uncle tidak peduli.” Suara Giselle terdengar mulai melemah. “Uncle menolakku, uncle sama sekali tidak pernah menyayangiku.” Arsen tidak tahan mendengar Giselle yang terus saja meracau. Gadis itu masih marah karena penolakan Arsen waktu. Bukan tanpa alasan Arsen melakukannya. Hal itu semua Arsen lakukan karena merasa dirinya memang tidak pantas menjadi pasangan Giselle. Usia mereka cukup terpaut jauh, status social keduanya pun sangat berbeda. Meskipun Arsen juga memiliki rasa yang sama. Lelaki itu harus mengubur semua keinginannya dengan loyalitasnya terhadap pekerjaan. Tidak tahan, Arsen langsung menarik Giselle dalam pelukannya. Lelaki itu masih berusaha menenangkan Giselle yang terus saja meracau. Tangannya mengusap kepala sang gadis mencoba menenangkan. “Jangan pernah berpikir seperti itu.” Arsen masih mendekap tubuh Giselle. Gadis itu terdiam dan memejamkan matanya. Menikmati kebersamaannya bersama Arsen. Dekapannya membuat Giselle sedikit lebih tenang. Gadis itu memeluk Arsen begitu erat sebagai ungkapan perasaannya yang begitu besar kepada Arsen. “Uncle … jangan pernah mengindariku lagi. Jangan pernah menolakku lagi.” Arsen mengusap punggung Giselle. Ia merasa kondisi mulai stabil. Giselle mulai bisa dikendalikan. Setidaknya Arsen bisa membawa Giselle pulang dalam keadaan lebih baik. Setidaknya satu hal yang harus Arsen tunjukkan pada Winata Yoga jika Haikal bukanlah pasangan yang baik. Lelaki itu hanya membawa Giselle dalam hal keburukan. Selama ini Giselle selalu menjaga pergaulannya, ia tidak pernah mengunjungi tempat hiburan malam sekali pun. Apa lagi bersama para lelaki hidung belang yang haus sentuhan wanita. “Tenanglah, aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi. Aku tidak akan membiarkanmu bersama lelaki b******k itu.” “Uncle …” Giselle menarik kepalanya. Gadis itu melihat sorot mata Arsen yang begitu hangat. “Aku … mencintaimu.” Arsen tersenyum, lelaki itu hanya mencium kening Giselle sebagai tanda kasih sayangnya yang begitu besar. Ia masih mendekap erat Giselle meluapkan semua perasaannya. Ia tahu apa yang dilakukannya telah melanggat ketentuan Winata Yoga. Kehormatannya sebagai kepala pengawal dipertaruhkan. Lelaki itu menepis sejenak semua pikiran tentang Winata Yoga. Giselle adalah hal paling utama sekarang. Bagi Arsen, ia harus membuat gadis itu lebih tenang terlebih dahulu. Mau tidak mau Arsen harus sedikit mengalah dan memang mengatakan jika dirinya mempunyai perasaan yang sama. Giselle senang mendengarnya. Hal itu tidak membuat Arsen khawatir mengatakannya. Semua akan kembali normal saat Giselle sadar. Gadis itu tidak akan menyadari apa yang dilakukan Arsen kepadanya. Karena Giselle dalam keadaan mabuk saat bersama Arsen.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN