Chapter 21

1114 Kata
Setelah memberi pelajaran Haikal, Winata Yoga bersikap tegas dengan memutus semua hubungan bisnis dengan keluarga Haikal. Lelaki itu tidak peduli apa yang ia lakukan akan berimbas besar ada kedudukannya sebagai sakah seorang pejabat atau sebagai seorang pebisnis. Bagi Winata Yoga apa yang dilakukan Haikal sudah keterlaluan. Pemuda itu benar-benar merendahkan Giselle sebagai seorang perempuan. Apa lagi sampai memperlakukan anaknya seperti barang. Winata tidak terima dengan semua hal itu. Winata Yoga mulai mempercayakan keselamatan Giselle kepada Arsen lagi. Lelaki itu berpikir memang tidak ada yang bisa ia percaya untuk menjaga Giselle selain Arsen. Sikapnya beberapa hari yang lalu terlalu berlebihan. Beberaa hari ia berikir tentang keputusan salah yang telah ia ambil. Pada saat itu ia merasa Arsen hanyalah bersatatus pengawalnya sedangkan Giselle adalah putrinya. Gadis yang akan mewarisi semua kekayaannya. Winata Yoga sempat berpikir untuk mencarikan Giselle pasangan yang lebih baik dengan status social yang sama. Putrera mitra bisnisnya seolah menjadi pilihan yang sanga tepat dengan menjodohkan keduanya. Lelaki itu tahu jika putrinya mengagumi Arsen. Namun, ia merasa ada yang salah dengan hal itu. Winata Yoga takut jika puterinya terlalu menggunakan perasaannya hingga lupa siapa Arsen dan dirinya. Sang istri tidak berhenti berbicara dengan Winata Yoga. Wanita itu merasa kebahagiaan anak tunggalnya sangat berharga dari pada memikirkan status dan kedudukan. Hingga akhirnya Winata Yoga mau melunakkan hatinya untuk membiarkan Arsen menjaga Giselle kembali. Mendapat izin dari Winata Yoga. Arsen mulai menjalani rutinitas seperti biasa. Lelaki itu mulai menjaga Giselle dan menemani gadis itu saat keluar rumah. Untuk pengawalan ia serahkan kepada anak buahnya yang ia anggap bisa dieprcaya. Sedangkan pengintian masih sempat Arsen lakukan saat Giselle tidak bersamanya. Kali ini Arsen haris sangat hati-hati karena Giselle bisa saja mengikutinya. Gadis itu selalu mempunyai seribu cara untuk mengikuti Arsen. Ia masih meminta kepastian dan tanggun jawab apa yang dilakukan Arsen malam itu.Gadis itu seringkali tersenyum saat membayangkannya. Ia berusaha mendekati Arsen dan menanyakannya, tetapi Arsen masih kekeh dengan hatinya. Ia selalu mengatakan jika tidak memiliki perasaan apa pun. Giselle tidak percaya dengan semuanya, gadis itu masih ingat betul apa yang dikatakan Arsen. Ia ingat saat Arsen mengatakan jika lelaki itu mencintaimu. Arsen mencium kening Giselle dengan lembut dan gadis itu masih merasakan kelembutannya sampai sekarang. Hal itu yang membuat Giselle yakin jika Arsen memilik perasaan yang sama. Hanya saja lelaki itu masih memikirkan status di antara keduanya. Siang yang lumayan panas membuat Giselle merasa begitu gerah. Arsen Sudha mengidupkan AC mobil, tetai tetap saja Giselle merasa kepanasan. Gadis itu berusaha mengajak Arsen pergi ke sebuah kedai sebelum pulang. Giselle ingin minum Es campur yang letak kedainya tidak jauh dari rumahnya. Gadis itu merengek meminta Arsen menuruti keinginannya. Akhirnya, Arsen memenuhi keinginan Giselle dengan catatan hanya memberi waktu 20 menit. Lelaki itu harus segera pergi dengan beberapa anak buahnya untuk melakukan penjagaan seperti biasanya. Sebenarnya Arsen bisa saja tidak ikut serta, tetapi lelaki itu memang sengaja menghindar. Setidaknya pertemuannya dengan Giselle berkurang dan Arsen bisa dengan mudah mengendalikan hatinya. “Duduklah, aku yang akan memesan.” “Terima kasih.” Giselle tersenyum. Arsen beranjak menuju meja pemesanan. Lelaki itu terlihat bertemu dengan seorang wanita dan berbincang terlihat sangat akrab. Dari kejauhan Giselle melihatnya cembur. Bahkan sekilas, Giselle melihat lelaki itu sedikit tersenyum. Padahal Giselle sangat tahu kalau Arsen adalah tipe lelaki yang sulit untuk tersenyum. “Siapa wanita itu?” Giselle masih bertanya-tanya. Saat mereka berpisah, wanita itu melebarkan senyumnya dan Arsen pun membalas senyumannya. Giselle semakin cemburu. Raut wajahnya pun langsung berubah. Melihat Arsen yang berbalik ke arahnya membuat Giselle bersikap cuek. Ia merasa kesal karena Arsen tersenyum dengan wanita lainnya. Arsen yang merasa aneh langsung duduk di depan Giselle. Lelaki itu mengatasi rasa anehnya dengan mengalihkan pandangan. Ia tidak berani melihat Giselle di depannya. Ia sangat paham Giselle akan melakukan sejuta cara untuk selalu menggodanya saat mereka berdua. Giselle masih saja menunjukkan rasa kesalnya hingga pesanan mereka datang. Giselle langsung menghabiskan minuman di depannya tanpa tersisa. Tidak perlu waktu yang lama Giselle mengahbiskan satu gelas es campur miliknya. Arsen semakin aneh melihatnya, tidak biasanya Giselle seperti. Setelah selesai, Giselle langsung beranjak keluar dan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Arsen. Lelaki itu semakin merasa aneh. Seingatnya beberapa menit yang lalu Giselle masih baik-baik saja. Bahkan saat berada di dalam mobil gadis itu masih menggodanya. “Apa yang terjadi?” Arsen menebak. Ia akhirnya keluar kedai dan menyusul Giselle ke dalam mobil. Sepertinya Arsen harus menanyakan apa yang sedang terjadi. Ia tidak mau terjadi sesuatu dan membuatnya harus bersamasalah. Winata Yoga sangat memperhatikan puterinya. Lelaki itu akan bertanya pada Arsen saat puterinya terlihat perubahan besar. “Kita pulang sekarang!” Giselle terdengar ketus saat Arsen baru saja masuk ke dalam mobil. Tanpa menjawab Arsen langsung menghidupkan mesin mobil dan melajukannya kea rah rumah Giselle. Jarak kedai dnegan rumah yang tidak terlalu jauh membuat perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada obrolan atau kata-kata manis yang keluar dari bibir Giselle. Gadis itu diam hanya menyilangkan kedua tangannya. Tiba di halam rumah, Giselle langsung keluar mobil tanpa berpamitan. Melihat Ny. Winata Yoga yang berada di teras membuat Giselle juga tidak peduli. Wanita bersahaja itu merasa aneh, sedangkan ia melihat Arsen masih berada di dalam mobil. “Tidak biasanya Giselle seperti ini?” Arsen turun dari mobil dan merasa tidak enak dengan sikap Giselle yang dianggap kurang sopan. Lelaki itu minta maaf atas sikap Giselle. Ny. Winata Yoga hanya bisa tersenyum mendengarnya. Wanita itu mulai berpikir jika mereka sedang bertengkar atau memang putrinya yang selalu mencari gara-gara. Ia paham sekali siapa Giselle puterinya. Gadis manja yang tidak mau kalah dan semua keinginannya harus dituruti. “Bicaralah dengannya, aku yakin dia tidak akan bertahan lama bersikap seperti itu.” Setelah berbicara dengan Arsen, Ny, Winata Yoga pergi dengan para staf dan ajudannya. Wanita itu akan menghadiri acara amal bakti yang diselenggarakan Dinas social. Ny. Winata Yoga datang untuk memberi sambutan dan akan memberikan sejumlah donasi atas nama pribadi. Arsen bertanya pembantu yang berada di dalam rumah menanyakan keberadan Giselle. Menurut mereka Giselle langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah yang terlihat muram. Lelaki itu berpikir hendak mengabaikannya. Masih banyak urusan yang harus Arsen kerjakan. Namun, hatinya tetap menyerukan agar Arsen menemui Giselle sebelum pergi. Ia merasa belum tenang jika tidak melihat Giselle bisa tersenyum seperi biasanya. Arsen mengetuk pintu kamar Giselle. Pintunya terbuka sedikit dan Arsen bisa melihat jelas Giselle berada di dalamnya. Gadis itu duduk di tepi ranjang memeluk bonek pemberian Arsen. Melihat Giselle seperti itu, Arsen langsung membuka pintunya. Ia berjalan duduk di samping Giselle. Ia tahu jika hati Giselle pasti sedang bermasalah. “Kenapa? Ada masalah?” tanya Arsen lembut. Lelaki itu mengusap pucuk kepala Giselle berusaha melunakkan hatinya. Giselle masih diam, bahkan ia tidak merespon gadis itu melepas tangan Arsen dan bersikap cuek kepadanya.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN