Mobil Arsen memasuki halaman kediaman Winata Yoga. Giselle tampak tertidur di samping Arsen. Setelah tenang, Arsen membawa gadis itu pulang. Giselle tertidur pulas saat perjalanan pulang. Jaket yang menutupi tubuhnya membuat gadis itu merasa hangat. Ia mengulur senyum dalam keadaan tertidur. Arsen merasa tenang melihat sang gadis akhirnya pulang bersamanya. Arsen tidak tahu lagi bagiamana jadinya jika telat menemukan Giselle. Mungkin Arsen akan menghukum dirinya sendiri karena telah mengabaikan Giselle yang meneleponnya.
Winata Yoga bersama sang istri telah menunggu kepulangan Arsen di depan pintu rumah. Mereka tampak tersenyum melihat mobil Arsen memasuki halaman. Beberapa pembantu juga masih berdiri di samping sang Tuan dan Nyonya. Seluruh isi rumah merasa lega Giselle kembali bersama Arsen.
Melihat Giselle yang tertidur lelap membuat Arsen tidak tega membangunkannya. Ia mengusap pipi Giselle lembut seraya berkata,”Tetaplah bermimpi indah.”
Arsen langsung turun dari mobil dan membuka pintu sisi tempat Giselle duduk. Lelaki itu langsung membopong gadis tersebut dan berjalan menghampiri Winata Yoga yang telah menyambut Kedatangannya. Penguasa itu terlihat memberi kode kepada yang lain untuk mengambil alih Giselle, tetapi sang istri menahannya.
Ny. Winata Yoga berpikir tidak ada yang salah dengan Arsen. Lelaki itu bisa menjaga putrinya dengan baik. Bahkan di saat yang genting Arsen yang berhasil menemukan Giselle. Arsen sempat berhenti karena merasa tidak enak. Akhirnya Winata Yoga mengalah dan memberi kesempatan Arsen untuk membawa sang putri ke kamar. Lelaki itu juga mengucapkan terima kasih karena Arsen telah menemukan Giselle.
“Bawa saja dia masuk.” Ny. Winata Yoga memberi Arsen jalan. Wanita itu merasa tenang jika Giselle dalam pengawasan Arsen.
“Tapi …” Arsen melihat ke arah Winata Yoga. Lelaki itu menampakkan wajah sedikit tidak rela.
Arsen sangat paham jika sang Tuan terlihat tidak suka meskipun Arsen yang membawa Giselle pulang.
“Masuklah. Kamu bisa menjelaskan semuanya besok. Malam ini kami juga ingin beristirahat.” Ny. Winata Yoga langsung menggandeng sang suami masuk. Wanita itu tidak membiarkan sang suami mengacaukan semuanya. Arsen pasti Lelah karena harus mencari Giselle.
Semua yang berada di teras rumah perlahan bubar. Mereka masing-masing masuk sesuai tempatnya. Beberapa pembantu kembali ke kamar belakang. Beberapa anak buah Arsen ada yang kembali berjaga dan ada yang kembali ke pavilion belakang tempat mereka tinggal.
Winata Yoga memang menyiapkan satu pavilion khusus tempat para pengawalnya tinggal selama bekerja. Berbeda dengan Arsen yang tinggal satu rumah dengannya. Mereka akan pulang bergilirian setiap bulannya.
Arsen mulai menaiki tangga menuju kamar Giselle. Gadis itu masih terlelap dan tidak menyadari Arsen mengangkat tubuhnya. Kamar berukuran luas dengan dekorasi warna pink membuat kamar itu terlihat begitu feminism. Beberapa boneka teddy bear berjejer rapi di tempat tidur.
Giselle adalah penyuka boneka. Gadis itu mengoleksi boneka teddy bear dan beberapa boneka beruang lainnya. Satu boneka paling special adalah boneka tedy bear berukuran kecil pemberian Arsen saat gadis itu berulang tahun ke-17. Saat Itu Arsen memberi kejutan sebuah boneka dan Giselle masih menyimpannya dan menjadikannya salah satu boneka kesayangannya.
Arsen tersenyum melihat boneka itu tertata rapi di tempat tidur Giselle. Perlahan Arsen melepas tanngannya dan membiarkan Giselle berbaring. Ia tidak ingin membuat Giselle bangun karena kehadirannya.
“Uncle ….” Giselle menarik tangan Arsen. Gadis itu berbalik dan menahan tangan Arsen di pipinya.
Arsen tidak bisa pergi karena Giselle menahannya. Perlahan Arsen mencoba melepasnya, tetapi Giselle menariknya kembali dan menaruh di bagian bawah pipi.
Lelaki tegap itu hanya bisa duduk di tepi tempat tidur dan bersandar dinding ranjang. Arsen tidak bisa menarik tangannya dari Giselle.
“Uncle jangan pergi.” Giselle kembali mengigau.
“Aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi.” Arsen mengusap rambut Giselle menggunakan sebelah tangannya.
Giselle menggeliat dan tidak mau melepas tangan Arsen. Lelaki itu terlihat kacau karena Giselle tidak mau melepas tangannya. Semalaman Arsen harus menjaga Giselle bila nanti gadis itu terjaga. Wajah Giselle yang tersenyum lebar membuat Arsen sedikit lebih tenang dan mencoba memejamkan matanya perlahan.
Tubuhnya terasa sangat Lelah dan butuh istirahat. Arsen tidak mempunyai pilihan lain selain menemani Giselle tidur di kamar sang nona. Arsen berusaha menjaga jarak dan tetap tidur dalam posisi duduk. Setidaknya jaraknya dengan Giselle tidak terlalu dekat. Bisa saja Arsen menarik tangannya paksa dan tidur di kamarnya. Akan tetapi, Arsen tidak mau melakukannya. Ia tidak ingin mengganggu tidur Giselle.
***
Arsen menggeliat meregangkan lengannya. Ia merasa nyaman memeluk guling yang terasa empuk. Arsen memeluknya erat untuk menghilangkan lelah tubuhnya. Ia merasa seolah tidur di kamarnya sendiri dan menganggap Giselle seperti guling miliknya. Gadis di depannya tersenyum melihat Arsen yang memeluknya erat. Setiap guratan wajah yang terlihat serius itu membuat Giselle menikmati wajah yang tersaji di depannya.
Giselle tidak pernah merasa berjarak begitu dekat dengan Arsen. Ia menikmati setiap detik waktu langka yang terjadi. Giselle terjaga karena haus. Kepalanya terasa pusing dan melihat Arsen berada di depannya. Rasa hausnya ia urungkan dan terus memandang Arsen yang terlelap tidur. Ia terus saja memandangi wajah Arsen. Ia sangat yakin jika Arsen bangun akan sangat terkejut. Namun, Giselle mengurungkan niatnya untuk membangunkan Arsen.
Hal terkahir yang diingat Giselle adalah saat Arsen mengecup lembut kening sang gadis. Meski dalam keadaan mabuk, Giselle mampu merasakannya. Bahkan saat Arsen mengatakan rasa sayangnya, Giselle mengingatnya dengan jelas.
“Uncle …andai hidup kita tidak berjarak seperti ini aku pasti akan mengajak uncle menikah.” Giselle berkata lirih. Ia tidak mau membuat lelaki itu terbagun dan malah pergi. Setidaknya Giselle tahu jika Arsen pasti akan mengelak apa yang terjadi antara dirinya dan Arsen semalam.
Arsen sedikit menggeser tubuhnya dan melepas dekapannya. Perlahan membuka matanya dan melihat bola mata cantik tengah menatapnya. Arsen merasa ia masih bermimpi melihat Giselle yang tersenyum kepadanya. Namun, Arsen kembali lagi membuka matanya memastikan pandangannya tidak salah. Giselle berada di dekatnya sambal tersenyum.
“Giselle!” Arsen langsung beranjak dari tempatnya. Seingatnya semalam Arsen tidur dengan posisi duduk dan berada di tepi tempat tidur. Akan tetapi saat Arsen bangun malah mendapati dirinya berada di dekat Giselle.
“Uncle bro ….”
“Maaf aku tidak sengaja. Aku pikir …”
“Kenapa? Tidak ada yang salah.” Giselle menyibak selimut yang menutup tubuhnya. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama saat berada di club. Model pakaian yang terbuka membuat Sebagian tubuh Giselle terlihat.
“Sepertinya aku harus kembali.” Arsen menghindar. Lelaki itu terlihat gugup melihat Giselle yang mendekat. Setidaknya keadaan Giselle sudah jauh lebih baik. Arsen bisa kembali ke kamarnya.
Giselle bergegas menghadang Langkah Arsen. Kedua tangannya terbuka menandakan tidak mengizinkan Arsenn pergi. Lelaki di depannya kebingungan bagaiamana caranya keluar dari kamar Giselle. Arsen juga merasa waswas jika Winata Yoga mendapatinya masih berada di dalam kamar Giselle.
“Mau ke mana? Uncle bro tidak boleh pergi!”
“Giselle …”
“Kenapa? Kenapa uncle masih tidak mau jujur?”
“Aku harus jujur apa?”
“Jangan pernah menghindariku. Aku tidak suka!”
“Aku hanya …”
“Aku … cinta … kamu.” Giselle berjalan maju. Ia membuat Arsen semakin gugup.
“Giselle ….” Arsen masih kebingungan mencari celah untuk menghindar.
Giselle beranjak mendekat hingga jarak mereka begitu dekat. Arsen tidak bisa ke mana-mana dan hanya bisa melihat Giselle yang tersenyum ke arahnya.
“Terima kasih uncle masih peduli denganku.” Gadis itu semakin menunjukkan senyum manisnya.
“Itu hanya kewajibanku.”
“Selamat beristirahat.” Giselle langsung menarik tubuh Arsen dan mencium pipi lelaki tersebut. Gadis itu langsung beranjak pergi tersipu malu. Sedangkan Arsen masih berdiri memegang pipi kanannya.
Ia berbalik melihat Giselle yang langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Sepertinya hati Giselle berbunga saat menginga ungkapan hati Arsen saat itu. Ia merasa menjadi gadis yang paling beruntung dan istimewa. Arsen adalah lelaki special. Meski perawakannya yang terkadang terlihat Kaku, lelaki itu cukup mampu membuat Giselle terpikat dengannya sejak lama.