Seorang pemuda mendapat pukulan mendadak saat membuka pintu apartemennya. Haikal hanya memakai celana bokser dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Arsen datang dengan dua anakk buahnya siap membawa Haikal ke hadapan winata Yoga. Meskipun semalam Arsen puas memukulnya saat di klub. Lelaki itu masih bersemangat saat Winata Yoga menyuruhnya untuk membawa Haikal.
Bagi Arsen, Haikal adalah seorang pemuda yang telah merendahkan harga dirinya. Arsen langsun g mendorong Arsen masuk dan ma;ah melihat satu pandangan yang mencengangkan. Seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sedada.
Melihat Arsen dan kedua anak buahnya datang membuat wanita itu ketakutan. Ia langsung mengambil pakaiannya yang berserakan dan kembai masuk ke kamar mandi. Haikal hanya menggeleng melihat perilaku pemuda yang menjadi andalan Winata Yoga untuk menjaga Giselle. Haikal tidak jauh bedanya dengan p****************g yang bisa todur dengan siapa saja.
“Apa urusanmu ke sini? Belum puas memukulku sepert semalam?”
“b*****h!” Arsen memukul Haikal karena terlalu banyak bicara.
Kedua anak buah Arsen langsung berinisiatif mencekal kedua tangan Haikal agar pemuda itu tidak berulah. Ia paham lelaki seperti Haikal hanya bermodal harta milik orang tua untuk menjerat wanita.
“Hei!!! Apa maumu? Aku bisa lapor pada Papa. Kalian akan mendapat balasannya!”
Arsen kembali memukul Haikal. Bisa-bisanya pemuda itu mengunakan nama orang tuanya untuk mengancam. Arsen kembalu memukul hingga membuat Haikal tidak akan berani berbicara banyak. Arsen sangat muak dengan pemuda di depannya. Apa lagi jika mengingat cerita Giselle tentang Haikal yang sengaja memaksa Giselle pergi dengannya. Arsen tidak akan puas memukul Haikal sampai pemuda itu babak belur. Ia tidak bisa memafkan pemuda mana pun yang berani menyentuh Giselle dengan kekurang ajaran mereka.
“Kamu ingat! Aku tidak takut dengan kekuasaan siapapun. Kebenaran akan selalu berpihak. Aku tidak takut!” Arsen mencengkram dagu Haikal.
Pemuda itu terlihat lemah. Ia tidak bisa lari ke mana-mana. Arsen dan anak buahnya telah menangkapnya. Arsen melirik ke arah kamar mandi, gadis yang todur bersaa Haikal terlihat ketakutan. Arsen seperti mengenal wajah gadis tersebut.
Gadis itu adalah gadis yang sempat lari dari kejaran Arsen di klub. Arsen berjalan menuju arah kamar mandi. gadis itu langsung menutup pintunya takut berbuat hal buruk padanya.
“Keluarlah!”
Gadis itu membuka pintu pelan. Ia terlihat sangat ketakutan. Ia tidak berani melihat wajah mengerikan Arsen saat sedang marah. Lelaki itu memicingkan matanya melihat penampilan gadis di depannya. Semua serba terbuka dan mengundang hasrat lelaki saat melhatnya.
“Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu menahu dengan kejadian semalam. Aku hanya dibayar Haikal untul menemaninya, tidak lebih.” Gadis itu terdengar ketakutan.
“Aku hanya butuh kamu sebagai saksi jika suatu saat aku butuhkan.”
Arsen mendekat hingga membuat gadis itu menutup dadanya. Ia merasa tidak nyaman Arsen melihatnya tajam dan mendekat.
“Ba—ik aku akan lakukan, tapi jangan sentuh aku.”
Arsen tersenyum miring. Melihat penampilan gadis di depannya Arsen sama sekali tidak tertarik. Apa lagi harus menyentuhnya. Rasanya Arsen sama sekali tidak berminat.
“Pulanglah! Tidak baik seorang gadis berdua dengan lelaki di kamar!”
Arsen tidak menyentuh sama sekali gadis di depannya. Gadis itu hanya mengangguk ketakutan. Ia langsung pergi mengambil tas miliknya dan berjalan keluar ketakutan. Ia tidak mengira Arsen tidak menyentuhnya sama sekali. Gadis itu sudah berpikiran akan mengalami hal buruk melihat Arsen memperlakukan Haikal. Gadis itu adalah salah satu gadis klub malam yang selalu menghabiskan malam bersama Haikal. Pemuda itu merupakan pengunjung VIP di klub malam tersebut. Pemuda itu terkenal royal dengan setiap gadis hingga membuat para gadis klub selalu mendamba bisa bersama Haikal.
“Bawa dia masuk ke dalam mobil.” Arsen beralih melihat kedua anak buahnya.
Kedua anak buahnya saling berpandangan. Melihat penampilan Haikal yang hanya memakai Bokser mambuat mereka bertanya.
“Bawa saja!”
Arsen paham dengan berbagai pertanyaan anak buahnya. Ia yakin mereka merasa Arsen sangat keterlaluan. Akan tetapi, Haikal memang pantas mendapatkannya.
“Apa kita membawanya dengan telanjang d**a seperti ini?” Salah satu anak buah Arsen memberanikan diri bertanya.
Ia hanya merasa jika sampai orang tua Haikal tahu akan menjadi masalah yang Panjang. Daftar musuh bebuyutan Winata Yoga akan bertambah selain Adi Putro Grup.
“Aku yang akan bertanggung jawab!” Arsen berjalan keluar.
Ia memberi kode pada anak buahnya agar mengikutinya dan membawa Haikal masuk ke dalam mobil. Arsen memang sengaja membuat Haikal seperti itu. Semua ia lakukan agar pemuda itu jera dan tidak akan berniat untuk mengganggu Giselle.
Saat Arsen sudah berbicara dan memutuskan sesuatu. Kedua anak buahnya tidak bisa menolak. Ia harus mengikuti perkataan Arsen. Mereka membawa haikal keluar. Semua yang lewat melihat Haikal dengan iba. Mereka berbisik-bisik menebak apa yang terjadi. Sedangkan Arsen yang berjalan di depan terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa. Setidaknya apa yang didapat haikal setimpal dengan perbuatannya.
Jika sampai orang tua Haikal tidak bisa menerima. Arsen yang akan menghadapinya tanpa menyinggung nama Winata Yoga. Ia akan mempertaruhkan semuanya agar keluarga sang tua tidak bisa tersentuh oleh musuhnya.
“Kamu ingat? Papa tidak akan membiarkan ini semua! Kamu mempermalukanku. Suatu saat kamu yang akan menanggung akibatnya.” Haikal berbicara sebalum masuk ke dalam mobil.
Pandangannya menunjukkan kebencian yang sangat besar pada Arsen. Ia akan menantikan waktu di mana dirinya bisa membalas dendam dan menindas Arsen lebih buruk dari yang Arsen lakukan. Haikal berpikir ayahnya mempunyai kuasa. Dengan mudah ai meminta ayahnya untuk menyuruh orang-orangnya membalaskan rasa sakitnya kepada kepala pengawal Winata Yoga tersebut.
“Aku akan menunggunya. Aku tidak pernah takut!” Arsen mendorong Haikal masuk dan langsung menutup pintu mobil bagian belakang.
Ia tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni ocehan Haikal. Ia harus segera mebawa Haikal bertemu dengan Winata Yoga. Ia yakin Winata Yoga adalah lelaki yang tegas tidak pandang bulu. Ia sangat menyayangi Giselle dan tidak akan membiarkan pemuda b******k seperti Haikal berbuat seenaknya dengan puteri semata wayangnya.
“Jalan! Kita harus sampai sebelum pukul Sembilan pagi.” Arsen memberi perintah pada anak buahnya untuk segera melajukan mobilnya.
“Baik.”
“Kalian dengar! Aku tidak akan membiarkan ini semua. Kalian harus mendapat balasannya!”
Haikal terus saja mengoceh. Arsen memberi kode dari depan untuk menutup mulut Haikal. Hal itu langsung dilakukan anak buahnya yang bertugas menjaga Haikal. Pemuda itu langsung berontak dan melihat tajam Arsen di bagian kaca depan.
Pandangan matanya menyorot tajam lewat kaca mobil bagian depan. Haikal tampak sangat marah dan Arsen sama sekali tidak peduli. Baginya ia tidak melakukan kesalahan dan tidak akan pernah takut mengahdapi siapapun meskipun orang berkuasa sekali pun.