Chapter 19

1059 Kata
Giselle turun dari lantai atas, Gadis itu terlihat rapi dan bersiap berangkat kuliah. Ia menoleh kanan-kiri sebelum turun untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Gadis itu masih menanti kemunculan Arsen untuk makan bersama. Arsen biasanya akan makan bersama Winata Yoga membahas beberapa jadwal Winata Yoga. Giselle masih menunggu bagaimana reaksi Arsen kepadanya. Lelaki itu sudah duduk di samping Winata Yoga dengan dua anak buahnya. Memakai kemeja hitam, ketiganya terlihat akan pergi keluar. Giselle paham betul saat Arsen dan beberapa anak buahnya bertugas di luar. Biasanya Arsen dan anak buahnya akan menemani Winata Yoga perjalanan dinas ke luar kota. “Kamu mau berangkat kuliah?” tanya Winata Yoga saat Giselle duduk. Gadis itu langsung meminum segelas s**u putih di depannya dan mengoles selembar roti dengan selai kacang favoritnya. Sekilas Giselle melirik kea rah Arsen yang berada di depannya. Gadis itu seolah memberi kode jika dirinya ingin bicara. Namun, hal itu terhalang oleh Winata Yoga yang tengah berdehem. Giselle langsung menarik pandangannya melihat mamanya. Gadis itu merasa salah tingkah karena perilakunya sendiri. “Apa tidak sebaiknya kamu istirahat di rumah saja? Mama masih khawatir.” Ny. Winata Yoga berbicara. “Ma, Giselle baik-baik saja.” “Apa yang terjadi sampai kamu berada di klub malam. Dan di mana Haikal?” Winata Yoga menimpali percakapan anak dan istrinya. Arsen belum menceritakan sepenuhnya apa yang terjadi. Ia hanya mengatakan jika menemukan Giselle bersama dengan beberapa lelaki hidung belang yang tengah mabuk bersama Giselle. Hal itu sontak membuat Winata Yoga marah karena Giselle berada di tempat itu. Giselle melirik lagi ke arah Arsen untuk meminta pendapat. Gadis itu sangat paham jika papanya akan marah besar dan tidak akan membiarkan Haikal lari tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki sejati. Haikal meninggalkannya begitu saja dengan beberapa teman Haikal. Akan tetapi Arsen tidak menanggapinya. Ia tidak mau ikut campur dalam masalah Giselle dan membuat Winata Yoga meragukan loyalitasnya sebagai kepala pengawal Winata Yoga. “Kenapa diam? Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?” Giliran Winata Yoga yang menatap Arsen. Winata Yoga meminta kepala pengawalnya itu untuk berbicara secara jujur apa yang terjadi. Winata Yoga menangkap ada yang Giselle sembunyikan darinya. “Sepertinya biar Nona saja yang bercerita. Tidak pantas rasanya jika saya ikut campur. Mungkin saja Nona Giselle mempunyai alasan khusus kenapa berada di tempat tersebut.” “Giselle katakan pada kami.”mamanya Giselle mendekati anaknya. Wanita anggun itu berharap Giselle mau berkata jujur. Giselle masih terdiam. Ia bingung harus menjelaskan dari mana. Gadis itu terus melihat Arsen berharap lelaki itu mau menolongnya berbicara. “Katakan saja sejujurnya. Tuan Winata Yoga pasti bisa memahaminya.” Akhirnya Arsen bersuara. Ia tidak ingin Giselle terus-terusan melihatnya. Sejak awal kedatangan Giselle, Winata Yoga sudah mengawasi gerak-gerik putrinya yang bermain mata dengan kepala pengawalnya. Winata Yoga mengangguk memberi kode Giselle untuk berbicara. Akhirnya gadis itu mulai menjelaskan bagaimana dirinya bisa berada di klub malam dengan lelaki hidung belang dallam keadaan mabuk. Awalnya mereka makan siang di sebuah kafe dekat taman Surabaya. Mereka makan siang berdua dan tiba-tiba saja beberapa gadis datang menghampiri Haikal. Mereka terlihat begitu akrab. Salah satu dari mereka tidak enggan bergelayut manja dengan Haikal meskipun ada Giselle di sana. Mereka bahkan mengundang Haikal ke club untuk party bersama. Haikal pun menyetujuinya, lelaki itu memaksa Giselle untuk ikut dengannya ke club malam. Haikal membawa Giselle ke apartemen miliknya setlah makan siang di kafe. Lelaki itu memesan sebuah dress party untuk Giselle. Sebuah dress party yang minim bahan membuat lekuk tubuh Giselle terlihat jelas. Giselle menolak keras, tetapi Haikal mengancam akan mengadu kepada ayahnya untuk menghentikan semua Kerjasama dengan Winata Yoga. Haikal mempunyai cara licik untuk membuat Giselle menurut padanya. Saat Haikal menelepon beberapa temannya sebelum berangkat, Giselle berusaha menelepon Arsen, tetapi lelaki itu menolak telepon Giselle. Setelah itu Haikal membawa Giselle ke klub pukul delapan malam. Lelaki itu mencekoki Giselle minuman keras saat berada di private room. Semua gadis klub datang menghampiri Haikal. Pemuda itu bersenang-senang bersama para gadis klub tanpa peduli dengan Giselle yang tengah didekati tiga teman Haikal yang mengajaknya party. Ketiga lelaki itu terlihat terus memandangi lekuk tubuh Giselle. Gadis yang mulai mabuk itu seolah tidak tahu jika berada di depan mangsa. Mereka membawa Giselle ke ruangan terpisah setelah minta izin pada Haikal. Pemuda itu memberi izin dan menyerahkan Giselle kepada teman-temannya. Haikal akan menikmatinya setelah ia puas bermain dengan para gadisnya di club. Tiga teman Haikal membuat Giselle semabuk mungkin dan mengambil kesempatan bagus di depannya. Giselle mulai hilang kendali dan bereaksi. Satu orang dari mereka mulai mengajak Giselle menikmati music dan satu lainnya mulai mengepung Giselle. Mereka mulai menjamah tubuh Giselle hingga tiba-tiba Arsen datang dan memukul mereka habis. “Haikal!!” Winata Yoga terdegar begitu marah setelah mendengar penjelasan Giselle. “Anak itu benar-benar kurang ajar!” Winata yoga menggebrak meja makannya. Ia murka mendengar Haikal memperlakukan puterinya sembarangan. “Arsen! Bawa Haikal ke hadapanku!” Winata Yoga langsung menelepon ajudannya untuk membatalkan acara kedinasan yang harus ia hadiri. Winata Yoga meminta agar bisa digantikan oleh yang lain. Ia akan mengurus persoalan Haikal lebih dahulu. Dia memang berencana menjodohkan Giselle dengan Haikal, tetapi Winata Yoga tidak mengira jika Haikal adalah pemuda rusak yang berkedok di belakang kedudukan orang tuanya. “Kamu masuk ke kamar! Jangan berangkat kuliah dulu. Papa belum memastikan apakah ada video skandal tentangmu semalam.” Winata Yoga tidak mengizinkan Giselle berangkat ke kampus. Lelaki itu hanya khwatir jika ada oknum tertentu yang akan memanfaatkan kejadian Giselle di klum malam. “Arsen, cari Haikal dan periksa semua pemberitaan media online dan cetak. Aku tidak mau ada hal menyangkut puteriku di luar sana!” “Baik.” Arsen bersiap. Lelaki itu langsung pergi bersama dua anak buahnya sesuai perintah Winata Yoga. Arsen membagi tugasnya agar masalah Giselle bisa selesai. Haikal menjadi bagian Arsen untuk mencarinya. Sedangkan untuk mengecek video tentang Giselle ia serahkan pada anak buahnya. Semua itu ia lakukan agar semua permasalah bisa selesai dan Arsen tidak akan lagi berurusan dengan Giselle. Gegara Giselle mencium pipinya saat di kamar membuat Arsen kebingungan saat bertemu Giselle. Lelaki itu seperti malu. Ia juga merasa salah tingkah jika Giselle terus melihatnya. Lelaki itu benar-benar membuat hatinya harus tetap stabil. Semakin lama Giselle selalu membuat Arsen selalu kebingungan saat menghadapinya. Arsen langsung mencari Haikal ke sebuah apartemen yang terbilang mewah di Surabaya. Ia mendapatkan alamat apartemen Haikal dari anak buahnya. Arsen memang sengaja menyuruh anak buahnya untuk bertanya pada Giselle di mana alamat Haikal.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN